Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Polri Tetapkan 72 Tersangka Karhutla di 9 Polda

Robot Masuk Rumah, Siap Berbagi Ruang?

Dosen MM UIA Bedah Kurikulum, Kompetensi Jadi Fokus

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Senin, 24 Agustus 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Self Healing, Tren atau Pelarian?

Saat semua diklaim sebagai self healing, batas antara pemulihan jiwa dan pelarian diri makin kabur.
Alfi SalamahAlfi Salamah22 Januari 2026 Happy
Tren Self Healing
Ilustrasi Self Healing
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Istilah “self-healing” menjamur di mana-mana. Dari postingan Instagram di kafe estetik, video staycation di hotel mewah, hingga konten traveling di TikTok semuanya menyebut aktivitas itu sebagai bentuk self-healing. Istilah ini seolah jadi pembenaran atas segala bentuk “me time”, seberapapun mahal atau impulsifnya.

Namun, apakah semua itu benar-benar bentuk pemulihan? Atau justru pelarian yang dibungkus secara estetik dan sosial media-friendly?

Self-healing seharusnya lahir dari kebutuhan mental yang nyata. Tapi kini, ia mulai bergeser menjadi tren konsumtif yang sering kali menyesatkan makna aslinya.

Self Healing yang Asli itu Sunyi, Tidak Glamor

Dalam psikologi, self-healing merujuk pada proses pemulihan diri dari luka emosional, trauma, atau kelelahan mental melalui refleksi, pengolahan emosi, dan aktivitas yang mendukung kesehatan jiwa. Itu bisa berupa:

  • Journaling
  • Meditasi
  • Konseling psikolog
  • Istirahat total dari stimulasi digital
  • Membangun kembali relasi yang sehat

Aktivitas ini tidak selalu indah di kamera, bahkan seringkali sunyi, menyakitkan, dan penuh proses internal. Tapi justru itu esensinya.

Bergesernya Makna di Media Sosial

Kini, istilah self-healing dipakai secara longgar. Nongkrong di kafe fancy, belanja impulsif, menghilang dari kerja tanpa pemberitahuan, hingga jalan-jalan ke Bali semua dilabeli “healing”.

Baca Juga:
  • Halal Kulture District Ajak Muslim Muda Sambut Ramadan Lebih Mindful
  • Anak dan Sepak Bola: Jembatan Simbolik di Piala AFF 2024
  • Luangkan Waktu untuk Ngobrol, Bikin Istri Bahagia
  • Kerja Seru di Luar Rumah, Bukan Sekadar Gaya

Padahal, itu bisa jadi mekanisme pelarian, bukan penyembuhan. Fenomena ini menggambarkan bagaimana media sosial memelintir istilah psikologis menjadi komoditas gaya hidup.

Lebih ironis lagi, banyak konten promosi menggunakan kata “healing” untuk menjual produk: skincare, tiket pesawat, resort, hingga kopi kemasan.

Akibatnya, publik terutama Gen Z bisa salah kaprah, mengira healing adalah konsumsi, bukan refleksi.

Risiko Psikologis dan Ekspektasi Palsu

Masalahnya bukan sekadar istilah, tapi dampaknya. Ketika seseorang mencoba healing “ala konten” dan tidak merasakan dampak positif, mereka bisa merasa gagal atau semakin terpuruk.

Menurut psikolog klinis Adinda K., healing yang tidak otentik justru bisa memperparah kondisi psikologis, karena memperkuat ilusi bahwa kebahagiaan itu harus visual dan instan.

Artikel Terkait:
  • Menjaga Batasan: Hakmu untuk Hidup Lebih Bahagia
  • Beban Mental dalam Pernikahan
  • Thrifting: Gaya Stylish yang Ramah Lingkungan
  • Prabowo dan Titiek Soeharto, Cinta Lama Bersemi Kembali?

Di sisi lain, mereka yang benar-benar butuh dukungan mental justru terpinggirkan oleh tren yang membuat self-healing jadi sekadar gaya hidup elit.

Komersialisasi Kesehatan Mental

Self-healing kini bukan cuma istilah, tapi industri. Banyak bisnis berlomba menawarkan “produk penyembuhan” dari yoga retreat berbiaya jutaan hingga essential oil eksklusif yang katanya bisa menyembuhkan trauma.

Padahal, penyembuhan mental tidak bisa dibeli. Prosesnya personal, panjang, dan kadang tidak terlihat hasilnya dalam waktu singkat. Ketika healing dipasarkan layaknya fast food, nilai dan substansinya hilang.

Saatnya Kita Lebih Reflektif

Kita perlu membedakan antara “refreshing” dan “healing”. Tidak semua liburan itu penyembuhan. Tidak semua diam itu refleksi. Dan tidak semua belanja itu terapi.

Mungkin kita semua butuh rehat. Tapi menyebut semua aktivitas itu sebagai self-healing bisa membuat kita tertipu oleh ilusi bahwa kita sudah pulih, padahal belum.

Jangan Lewatkan:
  • 6 Alasan Mengapa Suami Harus Memeluk Istri Setiap Hari
  • Hari Dongeng Nasional 28 November
  • Daftar Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2025
  • Soft Living: Hidup lebih pelan, bahagia lebih lama

Self-healing adalah proses personal yang kompleks, bukan label gaya hidup. Di tengah gelombang komersialisasi dan estetisasi, penting bagi kita untuk mengembalikan makna healing pada intinya, pemulihan mental yang jujur dan otentik. Karena ternyata, tidak semua yang kita sebut “healing” benar-benar menyembuhkan.

Gen Z Milenial Healing atau Pelarian Kesehatan Mental Self Healing Tren Psikologi 2026
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleKak Mashuri Pimpin Kwartir Ranting Tellu Siattinge 2026-2029
Next Article AI Bantu Guru, Tapi Hambat Murid?

Informasi lainnya

Mengapa Cokelat Bisa Naikkan Mood?

4 Juni 2026

Fokus Berlebih yang Tak Disadari

4 Juni 2026

Mengapa Banyak Pikiran Bikin Lapar?

3 Juni 2026

5 Cara Atasi Overthinking

13 Februari 2026

Burnout Diam-Diam di Anak Muda

12 Februari 2026

Detoks Digital: Jaga Kesehatan Mental

11 Februari 2026
Paling Sering Dibaca

Suara Moral yang Tersisa

Editorial Udex Mundzir

UMP 2025: Melampaui Angka, Memahami Kebutuhan

Editorial Udex Mundzir

Manusia Bersifat Air

Refleksi Syamril Al-Bugisyi

Jurnal Ilmiah Indonesia, Banyak Tapi Bagaikan Buih

Perspektif Udex Mundzir

Kisah Keluarga Imran, Inilah Perempuan Terpilih dan Mulia yang Harus Diketahui!

Islami Alfi Salamah
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Presiden Prabowo Izinkan Ekspor Beras ke Malaysia

Jurusan IPA, IPS, dan Bahasa Resmi Kembali di SMA Mulai 2025

Prabowo Nilai Pengibaran Bendera One Piece Tak Langgar Aturan

Ujian Tatap Muka UT di Tasikmalaya Berjalan Tertib dan Ketat

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Buku Anak Islami Murah Produk Dapur Terlaris
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi