Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Mengenal Suku Kajang, Penjaga Hutan Adat Bulukumba

Emas Antam Naik Rp46 Ribu, Tembus Rp2,71 Juta

100 Mahasiswa UBB Dapat Beasiswa Kelapa 2026

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Minggu, 6 September 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Jangankan Membuktikan Ijazah Asli?

Suatu bangsa tidak kehilangan arah ketika muncul pertanyaan. Bangsa kehilangan arah ketika pertanyaan tidak lagi memiliki jalan untuk memperoleh jawaban.
Udex MundzirUdex Mundzir16 Juni 2026 Perspektif
Negara Hukum
Membuktikan Kebenaran di Negara Hukum
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Ruang publik sedang dipenuhi pertanyaan. Bukan hanya tentang politik, bukan hanya tentang pemimpin, dan bukan hanya tentang dokumen yang menjadi bahan perdebatan. Yang sesungguhnya sedang dipertanyakan masyarakat adalah sesuatu yang jauh lebih mendasar: bagaimana cara membuktikan kebenaran dalam negara hukum?

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Jika ada dugaan, buktikan.

Jika ada tuduhan, periksa.

Jika ada sengketa, adili.

Bukankah demikian cara kerja negara hukum?

Dalam teori, memang demikian.

Negara hukum dibangun di atas keyakinan bahwa setiap persoalan dapat diuji melalui mekanisme yang sah. Kebenaran tidak ditentukan oleh suara paling keras. Tidak ditentukan oleh jumlah pengikut. Tidak ditentukan oleh kekuasaan. Kebenaran ditentukan oleh fakta, bukti, dan proses hukum yang adil.

Karena itulah masyarakat selalu diajarkan untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.

Hormati asas praduga tak bersalah.

Hormati proses hukum.

Hormati lembaga peradilan.

Semua nasihat itu benar.

Namun ada satu pertanyaan yang mulai muncul dari bawah.

Bagaimana jika masyarakat ingin menghormati proses hukum, tetapi tidak tahu bagaimana proses hukum itu dapat dijalankan?

Bagaimana jika masyarakat ingin mencari jawaban melalui jalur hukum, tetapi justru tersesat dalam kerumitan sistem yang tersedia?

Di sinilah kegelisahan publik mulai tumbuh.

Banyak orang mengira bahwa negara hukum bekerja seperti logika sehari-hari. Jika ada dugaan pelanggaran, maka perkara dibawa ke pengadilan. Pengadilan memeriksa. Hakim memutus. Selesai.

Kenyataannya tidak sesederhana itu.

Baca Juga:
  • Jangan Menabung di Mandiri, Blokir Bisa Dilakukan atas Permintaan Misterius
  • Rakyat Tidak Punya Hak untuk Mendapat Keadilan di Negara Hukum
  • Peran dan Pengaruh Kucing dalam Film, Buku, dan Musik
  • Cuaca Panas? Inilah Tanaman yang Bisa Menyejukan Rumah

Sebelum masuk ke substansi, seseorang harus melewati berbagai tahapan. Harus ada pihak yang berwenang. Harus ada objek yang tepat. Harus ada kedudukan hukum. Harus ada kewenangan lembaga. Harus ada prosedur yang dipenuhi.

Bahkan dalam banyak perkara, perdebatan mengenai siapa yang boleh menggugat sering kali lebih panjang daripada pembahasan mengenai apa yang sebenarnya dipersoalkan.

Akibatnya, masyarakat tidak memperoleh jawaban atas pertanyaan yang mereka ajukan. Mereka justru memperoleh penjelasan mengenai mengapa pertanyaan itu belum dapat diperiksa.

Fenomena ini tidak hanya terjadi pada satu isu tertentu. Ia muncul berulang kali dalam berbagai perkara yang menjadi perhatian publik.

Ketika rakyat bertanya tentang suatu kebijakan, mereka dihadapkan pada persoalan kewenangan.

Ketika rakyat mempertanyakan suatu keputusan, mereka dihadapkan pada persoalan legal standing.

Ketika rakyat ingin mengetahui kebenaran suatu dokumen, mereka dihadapkan pada persoalan prosedur.

Semua itu memang bagian dari sistem hukum.

Namun dari sudut pandang masyarakat, muncul kesan yang sulit dihindari.

Bahwa jalan menuju kebenaran sering kali lebih rumit daripada kebenaran itu sendiri.

Kesan tersebut kemudian berkembang menjadi ketidakpercayaan.

Bukan karena masyarakat membenci hukum.

Justru karena mereka ingin menggunakan hukum.

Mereka ingin suatu dugaan diperiksa secara terbuka.

Mereka ingin bukti diuji.

Mereka ingin fakta dipertemukan dengan fakta.

Mereka ingin memperoleh kepastian.

Tetapi yang mereka temui sering kali adalah tembok prosedural yang berlapis-lapis.

Tentu negara hukum membutuhkan prosedur. Tanpa prosedur, hukum berubah menjadi alat kekuasaan. Tanpa prosedur, siapa pun dapat menuduh siapa pun tanpa batas.

Artikel Terkait:
  • Inilah Kekurangan dan Kelebihan Karakteristik Generasi Z
  • Indonesia Memble Hadapi Tarif Trump
  • Suka Membaca? Ini Tips Efektif untuk Menambah Pengetahuan
  • Pramuka Cisayong, Saatnya Bergerak

Masalahnya, prosedur yang terlalu dominan juga dapat menghasilkan akibat yang tidak diinginkan.

Kebenaran menjadi semakin jauh dari jangkauan publik.

Masyarakat tidak lagi membahas fakta.

Mereka membahas kemungkinan.

Mereka membahas dugaan.

Mereka membahas rumor.

Mereka membahas spekulasi.

Padahal semua itu muncul karena satu hal yang sederhana: kebenaran tidak pernah benar-benar diuji secara meyakinkan di ruang yang dapat diterima oleh semua pihak.

Dari perspektif pendidikan, keadaan ini merupakan tantangan besar. Demokrasi tidak hanya membutuhkan warga yang kritis. Demokrasi juga membutuhkan warga yang percaya bahwa sistem hukum mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan publik secara adil.

Jika keyakinan itu hilang, masyarakat akan mencari jawaban di tempat lain.

Media sosial menggantikan pengadilan.

Narasi menggantikan pembuktian.

Persepsi menggantikan fakta.

Dan pada akhirnya, yang menang bukan kebenaran, melainkan pihak yang paling berhasil menguasai opini.

Dari perspektif kebudayaan, situasi ini menciptakan luka yang tidak selalu terlihat. Bangsa yang sehat adalah bangsa yang memiliki mekanisme untuk menyelesaikan keraguan secara terbuka. Ketika keraguan tidak memperoleh ruang penyelesaian yang jelas, ia akan terus hidup sebagai kecurigaan kolektif.

Jangan Lewatkan:
  • Ketika Dilempari Batu, Bangunlah Istana: Pelajaran Bijak Menghadapi Kritik
  • Membangun Keterampilan Sosial untuk Mengurangi Insecure
  • Demokrasi yang Tersandera Kotak Kosong
  • Ketika Notifikasi Mengalahkan Literasi

Kecurigaan itu tidak selalu benar.

Namun selama tidak dijawab secara tuntas, ia juga tidak pernah benar-benar hilang.

Mungkin di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya.

Perdebatan yang muncul di ruang publik sering kali bukan lagi soal apakah sesuatu itu benar atau salah.

Perdebatan yang muncul adalah apakah masyarakat memiliki jalan yang cukup jelas untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah.

Dan ketika pertanyaan itu diajukan, kita sampai pada sebuah ironi yang sulit diabaikan.

Jangankan membuktikan ijazah asli.

Membuktikan siapa yang berhak membuktikannya saja, kadang masyarakat masih harus berdebat panjang.

Demokrasi Keadilan LegalStanding LiterasiHukum NegaraHukum
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleKetika Kebenaran Harus Antre di Meja Korupsi
Next Article Gempa M 6,7 Guncang Palu, BMKG Pastikan Tak Picu Tsunami

Informasi lainnya

Bank Mandiri dan Krisis Kepercayaan

25 Agustus 2026

Jangan Menabung di Mandiri, Blokir Bisa Dilakukan atas Permintaan Misterius

24 Agustus 2026

Ketika Pramuka Belajar Korupsi

14 Agustus 2026

Efisiensi atau Salah Kelola?

4 Agustus 2026

Ratusan Lembaga di Indonesia, tapi Tak Ada Satupun yang Bisa Menjawab Tuntas Soal Ijazah Gibran

23 Juni 2026

Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian

22 Juni 2026
Paling Sering Dibaca

Syarikat Islam Gelar Iftar Jama’i, Perkuat Ekonomi dan Solidaritas Umat

Islami Ericka

Curug Malela: Niagara Mini di Jantung Hutan Jawa Barat

Travel Alfi Salamah

MPW PP Kaltim Gelar Nuzulul Quran, Ajak Masyarakat Jaga Silaturahmi dan Peduli Sesama

Islami Dexpert Corp

5 Peran Penting Dalam Tim yang Solid

Daily Tips Assyifa

Tips Belajar Efektif untuk Anak-anak

Daily Tips Alfi Salamah
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Tugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’

Gunung Raung Erupsi, Warga Diminta Jauhi Kawah dalam Radius Tiga Kilometer

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Prioritas Silaturahmi Lebaran, Siapa Didahulukan?

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Buku Anak Islami Murah Produk Dapur Terlaris Buku Anak Islami Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi