Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Donny Ermawan, Nahkoda Pertama Universitas Republik Indonesia

Mengapa Universitas Republik Indonesia Jadi Sorotan?

Apa Itu Universitas Republik Indonesia? Kenali Misi Besarnya

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Jumat, 24 Juli 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

Perayaan kehilangan makna ketika mereka yang menunggu tidak diberi kesempatan untuk ikut merasakannya.
Udex MundzirUdex Mundzir12 Juni 2026 Editorial
Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)
Shakira tampil membawakan lagu Dai Dai dalam seremoni pembukaan Piala Dunia 2026 di Stadion Azteca, Mexico City, Meksiko (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Sepak bola bukan sekadar pertandingan. Ia adalah pengalaman kolektif yang mempertemukan emosi, identitas, dan harapan jutaan orang pada waktu yang sama. Karena itu, ketika sebagian penonton Indonesia begadang untuk menyaksikan dimulainya Piala Dunia 2026 tetapi tidak dapat melihat upacara pembukaannya, kekecewaan yang muncul bukanlah perkara sepele. Yang hilang bukan hanya tayangan hiburan. Yang hilang adalah bagian dari pengalaman yang membuat Piala Dunia berbeda dari turnamen lainnya.

Piala Dunia 2026 memang hadir dengan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Turnamen ini diikuti 48 negara dan memainkan 104 pertandingan di tiga tuan rumah sekaligus: Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada. Sebagai pembuka, FIFA menyiapkan seremoni besar di Stadion Azteca, Meksiko, yang dimulai sekitar 90 menit sebelum laga perdana. Acara itu menghadirkan pertunjukan budaya Meksiko serta sederet musisi dunia seperti J Balvin, Shakira, Burna Boy, Maná, Belinda, dan Tyla.

Puncak acara terjadi ketika Shakira dan Burna Boy membawakan lagu resmi turnamen berjudul “Dai Dai”. Penampilan itu menjadi simbol dimulainya pesta sepak bola terbesar di dunia yang akan berlangsung lebih dari satu bulan.

Di stadion, puluhan ribu penonton merasakan langsung atmosfer tersebut. Di berbagai negara, jutaan orang menyaksikannya melalui layar televisi dan platform digital. Namun tidak semua penonton memperoleh pengalaman yang sama.

Di Indonesia, sebagian penonton mengeluhkan tidak adanya siaran penuh upacara pembukaan. Keluhan itu cepat menyebar di media sosial. Bagi banyak orang, masalahnya bukan karena ingin melihat konser musik. Mereka ingin merasakan momen ketika dunia berhenti sejenak untuk menyambut sebuah peristiwa global.

Fenomena ini memperlihatkan perubahan cara masyarakat menikmati olahraga. Dulu pertandingan adalah pusat perhatian. Hari ini, pengalaman menjadi bagian yang sama pentingnya. Penonton tidak hanya ingin mengetahui skor. Mereka ingin mengetahui cerita, simbol, dan budaya yang mengiringi pertandingan.

FIFA sendiri tampaknya memahami perubahan itu. Tidak mengherankan bila upacara pembukaan tahun ini dirancang sebagai pertunjukan lintas budaya yang menggabungkan musik, seni visual, dan identitas negara tuan rumah. Bahkan FIFA menempatkan acara tersebut sebagai bagian penting dari kampanye global yang juga mendukung dana pendidikan bersama Global Citizen.

Baca Juga:
  • Populer, Bukan Baik: Demokrasi yang Terjebak
  • Bukan Lalai, Tapi Sinyal Korupsi
  • Kehadiran Prabowo di Kongres Projo, Akan Menegaskan Dirinya “Termul”
  • PKS dan Strategi Politik yang Memukul Balik

Di sinilah persoalan yang lebih besar muncul. Ketika siaran olahraga hanya dipahami sebagai transmisi pertandingan, maka yang terlihat hanyalah hasil akhir. Padahal olahraga modern telah berkembang menjadi ruang kebudayaan yang jauh lebih luas.

Piala Dunia tidak hanya menghasilkan juara. Ia menghasilkan cerita tentang bangsa, identitas, migrasi, teknologi, ekonomi kreatif, hingga diplomasi budaya. Ketika masyarakat Indonesia kehilangan akses terhadap bagian pembuka itu, mereka kehilangan kesempatan memahami narasi yang ingin dibangun penyelenggara.

Dari sudut pandang pendidikan, situasi ini menarik untuk dicermati. Selama bertahun-tahun kita berbicara tentang pentingnya literasi media. Namun literasi bukan hanya kemampuan membaca informasi. Literasi juga kemampuan memahami konteks.

Upacara pembukaan adalah konteks. Melalui tarian, musik, kostum, dan simbol budaya, publik diajak memahami bagaimana tuan rumah memandang dirinya sendiri. Meksiko, misalnya, menjadikan unsur budaya lokal dan tradisi artistik sebagai bagian dari pertunjukan pembuka. Pesan yang ingin disampaikan jelas: sepak bola bukan hanya tentang kompetisi, tetapi juga tentang kebudayaan.

Karena itu, ketika bagian tersebut tidak hadir dalam siaran, pengalaman publik menjadi terpotong. Penonton melihat pertandingan, tetapi kehilangan kisah yang melatarbelakanginya.

Dari perspektif kebudayaan, persoalan ini menunjukkan tantangan yang semakin sering muncul dalam era hak siar modern. Pemegang hak siar menghadapi tekanan bisnis yang besar. Mereka harus menghitung biaya produksi, durasi siaran, iklan, dan preferensi pasar. Tidak semua konten dianggap memiliki nilai ekonomi yang sama.

Artikel Terkait:
  • Angin Segar bagi Narapidana
  • Negara Diam, Judi Online Merajalela
  • MBG dan Risiko Cobra Effect
  • Di Balik Pagar yang Menyandera Laut

Masalahnya, logika bisnis tidak selalu sejalan dengan kebutuhan publik. Apa yang dianggap tidak penting dalam perhitungan rating bisa jadi justru memiliki makna besar bagi penonton. Upacara pembukaan mungkin tidak menghasilkan gol, tetapi ia menghasilkan keterikatan emosional. Dan dalam industri hiburan modern, keterikatan emosional adalah aset yang sangat berharga.

Sejarah menunjukkan bahwa momen-momen pembukaan sering kali bertahan lebih lama dalam ingatan publik dibanding hasil pertandingan tertentu. Banyak orang masih mengingat lagu “Waka Waka” milik Shakira pada Piala Dunia 2010. Sebagian mengingat seremoni pembukaan Olimpiade London 2012. Tidak semua orang mengingat skor setiap pertandingan, tetapi mereka mengingat momen yang menyatukan dunia dalam satu pengalaman bersama.

Pelajaran pentingnya adalah bahwa penyiaran olahraga tidak cukup hanya berfokus pada pertandingan. Publik semakin membutuhkan pengalaman yang utuh. Mereka ingin memahami cerita di balik peristiwa, bukan sekadar menyaksikan hasil akhirnya.

Ke depan, pemegang hak siar di Indonesia perlu melihat penonton sebagai komunitas yang ingin terlibat, bukan hanya konsumen yang menunggu kickoff. Transparansi mengenai konten yang akan ditayangkan juga menjadi penting agar ekspektasi publik tidak berakhir menjadi kekecewaan.

Piala Dunia 2026 baru saja dimulai. Masih ada puluhan pertandingan yang akan menghadirkan drama, kejutan, dan kisah inspiratif. Namun kegaduhan kecil tentang upacara pembukaan memberikan pengingat yang menarik. Dalam dunia yang dipenuhi informasi dan tayangan instan, manusia tetap membutuhkan makna.

Jangan Lewatkan:
  • Revisi Dam: Ibadah atau Administrasi?
  • Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda
  • Raja Kecil di Birokrasi, Prabowo Gertak Sambal?
  • Tom Lembong dan Kriminalisasi Kebijakan Publik

Dan makna sering kali lahir bukan ketika pertandingan dimulai, melainkan beberapa menit sebelumnya, saat lampu stadion menyala, musik dimainkan, dan dunia bersama-sama menyadari bahwa sebuah perjalanan besar baru saja dimulai.

FIFA Kebudayaan Olahraga Literasi Media Media Penyiaran Piala Dunia 2026
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleBEM UI Turun ke Bundaran HI, Soroti Ekonomi dan APBN
Next Article Piala Dunia 2026 Jadi Arena Persaingan AI Global

Informasi lainnya

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Piala Dunia 2026 Jadi Arena Persaingan AI Global

14 Juni 2026

Meksiko Awali Piala Dunia 2026 dengan Kemenangan 2-0

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Harun Ar Rasyid: Al Qur’an dan Kuam Muslimin Ibarat Ikan dengan Air

Profil Dexpert Corp

Isu yang Dibelokkan, Aparat yang Gagal

Editorial Udex Mundzir

Jamaah Haji Wafat Dibadalkan Gratis dengan Sertifikat Bukti

Islami Alfi Salamah

Mengapa Aisyah Dinikahi di Usia Muda?

Islami Ericka

Syarat dan Cara Membuat SKCK Menurut Polri untuk WNA dan WNI

Happy Alfi Salamah
Berita Lainnya
Daerah
Alfi Salamah19 Juli 2026

Kemarau Ubah Situ Gede Tasikmalaya Jadi Hamparan Rumput Hijau

Bahaya Tidur Terlalu Lama untuk Kesehatan Tubuh

Tradisi Poligami Raja-Raja Arab Saudi dalam Mempersatukan Negara

Bukan Kutukan, Ini Penyebab Mata Kedutan Menurut Medis

Pulau Natal Pernah Luput dari Republik Indonesia, Kini Milik Australia

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Buku Anak Islami Murah Buku Anak Islami Murah Produk Dapur Terlaris
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi