Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Parlemen Ringkas, Pilpres Terbuka

Siapa yang Layak Dipidana dalam Kasus Gibran

Eksotisme Surabaya dalam Ikan Sambal Nasi Kelapa

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Selasa, 13 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Indonesia Memble Hadapi Tarif Trump

Ketika negara lain bersikap tegas menghadapi tekanan dagang, Indonesia justru tampil lemah, bingung, dan penuh kompromi.
Udex MundzirUdex Mundzir8 April 2025 Perspektif
Donald trump
Presiden Donald Trump (.inet
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Indonesia tampak memble. Dalam menghadapi kebijakan tarif tinggi dari Amerika Serikat, respons pemerintah justru lebih banyak bernada lunak dan penuh kompromi. Presiden Donald Trump kembali mengguncang tatanan perdagangan global dengan memberlakukan tarif hingga 46% terhadap berbagai negara, termasuk 32% pada barang ekspor asal Indonesia.

Langkah tersebut langsung berdampak pada ekonomi nasional. IHSG anjlok 9%, rupiah melemah, dan pelaku usaha dalam negeri mulai panik. Namun alih-alih menunjukkan posisi tegas atau alternatif kebijakan, pemerintah Indonesia justru memilih jalur negosiasi satu arah, dengan serangkaian pernyataan normatif yang minim strategi.

Presiden Prabowo menyebut bahwa Indonesia tidak akan membalas, melainkan memilih “berunding” karena AS adalah mitra strategis. Menteri Airlangga Hartarto mengumumkan rencana revitalisasi TIFA (Trade and Investment Framework Agreement), dan Sri Mulyani menyatakan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap AS tak besar.

Tetapi data menunjukkan sebaliknya. Ekspor Indonesia ke AS sepanjang 2024 mencatatkan surplus USD 14,34 miliar. Produk seperti mesin listrik, alas kaki, dan tekstil—yang kini dikenakan tarif tinggi—adalah tulang punggung ekspor padat karya.

Sementara negara-negara lain seperti Vietnam, Korea Selatan, dan bahkan Thailand, telah menegosiasikan ulang akses pasar mereka atau bersiap melakukan retaliasi, Indonesia justru menawarkan pembelian minyak mentah dari AS sebagai “kompensasi” untuk menurunkan tensi.

Lebih ironis lagi, sejak 2023 Indonesia tidak memiliki duta besar untuk AS. Dalam konteks geopolitik dan diplomasi perdagangan, absennya perwakilan resmi di Washington bukan sekadar kelalaian administratif, tetapi pengabaian strategis.

Ketika tensi meningkat, Indonesia malah tertinggal satu langkah. Negara-negara pesaing kita di ASEAN telah mengaktifkan jalur diplomatik bilateral secara agresif. Bahkan Vietnam—yang dianggap Trump sebagai “pelanggar terburuk”—masih berani meminta penundaan tarif.

Baca Juga:
  • Rakyat Jabar Dijadikan Figuran “Bapak Aing”
  • Membeli Oleh-Oleh yang Bermanfaat dan Bernilai: Tips Agar Tidak Menjadi Sampah
  • Negara Hukum yang Pengadilannya Banyak, tapi Sulit Mencari Keadilan
  • Membangun Keterampilan Sosial untuk Mengurangi Insecure

Pengamat ekonomi pembangunan dari Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menyebut ketiadaan duta besar sebagai kesalahan besar. Tanpa representasi aktif di Washington, Indonesia tidak memiliki alat komunikasi yang memadai dalam menyampaikan posisi dagangnya.

Sementara itu, pemerintah justru menyiapkan proposal deregulasi non-tarif, pelonggaran TKDN, hingga insentif fiskal dan bea masuk. Semua ini disusun dalam kerangka agar produk AS lebih mudah masuk pasar Indonesia—bukan untuk memperkuat daya saing ekspor kita.Ini bukan strategi. Ini adalah bentuk ketundukan.

Ekonom dari Bright Institute, Muhammad Andri Perdana, secara gamblang menyebut bahwa Indonesia “tidak berani menunjukkan opsi retaliasi di meja”. Ia menilai bahwa negara-negara seperti AS justru menghormati mitra dagang yang siap menolak, bukan yang siap menuruti.

Trump sendiri dikenal sebagai pemimpin yang hanya merespons tekanan nyata. Ketika China melakukan pembalasan tarif, Trump mencoba meredam eskalasi dengan negosiasi keras. Tetapi terhadap negara-negara yang tunduk, ia terus menekan.

Maka ketika Indonesia memilih tak membalas, bahkan menunjukkan niat membeli lebih banyak dari AS, sinyal yang dikirim sangat lemah. Alih-alih tawar-menawar, Indonesia terlihat seperti pemohon yang cemas kehilangan pasar ekspor.

Di sisi lain, pernyataan Presiden Prabowo soal “kesempatan untuk menjadi efisien” patut dipertanyakan. Sebab pemerintah justru mengusulkan pembelian energi dari AS—langkah yang bertentangan dengan visi swasembada energi yang selama ini diusungnya.

Artikel Terkait:
  • Rakyat Bertanya, Negara Menjawab dengan Prosedur
  • Ketika Kebenaran Harus Antre di Meja Korupsi
  • Generasi Muda dan Tren Slow Living di Era Digital
  • Dana Pendidikan Dikorupsi, Sitaan Korupsi untuk Pendidikan Gratis. Aneh!

Kebijakan ini penuh kontradiksi. Ingin berdiri di atas kaki sendiri, tapi mengiyakan skema yang memperkuat dominasi mitra dagang.

Sementara itu, dunia sedang berubah. Negara-negara berkembang mulai menyusun aliansi baru. Indonesia telah bergabung dengan New Development Bank (NDB) milik BRICS. Tapi langkah konkret untuk memperkuat ekspor ke Brasil, Rusia, India, dan Afrika Selatan belum terlihat jelas.

Sikap pemerintah yang terlalu diplomatis juga terlihat dalam keraguan untuk memimpin sikap bersama ASEAN. Padahal, dengan kekuatan kolektif ASEAN, posisi tawar terhadap AS bisa jauh lebih besar.Namun Indonesia, sebagai negara terbesar di kawasan, justru tidak mengambil peran sentral. Sekali lagi, memble.

Kondisi ini mencerminkan kelemahan mendasar dalam tata kelola diplomasi ekonomi Indonesia. Pemerintah tampak tidak punya peta jalan jelas untuk mengelola risiko perdagangan global.

Di saat tekanan muncul, kebijakan kita hanya bersifat reaktif, bukan antisipatif.Sementara negara lain memperkuat daya saing industri, membuka pasar baru, dan merespons tekanan dengan posisi strategis, Indonesia justru sibuk membujuk agar tidak ditekan lebih lanjut.

Jangan Lewatkan:
  • Ketika Pramuka Belajar Korupsi
  • Pentingnya Self-Care dan Cara Menjaganya
  • Bela Negara atau Bela Penguasa?
  • Ketika Presiden Diganti, Siapa Memimpin?

Kesimpulannya, pemerintah Indonesia gagal menunjukkan kepemimpinan yang kokoh di tengah krisis dagang global. Alih-alih merespons dengan keberanian dan kalkulasi, pemerintah justru tampak bingung dan terlalu kompromistis.

Dalam dunia dagang yang keras, sikap memble hanya akan menjadikan Indonesia bulan-bulanan kebijakan proteksionis negara lain.

Diplomasi Ekonomi Ekspor Indonesia Perdagangan Global Prabowo Subianto Tarif Trump
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleTarif Trump: Senjata Makan Tuan
Next Article Bupati Kukar Ajak UMKM dan Pemuda Kukuhkan Ekonomi Kreatif

Informasi lainnya

Parlemen Ringkas, Pilpres Terbuka

10 Oktober 2026

Siapa yang Layak Dipidana dalam Kasus Gibran

8 Oktober 2026

Syarat Tak Bisa Dicuci Kekuasaan

3 Oktober 2026

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

1 Oktober 2026

Dana Pendidikan Dikorupsi, Sitaan Korupsi untuk Pendidikan Gratis. Aneh!

22 September 2026

Ketika Peneliti Mengurus Kuitansi

10 September 2026
Paling Sering Dibaca

Keadilan Dibelokkan oleh Kekuasaan

Editorial Udex Mundzir

Jabatan Simbolis atau Ancaman Toleransi?

Editorial Udex Mundzir

Bolehkah Menulis Nama di Batu Nisan Kuburan?

Islami Ericka

Etika Toilet Umum, Cermin Kesadaran Sosial Sehari-hari

Daily Tips Lisda Lisdiawati

Waspada, Oknum FB Palsu Mengaku Wakil Ketua DPRD Kaltim

Techno Alfi Salamah
Berita Lainnya
Politik
Udex Mundzir1 Oktober 2026

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

PANDI Perketat Aturan Sengketa Domain untuk Cegah Cybersquatting

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Rahasia Daisugi, Teknik Bertani Pohon Tanpa Membabat Hutan

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Mic Wireless Untuk Masjid Perlengkapan Pramuka Lengkap Produk Dapur Terlaris
“Landing

☪   JADWAL SALAT

Mendeteksi lokasi...

Memuat tanggal...

⌖  Menyiapkan lokasi
Memuat jadwal salat...
SALAT BERIKUTNYA —
Menunggu jadwal...
Metode Kemenag RI

© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi