Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Pajak Dibayar, Kuliah Tetap Mahal

Wulla Poddu, Bulan Sakral yang Hidup di Sumba

Mengenal Suku Kajang, Penjaga Hutan Adat Bulukumba

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Senin, 7 September 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Generasi Muda dan Tren Slow Living di Era Digital

Pemanfaatan media sosial yang bijaksana memungkinkan kreativitas dan potensi penghasilan
Alfi SalamahAlfi Salamah21 Mei 2024 Perspektif
Generasi Muda dan Tren Slow Living
Ilustrasi Generasi Muda dan Tren Slow Living (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Generasi muda terus memperkenalkan cara berpikir dan tren baru dalam masyarakat, yang didorong oleh perkembangan zaman dan melimpahnya informasi. Dengan akses mudah ke media sosial, mereka memiliki platform untuk mengekspresikan diri. Fenomena ini memiliki sisi positif dan negatif.

Pemanfaatan media sosial yang bijaksana memungkinkan kreativitas dan potensi penghasilan. Namun, jika disalahgunakan, dapat memicu perilaku yang sia-sia dan pamer.

Salah satu tren populer saat ini adalah mengikuti tren terkini, seperti tantangan tari di TikTok atau kunjungan ke tempat-tempat eksklusif. Namun, tren terbaru yang menonjol adalah gaya hidup “slow living”.

Baca Juga:
  • Kalau Taman Bisa Dibuka 24 Jam, Mengapa Masjid Tidak?
  • Ketika Relawan Butuh Akal Sehat, Bukan Sekadar Semangat
  • Djibouti dan Politik Geografi
  • Rp8.100 per Dolar: Berkah atau Bencana?

Slow living berasal dari gerakan “slow movement” yang pertama kali muncul sebagai tanggapan terhadap masuknya restoran cepat saji di Roma pada 1980-an. Gerakan “slow food” dipimpin oleh Carlo Petrini untuk memperjuangkan makanan tradisional dan berkelanjutan. Ini memicu gagasan hidup lambat yang meluas ke aspek-aspek lain kehidupan.

Konsep slow living menyoroti perlambatan dalam segala hal, dari pekerjaan hingga waktu bersantai. Meskipun awalnya diasosiasikan dengan pensiunan yang ingin menikmati masa tua dengan tenang, generasi muda juga tertarik dengan pemikiran ini, terutama dalam konteks kesehatan mental.

Tren slow living dapat kita lihat dalam berbagai bidang, seperti perjalanan, mode, desain, dan pola pikir. Namun, ada perdebatan apakah slow living hanya tren sementara atau solusi yang berkelanjutan.

Artikel Terkait:
  • Ketika Notifikasi Mengalahkan Literasi
  • Meski Telah Berpura-pura jadi Jakmania, Kang Emil Tetap Kalah
  • Rp10 Ribu, Antara Anggaran dan Harapan
  • Koruptor Dimanja, Rakyat Dihukum Pajak

Beberapa penelitian mengindikasikan bahwa slow living memiliki dampak positif, terutama terkait dengan ekonomi hijau. Namun, ada risiko bahwa slow living jadi sebagai ajang pamer di media sosial, yang mengalihkan fokus dari inti pemikiran tersebut.

Yang penting adalah memilih apakah menerapkan slow living untuk pertumbuhan pribadi atau hanya mengikuti tren. Dalam konteks sosio-ekonomi saat ini, konsep slow living bisa menjadi solusi yang layak.

Jangan Lewatkan:
  • Yang Janji Prabowo, Rakyat yang Pusing
  • Pentingnya Self-Care dan Cara Menjaganya
  • Mantan Presiden Bikin Gaduh
  • UI Mesin Gelar Doktor Pejabat
Slow Living TikTok Tips
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleTips Temukan Passion dan Bakat ala Remaja Masa Kini
Next Article Panduan Lengkap Ibadah Qurban: Hukum, Syarat, dan Pelaksanaannya

Informasi lainnya

Bank Mandiri dan Krisis Kepercayaan

25 Agustus 2026

Jangan Menabung di Mandiri, Blokir Bisa Dilakukan atas Permintaan Misterius

24 Agustus 2026

Ketika Pramuka Belajar Korupsi

14 Agustus 2026

Efisiensi atau Salah Kelola?

4 Agustus 2026

Ratusan Lembaga di Indonesia, tapi Tak Ada Satupun yang Bisa Menjawab Tuntas Soal Ijazah Gibran

23 Juni 2026

Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian

22 Juni 2026
Paling Sering Dibaca

Bahlil dan Wajah Baru Penjajahan

Editorial Udex Mundzir

Evis Santika: Wajah Baru di Kwarran Pramuka Cisayong

Profil Silva

UI di Puncak Ranking, Tercoreng Predator Tambang

Editorial Udex Mundzir

Belva Devara: Anak Bangsa Pelopor Pendidikan Digital

Biografi Alfi Salamah

Bela Negara atau Bela Penguasa?

Perspektif Udex Mundzir
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Tugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’

Ujian Tatap Muka UT di Tasikmalaya Berjalan Tertib dan Ketat

Gunung Raung Erupsi, Warga Diminta Jauhi Kawah dalam Radius Tiga Kilometer

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Mic Wireless Untuk Masjid Produk Dapur Terlaris Alat Tulis Sekolah Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi