Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Temaram di Khalifa

Ketika Pramuka Belajar Korupsi

Cak Sholeh Wafat, Tinggalkan Jejak Advokasi Warga

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Jumat, 14 Agustus 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

KDM, Calon Diktator yang Terlihat Merakyat

Ketika gaya populis dibalut kesederhanaan, ambisi kuasa justru makin kentara dalam tiap keputusan.
Udex MundzirUdex Mundzir1 Mei 2025 Perspektif 591 Views
Dedi mulyadi
Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Di balik citra merakyat, Dedi Mulyadi kian menunjukkan kecenderungan otoriter yang sulit diabaikan. Figur yang dulu dikenal hangat dan akrab dengan rakyat kini mulai menampilkan sikap yang kaku dan sepihak.

Julukan ‘Bapak Aing’ yang digaungkan tim medianya justru menjadi simbol bahwa kuasa seolah ada di tangannya sepenuhnya. Sebuah narasi yang membentuk kepercayaan publik secara emosional, namun rawan manipulasi.

Larangan wisuda di sekolah-sekolah Jawa Barat adalah contoh awal. Dedi menyebut wisuda hanya beban finansial. Tapi keputusan itu dibuat sepihak, tanpa mendengar suara orang tua, guru, atau siswa.

Begitu pula dengan larangan study tour. Alasan moral memang ada, yakni menghindari hutang orang tua demi tamasya anak. Namun ketika kepala sekolah yang tak patuh langsung dipecat, sikap otoriter itu tak bisa disangkal lagi.

Ia juga menggagas pengiriman siswa “nakal” ke barak militer. Enam bulan dididik ala tentara, katanya. Padahal pendekatan ini mengabaikan hak anak dan asas-asas pendidikan yang inklusif dan progresif.

Kebijakan ini mengindikasikan pola pikir yang mengedepankan kendali, bukan empati. Anak-anak dengan masalah perilaku bukan harus dihukum, tapi dibimbing lewat pendekatan psikologi dan pendidikan sosial.

Paling kontroversial, tentu saja, adalah rencana menjadikan vasektomi syarat penerima bansos. Warga miskin akan diberi Rp500 ribu jika mau disterilisasi. Kebijakan ini vulgar dan tidak manusiawi.

Baca Juga:
  • Jangankan Membuktikan Ijazah Asli?
  • Efisiensi atau Salah Kelola?
  • Generasi Muda dan Tren Slow Living di Era Digital
  • Pilkada Kabupaten Tasikmalaya 2024, Hanya Legitimasi Kemenangan Petahana

Logika yang dibangun: kemiskinan adalah hasil dari terlalu banyak anak. Sebuah logika yang menyederhanakan masalah struktural menjadi masalah rahim dan sperma. Ini bukan kebijakan, ini penghinaan.

Di sisi lain, Dedi membangun kesan sederhana. Ia datang ke pasar, duduk bersila, berbagi uang tunai. Semua terekam kamera. Semua disebar di medsos. Semua jadi narasi politik yang “mewakili rakyat.”

Tapi substansi sering tertinggal jauh di belakang. Banyak lansia di Jawa Barat masih miskin dan terabaikan. Tapi yang ditonjol justru simbol-simbol seperti mencium kaki nenek renta di depan pejabat.

Ada program “Nyaah ka Indung” yang mewajibkan ASN mengasuh ibu-ibu lansia. Tujuannya mulia. Tapi lagi-lagi, pendekatan yang digunakan cenderung memaksa dan emosional.

ASN dibebani tanggung jawab moral dan sosial di luar tugas formalnya. Ini bukan solusi, tapi pelimpahan tanggung jawab negara kepada individu. Sistem negara jadi terabaikan.

Yang paling mengkhawatirkan adalah cara ia melewati forum-forum demokrasi. Dedi lebih suka bicara ke kamera daripada ke DPRD. Lebih suka postingan daripada diskusi kebijakan terbuka.

Artikel Terkait:
  • Jangan-Jangan Semua Kampus Seperti UI?
  • Rakyat Bertanya, Negara Menjawab dengan Prosedur
  • Peran dan Pengaruh Kucing dalam Film, Buku, dan Musik
  • Inilah Kekurangan dan Kelebihan Karakteristik Generasi Z

Ini pola yang berbahaya. Pemimpin yang terlalu tergantung pada media sosial dan pencitraan sering melupakan tata kelola yang demokratis dan partisipatif.

Ia bahkan membangun narasi “bebas partai” sejak keluar dari Golkar. Namun, ia mengganti itu dengan buzzer, influencer, dan simpatisan digital alias netizen yang memuja dan menyerang lawan.

Semua yang mengkritik dianggap “tidak mewakili rakyat.” Hanya dia yang dianggap punya suara rakyat. Ini sudah bukan demokrasi, tapi kultus personal yang dibungkus gaya kasual.

Indonesia punya sejarah pahit dengan pemimpin populis yang berujung diktator. Dimulai dari gaya merakyat, berakhir pada penyalahgunaan kekuasaan tanpa kontrol. Sejarah baru hitungan bulan, yang dikuak setelah deretan korupsi triliunan terbongkar.

Jawa Barat tak boleh menjadi laboratorium ambisi kekuasaan model baru. Pemimpin harus dikontrol, dikritik, dan diawasi. Tidak cukup hanya dinilai dari kontennya di medsos.

Jangan Lewatkan:
  • Tips Temukan Passion dan Bakat ala Remaja Masa Kini
  • Peta Jalan Pendidikan: Benang Kusut yang Perlu Diurai
  • Ketika Notifikasi Mengalahkan Literasi
  • Membentuk Generasi Hebat, Lima Syarat Menjadi Anak Hebat

Dedi Mulyadi mungkin tampak sederhana. Tapi di balik kerendahan hati yang dipertontonkan, ada potensi bahaya dalam gaya kepemimpinannya yang makin sepihak.

Demokrasi bukan soal gaya. Demokrasi soal proses, kritik, partisipasi, dan transparansi. Jika semua itu dikesampingkan, maka “Bapak Aing” tak lebih dari calon diktator yang sedang memoles citranya.

Dedi Mulyadi Jawa Barat Kepemimpinan Otoriter Politik Lokal Populisme Digital
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleVasektomi Bukan Jawaban Kemiskinan
Next Article Prabowo Hadiri May Day, Disebut Sejarah Sejak Era Bung Karno

Informasi lainnya

Ketika Pramuka Belajar Korupsi

14 Agustus 2026

Efisiensi atau Salah Kelola?

4 Agustus 2026

Kebakaran Landa Kasepuhan Cipta Mulya Sukabumi

25 Juli 2026

36 Juta Warga Jabar Gunakan Handphone, Pers Ditantang Jaga Kredibilitas

24 Juni 2026

Ratusan Lembaga di Indonesia, tapi Tak Ada Satupun yang Bisa Menjawab Tuntas Soal Ijazah Gibran

23 Juni 2026

Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian

22 Juni 2026
Paling Sering Dibaca

Politik Warisan yang Membelit

Editorial Udex Mundzir

Tips Belajar Efektif untuk Anak-anak

Daily Tips Alfi Salamah

AHY Raih Wisudawan Terbaik Unair dengan IPK 3.94

Profil Assyifa

Ciri-Ciri Buzzer dan Pengaruhnya dalam Dunia Bisnis

Bisnis Ericka

Paradoks Pembangunan Desa

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Ekonomi
Ericka29 Mei 2025

Presiden Prabowo Izinkan Ekspor Beras ke Malaysia

Diplomasi Ubah Peta, Sebatik Bertambah Luas

Curi Start, Mugus PP Khalifa Langsung Eksekusi SK Kwarnas Terbaru

Manfaat Sehat Biji Selasih untuk Tubuh dan Kulit

PP Khalifa Matangkan Adaptasi SK Kwarnas Terbaru Menjelang Mugus

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Perlengkapan Pramuka Lengkap Alat Tulis Sekolah Murah Buku Anak Islami Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi