Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Mengenal Suku Kajang, Penjaga Hutan Adat Bulukumba

Emas Antam Naik Rp46 Ribu, Tembus Rp2,71 Juta

100 Mahasiswa UBB Dapat Beasiswa Kelapa 2026

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Minggu, 6 September 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Tegakkan Hukum, Bukan Cari Kambing Hitam

Negara tidak butuh revisi aturan jika penegak hukumnya masih tunduk pada kekuasaan atau premanisme yang berselubung ormas.
Udex MundzirUdex Mundzir29 April 2025 Editorial
Penegakan Hukum Premanisme Ormas
Ilustrasi Penegakan Hukum Premanisme Ormas (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Kegaduhan seputar keberadaan ormas-ormas yang diduga terlibat premanisme kini makin riuh. Pemerintah pusat dan DPR mengajukan ide revisi UU Ormas, seolah itu jawaban atas keresahan publik. Tetapi sesungguhnya, bukan aturan yang kurang. Yang hilang adalah keberanian menegakkan hukum yang sudah ada.

UU No. 16 Tahun 2017 tentang Ormas sudah memberikan dasar hukum yang kuat untuk menertibkan organisasi masyarakat yang menyimpang dari fungsinya. UU itu bahkan memungkinkan pembubaran ormas tanpa harus melalui prosedur pengadilan jika terbukti melanggar prinsip-prinsip kebangsaan.

Masalahnya bukan di situ. Yang jadi penyakit adalah mentalitas “pilih-pilih” dalam menegakkan hukum. Beberapa ormas dekat kekuasaan dibiarkan melanggar, sementara yang kritis cepat diproses. Ini bukan soal lemahnya regulasi, melainkan soal keberpihakan aparat yang masih selektif dan pragmatis.

Pernyataan Ketua Komisi II DPR Muhammad Rifqinizamy Karsayuda sebetulnya sudah tepat. Ia menilai tak perlu revisi UU Ormas, karena masalah sebenarnya ada pada implementasi, bukan pada teks undang-undang itu sendiri. Sayangnya, pernyataan ini tidak banyak diangkat, kalah oleh narasi populis soal revisi besar-besaran.

Mengapa ada dorongan revisi? Ini terlihat seperti usaha mengalihkan perhatian. Alih-alih berani membongkar jejaring ormas-ormas yang melindungi kepentingan politik tertentu, pemerintah memilih membuat kesan sibuk memperbaiki undang-undang. Padahal, hukum yang tidak ditegakkan, akan tetap mandul, sebaik atau setebal apapun aturan itu.

Lihat saja realitasnya. Berapa banyak kasus premanisme yang berlabel ormas berhasil diproses tuntas? Di banyak daerah, aktivitas pungli, intimidasi terhadap investor, dan kekerasan berbasis ormas berlangsung terang-terangan, tanpa konsekuensi serius. Negara seperti lumpuh di hadapan kelompok-kelompok ini.

Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno pun mengingatkan: jangan ada toleransi terhadap aksi-aksi “koboi” yang mengganggu investasi dan stabilitas ekonomi. Ini suara yang masuk akal. Tetapi seperti biasa, seruan ini akan berakhir sebagai basa-basi politis bila tidak disertai langkah nyata di lapangan.

Masalah premanisme berselubung ormas bukan persoalan baru. Ia adalah hasil dari pembiaran bertahun-tahun. Ketika ormas dijadikan alat politik saat Pilpres dan Pilkada, saat itu pula negara menggadaikan wibawanya kepada kekuatan informal yang kini sulit dikendalikan.

Baca Juga:
  • Haji Ilegal, Iman yang Dimanfaatkan
  • Kalau Mau Selamat, Jadilah Koruptor di Indonesia
  • Kehadiran Prabowo di Kongres Projo, Akan Menegaskan Dirinya “Termul”
  • Sekolah Bukan Mesin Hafalan

Keterlibatan ormas dalam politik praktis menciptakan simbiosis berbahaya: kekuasaan membutuhkan dukungan massa, sementara ormas butuh perlindungan hukum. Akibatnya, ketegasan terhadap mereka seringkali tumpul. Ini bukan rahasia lagi. Semua orang tahu, hanya pura-pura tidak tahu.

Kini ketika ormas-ormas itu mulai melampaui batas, negara tiba-tiba sadar. Tapi bukannya menegakkan hukum yang sudah ada, malah berencana mengubah UU. Ini seperti memperbaiki atap rumah yang bocor, padahal fondasi rumahnya yang rapuh.

Publik berhak skeptis terhadap manuver revisi UU ini. Sebab pengalaman menunjukkan, perubahan undang-undang seringkali bukan untuk memperkuat perlindungan rakyat, tetapi untuk memperluas kontrol kekuasaan terhadap masyarakat sipil.

Membubarkan ormas preman bukan soal kurangnya instrumen hukum, tetapi soal keberanian politik. Pemerintah punya kewenangan penuh untuk membubarkan ormas yang mengancam ketertiban umum, berdasarkan Pasal 61 dan Pasal 62 UU Ormas. Tak perlu revisi apa-apa.

Bahkan dalam kasus berat, pemerintah bisa langsung mencabut status badan hukum ormas tanpa harus menunggu putusan pengadilan. Kewenangan itu sudah ada. Persoalannya, beranikah negara menggunakan kekuasaannya tanpa pandang bulu?

Jika tidak, maka revisi UU hanya akan jadi formalitas tanpa arti. Premanisme tetap bercokol, rakyat tetap jadi korban, dan negara tetap terlihat ompong di hadapan kekuatan non-negara yang mengancam ketertiban umum.

Satu hal lagi yang harus dikritisi adalah kecenderungan menggeneralisasi masalah. Tidak semua ormas bermasalah. Ada banyak organisasi masyarakat yang murni berjuang untuk nilai-nilai sosial, kemanusiaan, dan keadilan. Menyamakan mereka semua dengan oknum premanisme justru mencederai demokrasi.

Artikel Terkait:
  • Riset Murah, Mimpi Besar
  • Eksploitasi Konsumen: Kuota Hangus, Manipulasi Digital Terstruktur
  • Waspadai, Purbaya Anak Buah Luhut
  • QR Warung dan Ketakutan Amerika

Pemerintah harus mampu memilah: mana ormas yang menjadi bagian dari masyarakat sipil yang sehat, dan mana yang menjadi benalu negara. Kalau semua disamaratakan, kita justru membuka jalan bagi lahirnya negara represif yang anti terhadap kebebasan berkumpul dan berserikat.

Momentum ini seharusnya dipakai untuk membersihkan ormas-ormas bermasalah, bukan untuk memperlemah seluruh ekosistem organisasi masyarakat. Negara harus hadir sebagai pengayom masyarakat sipil, bukan sebagai monster yang menakut-nakuti rakyat dengan dalih stabilitas.

Di tengah upaya memperkuat iklim investasi dan memperbaiki ekonomi nasional, penegakan hukum yang adil dan tanpa diskriminasi jauh lebih penting daripada revisi undang-undang. Investor tidak butuh jaminan teks hukum baru. Mereka butuh bukti nyata bahwa hukum benar-benar ditegakkan di lapangan.

Kita juga harus kritis terhadap siapa yang berada di balik dorongan revisi UU ini. Jangan sampai, justru kelompok-kelompok yang selama ini mendapat keuntungan dari keberadaan ormas-ormas bermasalah itu yang mengendalikan arah revisi. Kalau ini terjadi, maka revisi itu hanya akan melanggengkan status quo, bukan memperbaikinya.

Rakyat Indonesia sudah terlalu sering dikecewakan oleh janji-janji perubahan yang hanya berhenti di atas kertas. Kali ini, publik harus menuntut lebih. Bukan janji, bukan revisi, tapi tindakan konkret: tegakkan hukum, bersihkan aparat dari intervensi politik, dan berani membongkar jejaring kekuasaan gelap di balik premanisme berkedok ormas.

Jika pemerintah sungguh-sungguh ingin memperbaiki citra negara, tidak ada jalan lain: hukum harus ditegakkan secara adil, tanpa takut, tanpa pandang bulu. Inilah satu-satunya cara agar demokrasi tetap hidup, rakyat terlindungi, dan hukum benar-benar menjadi panglima.

Jangan Lewatkan:
  • ASEAN di Tengah Preseden Maduro
  • Sentralisasi Berkedok Nasionalisme
  • Narasi Globalis dan Politik Ketakutan
  • IKN: Jawaban atas Pesimisme

DPR RI Kritik Pemerintah Penegakan Hukum Premanisme Ormas UU Ormas
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleSosialisasi Zonasi Hutan Digelar di Muara Muntai
Next Article Korupsi Dana Desa Tak Bisa Lagi Dimaafkan

Informasi lainnya

Polri Tetapkan 72 Tersangka Karhutla di 9 Polda

23 Agustus 2026

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Mengenang Rachmat Gobel, Putra Bangsa yang Mendedikasikan Hidup bagi Industri dan Negeri

10 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Batal Jadi Ibu Kota? MK Tegaskan IKN Belum Gantikan Jakarta

15 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

IKN: Jawaban atas Pesimisme

Editorial Udex Mundzir

Pilkada Sampang 2024: Situasi Ketat, Mandat Diunggulkan

Editorial Udex Mundzir

Tarif Ojol Naik: Siapa Diuntungkan?

Editorial Udex Mundzir

Mengeluh Lapar dan Haus Saat Puasa, Ini Hukumnya

Islami Lisda Lisdiawati

Ketika Putra Mahkota Solo ‘Menyesal’ Bergabung dengan Republik

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Tugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’

Gunung Raung Erupsi, Warga Diminta Jauhi Kawah dalam Radius Tiga Kilometer

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Prioritas Silaturahmi Lebaran, Siapa Didahulukan?

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Perlengkapan Pramuka Lengkap Produk Dapur Terlaris
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi