Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

Mengapa Sungai Indonesia Cepat Kotor? Ini Penjelasan Ahli

Benarkah Mikroplastik Sudah Masuk ke Tubuh Manusia? Ini Fakta Ilmiahnya

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Selasa, 14 Juli 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Mengapa Banyak Pikiran Bikin Lapar?

Kesibukan dan tekanan hidup modern ternyata tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga memengaruhi cara tubuh merespons rasa lapar.
Alfi SalamahAlfi Salamah3 Juni 2026 Opini
Literasi
Aktivitas berpikir intens dapat memicu rasa lapar lebih cepat.
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Pernahkah Anda merasa cepat lapar ketika sedang belajar, mengerjakan tugas, atau menghadapi pekerjaan yang menumpuk? Banyak orang menganggap kondisi tersebut hanyalah perasaan biasa. Sebagian bahkan menganggapnya sekadar mitos atau candaan. Padahal, sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan bahwa aktivitas berpikir dan tekanan mental memang dapat memengaruhi nafsu makan seseorang.

Fenomena ini cukup akrab dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa yang sedang mengejar tenggat tugas sering mencari camilan. Pegawai kantoran yang menghadapi tekanan pekerjaan juga cenderung lebih sering makan atau minum kopi. Ternyata, tubuh manusia memiliki mekanisme tersendiri dalam merespons kelelahan mental.

Ketika Otak Bekerja Lebih Keras

Meskipun berat otak manusia hanya sekitar dua persen dari total berat badan, organ ini menggunakan hampir 20 persen energi tubuh ketika sedang beristirahat. Aktivitas berpikir memang tidak membakar kalori sebanyak olahraga, tetapi kerja mental yang intens dapat memengaruhi metabolisme tubuh.

Ketika seseorang membaca, belajar, atau berkonsentrasi dalam waktu lama, kadar glukosa dan insulin dalam darah mengalami perubahan. Fluktuasi inilah yang diduga memicu munculnya rasa lapar.

Akibatnya, seseorang merasa membutuhkan tambahan energi, meskipun secara fisik ia tidak melakukan aktivitas berat. Inilah yang membuat banyak orang merasa ingin makan setelah menghabiskan waktu berjam-jam untuk berpikir atau bekerja.

Penelitian dari Universitas Kanada

Fenomena tersebut bukan sekadar dugaan. Tim peneliti dari Université Laval, Kanada, pernah melakukan penelitian mengenai hubungan antara aktivitas mental dan nafsu makan.

Penelitian yang dipimpin Profesor Angelo Tremblay dan Dr. Jean-Philippe Chaput melibatkan sejumlah mahasiswa sebagai responden. Mereka diminta menjalani beberapa aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi, seperti membaca dan mengerjakan tes komputer.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta yang melakukan aktivitas intelektual mengonsumsi makanan lebih banyak daripada ketika mereka hanya duduk santai.

Baca Juga:
  • Jangan-Jangan Semua Kampus Seperti UI?
  • Fokus Berlebih yang Tak Disadari
  • Pramuka Cisayong, Saatnya Bergerak
  • Yang Janji Prabowo, Rakyat yang Pusing

Mereka yang membaca dan merangkum teks mengonsumsi sekitar 203 kalori lebih banyak. Sementara peserta yang mengerjakan tes perhatian dan memori mengonsumsi sekitar 253 kalori lebih banyak.

Menariknya, aktivitas berpikir tersebut hanya meningkatkan pembakaran energi sekitar tiga kalori. Artinya, rasa lapar yang muncul tidak semata-mata karena banyaknya energi yang digunakan oleh otak.

Stres Mental Juga Berperan

Selain perubahan metabolisme, faktor psikologis juga memiliki pengaruh besar terhadap nafsu makan. Ketika seseorang mengalami tekanan atau kelelahan mental, tubuh akan memproduksi hormon kortisol.

Hormon stres ini diketahui dapat meningkatkan keinginan mengonsumsi makanan, terutama makanan tinggi gula dan karbohidrat.

Tidak heran apabila banyak orang mencari minuman manis, kopi, atau makanan ringan ketika sedang menghadapi ujian, menyusun laporan, atau memikirkan persoalan yang rumit.

National Institutes of Health di Amerika Serikat juga menjelaskan bahwa stres psikologis dapat memengaruhi sistem pengaturan nafsu makan manusia. Dengan demikian, rasa lapar yang muncul saat banyak pikiran merupakan perpaduan antara faktor biologis dan psikologis.

Kehidupan Modern Membuat Otak Sulit Beristirahat

Di era digital, manusia menghadapi tekanan yang semakin kompleks. Informasi datang tanpa henti melalui telepon genggam, media sosial, dan berbagai tuntutan pekerjaan.

Tidak sedikit orang yang harus memikirkan banyak hal dalam waktu bersamaan. Kondisi ini membuat otak bekerja hampir tanpa jeda.

Artikel Terkait:
  • Indonesia Memble Hadapi Tarif Trump
  • Jangankan Membuktikan Ijazah Asli?
  • TikTok & Konten Viral
  • Cara Mengetahui Sifat Asli Manusia

Akibatnya, kelelahan mental menjadi semakin umum terjadi. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi pola makan dan meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan.

Jika tidak diimbangi dengan pola hidup yang sehat, kebiasaan makan akibat stres dapat memicu obesitas, diabetes, dan berbagai penyakit metabolik lainnya.

Menjaga Keseimbangan Tubuh dan Pikiran

Fenomena ini menunjukkan bahwa kesehatan mental dan kesehatan fisik memiliki hubungan yang sangat erat. Karena itu, menjaga pola hidup sehat menjadi hal yang penting.

Istirahat yang cukup, olahraga secara rutin, serta mengatur waktu kerja dan belajar dapat membantu tubuh mengendalikan rasa lapar yang terjadi karena tekanan mental.

Memilih makanan bergizi dan menghindari kebiasaan mengonsumsi camilan secara berlebihan juga menjadi langkah yang penting untuk menjaga kesehatan.

Kesibukan memang tidak dapat kita hindari. Namun, manusia tetap membutuhkan waktu untuk beristirahat agar tubuh dan pikiran dapat bekerja secara seimbang.

Bukan Sekadar Perasaan

Pada akhirnya, rasa lapar setelah banyak berpikir ternyata bukan sekadar sugesti atau mitos yang diwariskan dari generasi ke generasi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa aktivitas mental yang berat memang dapat memengaruhi nafsu makan seseorang.

Jangan Lewatkan:
  • Generasi Muda dan Tren Slow Living di Era Digital
  • Makan Siang Gratis, Solusi Nutrisi?
  • Kalau Taman Bisa Dibuka 24 Jam, Mengapa Masjid Tidak?
  • Peran dan Pengaruh Kucing dalam Film, Buku, dan Musik

Karena itu, ketika seseorang mengaku lapar setelah belajar atau memikirkan banyak hal, kondisi tersebut sebenarnya merupakan respons alami tubuh manusia.

Kami berpandangan bahwa semakin kompleks kehidupan modern, semakin penting pula bagi manusia untuk memahami cara kerja tubuhnya sendiri. Sebab menjaga kesehatan tidak hanya berkaitan dengan aktivitas fisik, tetapi juga bagaimana kita merawat pikiran yang setiap hari bekerja tanpa henti.

Kesehatan Mental Kesehatan Tubuh Nafsu Makan Penelitian Kesehatan Stres Mental
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleKetika Notifikasi Mengalahkan Literasi
Next Article Kosakata Hari yang Jarang Diketahui Masyarakat

Informasi lainnya

Ratusan Lembaga di Indonesia, tapi Tak Ada Satupun yang Bisa Menjawab Tuntas Soal Ijazah Gibran

23 Juni 2026

Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian

22 Juni 2026

Negeri yang Tak Kekurangan Lembaga, Tapi Kekurangan Kejelasan

21 Juni 2026

Rakyat Bertanya, Negara Menjawab dengan Prosedur

20 Juni 2026

Negara Hukum yang Sistem Hukumnya Dibuat Ruwet

19 Juni 2026

Ketika Presiden Diganti, Siapa Memimpin?

19 Juni 2026
Paling Sering Dibaca

Sentralisasi Berkedok Nasionalisme

Editorial Udex Mundzir

Mengapa Orang Kaya Rajin Berdonasi?

Bisnis Udex Mundzir

7 Rekomendasi Masakan Sehat untuk Bekal Anak Sekolah

Daily Tips Alfi Salamah

Survei KIC: 83,6% Masyarakat Indonesia Familiar dengan AI

Techno Assyifa

Savoy Homann Hotel, Saksi Bisu Kejayaan Bandung

Travel Assyifa
Berita Lainnya
Hukum
Ericka5 Agustus 2025

Silfester Matutina Dieksekusi Terkait Fitnah Jusuf Kalla

Tradisi Poligami Raja-Raja Arab Saudi dalam Mempersatukan Negara

Bahaya Tidur Terlalu Lama untuk Kesehatan Tubuh

Pelayanan Terbaik Arab Saudi untuk Jamaah Haji Indonesia

Mengenang Rachmat Gobel, Putra Bangsa yang Mendedikasikan Hidup bagi Industri dan Negeri

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Produk Dapur Terlaris Mic Wireless Untuk Masjid
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi