Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Sudah Kerja Keras, Mengapa Sukses Belum Juga Datang?

Martha Tilaar Wafat, Wariskan Kecantikan Nusantara

Tren Hidup Hemat Gen Z, Gengsi Mulai Ditinggalkan?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Sabtu, 17 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Mengemudi Visi, Bukan Hanya Mobil Listrik

Formula E Jakarta bukan hanya tontonan—ini adalah momentum strategis kota menghadapi tantangan global.
Udex MundzirUdex Mundzir21 Juni 2025 Perspektif
Formula e
Formula E 2023 (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Jakarta kembali bersiap menyambut gelaran balap mobil listrik internasional dalam beberapa pekan ke depan. Suasana antusias terlihat dari persiapan lintasan di Ancol, penataan kawasan, dan rangkaian acara pendukung yang menjangkau pelaku ekonomi lokal.

Event ini bukan sekadar adu cepat. Ini adalah kelanjutan dari warisan visi Anies Baswedan saat menjabat Gubernur DKI. Ketika itu, beliau melihat arah persaingan kota global beralih dari infrastruktur klasik ke kepemimpinan ide dan inovasi.

Formula E menjadi jawaban nyata. Dengan menghadirkan balap mobil listrik, Jakarta menyatakan komitmen pada keberlanjutan dan green mobility. Ini bukan sekadar proyek hiburan, melainkan strategi kota untuk memosisikan diri di mata internasional.

Prosesnya pun menegaskan keseriusan. Proposal resmi dikirim langsung ke Formula E Operations di London. Anies memimpin negosiasi, bukan menyerahkannya hanya pada birokrasi. Itu adalah diplomasi aktif yang menunjukkan tekad pemimpin daerah membawa Jakarta ke panggung global.

Ketika akhirnya Jakarta mendapatkan tuan rumah musim 2019–2020, dan pelaksanaannya baru terlaksana pada 2022–2023 setelah pandemi, semua itu bukan kebetulan. Itu adalah hasil dari kemauan politik kuat dan narasi global yang dijual: Jadikan Jakarta kota ide, bukan hanya megapolitan dengan kemacetan dan polusi.

Tentu, proyek ambisius seperti ini tak lantas tanpa kontroversi. Dana commitment fee mencapai ratusan miliar rupiah. Tuduhan pemborosan APBD pun muncul, bahkan DPRD sampai sempat mengajukan interpelasi.

Namun yang terlewat dari perhatian publik: Anies membuka pintu audit oleh KPK, BPK, dan BPKP. Pelaksanaan diserahkan ke Jakpro agar tata kelola lebih transparan. Bagi beliau, ini bukan soal popularitas semata, tetapi legacy masa depan.

Sekarang, saat gelaran mendekat lagi, kita melihat dampak langsung pada berbagai pihak. UMKM lokal bisa mendapatkan ruang di sekitar kawasan event. Komunitas energi bersih mendapat perhatian. Industri pariwisata juga terpacu untuk ikut dalam rangkaian acara.

Nilai ekonomi pun ikut meningkat. Pada pelaksanaan sebelumnya, nilai ekonomi diklaim mencapai Rp 2 triliun. Angka itu bukan hanya soal pemasukan semata, tetapi tentang resonansi bahwa Indonesia mampu masuk agenda hijau dunia.

International recognition juga terlihat dari liputan global. Jakarta sejajar tampil dengan kota besar seperti New York, Berlin, dan Seoul. Televisi dan platform digital dari lebih 150 negara menayangkan event Jakarta.

Baca Juga:
  • Ketika Peneliti Mengurus Kuitansi
  • Peta Jalan Pendidikan: Benang Kusut yang Perlu Diurai
  • Haji Idi dan Situasi Simalakama di Pilkada Sampang
  • Investasi Milenial Kini dan Masa Depan

Namun, tantangan nyata tetap menunggu. Momentum seperti ini hanya akan bermakna jika keberlanjutan ditegakkan.

Pertama, soal transportasi publik. Bagaimana memastikan sistem transportasi massal Jakarta mendukung green mobility? Saat event usai, jangan sampai rencana charging station kendaraan listrik hanya berhenti di sirkuit.

Kedua, regulasi kendaraan listrik. Insentif—a real one. Pembebasan pajak atau kemudahan perizinan. Atau subsidi bagi pelaku transportasi publik seperti bus listrik.

Ketiga, edukasi masyarakat. Penggunaan kendaraan listrik masih belum masif karena minimnya pengetahuan dan infrastruktur. Public campaign di event bisa menjadi pintu masuk untuk edukasi ramah lingkungan.

Keempat, kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah pusat dan daerah, swasta, akademisi, dan masyarakat harus duduk bersama menyusun roadmap pasca-event. Fokusnya adalah kesinambungan dan integrasi kebijakan.

Tanpa itu, Formula E akan berhenti sebagai hiburan sesaat. Sasisnya tetap cepat, tetapi mesin perubahan tidak akan berjalan.

Dalam balapan, pengemudi mengejar garis finish. Tapi di luar sirkuit, Jakarta harus mengejar masa depan. Balapan terbesar bukan sekadar adu kecepatan, tapi membuktikan kemampuan bertransformasi.

Momentum mendatang adalah ujian warisan.

Warisan Anies Baswedan besar: Jakarta kini punya narasi global. Tapi apakah kita mampu menjaga momentum? Ataukah warisan hanya akan menjadi pemantik semangat yang meredup setelah sorotan usai?

Artikel Terkait:
  • Rp8.100 per Dolar: Berkah atau Bencana?
  • Ratusan Lembaga di Indonesia, tapi Tak Ada Satupun yang Bisa Menjawab Tuntas Soal Ijazah Gibran
  • Dapur Rapi, Pikiran Tertata
  • Kenali Calon Istrimu dengan 3 Cara Ini: Panduan Islami untuk Memilih Pasangan

Jika kita ingin menjadikan Jakarta kota modern dan berkelanjutan, kita harus gerak bersama. Event Formula E adalah panggung, bukan tujuan akhir. Sekarang yang penting adalah aksi nyata.

Misalnya, pasca-Formula E, Pemerintah provinsi bisa membuka skema kemitraan dengan swasta untuk membangun stasiun pengisian kendaraan listrik (SPKLU) di titik strategis.

Pemerintah pusat bisa menetapkan regulasi insentif dan target penggunaan kendaraan listrik di instansi pemerintahan, agar pasarnya lebih stabil.

Dinas Perhubungan bisa bekerja sama dengan universitas dan startup untuk mengembangkan sistem transportasi cerdas yang berbasis energi bersih.

Dan masyarakat sendiri harus didorong untuk ikut dalam agenda hijau ini. Konsumen diharapkan lebih kritis memilih kendaraan ramah lingkungan.

Jika langkah-langkah ini dilakukan secara konsisten, maka warisan Anies akan terus terpelihara. Bukan berhenti di gelaran semata, tetapi menjadi fondasi bagi perubahan konkret.

Kini saat kendaraan listrik melesat di sirkuit Ancol, kita menapak ke tahap berikutnya: apakah Jakarta hanya akan bersinar sesaat, atau terus bersinar karena transformasi nyata?

Jangan Lewatkan:
  • Pilkada Kabupaten Tasikmalaya 2024, Hanya Legitimasi Kemenangan Petahana
  • Pose Jari V Saat Selfie Disebut Simpan Risiko Siber
  • Korupsi Dana Desa Tak Bisa Lagi Dimaafkan
  • KDM, Calon Diktator yang Terlihat Merakyat

Formula E bukan panggung sekali pakai. Ini adalah peluang emas. Peluang yang harus kita gunakan untuk mempercepat transisi ke kota masa depan.

Dengan itu, warisan Anies Baswedan dalam penyelenggaraan Formula E tidak hanya terbaca dalam kenangan, tetapi dirasakan wujudnya, oleh Jakarta, oleh Indonesia, dan bagi ritme hidup global.

Marilah kita mengubah event ini menjadi babak baru: balapan visi, bukan balapan mobil. Mesin perubahan sejati hidup ketika ide dan aksi bersinergi.

Formula E Green Mobility Transformasi Jakarta Warisan Kota
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleTitik Berat Indonesia dalam Konflik Timur Tengah
Next Article Selat Hormuz dan Ancaman Ekonomi Dunia

Informasi lainnya

Parlemen Ringkas, Pilpres Terbuka

10 Oktober 2026

Siapa yang Layak Dipidana dalam Kasus Gibran

8 Oktober 2026

Syarat Tak Bisa Dicuci Kekuasaan

3 Oktober 2026

Dana Pendidikan Dikorupsi, Sitaan Korupsi untuk Pendidikan Gratis. Aneh!

22 September 2026

Ketika Peneliti Mengurus Kuitansi

10 September 2026

Bank Mandiri dan Krisis Kepercayaan

25 Agustus 2026
Paling Sering Dibaca

Keutamaan Shalat Berjamaah 40 Hari Berturut-Turut

Islami Ericka

Makna Kiai dalam Tradisi Jawa: Antara Simbol dan Ilmu

Islami Lisda Lisdiawati

Rahasia Puasa Dzulhijjah dan Keutamaannya

Islami Udex Mundzir

Ketika Presiden Diganti, Siapa Memimpin?

Perspektif Udex Mundzir

Strategi Penggunaan WhatsApp Channel untuk Membangun Personal Branding

Techno Udex Mundzir
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

PANDI Perketat Aturan Sengketa Domain untuk Cegah Cybersquatting

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Buku Anak Islami Murah Produk Dapur Terlaris Alat Tulis Sekolah Murah
“Landing

☪   JADWAL SALAT

Mendeteksi lokasi...

Memuat tanggal...

⌖  Menyiapkan lokasi
Memuat jadwal salat...
SALAT BERIKUTNYA —
Menunggu jadwal...
Metode Kemenag RI

© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi