Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

Mengapa Sungai Indonesia Cepat Kotor? Ini Penjelasan Ahli

Benarkah Mikroplastik Sudah Masuk ke Tubuh Manusia? Ini Fakta Ilmiahnya

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Rabu, 15 Juli 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Self Healing, Tren atau Pelarian?

Saat semua diklaim sebagai self healing, batas antara pemulihan jiwa dan pelarian diri makin kabur.
Alfi SalamahAlfi Salamah22 Januari 2026 Happy
Tren Self Healing
Ilustrasi Self Healing
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Istilah “self-healing” menjamur di mana-mana. Dari postingan Instagram di kafe estetik, video staycation di hotel mewah, hingga konten traveling di TikTok semuanya menyebut aktivitas itu sebagai bentuk self-healing. Istilah ini seolah jadi pembenaran atas segala bentuk “me time”, seberapapun mahal atau impulsifnya.

Namun, apakah semua itu benar-benar bentuk pemulihan? Atau justru pelarian yang dibungkus secara estetik dan sosial media-friendly?

Self-healing seharusnya lahir dari kebutuhan mental yang nyata. Tapi kini, ia mulai bergeser menjadi tren konsumtif yang sering kali menyesatkan makna aslinya.

Self Healing yang Asli itu Sunyi, Tidak Glamor

Dalam psikologi, self-healing merujuk pada proses pemulihan diri dari luka emosional, trauma, atau kelelahan mental melalui refleksi, pengolahan emosi, dan aktivitas yang mendukung kesehatan jiwa. Itu bisa berupa:

  • Journaling
  • Meditasi
  • Konseling psikolog
  • Istirahat total dari stimulasi digital
  • Membangun kembali relasi yang sehat

Aktivitas ini tidak selalu indah di kamera, bahkan seringkali sunyi, menyakitkan, dan penuh proses internal. Tapi justru itu esensinya.

Bergesernya Makna di Media Sosial

Kini, istilah self-healing dipakai secara longgar. Nongkrong di kafe fancy, belanja impulsif, menghilang dari kerja tanpa pemberitahuan, hingga jalan-jalan ke Bali semua dilabeli “healing”.

Baca Juga:
  • Kerja Seru di Luar Rumah, Bukan Sekadar Gaya
  • Menjaga Batasan: Hakmu untuk Hidup Lebih Bahagia
  • Pegeseran Makna Staycation dan Arti Sebenarnya
  • Luangkan Waktu untuk Ngobrol, Bikin Istri Bahagia

Padahal, itu bisa jadi mekanisme pelarian, bukan penyembuhan. Fenomena ini menggambarkan bagaimana media sosial memelintir istilah psikologis menjadi komoditas gaya hidup.

Lebih ironis lagi, banyak konten promosi menggunakan kata “healing” untuk menjual produk: skincare, tiket pesawat, resort, hingga kopi kemasan.

Akibatnya, publik terutama Gen Z bisa salah kaprah, mengira healing adalah konsumsi, bukan refleksi.

Risiko Psikologis dan Ekspektasi Palsu

Masalahnya bukan sekadar istilah, tapi dampaknya. Ketika seseorang mencoba healing “ala konten” dan tidak merasakan dampak positif, mereka bisa merasa gagal atau semakin terpuruk.

Menurut psikolog klinis Adinda K., healing yang tidak otentik justru bisa memperparah kondisi psikologis, karena memperkuat ilusi bahwa kebahagiaan itu harus visual dan instan.

Artikel Terkait:
  • Kunci Hidup Tenang: Belajar Bertanggung Jawab pada Diri Sendiri
  • Lulusan Gen Z Banyak Dipecat? Kenali Masalah dan Solusinya
  • 6 Alasan Mengapa Suami Harus Memeluk Istri Setiap Hari
  • Raqsat al-Batriq, Tarian Pinguin yang Bikin Pesta Makin Meriah

Di sisi lain, mereka yang benar-benar butuh dukungan mental justru terpinggirkan oleh tren yang membuat self-healing jadi sekadar gaya hidup elit.

Komersialisasi Kesehatan Mental

Self-healing kini bukan cuma istilah, tapi industri. Banyak bisnis berlomba menawarkan “produk penyembuhan” dari yoga retreat berbiaya jutaan hingga essential oil eksklusif yang katanya bisa menyembuhkan trauma.

Padahal, penyembuhan mental tidak bisa dibeli. Prosesnya personal, panjang, dan kadang tidak terlihat hasilnya dalam waktu singkat. Ketika healing dipasarkan layaknya fast food, nilai dan substansinya hilang.

Saatnya Kita Lebih Reflektif

Kita perlu membedakan antara “refreshing” dan “healing”. Tidak semua liburan itu penyembuhan. Tidak semua diam itu refleksi. Dan tidak semua belanja itu terapi.

Mungkin kita semua butuh rehat. Tapi menyebut semua aktivitas itu sebagai self-healing bisa membuat kita tertipu oleh ilusi bahwa kita sudah pulih, padahal belum.

Jangan Lewatkan:
  • Keunikan Sapaan Akrab Laki-Laki di Indonesia
  • Daftar Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2025
  • Pandemi Berlalu, Industri Film Indonesia Proyeksikan Pertumbuhan
  • 10 Situs Legal dan Terpercaya untuk Nonton Film Gratis dengan Kualitas HD

Self-healing adalah proses personal yang kompleks, bukan label gaya hidup. Di tengah gelombang komersialisasi dan estetisasi, penting bagi kita untuk mengembalikan makna healing pada intinya, pemulihan mental yang jujur dan otentik. Karena ternyata, tidak semua yang kita sebut “healing” benar-benar menyembuhkan.

Gen Z Milenial Healing atau Pelarian Kesehatan Mental Self Healing Tren Psikologi 2026
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleKak Mashuri Pimpin Kwartir Ranting Tellu Siattinge 2026-2029
Next Article AI Bantu Guru, Tapi Hambat Murid?

Informasi lainnya

Mengapa Cokelat Bisa Naikkan Mood?

4 Juni 2026

Fokus Berlebih yang Tak Disadari

4 Juni 2026

Mengapa Banyak Pikiran Bikin Lapar?

3 Juni 2026

5 Cara Atasi Overthinking

13 Februari 2026

Burnout Diam-Diam di Anak Muda

12 Februari 2026

Detoks Digital: Jaga Kesehatan Mental

11 Februari 2026
Paling Sering Dibaca

Nusaibah binti Ka’ab, Ikon Keberanian

Profil Alfi Salamah

XL dan Smartfren Merger, Siapa Pimpinan Baru XLSmart?

Techno Silva

Doa Awal Ramadhan: Sambut Bulan Suci dengan Penuh Berkah

Islami Assyifa

THR 2025 Cair Lebih Cepat, Siapkan Rencana Anda!

Bisnis Assyifa

Larangan Baju Bekas: Tegas Boleh, Serampangan Jangan

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Hukum
Ericka5 Agustus 2025

Silfester Matutina Dieksekusi Terkait Fitnah Jusuf Kalla

Bahaya Tidur Terlalu Lama untuk Kesehatan Tubuh

Pelayanan Terbaik Arab Saudi untuk Jamaah Haji Indonesia

Tradisi Poligami Raja-Raja Arab Saudi dalam Mempersatukan Negara

Mengenang Rachmat Gobel, Putra Bangsa yang Mendedikasikan Hidup bagi Industri dan Negeri

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Buku Anak Islami Murah Perlengkapan Pramuka Lengkap Produk Dapur Terlaris
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi