Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Batal Jadi Ibu Kota? MK Tegaskan IKN Belum Gantikan Jakarta

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Minggu, 17 Mei 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Pimpinan Viral, Yang Menderita Rakyatnya.

Saat rakyat kehilangan arah, pemimpinnya justru sibuk mencari sorotan.
Udex MundzirUdex Mundzir3 April 2025 Editorial
Pencitraan Pemimpin Daerah dan Kontras Ekonomi Lebaran
Ilustrasi Pencitraan Pemimpin Daerah dan Kontras Ekonomi Lebaran
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Tahun ini jumlah pemudik turun drastis—dari 193 juta menjadi 146 juta orang. Bukan karena orang-orang tak lagi cinta kampung halaman, tapi karena mereka tak punya cukup uang untuk pulang. Namun, di tengah kesulitan ekonomi itu, kita disuguhi pemimpin daerah yang baru dilantik malah tampil layaknya bintang panggung.

Alih-alih bekerja sunyi untuk membenahi daerahnya, mereka justru berlomba tampil di kamera. Menolak gaji, membagikan bansos, membonceng rakyat naik motor, blusukan mendadak—semua dibingkai dalam lensa pencitraan, bukan kinerja.

Padahal, jika dibandingkan dengan Lebaran tahun lalu, tekanan ekonomi tahun ini jauh lebih berat. Banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan, upah stagnan, harga pangan tak kunjung turun, dan bantuan sosial justru dipangkas.

Cerita Supriyono dan Hamidah, buruh korban PHK yang tak bisa mudik, hanyalah dua dari ribuan potret warga yang dikorbankan sistem. Mereka yang dulu pulang membawa harapan dan rezeki, kini bahkan tak sanggup membeli tiket pulang.

Namun, pemimpinnya malah menggelar panggung. Yang menjadi simbol, bukan solusi. Yang dikedepankan adalah gestur, bukan kerja.

Baca Juga:
  • Mike Tyson vs Jake Paul, Duel Fenomenal untuk Konten YouTube!
  • Prabowo Tidak Peka Terhadap Derita Rakyat
  • Alibi Efisiensi, Pilkada Tetap Harus Langsung
  • Kehadiran Prabowo di Kongres Projo, Akan Menegaskan Dirinya “Termul”

Lebih parah lagi, pengawasan melemah. Wartawan lokal, LSM, dan aktivis yang dulu vokal kini “dipaksa antri” parcel dan amplop THR. Suara publik dibungkam bukan dengan represi, tapi dengan bingkisan.Kontrol sosial mandul. Kritik dimatikan dengan keramahan palsu. Ruang diskusi publik diganti dengan siaran langsung penuh tepuk tangan.

Sementara itu, pelayanan dasar tetap buruk. Jalan rusak tak tersentuh, air bersih masih langka, layanan kesehatan tetap antre dan minim obat. Rakyat dibiarkan bergulat sendiri dengan hidupnya, sementara anggaran habis untuk pencitraan.

Benar bahwa arus mudik tahun ini lebih lancar. Data Korlantas menunjukkan kecelakaan turun 31 persen, dan korban meninggal menurun 32 persen dibanding 2024. Tapi jangan sampai lancarnya jalan justru menutupi kenyataan bahwa banyak yang tak bisa mudik karena tak punya ongkos.

Dibandingkan tahun lalu, tidak hanya jumlah pemudik yang menyusut, tetapi perputaran uang selama Ramadan dan Lebaran pun turun drastis: dari Rp157 triliun menjadi Rp137 triliun. Uang tidak bergerak, karena dompet rakyat semakin tipis.

Ironisnya, justru di tengah keterpurukan ini, pemimpin daerah sibuk membangun citra saleh dan merakyat. Menolak gaji sambil tetap menikmati semua fasilitas. Membagikan bansos sambil membawa kamera dan pasukan konten.

Artikel Terkait:
  • Menag di Vatikan: Diplomasi Iman dan Kemanusiaan
  • Dari Memalukan ke Menakutkan
  • Prabowo-Gibran dan Propaganda 78% Publik Puas
  • e-KTP: Teknologi Tanpa Arah

Rakyat tak butuh pertunjukan. Mereka butuh perubahan nyata. Jika pemimpin ingin menunjukan empati, maka perbaikilah layanan publik. Buka lapangan kerja. Tingkatkan anggaran pendidikan dan kesehatan. Jangan hanya tampil bersih di permukaan, tapi biarkan korupsi, kolusi, dan kemiskinan mengakar di bawah.

Dan jika ingin dihormati, jangan bungkam pengkritik dengan amplop. Beranilah mendengar suara yang tak enak di telinga. Karena dalam demokrasi, lawan bukan musuh. Kritik bukan fitnah.

Hari ini, yang menjaga rakyat bukan lagi lembaga formal, tapi kesadaran publik itu sendiri. Media alternatif, jaringan warga, dan suara-suara kecil harus kembali diberi tempat. Karena jika pengawasan mati, maka kekuasaan akan terus menyalahgunakan panggung.

Jangan Lewatkan:
  • Jamnas Bukan Ajang Si Punya Uang
  • Ambisi Politik Bahlil: Kursi Lebih Penting dari Kinerja
  • Zakat Ternoda, Amanah Diperdagangkan
  • Populer, Bukan Baik: Demokrasi yang Terjebak

Kita tidak anti pemimpin muda. Kita hanya muak pada pemimpin yang lebih sibuk bergaya daripada bekerja.Pimpinan boleh viral, tapi jangan lupa: yang masih menderita tetap rakyatnya.

Daya Beli Turun Lebaran 2025 Pemimpin Daerah Pencitraan Politik PHK Massal
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleAngka Kecelakaan Lalu Lintas Mudik Lebaran Menurun, Menhub Apresiasi Peran Polri
Next Article Eks Tambang Disulap Jadi Peternakan, Loa Raya Gandeng Investor Malaysia

Informasi lainnya

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026

MBG dan Risiko Cobra Effect

4 Mei 2026

Pendidikan Tersedot Program MBG

2 Mei 2026

LPDP: Hibah atau Pinjaman?

30 April 2026
Paling Sering Dibaca

Djibouti dan Politik Geografi

Opini Alfi Salamah

Prabowo Lebih Pro pada Koruptor

Editorial Udex Mundzir

Tanda Hari Kiamat, Ini Doa Perlindungan dari Fitnah Dajjal

Islami Alfi Salamah

Makna Idul Adha dan Sejarah Pengorbanan Nabi Ibrahim

Islami Alfi Salamah

Tarif Trump: Senjata Makan Tuan

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Ekonomi
Lisda Lisdiawati8 Desember 2025

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Waktu Pencernaan Makanan, Kenali Sebelum Mengatur Pola Makan

Kepala BGN Diganti, Program MBG Diminta Tetap Berjalan

Batal Jadi Ibu Kota? MK Tegaskan IKN Belum Gantikan Jakarta

Waspada Makan Berlebih Saat Lebaran, Ini Risikonya

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Alat Tulis Sekolah Murah Perlengkapan Pramuka Lengkap
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi