Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Parlemen Ringkas, Pilpres Terbuka

Siapa yang Layak Dipidana dalam Kasus Gibran

Eksotisme Surabaya dalam Ikan Sambal Nasi Kelapa

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Rabu, 14 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

Perayaan kehilangan makna ketika mereka yang menunggu tidak diberi kesempatan untuk ikut merasakannya.
Udex MundzirUdex Mundzir12 Juni 2026 Editorial
Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)
Shakira tampil membawakan lagu Dai Dai dalam seremoni pembukaan Piala Dunia 2026 di Stadion Azteca, Mexico City, Meksiko (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Sepak bola bukan sekadar pertandingan. Ia adalah pengalaman kolektif yang mempertemukan emosi, identitas, dan harapan jutaan orang pada waktu yang sama. Karena itu, ketika sebagian penonton Indonesia begadang untuk menyaksikan dimulainya Piala Dunia 2026 tetapi tidak dapat melihat upacara pembukaannya, kekecewaan yang muncul bukanlah perkara sepele. Yang hilang bukan hanya tayangan hiburan. Yang hilang adalah bagian dari pengalaman yang membuat Piala Dunia berbeda dari turnamen lainnya.

Piala Dunia 2026 memang hadir dengan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Turnamen ini diikuti 48 negara dan memainkan 104 pertandingan di tiga tuan rumah sekaligus: Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada. Sebagai pembuka, FIFA menyiapkan seremoni besar di Stadion Azteca, Meksiko, yang dimulai sekitar 90 menit sebelum laga perdana. Acara itu menghadirkan pertunjukan budaya Meksiko serta sederet musisi dunia seperti J Balvin, Shakira, Burna Boy, Maná, Belinda, dan Tyla.

Puncak acara terjadi ketika Shakira dan Burna Boy membawakan lagu resmi turnamen berjudul “Dai Dai”. Penampilan itu menjadi simbol dimulainya pesta sepak bola terbesar di dunia yang akan berlangsung lebih dari satu bulan.

Di stadion, puluhan ribu penonton merasakan langsung atmosfer tersebut. Di berbagai negara, jutaan orang menyaksikannya melalui layar televisi dan platform digital. Namun tidak semua penonton memperoleh pengalaman yang sama.

Di Indonesia, sebagian penonton mengeluhkan tidak adanya siaran penuh upacara pembukaan. Keluhan itu cepat menyebar di media sosial. Bagi banyak orang, masalahnya bukan karena ingin melihat konser musik. Mereka ingin merasakan momen ketika dunia berhenti sejenak untuk menyambut sebuah peristiwa global.

Fenomena ini memperlihatkan perubahan cara masyarakat menikmati olahraga. Dulu pertandingan adalah pusat perhatian. Hari ini, pengalaman menjadi bagian yang sama pentingnya. Penonton tidak hanya ingin mengetahui skor. Mereka ingin mengetahui cerita, simbol, dan budaya yang mengiringi pertandingan.

FIFA sendiri tampaknya memahami perubahan itu. Tidak mengherankan bila upacara pembukaan tahun ini dirancang sebagai pertunjukan lintas budaya yang menggabungkan musik, seni visual, dan identitas negara tuan rumah. Bahkan FIFA menempatkan acara tersebut sebagai bagian penting dari kampanye global yang juga mendukung dana pendidikan bersama Global Citizen.

Baca Juga:
  • Prabowo Lebih Pro pada Koruptor
  • UU TNI Disahkan, Sipil Terancam Diam
  • Prabowo Tidak Peka Terhadap Derita Rakyat
  • KTP dan Pajak yang Tak Sederhana

Di sinilah persoalan yang lebih besar muncul. Ketika siaran olahraga hanya dipahami sebagai transmisi pertandingan, maka yang terlihat hanyalah hasil akhir. Padahal olahraga modern telah berkembang menjadi ruang kebudayaan yang jauh lebih luas.

Piala Dunia tidak hanya menghasilkan juara. Ia menghasilkan cerita tentang bangsa, identitas, migrasi, teknologi, ekonomi kreatif, hingga diplomasi budaya. Ketika masyarakat Indonesia kehilangan akses terhadap bagian pembuka itu, mereka kehilangan kesempatan memahami narasi yang ingin dibangun penyelenggara.

Dari sudut pandang pendidikan, situasi ini menarik untuk dicermati. Selama bertahun-tahun kita berbicara tentang pentingnya literasi media. Namun literasi bukan hanya kemampuan membaca informasi. Literasi juga kemampuan memahami konteks.

Upacara pembukaan adalah konteks. Melalui tarian, musik, kostum, dan simbol budaya, publik diajak memahami bagaimana tuan rumah memandang dirinya sendiri. Meksiko, misalnya, menjadikan unsur budaya lokal dan tradisi artistik sebagai bagian dari pertunjukan pembuka. Pesan yang ingin disampaikan jelas: sepak bola bukan hanya tentang kompetisi, tetapi juga tentang kebudayaan.

Karena itu, ketika bagian tersebut tidak hadir dalam siaran, pengalaman publik menjadi terpotong. Penonton melihat pertandingan, tetapi kehilangan kisah yang melatarbelakanginya.

Dari perspektif kebudayaan, persoalan ini menunjukkan tantangan yang semakin sering muncul dalam era hak siar modern. Pemegang hak siar menghadapi tekanan bisnis yang besar. Mereka harus menghitung biaya produksi, durasi siaran, iklan, dan preferensi pasar. Tidak semua konten dianggap memiliki nilai ekonomi yang sama.

Artikel Terkait:
  • Gubernur Bayangan di Tambang Rakyat
  • Gaya Politik Kekanak-Kanakan Ala RIDO
  • Warisan Masalah Era Jokowi
  • Golkar di Persimpangan Jalan

Masalahnya, logika bisnis tidak selalu sejalan dengan kebutuhan publik. Apa yang dianggap tidak penting dalam perhitungan rating bisa jadi justru memiliki makna besar bagi penonton. Upacara pembukaan mungkin tidak menghasilkan gol, tetapi ia menghasilkan keterikatan emosional. Dan dalam industri hiburan modern, keterikatan emosional adalah aset yang sangat berharga.

Sejarah menunjukkan bahwa momen-momen pembukaan sering kali bertahan lebih lama dalam ingatan publik dibanding hasil pertandingan tertentu. Banyak orang masih mengingat lagu “Waka Waka” milik Shakira pada Piala Dunia 2010. Sebagian mengingat seremoni pembukaan Olimpiade London 2012. Tidak semua orang mengingat skor setiap pertandingan, tetapi mereka mengingat momen yang menyatukan dunia dalam satu pengalaman bersama.

Pelajaran pentingnya adalah bahwa penyiaran olahraga tidak cukup hanya berfokus pada pertandingan. Publik semakin membutuhkan pengalaman yang utuh. Mereka ingin memahami cerita di balik peristiwa, bukan sekadar menyaksikan hasil akhirnya.

Ke depan, pemegang hak siar di Indonesia perlu melihat penonton sebagai komunitas yang ingin terlibat, bukan hanya konsumen yang menunggu kickoff. Transparansi mengenai konten yang akan ditayangkan juga menjadi penting agar ekspektasi publik tidak berakhir menjadi kekecewaan.

Piala Dunia 2026 baru saja dimulai. Masih ada puluhan pertandingan yang akan menghadirkan drama, kejutan, dan kisah inspiratif. Namun kegaduhan kecil tentang upacara pembukaan memberikan pengingat yang menarik. Dalam dunia yang dipenuhi informasi dan tayangan instan, manusia tetap membutuhkan makna.

Jangan Lewatkan:
  • Korupsi Makan Bergizi: Kejahatan yang Harus Dihabisi
  • Provokasi di Balik Aksi Jalanan
  • Menyingkap Tabir di Balik ‘Penyalahgunaan Wewenang’
  • Dilema Profesi Guru di Tengah Ancaman Kriminalisasi

Dan makna sering kali lahir bukan ketika pertandingan dimulai, melainkan beberapa menit sebelumnya, saat lampu stadion menyala, musik dimainkan, dan dunia bersama-sama menyadari bahwa sebuah perjalanan besar baru saja dimulai.

FIFA Kebudayaan Olahraga Literasi Media Media Penyiaran Piala Dunia 2026
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleBEM UI Turun ke Bundaran HI, Soroti Ekonomi dan APBN
Next Article Piala Dunia 2026 Jadi Arena Persaingan AI Global

Informasi lainnya

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Piala Dunia 2026 Jadi Arena Persaingan AI Global

14 Juni 2026

Meksiko Awali Piala Dunia 2026 dengan Kemenangan 2-0

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Ciri-Ciri Buzzer dan Pengaruhnya dalam Dunia Bisnis

Bisnis Ericka

6 Karakter Muslimah High Value Masa Kini

Islami Alfi Salamah

Hikmah Idul Qurban

Islami Syamril Al-Bugisyi

Cara Memilih Hewan Qurban, Jenis, Usia, dan Kesehatan yang Harus Diperhatikan

Islami Udex Mundzir

Waktu Takbiran Idul Adha, Kapan Dimulai?

Islami Udex Mundzir
Berita Lainnya
Politik
Udex Mundzir1 Oktober 2026

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

PANDI Perketat Aturan Sengketa Domain untuk Cegah Cybersquatting

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Buku Anak Islami Murah Mic Wireless Untuk Masjid Produk Dapur Terlaris
“Landing

☪   JADWAL SALAT

Mendeteksi lokasi...

Memuat tanggal...

⌖  Menyiapkan lokasi
Memuat jadwal salat...
SALAT BERIKUTNYA —
Menunggu jadwal...
Metode Kemenag RI

© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi