Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Jakarta Darurat Sampah, Pencegahan Jadi Kunci

Jejak Stonehenge Ternyata Bermula dari Wales?

Tradwife Kembali Ramai, Pilihan atau Romantisasi?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Senin, 31 Agustus 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Urban Farming: Mandiri di Kota

Di balik tren kebun kota yang estetik, ada kebutuhan mendesak akan kemandirian pangan dan tekanan hidup urban.
Alfi SalamahAlfi Salamah18 Januari 2026 Perspektif
Budaya urban farming
Ilustrasi Urban Farming (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Urban farming kini bukan sekadar tren hobi akhir pekan. Sejak pandemi COVID-19 dan lonjakan harga bahan pokok global, semakin banyak warga kota mulai menanam sayur sendiri, memelihara ikan lele di balkon, hingga membuat hidroponik vertikal di dapur. Media sosial dipenuhi konten soal panen cabai di pot, aquaponik di apartemen, dan hasil kebun mini di rooftop perkantoran.

Namun, di balik citra Instagramable dan gaya hidup hijau itu, urban farming menyimpan cerita yang lebih kompleks dan serius mulai dari upaya bertahan hidup di tengah harga pangan yang melonjak, hingga gerakan politik kedaulatan pangan di kota besar.

Dari Hobi ke Kebutuhan Mendesak

Awalnya, urban farming populer di kalangan penghobi dan komunitas pecinta tanaman. Namun dalam tiga tahun terakhir, terutama sejak krisis iklim mempengaruhi rantai pasok dan inflasi bahan pokok meroket, banyak keluarga kota beralih ke pertanian mandiri sebagai cara bertahan hidup.

Data BPS 2025 mencatat, lebih dari 18% rumah tangga di wilayah urban Indonesia kini memiliki kegiatan pertanian rumah tangga, naik signifikan dari hanya 6% pada 2020. Di Jakarta, program “Pekarangan Pangan Lestari” berhasil mendorong ribuan keluarga menanam sayur di halaman, dinding, hingga balkon apartemen.

Alternatif Ekonomi di Tengah Krisis

Selain karena kesadaran lingkungan, faktor ekonomi jadi pendorong utama. Harga cabai rawit yang menembus Rp130.000/kg di akhir 2025, disertai lonjakan harga beras dan sayuran daun, membuat keluarga menengah pun berpikir ulang untuk terus bergantung pada pasar.

Beberapa komunitas bahkan menjadikan urban farming sebagai sumber penghasilan tambahan. Contohnya, komunitas Tani Kota di Bandung mengembangkan sistem hidroponik kolaboratif yang hasil panennya dijual ke pasar daring dengan label “produk lokal bebas pestisida”.

Baca Juga:
  • Peta Jalan Pendidikan: Benang Kusut yang Perlu Diurai
  • Tips Temukan Passion dan Bakat ala Remaja Masa Kini
  • Penyebab dan Dampak Kesombongan dalam Kehidupan Sehari-Hari
  • Polemik Privasi di Era Digital

Ini membuktikan bahwa pertanian kota kini bukan hanya simbol kesadaran ekologis, tetapi juga strategi ekonomi baru untuk bertahan dalam ketidakpastian.

Jawaban atas Krisis Pangan dan Iklim

Kota-kota besar menghadapi tantangan besar dalam hal ketersediaan pangan. Ketergantungan pada distribusi dari daerah luar menyebabkan kerentanan tinggi saat terjadi gangguan pasokan seperti saat cuaca ekstrem merusak panen atau saat harga BBM naik dan logistik terhambat.

Urban farming menjadi jawaban lokal atas krisis global. Menanam sendiri adalah bentuk kedaulatan pangan mikro kemampuan individu atau komunitas memenuhi kebutuhan pokok mereka tanpa tergantung pihak luar.

Lebih dari itu, urban farming juga berperan dalam mitigasi perubahan iklim: mengurangi jejak karbon dari transportasi pangan, menyerap emisi kota, hingga memperbaiki mikroklimat lingkungan urban.

Tidak Semudah yang Tampak

Namun, membangun kebun di tengah kota tidak semudah unggahan di media sosial. Banyak tantangan yang dihadapi, antara lain:

Artikel Terkait:
  • KDM, Calon Diktator yang Terlihat Merakyat
  • Pose Jari V Saat Selfie Disebut Simpan Risiko Siber
  • TikTok & Konten Viral
  • Cara Mengetahui Sifat Asli Manusia
  1. Keterbatasan ruang (terutama di rumah kontrakan atau apartemen).
  2. Biaya awal yang tinggi, terutama untuk sistem hidroponik dan vertikultur.
  3. Kurangnya dukungan regulasi dan insentif dari pemerintah lokal.

Selain itu, akses terhadap bibit, pupuk organik, dan pelatihan teknis juga masih terbatas. Banyak komunitas urban farming yang berjalan sendiri tanpa pendampingan dari institusi atau program resmi.

Ternyata, Ini Lebih dari Sekadar Tren

Jadi, mengapa urban farming begitu meledak popularitasnya? Karena ia bukan sekadar tren gaya hidup, tapi jawaban atas kombinasi krisis ekonomi, iklim, dan sosial yang menekan kehidupan urban.

Ketika negara gagal memastikan stabilitas harga dan pasokan pangan, masyarakat kota menemukan jawabannya di pot kecil dan ember cat bekas. Di sanalah harapan ditanam harapan untuk hidup lebih mandiri, sehat, dan tidak sepenuhnya tergantung pada sistem yang rapuh.

Bentuk Adaptasi Sosial

Urban farming bukan sekadar gerakan hijau. Ini adalah bentuk adaptasi sosial terhadap krisis ekonomi dan ketidakadilan sistem pangan.

Jangan Lewatkan:
  • Bela Negara Bukan Membungkam Kritik
  • Generasi Muda dan Tren Slow Living di Era Digital
  • Ketika Presiden Diganti, Siapa Memimpin?
  • Ketika Pramuka Belajar Korupsi

Dan semakin kota bergerak cepat, semakin besar pula kebutuhan untuk memperlambat, menanam, dan mengambil kembali kendali atas apa yang kita makan. Karena ternyata, revolusi pangan bisa bermula dari balkon sempit dan tangan kotor tanah.

Kemandirian Pangan Krisis Ekonomi Pangan Lokal Pertanian Kota Urban farming
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleIle Lewotolok Erupsi Ratusan Kali, Lava Menjalar 100 Meter
Next Article Podcast vs YouTube: Rebutan Atensi Gen Z

Informasi lainnya

Bank Mandiri dan Krisis Kepercayaan

25 Agustus 2026

Jangan Menabung di Mandiri, Blokir Bisa Dilakukan atas Permintaan Misterius

24 Agustus 2026

Ketika Pramuka Belajar Korupsi

14 Agustus 2026

Efisiensi atau Salah Kelola?

4 Agustus 2026

Ratusan Lembaga di Indonesia, tapi Tak Ada Satupun yang Bisa Menjawab Tuntas Soal Ijazah Gibran

23 Juni 2026

Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian

22 Juni 2026
Paling Sering Dibaca

Garuda Pertiwi: Semangat Tanpa Batas di Balik Trofi Perdana

Editorial Udex Mundzir

Tifanil Oktafira, Dedikasikan Ilmu untuk Umat

Profil Silva

Menyingkap Tabir di Balik ‘Penyalahgunaan Wewenang’

Editorial Udex Mundzir

Hikmah Peristiwa

Islami Syamril Al-Bugisyi

Ladang Ganja di Bromo: Polisi Tidak Tahu atau Tutup Mata?

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Tugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’

Gunung Raung Erupsi, Warga Diminta Jauhi Kawah dalam Radius Tiga Kilometer

Ujian Tatap Muka UT di Tasikmalaya Berjalan Tertib dan Ketat

Kebun Mini Super Kilat di Rumah

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Perlengkapan Pramuka Lengkap Mic Wireless Untuk Masjid
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi