Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

JPU: Vonis Nadiem Kembalikan Hak Anak Sekolah

Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun dalam Kasus Chromebook

Venezuela Diguncang Dua Gempa dalam 39 Detik, Korban Berjatuhan

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Sabtu, 4 Juli 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

Perayaan kehilangan makna ketika mereka yang menunggu tidak diberi kesempatan untuk ikut merasakannya.
Udex MundzirUdex Mundzir12 Juni 2026 Editorial
Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)
Shakira tampil membawakan lagu Dai Dai dalam seremoni pembukaan Piala Dunia 2026 di Stadion Azteca, Mexico City, Meksiko (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Sepak bola bukan sekadar pertandingan. Ia adalah pengalaman kolektif yang mempertemukan emosi, identitas, dan harapan jutaan orang pada waktu yang sama. Karena itu, ketika sebagian penonton Indonesia begadang untuk menyaksikan dimulainya Piala Dunia 2026 tetapi tidak dapat melihat upacara pembukaannya, kekecewaan yang muncul bukanlah perkara sepele. Yang hilang bukan hanya tayangan hiburan. Yang hilang adalah bagian dari pengalaman yang membuat Piala Dunia berbeda dari turnamen lainnya.

Piala Dunia 2026 memang hadir dengan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Turnamen ini diikuti 48 negara dan memainkan 104 pertandingan di tiga tuan rumah sekaligus: Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada. Sebagai pembuka, FIFA menyiapkan seremoni besar di Stadion Azteca, Meksiko, yang dimulai sekitar 90 menit sebelum laga perdana. Acara itu menghadirkan pertunjukan budaya Meksiko serta sederet musisi dunia seperti J Balvin, Shakira, Burna Boy, Maná, Belinda, dan Tyla.

Puncak acara terjadi ketika Shakira dan Burna Boy membawakan lagu resmi turnamen berjudul “Dai Dai”. Penampilan itu menjadi simbol dimulainya pesta sepak bola terbesar di dunia yang akan berlangsung lebih dari satu bulan.

Di stadion, puluhan ribu penonton merasakan langsung atmosfer tersebut. Di berbagai negara, jutaan orang menyaksikannya melalui layar televisi dan platform digital. Namun tidak semua penonton memperoleh pengalaman yang sama.

Di Indonesia, sebagian penonton mengeluhkan tidak adanya siaran penuh upacara pembukaan. Keluhan itu cepat menyebar di media sosial. Bagi banyak orang, masalahnya bukan karena ingin melihat konser musik. Mereka ingin merasakan momen ketika dunia berhenti sejenak untuk menyambut sebuah peristiwa global.

Fenomena ini memperlihatkan perubahan cara masyarakat menikmati olahraga. Dulu pertandingan adalah pusat perhatian. Hari ini, pengalaman menjadi bagian yang sama pentingnya. Penonton tidak hanya ingin mengetahui skor. Mereka ingin mengetahui cerita, simbol, dan budaya yang mengiringi pertandingan.

FIFA sendiri tampaknya memahami perubahan itu. Tidak mengherankan bila upacara pembukaan tahun ini dirancang sebagai pertunjukan lintas budaya yang menggabungkan musik, seni visual, dan identitas negara tuan rumah. Bahkan FIFA menempatkan acara tersebut sebagai bagian penting dari kampanye global yang juga mendukung dana pendidikan bersama Global Citizen.

Baca Juga:
  • Prabowo-Gibran dan Propaganda 78% Publik Puas
  • Generasi Emas, Fondasi Kelas Kacau
  • Menyingkap Tabir di Balik ‘Penyalahgunaan Wewenang’
  • Jangan Lempar Beban ke Rakyat

Di sinilah persoalan yang lebih besar muncul. Ketika siaran olahraga hanya dipahami sebagai transmisi pertandingan, maka yang terlihat hanyalah hasil akhir. Padahal olahraga modern telah berkembang menjadi ruang kebudayaan yang jauh lebih luas.

Piala Dunia tidak hanya menghasilkan juara. Ia menghasilkan cerita tentang bangsa, identitas, migrasi, teknologi, ekonomi kreatif, hingga diplomasi budaya. Ketika masyarakat Indonesia kehilangan akses terhadap bagian pembuka itu, mereka kehilangan kesempatan memahami narasi yang ingin dibangun penyelenggara.

Dari sudut pandang pendidikan, situasi ini menarik untuk dicermati. Selama bertahun-tahun kita berbicara tentang pentingnya literasi media. Namun literasi bukan hanya kemampuan membaca informasi. Literasi juga kemampuan memahami konteks.

Upacara pembukaan adalah konteks. Melalui tarian, musik, kostum, dan simbol budaya, publik diajak memahami bagaimana tuan rumah memandang dirinya sendiri. Meksiko, misalnya, menjadikan unsur budaya lokal dan tradisi artistik sebagai bagian dari pertunjukan pembuka. Pesan yang ingin disampaikan jelas: sepak bola bukan hanya tentang kompetisi, tetapi juga tentang kebudayaan.

Karena itu, ketika bagian tersebut tidak hadir dalam siaran, pengalaman publik menjadi terpotong. Penonton melihat pertandingan, tetapi kehilangan kisah yang melatarbelakanginya.

Dari perspektif kebudayaan, persoalan ini menunjukkan tantangan yang semakin sering muncul dalam era hak siar modern. Pemegang hak siar menghadapi tekanan bisnis yang besar. Mereka harus menghitung biaya produksi, durasi siaran, iklan, dan preferensi pasar. Tidak semua konten dianggap memiliki nilai ekonomi yang sama.

Artikel Terkait:
  • Selamat Tinggal Agustus Kelabu: Tinggalkan Joget-joget di Istana
  • Mindset Penghambat Investasi
  • Eksploitasi Konsumen: Kuota Hangus, Manipulasi Digital Terstruktur
  • Jabatan Simbolis atau Ancaman Toleransi?

Masalahnya, logika bisnis tidak selalu sejalan dengan kebutuhan publik. Apa yang dianggap tidak penting dalam perhitungan rating bisa jadi justru memiliki makna besar bagi penonton. Upacara pembukaan mungkin tidak menghasilkan gol, tetapi ia menghasilkan keterikatan emosional. Dan dalam industri hiburan modern, keterikatan emosional adalah aset yang sangat berharga.

Sejarah menunjukkan bahwa momen-momen pembukaan sering kali bertahan lebih lama dalam ingatan publik dibanding hasil pertandingan tertentu. Banyak orang masih mengingat lagu “Waka Waka” milik Shakira pada Piala Dunia 2010. Sebagian mengingat seremoni pembukaan Olimpiade London 2012. Tidak semua orang mengingat skor setiap pertandingan, tetapi mereka mengingat momen yang menyatukan dunia dalam satu pengalaman bersama.

Pelajaran pentingnya adalah bahwa penyiaran olahraga tidak cukup hanya berfokus pada pertandingan. Publik semakin membutuhkan pengalaman yang utuh. Mereka ingin memahami cerita di balik peristiwa, bukan sekadar menyaksikan hasil akhirnya.

Ke depan, pemegang hak siar di Indonesia perlu melihat penonton sebagai komunitas yang ingin terlibat, bukan hanya konsumen yang menunggu kickoff. Transparansi mengenai konten yang akan ditayangkan juga menjadi penting agar ekspektasi publik tidak berakhir menjadi kekecewaan.

Piala Dunia 2026 baru saja dimulai. Masih ada puluhan pertandingan yang akan menghadirkan drama, kejutan, dan kisah inspiratif. Namun kegaduhan kecil tentang upacara pembukaan memberikan pengingat yang menarik. Dalam dunia yang dipenuhi informasi dan tayangan instan, manusia tetap membutuhkan makna.

Jangan Lewatkan:
  • Coba Vaksin? Wakil Rakyat Dulu!
  • Dari Memalukan ke Menakutkan
  • Buruh Sejahtera, Pengusaha Tertekan
  • Warisan Masalah Era Jokowi

Dan makna sering kali lahir bukan ketika pertandingan dimulai, melainkan beberapa menit sebelumnya, saat lampu stadion menyala, musik dimainkan, dan dunia bersama-sama menyadari bahwa sebuah perjalanan besar baru saja dimulai.

FIFA Kebudayaan Olahraga Literasi Media Media Penyiaran Piala Dunia 2026
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleBEM UI Turun ke Bundaran HI, Soroti Ekonomi dan APBN
Next Article Piala Dunia 2026 Jadi Arena Persaingan AI Global

Informasi lainnya

Piala Dunia 2026 Jadi Arena Persaingan AI Global

14 Juni 2026

Meksiko Awali Piala Dunia 2026 dengan Kemenangan 2-0

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Mas Isman, Komandan Rakyat Muda

Profil Alfi Salamah

Rahasia Puasa Dzulhijjah dan Keutamaannya

Islami Udex Mundzir

Menjelajah Dunia Digital di teamLab Planets Tokyo

Travel Alfi Salamah

Selain 8 dan 20 Rakaat, Ini Ada Jumlah Rakaat Shalat Tarawih

Islami Ericka

Mike Tyson vs Jake Paul, Duel Fenomenal untuk Konten YouTube!

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Hukum
Lisda Lisdiawati11 Januari 2026

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun dalam Kasus Chromebook

Venezuela Diguncang Dua Gempa dalam 39 Detik, Korban Berjatuhan

Kenapa Ikan Sapu-Sapu Disebut Invasif? Ini Faktanya

Malaysia Susah Payah Kalahkan Timor Leste di Piala AFF

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Mic Wireless Untuk Masjid Produk Dapur Terlaris Buku Anak Islami Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi