Kelelahan mental tidak selalu muncul dalam bentuk teriak, menangis, atau mengamuk. Ia seringkali datang dalam sunyi: malas bangun pagi, hilangnya motivasi, atau rasa hampa yang sulit dijelaskan. Inilah wajah burnout di generasi muda hari ini.
Bukan karena malas, tapi karena terlalu banyak menanggung beban di usia yang terlalu muda. Beban itu bukan hanya dari pekerjaan atau sekolah, tetapi juga dari tekanan sosial, tuntutan kesuksesan cepat, hingga krisis identitas yang tak selesai-selesai.
Apa Itu Burnout?
Burnout adalah kondisi kelelahan emosional, mental, dan fisik akibat stres berkepanjangan. Istilah ini awalnya digunakan dalam konteks dunia kerja, tetapi kini semakin meluas termasuk dalam konteks pendidikan, aktivisme, bahkan media sosial.
Menurut WHO, burnout termasuk sindrom yang disebabkan oleh stres kronis di tempat kerja yang belum berhasil diatasi. Gejalanya antara lain:
- Merasa kehabisan energi
- Meningkatnya jarak mental terhadap pekerjaan
- Menurunnya efektivitas profesional
Namun pada generasi muda, burnout sering kali tidak dikenali sebagai masalah serius. Ia tertutupi oleh budaya hustle, keinginan tampil produktif, dan ketakutan tertinggal.
Mengapa Generasi Muda Rentan Burnout?
Fenomena ini bukan tanpa sebab. Ada beberapa faktor khusus yang membuat generasi muda—terutama Gen Z dan milenial akhir lebih rentan:
- Budaya Produktivitas Berlebihan
Media sosial menampilkan citra ideal orang sukses di usia muda. Ini memicu ilusi bahwa jika belum berhasil di usia 25, maka kita gagal. - Tekanan Ekonomi dan Ketidakpastian Karier
Lulusan baru harus menghadapi pasar kerja yang penuh persaingan, gaji rendah, dan PHK massal di berbagai sektor teknologi dan kreatif. - Krisis Identitas dan Makna Hidup
Anak muda hari ini hidup di tengah banjir informasi, tetapi kekurangan arah. Banyak yang merasa bekerja keras untuk sesuatu yang tak mereka yakini. - Kurangnya Batas antara Kehidupan Pribadi dan Profesional
Dengan sistem kerja hybrid dan online learning, ruang privat ikut “terjajah” oleh tugas, rapat, dan deadline.
Gejala Burnout yang Tidak Disadari
Pada anak muda, burnout jarang muncul dalam bentuk keluhan langsung. Gejalanya bisa halus tapi merusak perlahan:
- Merasa jenuh setiap hari walau tugas tidak banyak
- Menunda pekerjaan karena tidak ada energi mental
- Hilang minat pada hal yang dulunya disukai
- Merasa lelah bahkan setelah tidur cukup
- Overthinking atau munculnya kecemasan ringan tanpa alasan jelas
Sayangnya, banyak yang mengira ini cuma rasa malas biasa. Padahal, jika terus dibiarkan, burnout bisa berkembang menjadi depresi atau gangguan kecemasan.
Bagaimana Burnout Menjadi “Normalisasi”
Burnout di kalangan muda sering kali dinormalisasi lewat kalimat seperti:
- “Namanya juga kerja, wajar capek.”
- “Nggak usah drama, semua orang juga stres.”
- “Kamu cuma kurang bersyukur.”
Pernyataan semacam ini justru menambah tekanan. Alih-alih pulih, orang malah merasa bersalah karena “tidak kuat”. Akibatnya, banyak yang memilih diam, menutupi gejala, hingga akhirnya meledak dalam bentuk gangguan kesehatan mental.
Apa Solusinya?
Kunci mengatasi burnout bukan pada menambah produktivitas, tetapi memulihkan makna dan keseimbangan hidup. Berikut beberapa langkah awal:
- Kenali dan Validasi Emosi Sendiri
Capek adalah wajar. Mengaku lelah bukan berarti lemah. Ini langkah pertama untuk pulih. - Tetapkan Batas Sehat (Boundaries)
Pisahkan waktu kerja dan waktu pribadi. Matikan notifikasi setelah jam tertentu. - Kurangi Konsumsi Media Sosial Toksik
Unfollow akun-akun yang membuatmu merasa gagal. Ganti dengan konten inspiratif dan edukatif. - Cari Makna, Bukan Cuma Pencapaian
Alih-alih terus mengejar angka, evaluasi ulang: kenapa kamu melakukan ini? Untuk siapa? - Berani Berkata “Cukup”
Tidak semua kesempatan harus diambil. Tidak semua orang harus disenangkan.
Peran Lingkungan dan Budaya Organisasi
Menyalahkan individu saja tidak adil. Lingkungan kerja, kampus, bahkan keluarga harus ikut bertanggung jawab. Budaya yang memuja lembur, menganggap stres sebagai kebanggaan, harus diubah.
Pemimpin organisasi, HR, guru, dan orang tua harus menciptakan ruang aman untuk anak muda bisa jujur tentang kelelahan mereka. Bukan hanya mendengar, tetapi benar-benar hadir dan peduli.
Perlu Ruang untuk Istirahat yang Sejati
Istirahat bukan berarti tidur atau libur. Istirahat sejati adalah ketika kita bisa bernapas tanpa merasa bersalah. Saat kita bisa berhenti tanpa dihantui ketertinggalan. Itulah yang dibutuhkan generasi muda hari ini: ruang untuk gagal, ruang untuk bernapas, dan ruang untuk menjadi manusia biasa bukan mesin produktivitas.
Burnout bukan sekadar lelah. Ia adalah sinyal tubuh dan jiwa bahwa sesuatu tak lagi berjalan sebagaimana mestinya. Anak muda butuh didengar, bukan dihakimi. Di tengah dunia yang serba cepat, keberanian untuk melambat adalah bentuk perlawanan paling sehat.
