Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Batal Jadi Ibu Kota? MK Tegaskan IKN Belum Gantikan Jakarta

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Minggu, 17 Mei 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Bukan Sekadar Angka Kemiskinan

Kesejahteraan rakyat tidak ditentukan dari versi mana datanya berasal, tetapi dari nyatanya kehidupan di lapangan.
Udex MundzirUdex Mundzir3 Mei 2025 Editorial
Perbandingan Data Kemiskinan Indonesia BPS dan World Bank
Ilustrasi Perbandingan Data Kemiskinan Indonesia BPS dan World Bank
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Indonesia kembali dibuat geger oleh data terbaru World Bank dalam laporan Macro Poverty Outlook edisi April 2025. Dalam grafik yang beredar luas di media sosial, Indonesia menempati posisi kedua tertinggi di dunia dalam jumlah penduduk miskin, yakni 60,3 persen.

Lebih tinggi dari El Salvador, Brazil, bahkan Iran. Di atas Indonesia hanya ada Zimbabwe—negara yang selama ini identik dengan inflasi gila-gilaan dan keruntuhan ekonomi.

Sontak, grafik ini memicu perdebatan. Banyak pihak membandingkannya dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang secara resmi mencatat tingkat kemiskinan nasional per Maret 2024 berada di angka 9,36 persen. Perbedaan ini bukan hanya mencolok—tapi juga membuka ruang pertanyaan kritis: Siapa yang harus dipercaya?

Pertama, mari kita bedah definisinya. BPS menggunakan indikator pendapatan garis kemiskinan nasional, yang pada Maret 2024 setara dengan Rp535.547 per kapita per bulan. Siapa pun yang hidup di bawah angka ini dianggap miskin.

Sementara World Bank menggunakan standar internasional, yaitu US$3,65 per hari (kira-kira Rp1,7 juta per bulan per kapita) untuk negara berpenghasilan menengah ke bawah seperti Indonesia.

Baca Juga:
  • Prabowo Akan Kehilangan Kesempatan Emas
  • Pajak: Cermin Keberlanjutan atau Beban Tanpa Akhir?
  • Pemerintahan Indonesia Masih Menggunakan Manajemen Penjajah
  • Wibawa Prabowo Dipertanyakan, Siapa Pemimpin Sebenarnya?

Dari sini terlihat bahwa World Bank memakai standar yang lebih tinggi dan kontekstual secara global. Seseorang yang menurut BPS sudah keluar dari kategori miskin, bisa jadi menurut World Bank justru masih jauh dari kehidupan layak.

Kedua, soal metode. BPS mengambil data dari survei SUSENAS dengan pendekatan konsumsi dan pengeluaran. World Bank menggabungkan berbagai sumber, termasuk makroekonomi dan model statistik, lalu mengkalibrasinya dengan paritas daya beli antarnegara. BPS lebih cermat di tingkat mikro; World Bank lebih tajam untuk komparasi antarnegara.

Namun yang menarik bukan sekadar teknis statistik. Melainkan narasi yang dibangun darinya. Pemerintah tentu lebih nyaman mengacu pada data BPS. Angka 9 persen terasa lebih ‘bersahabat’ untuk politik pencitraan dan stabilitas.

Tapi World Bank—sebagai lembaga internasional yang tidak tunduk pada logika politik lokal—lebih independen dalam menyuarakan potret kemiskinan struktural yang sering tersembunyi.

Sementara itu, fakta-fakta pendukung juga menggambarkan betapa ketimpangan masih besar. Gini ratio Indonesia 2024 berada di angka 0,379—cukup tinggi dibanding negara ASEAN lain. Rata-rata upah buruh hanya Rp3,27 juta per bulan. Di Jakarta, biaya sewa kos dan makan sederhana saja sudah bisa menghabiskan itu.

Di sisi lain, laporan Oxfam menyebut kekayaan 4 orang terkaya di Indonesia setara dengan gabungan harta 100 juta orang termiskin. Jadi, meskipun angka makro ekonomi seperti pertumbuhan GDP menyentuh 5 persen, kenyataannya distribusinya sangat timpang.

Perlu juga dipahami, angka kemiskinan rendah bukan berarti kemakmuran tinggi. Bisa saja banyak orang tidak miskin versi BPS, tapi juga tidak sejahtera versi realitas: hidup pas-pasan, tanpa tabungan, tanpa akses kesehatan, dan tanpa jaminan pensiun.

Artikel Terkait:
  • Kekalahan RIDO: Pelajaran dari Jakarta
  • Jamnas Bukan Ajang Si Punya Uang
  • Isu, Skandal, dan Politik Panggung
  • Suara Moral yang Tersisa

Secara sosial dan budaya, hal ini menciptakan kelompok “hampir miskin”—kelas rapuh yang mudah jatuh miskin karena satu musibah saja. Sakit, PHK, atau inflasi bahan pokok sudah cukup untuk menjungkirbalikkan hidup mereka.

Secara hukum dan kebijakan, banyak program bansos justru bersifat tambal sulam. Alih-alih membangun kemandirian ekonomi rakyat, justru memperkuat ketergantungan pada negara.

Di tengah semua ini, pemerintah sering kali menyalahkan persepsi publik. Tapi bagaimana bisa menyalahkan rakyat yang kecewa jika keseharian mereka diwarnai PHK, harga kebutuhan pokok yang melambung, dan fasilitas publik yang stagnan?

Yang dibutuhkan bukan perdebatan soal “versi siapa yang benar”. Tapi keberanian mengakui bahwa kemiskinan di Indonesia adalah masalah sistemik yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyisir statistik yang menyenangkan.

Jadi, data mana yang lebih valid?
Secara politik, data BPS sahih sebagai rujukan resmi negara. Tapi secara moral dan substansi, World Bank memberikan gambaran yang lebih jujur soal betapa banyak warga Indonesia yang belum hidup layak, meski mereka tidak tercatat sebagai ‘miskin’ di statistik lokal.

Data World Bank juga penting sebagai pengingat keras: bahwa kemiskinan bukan sekadar ukuran konsumsi, tapi tentang akses, kualitas hidup, dan martabat manusia.

Jangan Lewatkan:
  • Dulu Dipaksa-Paksa Menggunakan Gas Elpiji 3 Kg, Sekarang Malah Haram
  • Buruh Sejahtera, Pengusaha Tertekan
  • Coba Vaksin? Wakil Rakyat Dulu!
  • Populer, Bukan Baik: Demokrasi yang Terjebak

Kesimpulannya, tidak ada gunanya menolak data World Bank jika faktanya kita semua tahu: banyak keluarga masih harus memilih antara makan dan bayar sekolah; antara kerja lembur atau menebus obat. Pemerintah perlu berhenti bersembunyi di balik persentase kecil.

Yang dibutuhkan rakyat bukan sekadar klaim sukses statistik, tapi perubahan nyata di dapur mereka.

Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleBlackout Bali Picu Evaluasi Direksi PLN oleh Pengamat Publik
Next Article Sidang II DPRD Kaltim Prioritaskan RPJMD dan APBD 2026

Informasi lainnya

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026

MBG dan Risiko Cobra Effect

4 Mei 2026

Pendidikan Tersedot Program MBG

2 Mei 2026

LPDP: Hibah atau Pinjaman?

30 April 2026
Paling Sering Dibaca

Serangan Fajar: Hari Tenang yang Tak Tenang

Editorial Udex Mundzir

Djibouti dan Politik Geografi

Opini Alfi Salamah

Roehana Koeddoes: Jejak Emansipasi Sang Pionir Pers

Biografi Alfi Salamah

Menunda Panggilan Haji: Benarkah Kehendak atau Keragu-raguan

Islami Alfi Salamah

Al‑Biruni: Penjelajah Ilmu Tanpa Batas

Profil Alfi Salamah
Berita Lainnya
Ekonomi
Lisda Lisdiawati8 Desember 2025

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Waktu Pencernaan Makanan, Kenali Sebelum Mengatur Pola Makan

Kepala BGN Diganti, Program MBG Diminta Tetap Berjalan

Batal Jadi Ibu Kota? MK Tegaskan IKN Belum Gantikan Jakarta

Waspada Makan Berlebih Saat Lebaran, Ini Risikonya

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Mic Wireless Untuk Masjid Perlengkapan Pramuka Lengkap Produk Dapur Terlaris
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi