Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

MUI Ajak Keluarga Perkuat Moral di Momentum HUT RI

Mengapa Korupsi Menjadi Budaya?

Gempa M7,7 Flores Tewaskan 38 Orang, Tsunami 94 Cm

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Selasa, 18 Agustus 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Vasektomi Bukan Jawaban Kemiskinan

Ketika hak reproduksi dijadikan syarat bantuan, keadilan berubah jadi pemaksaan yang terselubung.
Udex MundzirUdex Mundzir1 Mei 2025 Perspektif
Kemiskinan
Ilustrasi kemiskinan yang terjadi di Jawa Barat 2025 (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Gagasan kontroversial kembali mencuat ke ruang publik. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyarankan agar penerima bantuan sosial (bansos) wajib menjalani vasektomi.

Tujuannya adalah menekan angka kelahiran di kalangan miskin. Argumennya, jika tidak mampu membiayai anak, maka jangan menambah anak.

Sekilas terdengar masuk akal. Namun, wacana ini menyimpan bias kelas dan menimbulkan persoalan moral, hukum, dan sosial yang serius.

Vasektomi adalah prosedur medis permanen yang memutus saluran sperma pada pria. Akibatnya, seseorang kehilangan kemampuan untuk memiliki anak.

Dalam konteks program Keluarga Berencana (KB), vasektomi bukan metode pengaturan kelahiran biasa. Ia adalah pengakhiran potensi kehidupan secara permanen.

Ketika prosedur ini dijadikan syarat bansos, maka itu bukan lagi pilihan medis, melainkan bentuk pemaksaan atas kelompok yang paling lemah secara ekonomi.

Dalam Islam, menjaga keturunan (hifzh al-nasl) adalah satu dari lima tujuan utama syariat (maqashid syari’ah). Hak untuk memiliki anak adalah bagian dari martabat manusia.

Islam membolehkan perencanaan keluarga, namun hanya jika dilakukan secara sukarela, bersifat sementara, dan tidak menghilangkan fungsi reproduksi secara permanen.

Mayoritas ulama, termasuk dari mazhab Syafi’i, Hanafi, dan Maliki, menyatakan bahwa vasektomi tanpa alasan medis yang darurat hukumnya haram. Ini ditegaskan dalam berbagai kitab fikih utama.

Fatwa Majma’ al-Fiqh al-Islami (OKI) juga menyatakan bahwa sterilisasi permanen hanya dibolehkan jika ada kondisi medis yang sangat mendesak dan dipastikan oleh tenaga medis yang terpercaya.

Al-Qur’an juga menolak narasi yang menyalahkan anak atau keturunan sebagai penyebab kemiskinan.

Allah berfirman, “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kami yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu.” (QS. Al-Isra: 31).

Baca Juga:
  • Kalau Tidak Viral, Mana Mau Kalian Membantu?
  • Mengapa Banyak Pikiran Bikin Lapar?
  • Calon Kalah Kolom Kosong, Maju Lagi?
  • Tips Efektif untuk Tingkatkan Produktivitas Sehari-hari

Ayat itu tidak hanya melarang pembunuhan fisik, tapi juga penolakan terhadap kehidupan baru karena alasan ekonomi. Rezeki adalah wewenang Allah, bukan ditentukan oleh negara.

Lebih dari itu, menjadikan vasektomi sebagai syarat bansos melanggar konstitusi. Pasal 28B UUD 1945 menjamin hak setiap orang untuk membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan.

Ketika hak ini dicabut karena status ekonomi, negara telah melakukan pelanggaran terhadap hak asasi manusia.

Secara sosiologis, pendekatan ini juga keliru. Kemiskinan bukan disebabkan oleh jumlah anak, melainkan oleh sistem sosial-ekonomi yang timpang dan kebijakan yang tidak adil.

Jika orang miskin dibatasi jumlah anaknya, sementara orang kaya dibiarkan memiliki anak sebanyak mungkin, maka yang terjadi adalah reproduksi ketimpangan sosial.

Wacana ini justru menjadikan orang miskin sebagai objek kebijakan represif, bukan subjek yang harus dilindungi dan diberdayakan.

Islam menolak pendekatan diskriminatif terhadap kaum miskin. Mereka adalah kelompok yang secara tegas disebut dalam Al-Qur’an sebagai penerima hak sosial seperti zakat dan sedekah.

Allah berfirman, “Sesungguhnya zakat itu hanya untuk orang-orang fakir dan miskin…” (QS. At-Taubah: 60). Ini menunjukkan bahwa mereka harus dibantu, bukan dipersulit.

Bansos dalam Islam tidak pernah bersifat transaksional. Tidak ada syarat yang menghilangkan hak dasar manusia untuk mendapatkan bantuan.

Bila negara menjadikan kondisi tubuh sebagai syarat bantuan, maka yang terjadi adalah eksploitasi atas kemiskinan itu sendiri.

Solusi kemiskinan tidak bisa disederhanakan menjadi soal jumlah anak. Akar masalahnya adalah ketimpangan, rendahnya akses pendidikan, dan lemahnya pemberdayaan ekonomi keluarga.

Artikel Terkait:
  • Ketika Dilempari Batu, Bangunlah Istana: Pelajaran Bijak Menghadapi Kritik
  • Membeli Oleh-Oleh yang Bermanfaat dan Bernilai: Tips Agar Tidak Menjadi Sampah
  • Jangankan Membuktikan Ijazah Asli?
  • TikTok & Konten Viral

Pemerintah seharusnya berinvestasi pada pendidikan yang berkualitas, layanan kesehatan yang merata, dan penciptaan lapangan kerja yang adil.

Data Oxfam 2024 menunjukkan, kekayaan satu persen orang terkaya di Indonesia terus meningkat drastis. Sementara kelompok terbawah justru makin terpuruk.

Realitas ini membuktikan bahwa persoalan utamanya bukan pada jumlah anak, tapi pada ketidakadilan dalam distribusi kekayaan.

Vasektomi sebagai syarat bansos juga berpotensi menabrak nilai-nilai budaya lokal. Banyak komunitas di Indonesia menganggap keluarga besar sebagai kekuatan sosial dan ekonomi.

Jika negara memaksakan intervensi atas tubuh warga dengan dalih efisiensi kebijakan, maka yang muncul bukan kepercayaan, tapi resistensi sosial yang membahayakan stabilitas jangka panjang.

Islam menawarkan solusi yang lebih bijak dan manusiawi. KB boleh dilakukan, tapi dengan kesadaran penuh, bukan tekanan ekonomi.

Metode seperti pil, suntik, atau IUD diperbolehkan karena sifatnya tidak permanen. Sedangkan vasektomi, yang bersifat final, hanya dibolehkan dalam kondisi medis tertentu.

Islam juga mendorong tanggung jawab dalam berkeluarga. Tapi tanggung jawab itu tumbuh dari pemahaman dan pendidikan, bukan dari pemaksaan atau ketakutan akan miskin.

Nabi Muhammad SAW pernah menolak permintaan sahabatnya yang ingin mengebiri diri agar tidak punya anak. Dalam hadis sahih disebutkan, “Seandainya beliau mengizinkan kami, niscaya kami akan mengebiri diri.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ini menjadi bukti bahwa Islam menolak penghilangan fungsi reproduksi secara sadar, apalagi atas alasan ekonomi semata.

Jangan Lewatkan:
  • Suka Membaca? Ini Tips Efektif untuk Menambah Pengetahuan
  • Indonesia Memble Hadapi Tarif Trump
  • Haji Idi dan Situasi Simalakama di Pilkada Sampang
  • Kalau Taman Bisa Dibuka 24 Jam, Mengapa Masjid Tidak?

Wacana vasektomi wajib tidak memiliki pijakan moral, hukum, maupun agama. Ia harus dihentikan sebelum menjadi preseden kebijakan yang diskriminatif dan merusak prinsip keadilan sosial.

Negara tidak boleh mencabut hak warga atas tubuh dan masa depannya hanya karena ia miskin.

Islam menempatkan kemiskinan sebagai kondisi yang harus diangkat, bukan dijadikan alasan untuk menghilangkan hak asasi.

Kebijakan publik harus berpihak pada pemberdayaan, bukan pemaksaan. Keadilan hanya bisa tercapai bila negara hadir melindungi, bukan menekan.

Hak Reproduksi Islam Dan Kebijakan Publik Keadilan Sosial Kebijakan Bansos Pandangan Fikih
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleBukan Vasektomi Solusinya
Next Article KDM, Calon Diktator yang Terlihat Merakyat

Informasi lainnya

Ketika Pramuka Belajar Korupsi

14 Agustus 2026

Efisiensi atau Salah Kelola?

4 Agustus 2026

Ratusan Lembaga di Indonesia, tapi Tak Ada Satupun yang Bisa Menjawab Tuntas Soal Ijazah Gibran

23 Juni 2026

Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian

22 Juni 2026

Negeri yang Tak Kekurangan Lembaga, Tapi Kekurangan Kejelasan

21 Juni 2026

Rakyat Bertanya, Negara Menjawab dengan Prosedur

20 Juni 2026
Paling Sering Dibaca

Jamnas Bukan Ajang Si Punya Uang

Editorial Udex Mundzir

Sembilan Tips Menjaga Kebersamaan Rombongan di Masjid Nabawi

Islami Alfi Salamah

Selat Hormuz dan Ancaman Ekonomi Dunia

Editorial Udex Mundzir

Pajak: Cermin Keberlanjutan atau Beban Tanpa Akhir?

Editorial Udex Mundzir

Luangkan Waktu untuk Ngobrol, Bikin Istri Bahagia

Happy Silva
Berita Lainnya
Ekonomi
Ericka29 Mei 2025

Presiden Prabowo Izinkan Ekspor Beras ke Malaysia

Diplomasi Ubah Peta, Sebatik Bertambah Luas

Jurusan IPA, IPS, dan Bahasa Resmi Kembali di SMA Mulai 2025

Prabowo Nilai Pengibaran Bendera One Piece Tak Langgar Aturan

Istiqlal Jadi Tuan Rumah MTQ Tujuh Negara

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Buku Anak Islami Murah Produk Dapur Terlaris Alat Tulis Sekolah Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi