Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Rekening Botok Dibuka Lagi Usai Klarifikasi Polisi

Kwarnas Dorong Jutaan Jam Bakti Pramuka Tercatat Global

Aura Farming Viral, Mengapa Semua Ingin Terlihat Keren?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Rabu, 26 Agustus 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Dilema Profesi Guru di Tengah Ancaman Kriminalisasi

Udex MundzirUdex Mundzir25 November 2024 Editorial
Supriani di kubu tergugat
Supriani di kubu tergugat (.ant)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Kasus Guru Supriyani di Konawe Selatan menjadi sorotan, tidak hanya karena vonis bebas yang dijatuhkan pengadilan, tetapi juga karena polemik yang mengiringi perjalanan kasus tersebut. Supriyani, seorang guru honorer, dituduh melakukan penganiayaan terhadap muridnya yang merupakan anak seorang polisi.

Tuduhan itu berbuntut panjang hingga proses persidangan. Meski akhirnya ia dinyatakan tidak bersalah, perjalanan hukum yang dilaluinya membuka luka lama dalam dunia pendidikan: kriminalisasi guru.

Persoalan bermula dari laporan yang diajukan oleh orang tua murid, yang menuduh Supriyani memukul anaknya dengan sapu ijuk. Meski Supriyani membantah tuduhan tersebut, kasus ini tetap diproses hingga ke pengadilan.

Dalam persidangan, jaksa penuntut umum menyebut bahwa perbuatan tersebut dilakukan secara spontan tanpa niat jahat, sehingga unsur pidana tidak terbukti. Majelis hakim pun menyatakan Supriyani bebas dari segala dakwaan. Vonis ini disambut haru oleh Supriyani, yang selama ini mendapat dukungan besar dari rekan-rekan guru dan masyarakat.

Namun, vonis bebas ini menyisakan pertanyaan besar tentang perlindungan hukum bagi guru. Dalam menjalankan tugasnya, guru sering dihadapkan pada situasi sulit, termasuk dalam mendisiplinkan murid. Batas antara tindakan pendisiplinan yang wajar dan dianggap melanggar hukum sering kali kabur.

Situasi semacam itu membuat banyak guru khawatir, bahkan takut untuk bertindak. Kekhawatiran ini semakin nyata ketika Ketua PGRI Sulawesi Tenggara menyebut bahwa beberapa guru kini memilih menghindar dari konflik antar-murid, khawatir akan berakhir dalam tuduhan pidana.

Baca Juga:
  • Di Balik Kegelapan yang Diteriakkan
  • Batas Kuasa, Uji Demokrasi
  • Selat Hormuz dan Ancaman Ekonomi Dunia
  • Narasi Globalis dan Politik Ketakutan

Kasus ini bukan yang pertama. Pada tahun 2013, seorang guru di Majalengka bernama Aop Saopudin juga menghadapi dakwaan serupa karena memotong rambut gondrong muridnya. Dalam putusan kasasi, Mahkamah Agung membebaskan Aop dan menegaskan bahwa tindakan pendisiplinan dalam batas wajar tidak dapat dipidanakan.

Namun, pemahaman hukum ini sering kali tidak diindahkan. Proses hukum tetap berlangsung, menguras tenaga, waktu, dan emosi guru yang terlibat.

Situasi ini memperlihatkan pentingnya regulasi yang lebih tegas untuk melindungi profesi guru. Pemerintah perlu merancang undang-undang perlindungan guru yang memberikan batasan jelas antara tindakan pendisiplinan dengan kekerasan.

Regulasi ini harus memastikan bahwa konflik antara guru dan murid diselesaikan terlebih dahulu melalui mekanisme internal sekolah. Melibatkan kepolisian atau pengadilan hanya boleh menjadi langkah terakhir jika mediasi gagal dilakukan.

Selain itu, pendekatan keadilan restoratif perlu menjadi prioritas. Peraturan Kepolisian Nomor 8 Tahun 2021 dan Peraturan Kejaksaan Nomor 15 Tahun 2020 sebenarnya telah memberikan ruang untuk penyelesaian konflik melalui mediasi.

Artikel Terkait:
  • Gaduh Ijazah dan Politik Adu Domba
  • Harga BBM Turun, Asal Bukan Oplosan
  • Hibah untuk Aparat, Buat Apa?
  • PKS dan Strategi Politik yang Memukul Balik

Dalam kasus Supriyani, aparat kepolisian menyatakan telah mencoba mempertemukan kedua belah pihak, tetapi upaya tersebut gagal. Padahal, pendekatan ini lebih efektif dalam menjaga hubungan baik antara guru, murid, dan orang tua.

Dukungan masyarakat juga sangat penting untuk menjaga martabat profesi guru. Kasus Supriyani mendapat banyak perhatian publik, termasuk dari rekan-rekannya sesama guru dan organisasi profesi seperti PGRI.

Solidaritas itu perlu terus dijaga untuk melindungi guru dari ancaman kriminalisasi. Orang tua juga perlu memahami bahwa tindakan pendisiplinan guru memiliki tujuan untuk mendidik, bukan bentuk kekerasan.

Vonis bebas Supriyani memang menjadi akhir dari perjalanan hukum yang melelahkan, tetapi itu belum cukup untuk mengatasi akar permasalahan. Profesi guru membutuhkan perlindungan hukum yang lebih kuat agar tidak terjebak dalam kriminalisasi serupa di masa depan.

Jangan Lewatkan:
  • Koperasi Rasa Franchise
  • Tarif Ojol Naik: Siapa Diuntungkan?
  • Bahlil Memang Tidak Punya Urat Malu
  • e-KTP: Teknologi Tanpa Arah

Jika tidak ada langkah konkret yang diambil, kasus-kasus seperti ini akan terus terjadi, mengancam kualitas pendidikan di Indonesia. Pada akhirnya, pendidikan yang bermutu hanya dapat tercapai jika para pendidik merasa aman dan dihormati dalam menjalankan tugasnya.

Hari Guru Nasional Kasus guru Supriyani Kriminalitas pendidikan Perlindungan guru honorer
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleJangan Cium Bayi! Ini Bahaya yang Mengintai Menurut Ahli
Next Article Edukasi Hukum Siswa Magang, SMKN 1 Sidoarjo Gandeng KHGG

Informasi lainnya

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Pandemi Berlalu, Industri Film Indonesia Proyeksikan Pertumbuhan

Happy Ericka

Tips Belajar Efektif untuk Anak-anak

Daily Tips Alfi Salamah

Komdigi: Permohonan Merger XL-Smartfren Belum Diterima

Techno Assyifa

Puasa dan Pemberantasan Korupsi

Islami Syamril Al-Bugisyi

Makanan Indonesia Memukau Arab Saudi dengan Bakso dan Rendang

Islami Alfi Salamah
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Ujian Tatap Muka UT di Tasikmalaya Berjalan Tertib dan Ketat

Gunung Raung Erupsi, Warga Diminta Jauhi Kawah dalam Radius Tiga Kilometer

Tugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’

Lari Rutin Tapi Berat Badan Naik? Ini Penyebabnya!

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Perlengkapan Pramuka Lengkap Buku Anak Islami Murah Alat Tulis Sekolah Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi