Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Danny Setiawan Wafat, Jejak Panjang Birokrat Jabar

24.200 Hektare Sawah Bandung Menuju LP2B

Bazar Murah Bandung, Berapa Warga Bisa Berhemat?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Rabu, 23 September 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Ilmu yang Terasing di Negeri Sendiri

Ketika penelitian berlomba ke panggung dunia, persoalan rakyat di halaman sendiri justru luput dari pandangan.
Udex MundzirUdex Mundzir18 Februari 2025 Editorial
Ilmu yang Terasing: Ketimpangan Riset Lokal dan Global di Indonesia
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Ambisi akademik membawa para peneliti Indonesia berlari ke panggung global. Publikasi di jurnal internasional bereputasi telah menjadi standar keberhasilan, baik untuk kenaikan jabatan, pencairan dana penelitian, hingga gengsi intelektual. Namun, di balik euforia pencapaian itu, ada kenyataan pahit: riset lokal yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat kian kehilangan pamor.

Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mencatat, 70 persen peneliti lebih memilih menerbitkan hasil risetnya di jurnal internasional. Di sisi lain, perhatian terhadap isu-isu lokal yang bersifat aplikatif dan menyentuh kebutuhan warga, seperti teknologi pertanian di desa terpencil atau penanggulangan pencemaran sungai di pedalaman, mulai terpinggirkan.

Seorang dosen di Jawa Timur, yang enggan disebut namanya, mengungkapkan bahwa struktur birokrasi akademik sendiri yang mendorong tren ini. Kenaikan jabatan fungsional dosen sangat bergantung pada publikasi internasional. Riset mengenai permasalahan lokal yang diterbitkan di jurnal nasional kerap dipandang sebelah mata.

“Ada tekanan yang sangat besar. Jika hanya menulis di jurnal nasional atau meneliti soal desa sekitar, nilainya kecil. Tapi kalau bisa tembus jurnal internasional, meskipun temanya jauh dari kebutuhan warga sekitar, itu lebih dihargai,” ujarnya.

Di Sumatera Barat, nasib serupa dialami seorang peneliti tanaman obat. Ia menemukan potensi besar dari tumbuhan khas daerahnya untuk kesehatan masyarakat. Namun, penelitian itu terhenti karena dianggap kurang menjual di mata jurnal internasional.

Fenomena ini memperlihatkan adanya kesenjangan yang semakin melebar antara dunia akademik dan realitas sosial. Akademisi yang seharusnya menjadi agen perubahan bagi masyarakat, justru terjebak dalam birokrasi akademik yang menjadikan prestasi administratif lebih utama ketimbang kontribusi nyata.

Baca Juga:
  • Jokowi Ingin Pegang Partai Anak?
  • Pancasila Bukan Milik Satu Nama
  • UKT dan Ilusi Kesejahteraan ASN
  • Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Siapa Masuk Penjara?

Kebijakan pemerintah yang berorientasi pada peningkatan citra akademik bangsa di mata dunia memang patut diapresiasi. Namun, jika hal itu mengorbankan kebutuhan riil masyarakat, bukankah ada yang keliru?

Dalam konteks sosial, ketimpangan riset ini berakibat langsung pada terabaikannya inovasi lokal yang seharusnya bisa menjadi solusi atas berbagai persoalan rakyat. Contohnya, isu pencemaran sungai di Jawa Tengah yang menyebabkan gagal panen berkepanjangan, atau ancaman tenggelamnya pulau-pulau kecil di Maluku akibat abrasi.

Di sektor kesehatan, potensi bahan herbal lokal yang bisa menjadi obat alternatif bagi masyarakat di pelosok juga sering kali terkubur karena dianggap tidak relevan di kancah ilmiah global. Padahal, akses obat-obatan modern bagi warga di daerah terpencil masih menjadi persoalan serius.

Dampaknya meluas hingga ke aspek ekonomi. Desa-desa yang sebenarnya kaya akan sumber daya lokal tidak dapat memaksimalkan potensinya karena riset yang seharusnya mampu mendorong pengembangan sektor pertanian, perikanan, atau pariwisata, justru minim dilakukan.

Secara politik, ketimpangan ini mempertegas kesenjangan antara pusat dan daerah. Ketika dunia akademik lebih sibuk mengejar pengakuan global, aspirasi masyarakat di daerah menjadi semakin jauh dari perhatian pengambil kebijakan.

Untuk memperbaiki kondisi ini, langkah konkret harus diambil. Pertama, pemerintah perlu meninjau ulang sistem penilaian kinerja akademisi. Publikasi internasional memang penting, tetapi riset yang berdampak langsung pada masyarakat lokal harus mendapat apresiasi setara.

Artikel Terkait:
  • Tantangan Representasi atau Simbolisme?
  • Bahlil Membuat Gaduh, Lalu Berlagak Penyelamat
  • Pilkada Jakarta: Gugat Aja Dulu
  • Koperasi Rasa Franchise

Kedua, jurnal-jurnal nasional perlu diperkuat agar memiliki kredibilitas tinggi. Jurnal ilmiah nasional seharusnya menjadi ruang prestisius bagi peneliti yang berfokus pada isu lokal. Ini membutuhkan investasi dalam peningkatan kualitas editorial, pengelolaan yang profesional, dan mendorong indeksasi internasional seperti Scopus atau Web of Science.

Ketiga, pendanaan penelitian harus diarahkan untuk mengatasi masalah nyata yang dihadapi masyarakat. Kebijakan afirmatif terhadap riset lokal harus diterapkan, terutama bagi daerah-daerah yang selama ini terpinggirkan dalam arus besar pembangunan nasional.

Keempat, kolaborasi antara akademisi dan pemerintah daerah harus diperkuat. Forum riset daerah dapat dibentuk untuk menjembatani hasil penelitian dengan kebutuhan kebijakan lokal. Dengan begitu, ilmu pengetahuan bisa menjadi kekuatan nyata yang menggerakkan pembangunan daerah.

Akhirnya, masyarakat juga harus didorong untuk lebih menghargai hasil riset lokal. Publikasi ilmiah bukan hanya untuk kalangan akademik, tetapi juga harus bisa dipahami dan dirasakan manfaatnya oleh warga. Media massa dan teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk menyebarluaskan temuan-temuan riset yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Ilmu pengetahuan yang bermakna adalah yang mampu mengakar di tanah sendiri, menyuburkan kehidupan masyarakat, dan memberi jalan keluar atas masalah riil yang mereka hadapi. Jika riset hanya menjadi ajang perburuan status global, sementara derita rakyat di desa tetap dibiarkan, maka akademisi telah gagal menjalankan amanatnya.

Jangan Lewatkan:
  • Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda
  • Gaya Politik Kekanak-Kanakan Ala RIDO
  • Pahlawan yang Dipenjara
  • SPMB: Reformasi atau Sekadar Rebranding?

Kita membutuhkan keseimbangan baru: ilmu yang membumi dan bermanfaat bagi negeri.

Isu Sosial Kebijakan Akademik Penelitian Lokal Pengembangan Daerah Publikasi Internasional
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleMudik Gratis DKI 2025 Siapkan 22 Ribu Kursi, Begini Cara Daftarnya
Next Article Mensesneg Pastikan Efisiensi Anggaran Tak Ganggu Program Pendidikan

Informasi lainnya

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Sosok Mulia Ciptaan Allah, Inilah Peran Perempuan dalam Islam

Islami Alfi Salamah

Kisah Inspiratif Pria 39 Tahun Mengabdi di Pabrik Kiswah Ka’bah

Islami Alfi Salamah

Selamat Tinggal Agustus Kelabu: Tinggalkan Joget-joget di Istana

Editorial Udex Mundzir

Waspada, Oknum FB Palsu Mengaku Wakil Ketua DPRD Kaltim

Techno Alfi Salamah

Pimpinan Viral, Yang Menderita Rakyatnya.

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Gunung Raung Erupsi, Warga Diminta Jauhi Kawah dalam Radius Tiga Kilometer

Tugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Prioritas Silaturahmi Lebaran, Siapa Didahulukan?

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Produk Dapur Terlaris Mic Wireless Untuk Masjid
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi