Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Batas Kuasa, Uji Demokrasi

AI Ciptakan Konsensus Palsu di Ruang Digital

Uji Coba Sukses, QRIS Indonesia-Tiongkok Rilis Akhir April 2026

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Minggu, 26 April 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Jurnal Ilmiah Indonesia, Banyak Tapi Bagaikan Buih

Udex MundzirUdex Mundzir8 Desember 2024 Opini
Jurnal ilmiah Indonesia terindeks Scopus
Jurnal ilmiah banyak, tapi sering dianggap kurang bermakna.
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Indonesia memiliki lebih dari 24.000 jurnal terdaftar di platform GARUDA. Angka ini seharusnya mencerminkan kemajuan pesat dunia akademik nasional. Namun, kenyataan menunjukkan ironi: hanya sekitar 0,055% dari jurnal tersebut yang masuk kategori Q1 Scopus, salah satu standar global untuk jurnal berkualitas. Angka ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah kita terlalu sibuk memperbanyak jurnal sehingga lupa memperbaiki kualitasnya?

Kondisi ini terjadi bukan tanpa sebab. Regulasi pendidikan tinggi di Indonesia menjadikan publikasi jurnal sebagai indikator utama kinerja dosen. Tridharma Perguruan Tinggi menempatkan penelitian dan publikasi di jurnal ilmiah sebagai kewajiban yang harus dipenuhi. Sebagai respons, banyak universitas mendirikan jurnal sendiri untuk menampung publikasi dosennya. Namun, langkah ini lebih terlihat seperti upaya administratif semata daripada inisiatif untuk membangun ekosistem ilmiah yang bermutu.

Dari 24.684 jurnal di Indonesia, hanya 163 yang terindeks Scopus. Jumlah ini tidak sebanding dengan usaha besar yang telah dikerahkan untuk mendirikan begitu banyak jurnal. Apalagi jika dilihat dari segi kualitas, jurnal Indonesia yang masuk kategori Q1 sangat minim, bahkan kurang dari 20. Kenyataan ini mencerminkan bahwa jurnal-jurnal kita belum memiliki daya saing di tingkat internasional. Penyebab utamanya adalah kurangnya perhatian pada manajemen jurnal, proses editorial, dan kualitas artikel yang diterbitkan.

Banyak jurnal dikelola oleh dosen yang memiliki tanggung jawab utama sebagai pengajar dan peneliti. Posisi sebagai pengelola jurnal sering kali dianggap sebagai tugas tambahan yang dilakukan dengan sumber daya seadanya. Akibatnya, standar pengelolaan seperti peer review yang ketat atau proses editorial yang profesional sering diabaikan. Lebih jauh lagi, artikel yang diterbitkan dalam jurnal-jurnal tersebut sering kali belum memenuhi standar substansi ilmiah internasional, baik dari segi kebaruan temuan maupun metodologi yang digunakan.

Dominasi Scopus dalam pengindeksan jurnal juga menjadi isu tersendiri. Scopus dianggap sebagai simbol kredibilitas dan kualitas internasional. Banyak dosen berlomba-lomba mempublikasikan artikel di jurnal yang terindeks Scopus demi meningkatkan reputasi akademik mereka. Namun, orientasi ini sering kali berujung pada penerbitan yang hanya mengejar kuantitas, tanpa memperhatikan relevansi atau dampak penelitian tersebut terhadap masyarakat. Padahal, Indonesia memiliki sistem pengindeks lokal, yakni SINTA (Science and Technology Index), yang seharusnya dapat diberdayakan untuk mendorong jurnal-jurnal nasional agar lebih kompetitif di tingkat global.

Baca Juga:
  • Koruptor Dimanja, Rakyat Dihukum Pajak
  • Membeli Oleh-Oleh yang Bermanfaat dan Bernilai: Tips Agar Tidak Menjadi Sampah
  • Demokrasi yang Tersandera Kotak Kosong
  • Korupsi Dana Desa Tak Bisa Lagi Dimaafkan

SINTA, yang mengakreditasi jurnal mulai dari level regional hingga internasional, sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi alternatif pengindeks yang diakui. Jika pemerintah dapat meningkatkan kredibilitas SINTA setara dengan Scopus atau Web of Science, ketergantungan akademisi Indonesia pada pengindeks internasional dapat dikurangi. Selain itu, berfokus pada SINTA juga dapat memperkuat ekosistem penelitian lokal karena dana yang digunakan untuk penelitian dan publikasi tetap berputar di dalam negeri.

Namun, permasalahan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu solusi. Universitas dan pemerintah perlu mengambil langkah konkret untuk mengatasi akar masalah yang ada. Misalnya, pengelolaan jurnal sebaiknya tidak dibebankan kepada dosen aktif. Sebaliknya, pengelolaan ini dapat dilakukan oleh badan penerbit independen yang didedikasikan untuk menjaga profesionalisme dan kualitas jurnal. Dengan demikian, jurnal dapat dikelola secara lebih fokus tanpa terpengaruh oleh tugas utama dosen.

Selain itu, pelatihan intensif bagi pengelola jurnal menjadi kebutuhan mendesak. Pelatihan ini harus mencakup tidak hanya aspek teknis seperti tata kelola dan proses editorial, tetapi juga etika publikasi dan strategi internasionalisasi. Dengan adanya pelatihan, pengelola jurnal dapat lebih siap menghadapi tantangan global dan memenuhi standar internasional.

Pemerintah juga perlu memberikan dukungan finansial yang memadai untuk pengelolaan jurnal. Hibah yang diberikan harus didasarkan pada kriteria yang jelas dan transparan, dengan tujuan meningkatkan kualitas jurnal secara menyeluruh. Dana ini dapat digunakan untuk meningkatkan infrastruktur penerbitan, memperbaiki sistem peer review, atau membantu jurnal lokal masuk ke pengindeks global seperti DOAJ atau PubMed.

Artikel Terkait:
  • UI Mesin Gelar Doktor Pejabat
  • Jenis-Jenis Bunga, Mengungkap Keindahan dan Pesan di Baliknya
  • Kalau Taman Bisa Dibuka 24 Jam, Mengapa Masjid Tidak?
  • Makan Siang Gratis, Solusi Nutrisi?

Namun, di atas semua itu, paradigma tentang publikasi ilmiah perlu diubah. Penilaian kinerja akademisi tidak boleh hanya berfokus pada jumlah publikasi di jurnal terindeks Scopus, tetapi juga pada dampak penelitian terhadap masyarakat. Dengan demikian, kualitas dan relevansi penelitian menjadi prioritas utama, bukan sekadar memenuhi persyaratan administratif.

Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam dunia akademik global. Saatnya ini puluhan ribu jurnal itu banyak namun seperti buih.

Dengan memperbaiki sistem pengelolaan jurnal, memberdayakan pengindeks lokal seperti SINTA, dan mendorong akademisi untuk menghasilkan penelitian yang berkualitas, kita dapat membangun ekosistem ilmiah yang kompetitif. Ini bukan hanya tentang meningkatkan jumlah jurnal yang terindeks Scopus, tetapi juga tentang menciptakan penelitian yang benar-benar berdampak bagi masyarakat luas.

Jangan Lewatkan:
  • Pentingnya Self-Care dan Cara Menjaganya
  • Peran dan Pengaruh Kucing dalam Film, Buku, dan Musik
  • Suka Membaca? Ini Tips Efektif untuk Menambah Pengetahuan
  • Kalau Tidak Viral, Mana Mau Kalian Membantu?

Pada akhirnya, fokus kita seharusnya bukan pada seberapa banyak jurnal yang kita miliki, tetapi pada seberapa besar kontribusi jurnal-jurnal tersebut terhadap ilmu pengetahuan dan masyarakat. Indonesia harus berani keluar dari jebakan “kuantitas tanpa kualitas” dan mulai membangun tradisi akademik yang berorientasi pada mutu dan keberlanjutan.

Jurnal Ilmiah Indonesia Kualitas Penelitian Scopus SINTA
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleBawaslu Jakarta Panggil Grace Natalie dan Cheryl Tanzil Terkait Pelanggaran Pilkada
Next Article Pilkada Jakarta: Gugat Aja Dulu

Informasi lainnya

Biru Fund dan Masa Depan Tambak

11 April 2026

Djibouti dan Politik Geografi

11 April 2026

Dapur Rapi, Pikiran Tertata

12 Maret 2026

Urban Farming: Mandiri di Kota

18 Januari 2026

Tren Fashion Terbaru 2026

16 Januari 2026

TikTok & Konten Viral

16 Januari 2026
Paling Sering Dibaca

Petualangan Haji: Masjid Quba sebagai Pintu Gerbang Pertama

Islami Alfi Salamah

Tabrani dan Jejak Madura untuk Bangsa

Editorial Lisda Lisdiawati

Komdigi: Permohonan Merger XL-Smartfren Belum Diterima

Techno Assyifa

Rp8.100 per Dolar: Berkah atau Bencana?

Opini Udex Mundzir

Kopi Tuku Branding MRT Cipete

Bisnis Assyifa
Berita Lainnya
Pendidikan
Alfi Salamah21 April 2026

Empat Tim Mahasiswa UT dari Pesantren Khalifa Lolos Pendanaan Riset

Alumni SMAN 1 Cisayong Lolos Seleksi Program Pendanaan Penelitian Mahasiswa Universitas Terbuka 2026

5 E-Commerce Dominasi Pasar Usai Bukalapak Tutup Layanan

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Ledakan Ikan Sapu-sapu, Jakarta Cari Cara Ampuh

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi