Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Parlemen Ringkas, Pilpres Terbuka

Siapa yang Layak Dipidana dalam Kasus Gibran

Eksotisme Surabaya dalam Ikan Sambal Nasi Kelapa

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Selasa, 13 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Peta Jalan Pendidikan: Benang Kusut yang Perlu Diurai

Udex MundzirUdex Mundzir10 Desember 2024 Perspektif
Kritik terhadap Peta Jalan Pendidikan Indonesia (PJPI) 2025-2045
Kritik terhadap Peta Jalan Pendidikan Indonesia (PJPI) 2025-2045 (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Tata kelola pendidikan Indonesia kembali menjadi sorotan. Kritik terhadap Peta Jalan Pendidikan Indonesia (PJPI) 2025-2045 mengemuka dalam diskusi yang diadakan Himpunan Sekolah dan Madrasah Islam Nusantara (Hisminu). Para tokoh pendidikan mendesak pemerintah baru, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, untuk merevisi dokumen strategis ini agar sesuai dengan visi bangsa ke depan.

PJPI lahir di penghujung pemerintahan Presiden Jokowi. Meski memiliki niat baik, dokumen ini dinilai belum mampu menjawab tantangan utama dunia pendidikan. Ketua Umum Hisminu, KH Arifin Junaidi, menyebut PJPI kurang relevan dengan kebutuhan masyarakat akar rumput. Kritik terhadap dokumen ini bahkan sudah terdengar sejak 2020, ketika minimnya partisipasi publik dalam penyusunannya menjadi isu serius.

Dalam diskusi tersebut, dualisme tata kelola pendidikan antara sekolah dan madrasah menjadi salah satu masalah mendasar yang perlu diatasi. Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj menekankan bahwa dualisme ini adalah warisan kolonial yang memperburuk ketimpangan akses dan kualitas pendidikan. Persoalan ini memengaruhi lembaga pendidikan berbasis masyarakat, termasuk madrasah, yang kerap menerima alokasi dana minim dibandingkan sekolah negeri.

Ketimpangan yang sama terlihat dalam perhatian negara terhadap sekolah dan madrasah swasta. KH Arifin Junaidi mengungkapkan, rendahnya perhatian terhadap lembaga pendidikan berbasis masyarakat menciptakan jurang besar dalam layanan pendidikan. Akibatnya, masyarakat di tingkat akar rumput harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan pendidikan berkualitas.

Baca Juga:
  • Mengapa Banyak Pikiran Bikin Lapar?
  • Rp10 Ribu, Antara Anggaran dan Harapan
  • Parlemen Ringkas, Pilpres Terbuka
  • Siapa yang Layak Dipidana dalam Kasus Gibran

Namun, masalah ini bukan hanya soal alokasi dana. Ini juga menyangkut sistem tata kelola yang sering kali tumpang tindih. Sebagaimana dikemukakan Drs. Unang Rahmat dari Majelis Dikdasmen Muhammadiyah, pendidikan satu pintu yang berkeadilan harus diwujudkan agar tidak ada pihak yang terpinggirkan.

Selain itu, perencanaan pendidikan harus mencerminkan gotong royong. Dalam konteks ini, pemerintah diharapkan memastikan bahwa kebijakan pendidikan tidak hanya berorientasi pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada kualitas guru dan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Kritik terhadap PJPI juga mencakup minimnya integrasi antara pendidikan umum dan agama. Peran madrasah dan sekolah swasta harus lebih signifikan dalam kebijakan pendidikan nasional. Pendidikan berbasis nilai-nilai moral dan spiritual, yang menjadi ciri khas madrasah, sangat penting untuk membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter.

Rekomendasi yang dihasilkan dari diskusi Hisminu cukup jelas. PJPI harus ditinjau kembali agar selaras dengan Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas) yang akan dibahas pada 2025. Dualisme tata kelola pendidikan juga harus dihapus melalui integrasi sekolah dan madrasah. Di samping itu, peran lembaga pendidikan berbasis masyarakat perlu diperkuat agar dapat berkontribusi secara maksimal dalam kebijakan pendidikan nasional.

Artikel Terkait:
  • Jangan Menabung di Mandiri, Blokir Bisa Dilakukan atas Permintaan Misterius
  • Rakyat Tidak Punya Hak untuk Mendapat Keadilan di Negara Hukum
  • Banyak Tapi Kurang
  • Menulis dari Negara yang Terlambat Sadar

Langkah ini membutuhkan komitmen politik yang kuat dari pemerintah. Dalam hal ini, Presiden Prabowo memiliki tugas besar untuk mengurai benang kusut tata kelola pendidikan. Dengan memprioritaskan asas keadilan dan kebersamaan, visi “Pendidikan Berkualitas untuk Semua” dapat tercapai.

Di masa depan, kebijakan pendidikan harus lebih inklusif. Melibatkan semua pemangku kepentingan, dari akademisi hingga masyarakat umum, akan memastikan kebijakan yang lebih holistik. Pemerintah juga harus menciptakan mekanisme pengawasan yang ketat agar setiap program pendidikan terlaksana dengan baik.

Pendidikan adalah tulang punggung bangsa. Reformasi sistem pendidikan tidak boleh lagi ditunda. Dalam rangka membangun Indonesia emas 2045, pendidikan yang adil, berkualitas, dan merata harus menjadi prioritas utama.

Jangan Lewatkan:
  • Langkah Skuad Muda yang Tertatih
  • Dapur Rapi, Pikiran Tertata
  • Calon Kalah Kolom Kosong, Maju Lagi?
  • Bela Negara atau Bela Penguasa?
Pendidikan Indonesia Peta Jalan Pendidikan Tata kelola pendidikan
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleErick Thohir: Kemenangan Timnas Indonesia Awal yang Bagus
Next Article Meriah! Laga Voli Guru Warnai Hari Guru Cisayong

Informasi lainnya

Parlemen Ringkas, Pilpres Terbuka

10 Oktober 2026

Siapa yang Layak Dipidana dalam Kasus Gibran

8 Oktober 2026

Syarat Tak Bisa Dicuci Kekuasaan

3 Oktober 2026

Dana Pendidikan Dikorupsi, Sitaan Korupsi untuk Pendidikan Gratis. Aneh!

22 September 2026

Ketika Peneliti Mengurus Kuitansi

10 September 2026

Bank Mandiri dan Krisis Kepercayaan

25 Agustus 2026
Paling Sering Dibaca

Keunikan Budaya dan Kemajuan Teknologi, Inilah Keistimewaan Jepang

Travel Alfi Salamah

Raja Kecil di Birokrasi, Prabowo Gertak Sambal?

Editorial Udex Mundzir

Göbekli Tepe: Terungkapnya Misteri Peradaban Tertua

Profil Alfi Salamah

Pilwalkot Samarinda 2024: Formalitas Saja

Editorial Udex Mundzir

Hakim Bisa Dibeli? Ini Darurat!

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Politik
Udex Mundzir1 Oktober 2026

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

PANDI Perketat Aturan Sengketa Domain untuk Cegah Cybersquatting

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Rahasia Daisugi, Teknik Bertani Pohon Tanpa Membabat Hutan

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Buku Anak Islami Murah Produk Dapur Terlaris Perlengkapan Pramuka Lengkap
“Landing

☪   JADWAL SALAT

Mendeteksi lokasi...

Memuat tanggal...

⌖  Menyiapkan lokasi
Memuat jadwal salat...
SALAT BERIKUTNYA —
Menunggu jadwal...
Metode Kemenag RI

© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi