Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Rupiah Terancam Rp19.000, Kebijakan BI Dipertanyakan

Dua Anak Menteri Haji Mundur Usai Disorot Nepotisme

Demi Maskapai Nasional, Jemaah Umrah Diminta Beralih

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Rabu, 28 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Cak Sholeh Wafat, Tinggalkan Jejak Advokasi Warga

Advokat Muhammad Sholeh wafat setelah menjalani perawatan, meninggalkan jejak perjuangan hukum dan pembelaan warga.
Lisda LisdiawatiLisda Lisdiawati7 Agustus 2026 Obituari
Cak Sholeh Wafat, Tinggalkan Jejak Advokasi Warga
Cak Sholeh dalam unggahan terakhir di tiktok pribadi. (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Surabaya – Cak Sholeh mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 03.00 WIB di RS Siloam Surabaya. Sebelum meninggal, advokat kelahiran Sidoarjo, 2 Oktober 1976, tersebut menjalani perawatan selama kurang lebih 20 hari setelah beberapa tahun berjuang menghadapi penyakit autoimun.

“Betul, suami saya meninggal. Mohon maaf kalau ada kesalahan dari suami saya,” kata Ana, istri Cak Sholeh, saat memberikan konfirmasi mengenai wafatnya sang suami di Surabaya, Jumat (7/8/26).

“Jam 3 pagi meninggalnya, dirawat di RS Siloam,” ujar Ana dalam keterangan mengenai kondisi terakhir Cak Sholeh selama masa perawatan di Surabaya, Jumat (7/8/26).

Ana menyebut suaminya telah sekitar lima tahun mengalami penyakit autoimun. Dalam beberapa pekan terakhir, kondisi kesehatan Cak Sholeh membuatnya harus menjalani perawatan intensif sebelum akhirnya meninggal pada usia 49 tahun.

Jenazah Cak Sholeh disemayamkan di rumah duka di Jalan Lebak Rejo Utara II Nomor 49-51, Surabaya. Informasi yang beredar dari keluarga dan kerabat menyebut pemakaman direncanakan berlangsung di kawasan Pondok Pesantren Singa Putih Munfaridin, Prigen, tempat Cak Sholeh dikenal memiliki hubungan dekat dengan lingkungan pesantren.

Kepergian Cak Sholeh menyisakan cerita panjang tentang advokasi hukum, aktivisme, dan upaya memperjuangkan masyarakat yang merasa kesulitan mendapatkan akses keadilan. Dalam beberapa tahun terakhir, namanya semakin dikenal melalui slogan “No Viral No Justice”.

Slogan itu menggambarkan kritik terhadap kondisi penegakan hukum ketika sebuah persoalan sering kali baru mendapatkan perhatian luas setelah ramai di media sosial. Dalam praktik advokasinya, Cak Sholeh kerap membantu mengangkat persoalan warga ke ruang publik agar mendapatkan perhatian aparat, pemerintah, maupun masyarakat.

Cara tersebut membuat aktivitas advokasinya dekat dengan perubahan pola komunikasi masyarakat. Media sosial tidak hanya dipakai sebagai ruang menyampaikan keluhan, tetapi juga menjadi instrumen untuk membangun tekanan publik terhadap persoalan yang dianggap berjalan lambat.

Gerakan “No Viral No Justice” kemudian berkembang menjadi kegiatan bantuan hukum. Pada 2025, nama tersebut juga digunakan dalam deklarasi lembaga bantuan hukum yang bertujuan memperluas pendampingan terhadap masyarakat.

Baca Juga:
  • Martha Tilaar Tutup Usia, Wariskan Kejayaan Sariayu
  • Paus Fransiskus Wafat di Vatikan pada Usia 88 Tahun
  • Kepergian Acil Bimbo Tinggalkan Jejak Abadi di Musik Indonesia
  • Istri Wapres Ke-4 RI Karlinah Umar Wirahadikusumah Tutup Usia

Bagi warga yang tidak memiliki akses luas terhadap lembaga hukum, pendekatan semacam itu memiliki arti penting. Persoalan pelayanan publik, perkara pidana, sengketa, hingga konflik yang melibatkan pihak dengan kekuasaan lebih besar kerap membutuhkan pendampingan agar suara warga tidak berhenti pada laporan administratif.

Namun jejak Cak Sholeh dalam dunia hukum sebenarnya telah berlangsung jauh sebelum slogan “No Viral No Justice” dikenal luas.

Dokumen Mahkamah Konstitusi mencatat Muhammad Sholeh sebagai salah satu pemohon pengujian Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD. Perkara tersebut tercatat sebagai Perkara Nomor 22/PUU-VI/2008 yang kemudian diperiksa bersama Perkara Nomor 24/PUU-VI/2008.

Salah satu ketentuan yang diuji berkaitan dengan mekanisme penetapan calon legislatif terpilih. Pada masa itu, nomor urut calon masih memiliki pengaruh besar dalam menentukan kandidat yang memperoleh kursi.

Mahkamah Konstitusi kemudian membatalkan mekanisme tersebut dan menegaskan penentuan calon legislatif terpilih berdasarkan perolehan suara terbanyak. Putusan itu kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan sistem pemilu legislatif Indonesia.

“Jejaknya dapat kita lihat saat gugatan Pemilu dengan sistem proporsional terbuka,” kata Lasiono, rekan Cak Sholeh dalam gerakan Reformasi 1998, ketika mengenang kiprah Muhammad Sholeh setelah kabar wafatnya beredar, Jumat (7/8/26).

Putusan tersebut membuat suara pemilih memiliki pengaruh lebih langsung terhadap calon yang mendapatkan kursi. Kandidat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada posisi nomor urut yang ditetapkan partai, melainkan harus mendapatkan dukungan suara dari pemilih.

Perubahan itu membawa konsekuensi besar bagi budaya politik Indonesia. Para calon anggota legislatif dituntut membangun hubungan langsung dengan konstituen karena peluang memperoleh kursi sangat berkaitan dengan jumlah suara yang mereka kumpulkan.

Artikel Terkait:
  • Emilia Contessa Meninggal Dunia, Dunia Hiburan Tanah Air Berduka
  • Musisi Legendaris Titiek Puspa Tutup Usia
  • Pemakaman PB XIII Berdasar Kalender Jawa, Ini Penentuannya
  • Sosok Pembina Jurnalis Kaltim Sukri Tutup Usia

Di luar ruang persidangan, perjalanan Cak Sholeh juga bersinggungan dengan sejarah gerakan demokrasi Indonesia. Ia dikenal sebagai mantan aktivis Partai Rakyat Demokratik dan menjadi bagian dari generasi aktivis yang tumbuh menjelang serta setelah Reformasi 1998.

Latar belakang tersebut ikut membentuk gaya advokasinya yang terbuka dan dekat dengan isu masyarakat. Ia tidak hanya menggunakan jalur hukum formal, tetapi juga memanfaatkan komunikasi publik untuk mendorong penyelesaian kasus.

“Betul, meninggal dunia pada hari Jumat,” ujar Lasiono saat mengonfirmasi kabar wafat Cak Sholeh sekaligus mengenang rekannya dalam perjalanan gerakan Reformasi dan advokasi hukum, Jumat (7/8/26).

Bagi masyarakat, wafatnya Cak Sholeh tidak sekadar kehilangan seorang pengacara. Kepergiannya juga menutup satu perjalanan panjang seorang aktivis yang bergerak dari ruang demonstrasi, ruang persidangan, hingga ruang digital.

Istilah “No Viral No Justice” yang melekat pada dirinya sekaligus menyimpan kritik terhadap akses keadilan. Di satu sisi, media sosial mampu membantu warga memperluas perhatian terhadap sebuah kasus. Di sisi lain, keadilan idealnya tetap berjalan berdasarkan hukum dan pelayanan institusi, tanpa menunggu sebuah perkara menjadi viral.

Di sinilah jejak advokasi Cak Sholeh memiliki relevansi bagi masyarakat. Perjuangan hukum tidak hanya berbicara tentang menang atau kalah di pengadilan, tetapi juga tentang kemampuan masyarakat memahami haknya, memperoleh pendampingan, dan memiliki ruang untuk menyampaikan persoalan.

Dari gugatan mengenai sistem penentuan calon legislatif hingga pendampingan perkara warga, nama Muhammad Sholeh tercatat dalam dua ruang yang berbeda tetapi saling berkaitan: demokrasi dan akses keadilan.

Jangan Lewatkan:
  • Bendahara Demokrat Renville Antonio Meninggal Kecelakaan Moge
  • Prof. Dr. Awang Faroek Ishak Tutup Usia
  • Atmakusumah Astraatmadja Berpulang, Menkomdigi Sebut Sosok Inspirasi Kebebasan Pers
  • Abah Soleh Meninggal Dunia, Gus Barra: Saya Saksi Beliau Orang Baik, Jujur dan Sayang Keluarga

Cak Sholeh meninggal pada usia 49 tahun, beberapa bulan sebelum genap berusia 50 tahun. Ia meninggalkan keluarga, rekan seperjuangan, serta jejak advokasi yang pernah bersentuhan langsung dengan perubahan sistem pemilu dan berbagai persoalan masyarakat.

Kepergiannya menutup perjalanan seorang advokat yang terbiasa membawa perkara warga ke ruang publik. Namun persoalan yang sering ia suarakan tetap tersisa: bagaimana memastikan keadilan dapat diakses siapa pun, bahkan ketika sebuah kasus tidak pernah menjadi viral.

Advokat Surabaya Cak Sholeh Muhammad Sholeh No Viral No Justice Obituari
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleCuri Start, Mugus PP Khalifa Langsung Eksekusi SK Kwarnas Terbaru
Next Article Ketika Pramuka Belajar Korupsi

Informasi lainnya

KH Syukron Ma’mun Wafat, Warisan Dakwahnya Abadi

18 Oktober 2026

Martha Tilaar Wafat, Wariskan Kecantikan Nusantara

15 Oktober 2026

Martha Tilaar Tutup Usia, Wariskan Kejayaan Sariayu

14 Oktober 2026

Danny Setiawan Wafat, Jejak Panjang Birokrat Jabar

19 September 2026

Diding Boneng Meninggal di Usia 76 Tahun, Dunia Lawak Berduka

3 Agustus 2026

Mengenang Rachmat Gobel, Putra Bangsa yang Mendedikasikan Hidup bagi Industri dan Negeri

10 Juli 2026
Paling Sering Dibaca

Menguji Gelar Pahlawan Soeharto

Editorial Udex Mundzir

Kisah Keluarga Imran, Inilah Perempuan Terpilih dan Mulia yang Harus Diketahui!

Islami Alfi Salamah

Lebih Berat dari Zina, Inilah Beberapa Larangan Keras Berghibah!

Islami Alfi Salamah

Izzuddin Al-Qassam, Ulama yang Menggerakkan Perlawanan

Profil Alfi Salamah

Tren Global dan Peran Strategis Laporan Keberlanjutan

Bisnis Alfi Salamah
Berita Lainnya
Pendidikan
Adit Musthofa22 Oktober 2026

Pesantren Pramuka Khalifa Gebrak Panggung ICOMUS 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Wonderchicken, Jejak Burung Awal Zaman Dinosaurus

Ferry Pimpin Syarikat Islam, Hamdan Ketua Dewan Pusat

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Buku Anak Islami Murah Alat Tulis Sekolah Murah
“Landing

☪   JADWAL SALAT

Mendeteksi lokasi...

Memuat tanggal...

⌖  Menyiapkan lokasi
Memuat jadwal salat...
SALAT BERIKUTNYA —
Menunggu jadwal...
Metode Kemenag RI

© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi