Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Gen Z Mulai Bosan dengan Aplikasi Kencan

Polri Tetapkan 72 Tersangka Karhutla di 9 Polda

Robot Masuk Rumah, Siap Berbagi Ruang?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Senin, 24 Agustus 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Rakyat Bertanya, Negara Menjawab dengan Prosedur

Ketika Substansi Tersingkir oleh Prosedur dan Publik Kehilangan Kepastian
Udex MundzirUdex Mundzir20 Juni 2026 Perspektif
Rakyat Bertanya, Negara Menjawab dengan Prosedur
Ilustrasi AI
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Negara hukum kehilangan maknanya ketika pertanyaan yang membutuhkan jawaban justru tenggelam dalam tumpukan prosedur.

Rakyat sebenarnya tidak meminta terlalu banyak. Mereka hanya ingin tahu apakah sesuatu itu benar atau salah. Mereka ingin tahu apakah suatu keputusan telah sesuai aturan. Mereka ingin tahu apakah pejabat publik memenuhi syarat yang ditentukan undang-undang. Mereka ingin tahu apakah hukum berlaku sama kepada semua orang.

Pertanyaan-pertanyaan itu lahir secara alami dalam sebuah negara demokrasi. Justru pertanyaan semacam itulah yang menunjukkan bahwa masyarakat masih peduli terhadap urusan publik.

Namun yang sering terjadi di Indonesia bukanlah jawaban atas pertanyaan tersebut.

Yang muncul justru prosedur.

Masyarakat bertanya tentang suatu dugaan pelanggaran.

Negara menjelaskan kewenangan.

Masyarakat bertanya tentang keabsahan suatu dokumen.

Negara menjelaskan legal standing.

Masyarakat bertanya tentang substansi.

Negara menjelaskan mekanisme.

Masyarakat bertanya tentang kebenaran.

Negara menjelaskan prosedur menuju kebenaran.

Tentu prosedur penting. Tidak ada negara hukum yang dapat berjalan tanpa prosedur. Masalahnya muncul ketika prosedur perlahan menggantikan fungsi utama hukum itu sendiri, yaitu menjawab persoalan yang menjadi kegelisahan masyarakat.

Akibatnya, publik sering kali merasa seperti berdiri di depan gedung yang megah dengan banyak pintu, tetapi tidak mengetahui pintu mana yang dapat mengantarkan mereka ke jawaban yang dicari.

Fenomena ini bukan sekadar teori. Kita dapat melihatnya dalam berbagai peristiwa yang pernah menjadi perhatian nasional.

Kasus pembunuhan aktivis HAM Munir misalnya, hingga hari ini masih menyisakan pertanyaan publik yang belum sepenuhnya terjawab. Berbagai proses hukum memang telah berjalan. Sejumlah orang telah diadili. Namun selama bertahun-tahun masyarakat terus bertanya apakah seluruh rangkaian peristiwa telah terungkap secara utuh. Negara menjawab dengan proses, putusan, dan prosedur hukum yang telah dilalui. Tetapi bagi sebagian masyarakat, pertanyaan dasarnya belum benar-benar hilang.

Hal yang hampir serupa juga muncul dalam berbagai kasus pelanggaran HAM masa lalu. Publik bertanya siapa yang bertanggung jawab. Negara menjawab dengan pembentukan tim, penyelidikan, rekomendasi, kajian hukum, serta perdebatan mengenai kewenangan lembaga. Tahun demi tahun berlalu, sementara pertanyaan yang sama tetap hidup di ruang publik.

Dalam sengketa lingkungan hidup, pola yang sama sering terlihat. Warga mempertanyakan dampak suatu proyek terhadap ruang hidup mereka. Yang mereka harapkan adalah jawaban mengenai keselamatan lingkungan dan masa depan komunitasnya. Namun yang mereka hadapi sering kali adalah perdebatan mengenai izin, kewenangan administratif, objek gugatan, dan berbagai aspek prosedural lainnya.

Baca Juga:
  • Mengemudi Visi, Bukan Hanya Mobil Listrik
  • Investasi Milenial Kini dan Masa Depan
  • Demokrasi yang Tersandera Kotak Kosong
  • Ketika Pramuka Belajar Korupsi

Tentu semua itu penting. Namun dari sudut pandang masyarakat yang terdampak langsung, prosedur tidak selalu menjawab kegelisahan mereka.

Contoh lain dapat ditemukan dalam berbagai sengketa pemilu dan pencalonan pejabat publik. Ketika masyarakat mempertanyakan apakah suatu proses telah berlangsung sesuai aturan, diskusi publik sering berubah menjadi perdebatan mengenai forum hukum yang tepat, tenggat waktu pengajuan perkara, legal standing penggugat, atau kewenangan lembaga yang berhak memeriksa.

Sekali lagi, substansi bergeser ke pinggir. Prosedur mengambil panggung utama.

Fenomena tersebut sebenarnya menunjukkan paradoks yang menarik.

Indonesia tidak kekurangan lembaga hukum.

Indonesia tidak kekurangan aturan.

Indonesia tidak kekurangan prosedur.

Yang sering dirasakan masyarakat justru kekurangan kepastian.

Rakyat ingin mengetahui jawaban.

Mereka memperoleh penjelasan mengenai proses menuju jawaban.

Rakyat ingin mengetahui apakah suatu tindakan benar atau salah.

Mereka memperoleh penjelasan mengenai siapa yang berhak mempertanyakan tindakan tersebut.

Rakyat ingin mengetahui fakta.

Mereka memperoleh penjelasan mengenai syarat untuk menguji fakta.

Lama-kelamaan, sebagian masyarakat mulai merasa bahwa hukum lebih sibuk mengatur siapa yang boleh bertanya daripada menjawab pertanyaan itu sendiri.

Tentu persepsi tersebut tidak sepenuhnya adil bagi dunia hukum. Hakim, jaksa, pengacara, dan berbagai lembaga negara bekerja dalam kerangka aturan yang memang mengharuskan mereka menghormati prosedur. Tanpa prosedur, hukum bisa berubah menjadi alat yang digunakan secara semena-mena.

Namun negara hukum juga harus memahami satu hal penting.

Tujuan akhir prosedur bukanlah prosedur itu sendiri.

Artikel Terkait:
  • Tren Fashion Terbaru 2026
  • Kalau Taman Bisa Dibuka 24 Jam, Mengapa Masjid Tidak?
  • Urban Farming: Mandiri di Kota
  • Jenis-Jenis Bunga, Mengungkap Keindahan dan Pesan di Baliknya

Tujuan akhir prosedur adalah keadilan.

Tujuan akhir prosedur adalah kebenaran.

Tujuan akhir prosedur adalah kepastian.

Jika masyarakat terus-menerus merasa tersesat di dalam proses, maka ada sesuatu yang perlu dievaluasi dalam cara sistem tersebut bekerja.

Dari perspektif pendidikan, keadaan ini menunjukkan bahwa literasi hukum masyarakat masih menghadapi tantangan besar. Banyak warga negara mengetahui hak-haknya secara umum, tetapi tidak memahami bagaimana hak tersebut dapat diperjuangkan melalui mekanisme hukum yang tersedia.

Di sisi lain, negara juga belum sepenuhnya berhasil menerjemahkan bahasa hukum ke dalam bahasa publik yang mudah dipahami. Akibatnya, jarak antara rakyat dan sistem hukum menjadi semakin lebar.

Dari perspektif kebudayaan, persoalan ini menyangkut kepercayaan. Bangsa yang sehat bukan bangsa yang tidak memiliki masalah. Bangsa yang sehat adalah bangsa yang memiliki mekanisme untuk menjawab masalah secara terbuka dan meyakinkan.

Ketika masyarakat bertanya, mereka tidak selalu menuntut jawaban yang sesuai dengan keinginan mereka.

Mereka hanya ingin memperoleh jawaban yang jelas.

Mereka ingin melihat fakta diuji.

Mereka ingin menyaksikan proses yang dapat dipahami.

Mereka ingin mengetahui bahwa pertanyaan mereka tidak hilang di tengah labirin prosedur.

Karena itu, tantangan terbesar negara hukum hari ini bukanlah membuat lebih banyak aturan.

Bukan pula membentuk lebih banyak lembaga.

Tantangan terbesar adalah memastikan bahwa ketika rakyat bertanya, negara tidak hanya mampu menjelaskan prosedurnya.

Jangan Lewatkan:
  • Ironi di Balik Program Bergizi
  • Rakyat Jabar Dijadikan Figuran “Bapak Aing”
  • Benturan Kekuasaan dan Kemanusiaan
  • Kalau Tidak Viral, Mana Mau Kalian Membantu?

Negara juga mampu menghadirkan jawaban yang dicari.

Sebab pada akhirnya, hukum tidak dibangun untuk mempersulit pertanyaan.

Hukum dibangun agar kebenaran memiliki jalan untuk ditemukan.

Dan ketika rakyat bertanya, yang mereka cari bukanlah kerumitan prosedur.

Mereka mencari kejelasan.

Mereka mencari kepastian.

Mereka mencari keadilan.

Demokrasi Keadilan LiterasiHukum NegaraHukum ProsedurHukum
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleNegara Hukum yang Sistem Hukumnya Dibuat Ruwet
Next Article Negeri yang Tak Kekurangan Lembaga, Tapi Kekurangan Kejelasan

Informasi lainnya

Ketika Pramuka Belajar Korupsi

14 Agustus 2026

Efisiensi atau Salah Kelola?

4 Agustus 2026

Ratusan Lembaga di Indonesia, tapi Tak Ada Satupun yang Bisa Menjawab Tuntas Soal Ijazah Gibran

23 Juni 2026

Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian

22 Juni 2026

Negeri yang Tak Kekurangan Lembaga, Tapi Kekurangan Kejelasan

21 Juni 2026

Negara Hukum yang Sistem Hukumnya Dibuat Ruwet

19 Juni 2026
Paling Sering Dibaca

KDM, Calon Diktator yang Terlihat Merakyat

Perspektif Udex Mundzir

Iklan Pinjaman Syariah Mencurigakan, Berujung Minta Uang Zakat

Kroscek Udex Mundzir

Sembilan Tips Menjaga Kebersamaan Rombongan di Masjid Nabawi

Islami Alfi Salamah

Pulau Sumba, Surga Eksotis Baru

Travel Alfi Salamah

Ribuan Jamaah Haji Terjangkit ISPA, KKHI Mendorong Kepatuhan Prokes

Islami Alfi Salamah
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Presiden Prabowo Izinkan Ekspor Beras ke Malaysia

Ujian Tatap Muka UT di Tasikmalaya Berjalan Tertib dan Ketat

Jurusan IPA, IPS, dan Bahasa Resmi Kembali di SMA Mulai 2025

Lari Rutin Tapi Berat Badan Naik? Ini Penyebabnya!

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Buku Anak Islami Murah Produk Dapur Terlaris Buku Anak Islami Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi