Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Negeri yang Tak Kekurangan Lembaga, Tapi Kekurangan Kejelasan

Rakyat Bertanya, Negara Menjawab dengan Prosedur

Negara Hukum yang Sistem Hukumnya Dibuat Ruwet

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Rabu, 24 Juni 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Self Healing, Tren atau Pelarian?

Saat semua diklaim sebagai self healing, batas antara pemulihan jiwa dan pelarian diri makin kabur.
Alfi SalamahAlfi Salamah22 Januari 2026 Happy
Tren Self Healing
Ilustrasi Self Healing
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Istilah “self-healing” menjamur di mana-mana. Dari postingan Instagram di kafe estetik, video staycation di hotel mewah, hingga konten traveling di TikTok semuanya menyebut aktivitas itu sebagai bentuk self-healing. Istilah ini seolah jadi pembenaran atas segala bentuk “me time”, seberapapun mahal atau impulsifnya.

Namun, apakah semua itu benar-benar bentuk pemulihan? Atau justru pelarian yang dibungkus secara estetik dan sosial media-friendly?

Self-healing seharusnya lahir dari kebutuhan mental yang nyata. Tapi kini, ia mulai bergeser menjadi tren konsumtif yang sering kali menyesatkan makna aslinya.

Self Healing yang Asli itu Sunyi, Tidak Glamor

Dalam psikologi, self-healing merujuk pada proses pemulihan diri dari luka emosional, trauma, atau kelelahan mental melalui refleksi, pengolahan emosi, dan aktivitas yang mendukung kesehatan jiwa. Itu bisa berupa:

  • Journaling
  • Meditasi
  • Konseling psikolog
  • Istirahat total dari stimulasi digital
  • Membangun kembali relasi yang sehat

Aktivitas ini tidak selalu indah di kamera, bahkan seringkali sunyi, menyakitkan, dan penuh proses internal. Tapi justru itu esensinya.

Bergesernya Makna di Media Sosial

Kini, istilah self-healing dipakai secara longgar. Nongkrong di kafe fancy, belanja impulsif, menghilang dari kerja tanpa pemberitahuan, hingga jalan-jalan ke Bali semua dilabeli “healing”.

Baca Juga:
  • 10 Situs Legal dan Terpercaya untuk Nonton Film Gratis dengan Kualitas HD
  • Kades Wunut Klaten Bagikan THR Rp200 Ribu per Warga
  • Kerja Seru di Luar Rumah, Bukan Sekadar Gaya
  • Daftar Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2025

Padahal, itu bisa jadi mekanisme pelarian, bukan penyembuhan. Fenomena ini menggambarkan bagaimana media sosial memelintir istilah psikologis menjadi komoditas gaya hidup.

Lebih ironis lagi, banyak konten promosi menggunakan kata “healing” untuk menjual produk: skincare, tiket pesawat, resort, hingga kopi kemasan.

Akibatnya, publik terutama Gen Z bisa salah kaprah, mengira healing adalah konsumsi, bukan refleksi.

Risiko Psikologis dan Ekspektasi Palsu

Masalahnya bukan sekadar istilah, tapi dampaknya. Ketika seseorang mencoba healing “ala konten” dan tidak merasakan dampak positif, mereka bisa merasa gagal atau semakin terpuruk.

Menurut psikolog klinis Adinda K., healing yang tidak otentik justru bisa memperparah kondisi psikologis, karena memperkuat ilusi bahwa kebahagiaan itu harus visual dan instan.

Artikel Terkait:
  • 6 Alasan Mengapa Suami Harus Memeluk Istri Setiap Hari
  • D’MASIV Menuju Panggung Dunia dari Ciledug ke Los Angeles
  • Paspor Abadi Sang Firaun: Pelajaran Kepemimpinan yang Tak Pernah Mati
  • Siswa SMA di Kebumen Patungan untuk Teman

Di sisi lain, mereka yang benar-benar butuh dukungan mental justru terpinggirkan oleh tren yang membuat self-healing jadi sekadar gaya hidup elit.

Komersialisasi Kesehatan Mental

Self-healing kini bukan cuma istilah, tapi industri. Banyak bisnis berlomba menawarkan “produk penyembuhan” dari yoga retreat berbiaya jutaan hingga essential oil eksklusif yang katanya bisa menyembuhkan trauma.

Padahal, penyembuhan mental tidak bisa dibeli. Prosesnya personal, panjang, dan kadang tidak terlihat hasilnya dalam waktu singkat. Ketika healing dipasarkan layaknya fast food, nilai dan substansinya hilang.

Saatnya Kita Lebih Reflektif

Kita perlu membedakan antara “refreshing” dan “healing”. Tidak semua liburan itu penyembuhan. Tidak semua diam itu refleksi. Dan tidak semua belanja itu terapi.

Mungkin kita semua butuh rehat. Tapi menyebut semua aktivitas itu sebagai self-healing bisa membuat kita tertipu oleh ilusi bahwa kita sudah pulih, padahal belum.

Jangan Lewatkan:
  • Sawer Meriah di Kampung Citepus
  • Halal Kulture District Ajak Muslim Muda Sambut Ramadan Lebih Mindful
  • Job Fair SMK Daarul Abroor Siap Digelar, Dibuka Ust. Hudaifah Aslam Mubarak
  • Anak dan Sepak Bola: Jembatan Simbolik di Piala AFF 2024

Self-healing adalah proses personal yang kompleks, bukan label gaya hidup. Di tengah gelombang komersialisasi dan estetisasi, penting bagi kita untuk mengembalikan makna healing pada intinya, pemulihan mental yang jujur dan otentik. Karena ternyata, tidak semua yang kita sebut “healing” benar-benar menyembuhkan.

Gen Z Milenial Healing atau Pelarian Kesehatan Mental Self Healing Tren Psikologi 2026
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleKak Mashuri Pimpin Kwartir Ranting Tellu Siattinge 2026-2029
Next Article AI Bantu Guru, Tapi Hambat Murid?

Informasi lainnya

Mengapa Cokelat Bisa Naikkan Mood?

4 Juni 2026

Fokus Berlebih yang Tak Disadari

4 Juni 2026

Mengapa Banyak Pikiran Bikin Lapar?

3 Juni 2026

5 Cara Atasi Overthinking

13 Februari 2026

Burnout Diam-Diam di Anak Muda

12 Februari 2026

Detoks Digital: Jaga Kesehatan Mental

11 Februari 2026
Paling Sering Dibaca

Sultan Aji Muhammad Sulaiman: Pemimpin Bijak Kutai Kartanegara

Biografi Assyifa

Rina Sa’adah: Dapur MBG Harus Libatkan UMKM Lokal

Bisnis Silva

Menuju Haji Suci: Panduan Perjalanan Sebelum Berangkat

Islami Alfi Salamah

Tren Makanan Sehat di 2024

Food Alfi Salamah

Relawan Muda di Arus Mudik

Editorial Lisda Lisdiawati
Berita Lainnya
Ekonomi
Lisda Lisdiawati8 Desember 2025

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Kemenhaj Umumkan Penyakit Tak Lolos Syarat Haji 2026

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Lari Rutin Tapi Berat Badan Naik? Ini Penyebabnya!

Pramuka SMKN 3 Bone Gelar Laga Palang 2026

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Mic Wireless Untuk Masjid Alat Tulis Sekolah Murah Perlengkapan Pramuka Lengkap
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi