Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

SPPG De La Tina Ciamis Terapkan Inovasi Pengelolaan Limbah Dapur MBG

Generasi Strawberry: Saat Gen Z Dinilai Rentan Tekanan

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Minggu, 4 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Mengapa Banyak Pikiran Bikin Lapar?

Kesibukan dan tekanan hidup modern ternyata tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga memengaruhi cara tubuh merespons rasa lapar.
Alfi SalamahAlfi Salamah3 Juni 2026 Perspektif
Literasi
Aktivitas berpikir intens dapat memicu rasa lapar lebih cepat.
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Pernahkah Anda merasa cepat lapar ketika sedang belajar, mengerjakan tugas, atau menghadapi pekerjaan yang menumpuk? Banyak orang menganggap kondisi tersebut hanyalah perasaan biasa. Sebagian bahkan menganggapnya sekadar mitos atau candaan. Padahal, sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan bahwa aktivitas berpikir dan tekanan mental memang dapat memengaruhi nafsu makan seseorang.

Fenomena ini cukup akrab dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa yang sedang mengejar tenggat tugas sering mencari camilan. Pegawai kantoran yang menghadapi tekanan pekerjaan juga cenderung lebih sering makan atau minum kopi. Ternyata, tubuh manusia memiliki mekanisme tersendiri dalam merespons kelelahan mental.

Ketika Otak Bekerja Lebih Keras

Meskipun berat otak manusia hanya sekitar dua persen dari total berat badan, organ ini menggunakan hampir 20 persen energi tubuh ketika sedang beristirahat. Aktivitas berpikir memang tidak membakar kalori sebanyak olahraga, tetapi kerja mental yang intens dapat memengaruhi metabolisme tubuh.

Ketika seseorang membaca, belajar, atau berkonsentrasi dalam waktu lama, kadar glukosa dan insulin dalam darah mengalami perubahan. Fluktuasi inilah yang diduga memicu munculnya rasa lapar.

Akibatnya, seseorang merasa membutuhkan tambahan energi, meskipun secara fisik ia tidak melakukan aktivitas berat. Inilah yang membuat banyak orang merasa ingin makan setelah menghabiskan waktu berjam-jam untuk berpikir atau bekerja.

Penelitian dari Universitas Kanada

Fenomena tersebut bukan sekadar dugaan. Tim peneliti dari Université Laval, Kanada, pernah melakukan penelitian mengenai hubungan antara aktivitas mental dan nafsu makan.

Penelitian yang dipimpin Profesor Angelo Tremblay dan Dr. Jean-Philippe Chaput melibatkan sejumlah mahasiswa sebagai responden. Mereka diminta menjalani beberapa aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi, seperti membaca dan mengerjakan tes komputer.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta yang melakukan aktivitas intelektual mengonsumsi makanan lebih banyak daripada ketika mereka hanya duduk santai.

Baca Juga:
  • Jangankan Membuktikan Ijazah Asli?
  • Koruptor Dimanja, Rakyat Dihukum Pajak
  • Investasi Milenial Kini dan Masa Depan
  • Kalau Tidak Viral, Mana Mau Kalian Membantu?

Mereka yang membaca dan merangkum teks mengonsumsi sekitar 203 kalori lebih banyak. Sementara peserta yang mengerjakan tes perhatian dan memori mengonsumsi sekitar 253 kalori lebih banyak.

Menariknya, aktivitas berpikir tersebut hanya meningkatkan pembakaran energi sekitar tiga kalori. Artinya, rasa lapar yang muncul tidak semata-mata karena banyaknya energi yang digunakan oleh otak.

Stres Mental Juga Berperan

Selain perubahan metabolisme, faktor psikologis juga memiliki pengaruh besar terhadap nafsu makan. Ketika seseorang mengalami tekanan atau kelelahan mental, tubuh akan memproduksi hormon kortisol.

Hormon stres ini diketahui dapat meningkatkan keinginan mengonsumsi makanan, terutama makanan tinggi gula dan karbohidrat.

Tidak heran apabila banyak orang mencari minuman manis, kopi, atau makanan ringan ketika sedang menghadapi ujian, menyusun laporan, atau memikirkan persoalan yang rumit.

National Institutes of Health di Amerika Serikat juga menjelaskan bahwa stres psikologis dapat memengaruhi sistem pengaturan nafsu makan manusia. Dengan demikian, rasa lapar yang muncul saat banyak pikiran merupakan perpaduan antara faktor biologis dan psikologis.

Kehidupan Modern Membuat Otak Sulit Beristirahat

Di era digital, manusia menghadapi tekanan yang semakin kompleks. Informasi datang tanpa henti melalui telepon genggam, media sosial, dan berbagai tuntutan pekerjaan.

Tidak sedikit orang yang harus memikirkan banyak hal dalam waktu bersamaan. Kondisi ini membuat otak bekerja hampir tanpa jeda.

Artikel Terkait:
  • Ironi di Balik Program Bergizi
  • Cara Mengetahui Sifat Asli Manusia
  • Rakyat Bertanya, Negara Menjawab dengan Prosedur
  • Rp10 Ribu, Antara Anggaran dan Harapan

Akibatnya, kelelahan mental menjadi semakin umum terjadi. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi pola makan dan meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan.

Jika tidak diimbangi dengan pola hidup yang sehat, kebiasaan makan akibat stres dapat memicu obesitas, diabetes, dan berbagai penyakit metabolik lainnya.

Menjaga Keseimbangan Tubuh dan Pikiran

Fenomena ini menunjukkan bahwa kesehatan mental dan kesehatan fisik memiliki hubungan yang sangat erat. Karena itu, menjaga pola hidup sehat menjadi hal yang penting.

Istirahat yang cukup, olahraga secara rutin, serta mengatur waktu kerja dan belajar dapat membantu tubuh mengendalikan rasa lapar yang terjadi karena tekanan mental.

Memilih makanan bergizi dan menghindari kebiasaan mengonsumsi camilan secara berlebihan juga menjadi langkah yang penting untuk menjaga kesehatan.

Kesibukan memang tidak dapat kita hindari. Namun, manusia tetap membutuhkan waktu untuk beristirahat agar tubuh dan pikiran dapat bekerja secara seimbang.

Bukan Sekadar Perasaan

Pada akhirnya, rasa lapar setelah banyak berpikir ternyata bukan sekadar sugesti atau mitos yang diwariskan dari generasi ke generasi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa aktivitas mental yang berat memang dapat memengaruhi nafsu makan seseorang.

Jangan Lewatkan:
  • Bank Mandiri dan Krisis Kepercayaan
  • Rakyat Tidak Punya Hak untuk Mendapat Keadilan di Negara Hukum
  • Belajar dari Kegagalan, Tips Bangkit dari Kekalahan dengan Penuh Semangat
  • Rakyat Jabar Dijadikan Figuran “Bapak Aing”

Karena itu, ketika seseorang mengaku lapar setelah belajar atau memikirkan banyak hal, kondisi tersebut sebenarnya merupakan respons alami tubuh manusia.

Kami berpandangan bahwa semakin kompleks kehidupan modern, semakin penting pula bagi manusia untuk memahami cara kerja tubuhnya sendiri. Sebab menjaga kesehatan tidak hanya berkaitan dengan aktivitas fisik, tetapi juga bagaimana kita merawat pikiran yang setiap hari bekerja tanpa henti.

Kesehatan Mental Kesehatan Tubuh Nafsu Makan Penelitian Kesehatan Stres Mental
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleKetika Notifikasi Mengalahkan Literasi
Next Article Kosakata Hari yang Jarang Diketahui Masyarakat

Informasi lainnya

Generasi Strawberry: Saat Gen Z Dinilai Rentan Tekanan

25 September 2026

Dana Pendidikan Dikorupsi, Sitaan Korupsi untuk Pendidikan Gratis. Aneh!

22 September 2026

Ketika Peneliti Mengurus Kuitansi

10 September 2026

Bank Mandiri dan Krisis Kepercayaan

25 Agustus 2026

Jangan Menabung di Mandiri, Blokir Bisa Dilakukan atas Permintaan Misterius

24 Agustus 2026

Ketika Pramuka Belajar Korupsi

14 Agustus 2026
Paling Sering Dibaca

Kuliner Viral 2026, Sekadar Gaya?

Food Alfi Salamah

Bang Sakty: Sulit Jadi Single Bar dengan Banyaknya Organisasi Advokat 

Profil Alwi Ahmad

Insentif MBG: Jangan Alihkan Beban

Editorial Udex Mundzir

Keutamaan Puasa Arafah, Ampunan Dosa dan Keselamatan dari Neraka

Islami Alfi Salamah

Mengenal Sosok Siti Maryam yang Penuh Keikhlasan

Islami Alfi Salamah
Berita Lainnya
Saintek
Ericka28 April 2025

Rahasia Daisugi, Teknik Bertani Pohon Tanpa Membabat Hutan

Hukum Barang Temuan dalam Islam

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

PANDI Perketat Aturan Sengketa Domain untuk Cegah Cybersquatting

Generasi Strawberry: Saat Gen Z Dinilai Rentan Tekanan

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Produk Dapur Terlaris Mic Wireless Untuk Masjid
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi