Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

36 Juta Warga Jabar Gunakan Handphone, Pers Ditantang Jaga Kredibilitas

Ratusan Lembaga di Indonesia, tapi Tak Ada Satupun yang Bisa Menjawab Tuntas Soal Ijazah Gibran

Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Sabtu, 27 Juni 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Bukan Vasektomi Solusinya

Menanggulangi kemiskinan tidak bisa dengan memotong hak warga untuk memiliki anak, tapi dengan memangkas korupsi dan ketimpangan.
Udex MundzirUdex Mundzir1 Mei 2025 Editorial
Kebijakan Vasektomi dan Keadilan Sosial
Ilustrasi Kebijakan Vasektomi dan Keadilan Sosial
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Wacana vasektomi sebagai syarat bantuan sosial bukan saja problematis dari segi etika, tetapi juga menyesatkan secara logika dan cacat dalam nalar keadilan sosial. Usulan ini datang dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang menyatakan bahwa pria miskin harus menjalani vasektomi jika ingin mengakses berbagai bantuan pemerintah.

Pernyataan tersebut sontak memicu kontroversi. Di satu sisi, ia mungkin bermaksud menekan laju pertumbuhan penduduk yang dianggap tidak terkendali di kalangan prasejahtera. Namun di sisi lain, wacana ini dengan terang menunjukkan bahwa negara lebih mudah menyalahkan rahim rakyat daripada menghadapi akar struktural persoalan kemiskinan.

Apakah negara benar-benar tidak tahu bahwa kemiskinan tidak lahir dari jumlah anak? Atau memang lebih nyaman untuk menyalahkan rakyat miskin karena lebih lemah dan tak mampu melawan?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting diajukan. Karena dalam narasi kebijakan publik, ada kecenderungan mengalihkan fokus dari masalah yang sebenarnya. Yang menjadi akar kemiskinan justru jarang disentuh: korupsi yang meluas, kebijakan fiskal yang eksklusif, akses pendidikan yang timpang, dan sistem ekonomi yang tidak inklusif.

Jika merujuk pada data, laporan Indonesia Corruption Watch (ICW) tahun 2024 mencatat bahwa kerugian negara akibat korupsi dalam satu tahun bisa mencapai lebih dari Rp 35 triliun. Sementara total anggaran bansos dalam APBN hanya sekitar Rp 493 triliun yang tersebar ke berbagai program—sebagian besar bersifat sektoral dan tidak menyentuh akar persoalan sosial.

Dengan kata lain, kemiskinan bukan terjadi karena terlalu banyak warga miskin yang punya anak, tetapi karena terlalu banyak elite yang menguras anggaran negara.

Kebijakan publik yang baik harus berbasis pada keadilan, bukan pada penghakiman moral terhadap rakyat kecil. Mengapa hak dasar seperti bantuan sosial harus dibarter dengan tindakan medis yang mempengaruhi hak reproduksi? Bukankah bantuan sosial adalah hak konstitusional setiap warga negara, bukan hadiah dari penguasa?

Baca Juga:
  • Politik Warisan yang Membelit
  • Ijazah Jokowi: Bukan Privasi, Tapi Legitimasi
  • Benturan Kekuasaan dan Kemanusiaan
  • Stop Putar Lagu atau Musik Lokal Indonesia

Ada yang salah ketika bantuan yang bersumber dari uang rakyat justru disyaratkan dengan pemaksaan sterilitas terhadap rakyat. Ini bukan lagi sekadar intervensi kebijakan, tapi bentuk manipulasi struktural yang memanfaatkan posisi negara sebagai pemberi akses, bukan pelindung hak warga.

Vasektomi bukanlah masalah pada dirinya sendiri. Prosedur ini legal, etis, dan bahkan direkomendasikan sebagai bentuk kesadaran ber-KB jika diambil secara sukarela. Masalah muncul ketika vasektomi dijadikan syarat. Di titik inilah, kebijakan berubah menjadi tekanan. Relasi antara negara dan rakyatnya menjadi timpang: negara mengatur sampai ke urusan tubuh.

Apalagi kebijakan ini tidak menyentuh penyebab utama mengapa keluarga prasejahtera memilih memiliki banyak anak. Dalam banyak kasus, anak-anak menjadi bentuk jaminan sosial informal bagi keluarga yang tidak memiliki asuransi, pensiun, atau akses terhadap pelayanan dasar. Negara absen, lalu menyalahkan rakyat karena mencoba bertahan dengan cara sendiri.

Selain itu, mewajibkan vasektomi justru berpotensi memperburuk kepercayaan publik terhadap program KB yang selama ini sedang dipulihkan citranya. Selama Orde Baru, KB sering dijalankan secara koersif. Trauma itu belum hilang. Alih-alih mendorong partisipasi aktif, kebijakan ini justru bisa menimbulkan resistensi yang lebih luas.

Wacana seperti ini juga melecehkan perempuan secara tidak langsung. Karena ketimpangan peran gender dalam keluarga tak serta-merta diselesaikan dengan vasektomi. Jika benar ingin memperkuat peran laki-laki dalam KB, maka jalannya adalah edukasi, bukan tekanan melalui bansos. Perubahan kesadaran tidak bisa dihasilkan dari ketakutan akan kehilangan bantuan.

Lebih penting lagi, negara seharusnya memperkuat infrastruktur kesejahteraan. Meningkatkan upah minimum yang layak. Menyediakan akses layanan kesehatan dan pendidikan gratis yang bermutu. Memberikan perlindungan sosial yang kuat untuk buruh informal. Dan yang tak kalah penting: menindak tegas korupsi yang memakan uang rakyat.

Tapi selama kebijakan dirancang dengan cara berpikir “elitis”—di mana rakyat miskin dianggap sebagai beban yang perlu dikendalikan, bukan manusia yang harus dilindungi—selama itu pula solusi-solusi seperti ini akan terus bermunculan. Ini adalah cermin kegagalan memahami esensi kebijakan publik: untuk memberdayakan, bukan membatasi.

Artikel Terkait:
  • Danantara: Mesin Kapital yang Mengabaikan Darah Palestina
  • Tegakkan Hukum, Bukan Cari Kambing Hitam
  • UKT dan Ilusi Kesejahteraan ASN
  • Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

Jika kita jujur, kita harus katakan bahwa negara selama ini gagal menyediakan jaminan dasar hidup yang adil. Angka stunting masih tinggi, pengangguran terbuka terus bertambah, dan urbanisasi memaksa jutaan orang meninggalkan kampung untuk bertahan hidup di kota. Tapi semua itu tidak pernah dijadikan refleksi. Yang dikritik tetap saja rahim rakyat.

Sangat ironis bahwa gagasan semacam ini bisa muncul di tengah masa transisi kekuasaan nasional. Ketika banyak pihak menuntut kepemimpinan yang lebih adil, lebih berpihak, lebih peka terhadap keadilan sosial, justru muncul wacana yang menyalahkan rakyat miskin atas kemiskinannya sendiri.

Ini bukan solusi. Ini bentuk pengabaian tanggung jawab.

Alih-alih membatasi jumlah anak, mengapa tidak membatasi jumlah proyek-proyek mercusuar yang menyedot anggaran tanpa evaluasi? Mengapa tidak membatasi jumlah pejabat korup yang merampok dana bansos? Mengapa tidak membatasi praktek oligarki yang menyedot kekayaan dari daerah ke pusat?

Kebijakan sosial seharusnya dimulai dari keberpihakan pada rakyat. Pada hak hidup yang layak, pendidikan yang bermutu, kesehatan yang terjangkau. Bukan pada pengendalian tubuh manusia atas nama efisiensi anggaran.

Rakyat Indonesia, terutama yang hidup dalam garis kemiskinan, sudah cukup lelah dituding sebagai penyebab kemunduran bangsa. Padahal mereka bekerja paling keras, membayar harga paling mahal, dan menerima bagian paling kecil dari pertumbuhan ekonomi.

Jangan Lewatkan:
  • Antara Sekolah Garuda dan Sekolah Rakyat
  • Regulasi Pers Tanpa Arah
  • UU TNI Disahkan, Sipil Terancam Diam
  • Kabut Dalang, Gagalnya Aparat

Kini yang mereka butuhkan bukan lagi imbauan untuk mensterilkan diri, tapi jaminan bahwa anak-anak mereka akan bisa sekolah, hidup sehat, dan punya masa depan. Karena yang mereka minta bukan charity, melainkan keadilan.

Bansos Hak Asasi Manusia Kebijakan Publik Kemiskinan Struktural Vasektomi
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleMensos Pertimbangkan Vasektomi Jadi Syarat Bansos
Next Article Vasektomi Bukan Jawaban Kemiskinan

Informasi lainnya

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026

MBG dan Risiko Cobra Effect

4 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Suharno Maknai Kemerdekaan Indonesia ke-78 dengan Syukur dan Semangat Perjuangan

Argumen Alwi Ahmad

Resep Puding Karamel Kukus Hanya dengan 1 Telur

Food Alfi Salamah

Inilah Tips Menjaga Kesehatan Saat Puasa

Islami Alfi Salamah

Jamaah Haji Wafat Dibadalkan Gratis dengan Sertifikat Bukti

Islami Alfi Salamah

Stop Putar Lagu atau Musik Lokal Indonesia

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Ekonomi
Lisda Lisdiawati8 Desember 2025

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Kemenhaj Umumkan Penyakit Tak Lolos Syarat Haji 2026

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Lari Rutin Tapi Berat Badan Naik? Ini Penyebabnya!

Gelombang PHK Global 2025: Amazon hingga Nestlé Pangkas Ribuan Pekerja

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Buku Anak Islami Murah Produk Dapur Terlaris Mic Wireless Untuk Masjid
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi