Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Eksotisme Surabaya dalam Ikan Sambal Nasi Kelapa

Syarat Tak Bisa Dicuci Kekuasaan

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 8 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Aturan pidana terbaru menutup celah kejahatan bermodus asmara dan tipu daya.
Lisda LisdiawatiLisda Lisdiawati11 Januari 2026 Hukum
Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru
Ilustrasi Pidana
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Jakarta – Janji cinta yang dirangkai kata manis kini tak lagi sekadar urusan perasaan. Sejak Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru resmi berlaku, rayuan yang berujung membawa lari perempuan dengan tipu daya berubah menjadi perkara serius di mata hukum.

Negara menegaskan, asmara palsu bukan lagi drama pribadi, melainkan tindak pidana yang dapat berakhir di balik jeruji besi. Ketentuan ini termuat dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP yang mulai berlaku sejak Kamis (2/1/2026).

Salah satu pasal yang menyita perhatian publik adalah Pasal 454 ayat (2), yang mengatur pidana bagi setiap orang yang membawa pergi perempuan dengan tipu muslihat, kekerasan, atau ancaman kekerasan, dengan maksud menguasai korban. Ancaman hukumannya tidak main-main, yakni pidana penjara paling lama sembilan tahun.

Pakar hukum pidana dari Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar, menjelaskan bahwa pasal tersebut dirancang untuk menjerat praktik manipulasi yang kerap dibungkus dengan hubungan asmara. Menurutnya, tindakan “membawa pergi perempuan” berbeda dengan penculikan atau penyanderaan karena sering kali dilakukan atas dasar persetujuan korban.

“Namun persetujuan itu lahir dari tipu daya. Ketika niat pelaku sejak awal adalah menguasai korban, maka unsur pidananya terpenuhi,” ujar Abdul saat dikonfirmasi pada Sabtu (10/1/2026).
Ia menambahkan, unsur penting dalam pasal ini juga berkaitan dengan usia korban.

Baca Juga:
  • Bareskrim Naikkan Status Kasus Beras Oplosan, 67 Produsen Diduga Terlibat
  • PPATK Bekukan 10 Juta Rekening Bansos Terkait Judi Online
  • MA Mutasi 199 Hakim Usai Kasus Suap Guncang Peradilan
  • Ojol Tewas Terlindas Rantis, Kompolnas Jamin Kawal Proses Hukum

Perempuan yang dibawa pergi umumnya masih berada di bawah umur atau berada dalam pengawasan orang tua atau walinya. Dalam konteks tersebut, negara memandang perlu hadir untuk melindungi hak dan keselamatan korban dari manipulasi emosional yang berpotensi merusak masa depan.

Meski ancaman pidananya berat, Abdul menegaskan bahwa tindak pidana ini tergolong delik aduan. Artinya, proses hukum hanya dapat berjalan jika ada laporan resmi dari pihak perempuan yang menjadi korban atau dari suaminya. Ketentuan ini tercantum dalam Pasal 454 ayat (4) KUHP baru.

“Tanpa pengaduan, aparat penegak hukum tidak bisa memprosesnya. Ini memberikan ruang bagi korban untuk menentukan langkah hukum,” jelasnya.

Dalam proses pembuktian, aturan merujuk pada Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) terbaru. Alat bukti dapat berupa keterangan saksi, keterangan ahli, surat, barang bukti, bukti elektronik, hingga pengamatan hakim di persidangan.

Meski demikian, korban tidak diwajibkan menyiapkan seluruh alat bukti sejak awal pelaporan. “Korban cukup melapor. Penyidik nantinya yang akan mencari dan melengkapi alat bukti,” kata Abdul.

Artikel Terkait:
  • Komisi IX Dalami Dugaan Korupsi Program MBG, Kualitas Gizi Terancam
  • Penyidikan Hampir Rampung, Dua Nama Kunci Kasus Kuota Haji
  • Potong Gaji karena Salat Jumat, DPR Desak Pemerintah Tindak Tegas
  • Antusias Siswa SMPN 3 Samarinda Ikuti Jaksa Masuk Sekolah

KUHP baru juga memuat ketentuan pengecualian. Jika pelaku menikahi perempuan yang dibawa pergi dan perkawinan tersebut sah menurut peraturan perundang-undangan, maka pidana tidak dapat dijatuhkan sebelum perkawinan itu dinyatakan batal oleh pengadilan.

Klausul ini memunculkan perdebatan publik, terutama terkait potensi penyalahgunaan untuk menghindari jerat hukum.

Terlepas dari polemik tersebut, pemerintah menegaskan bahwa semangat utama KUHP baru adalah memberikan kepastian hukum dan perlindungan yang lebih kuat, khususnya bagi perempuan dan kelompok rentan.

Dengan aturan ini, relasi asmara diharapkan tidak lagi dijadikan kedok untuk melakukan kejahatan, sementara masyarakat didorong untuk lebih waspada terhadap janji cinta yang menyesatkan.

Jangan Lewatkan:
  • RUU Perampasan Aset Tunggu Sikap Politik Parpol di DPR
  • Jaksa Masuk Sekolah, Ajak Generasi Emas Tanpa Narkoba
  • KPK Usut Dugaan Salah Alokasi Kuota Tambahan Haji Era Jokowi
  • KPK Segel Ruang Binwasnaker dan K3 Usai OTT Wamenaker Noel

Delik Aduan Hukum Pidana Janji Cinta Palsu KUHP Baru Perlindungan Perempuan
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleHaji 2026 Diperketat, Jemaah Tak Sehat Terancam Gagal Berangkat
Next Article Paspor Abadi Sang Firaun: Pelajaran Kepemimpinan yang Tak Pernah Mati

Informasi lainnya

Rekening Botok Dibuka Lagi Usai Klarifikasi Polisi

26 Agustus 2026

Polri Tetapkan 72 Tersangka Karhutla di 9 Polda

23 Agustus 2026

JPU: Vonis Nadiem Kembalikan Hak Anak Sekolah

1 Juli 2026

Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun dalam Kasus Chromebook

30 Juni 2026

Bareskrim Bongkar Ragam Modus Haji Ilegal Meresahkan

19 April 2026

Amsal Sitepu Bebas, Kasus Video Desa Karo Gugur

1 April 2026
Paling Sering Dibaca

Mewaspadai Komunisme

Refleksi Syamril Al-Bugisyi

Perjalanan Pulang ke Samarinda: Di Bawah Langit Bontang yang Segar

Travel Sitiaisyah

Calon Kalah Kolom Kosong, Maju Lagi?

Perspektif Udex Mundzir

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

Editorial Udex Mundzir

War Ticket: Ilusi Akses Setara

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Politik
Udex Mundzir1 Oktober 2026

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

Rahasia Daisugi, Teknik Bertani Pohon Tanpa Membabat Hutan

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

PANDI Perketat Aturan Sengketa Domain untuk Cegah Cybersquatting

Hukum Barang Temuan dalam Islam

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Mic Wireless Untuk Masjid Buku Anak Islami Murah Produk Dapur Terlaris
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi