Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Efisiensi atau Salah Kelola?

Diding Boneng Meninggal di Usia 76 Tahun, Dunia Lawak Berduka

Hari Konservasi Dunia, Saatnya Menjaga Bumi

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 6 Agustus 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Mantan Presiden Bikin Gaduh

Ketika rakyat bertanya soal keaslian ijazah, yang muncul justru ancaman dan pembungkaman.
Udex MundzirUdex Mundzir19 April 2025 Perspektif
Kontroversi Ijazah Mantan Presiden Jokowi
Ilustrasi Kontroversi Ijazah Mantan Presiden (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Kegaduhan baru muncul kembali. Tapi kali ini bukan datang dari oposisi, bukan dari rakyat yang marah-marah, melainkan dari seorang mantan presiden yang merasa terusik.

Joko Widodo—yang kini secara resmi adalah mantan Presiden RI—merespons pertanyaan publik soal keaslian ijazahnya dengan cara yang defensif. Ia mengklaim tak punya kewajiban untuk menunjukkan ijazah.

Padahal, yang dipersoalkan rakyat bukan karena benci, tapi karena ingin tahu. Karena dalam demokrasi, kejujuran pejabat publik—apalagi mantan kepala negara—adalah bagian dari akuntabilitas.

Pertanyaan publik sederhana. Jika memang ijazah itu asli, kenapa tidak ditunjukkan saja secara terbuka?

Namun yang muncul justru ancaman hukum.

Kuasa hukum mantan presiden mengancam akan menempuh jalur pidana bagi siapa pun yang dianggap menyebarkan hoaks soal ijazah.

Ini aneh.

Sebab jika memang ijazah itu sah, mestinya sangat mudah dibuktikan. Tapi kini, rakyat justru yang ditekan.

Beberapa orang sudah dijatuhi hukuman penjara. Tapi publik tidak bodoh. Mereka menyaksikan bagaimana pernyataan tentang dosen pembimbing skripsi berubah-ubah, bagaimana foto ijazah mencurigakan tersebar tanpa konfirmasi otentik yang kuat.

Dan jangan lupa, pihak kampus pun pernah menyatakan ijazah itu “hilang.” Lalu belakangan disebut ada dan siap ditunjukkan di pengadilan.

Bingung? Tentu.

Baca Juga:
  • Jangan-Jangan Semua Kampus Seperti UI?
  • Ketika Relawan Butuh Akal Sehat, Bukan Sekadar Semangat
  • Tren Fashion Terbaru 2026
  • Mengapa Banyak Pikiran Bikin Lapar?

Tapi justru karena itulah, publik semakin curiga. Dan siapa yang memancing kecurigaan itu? Ya, si mantan presiden sendiri.

Ia yang awalnya menyebut nama dosen pembimbing yang ternyata bukan tercantum dalam skripsi. Ia yang memicu publik melakukan verifikasi mandiri karena negara dan lembaga tak kunjung memberi kejelasan.

Tapi alih-alih memberi jawaban, yang muncul adalah ancaman.

Bahkan, sosok seperti Hercules tiba-tiba muncul di tengah isu ini. Bukan sebagai pengacara, bukan juga pejabat. Tapi tampil seolah menjadi pembela setia.

Mengapa harus ada simbol kekuasaan informal ikut nimbrung dalam urusan keabsahan ijazah?

Pertanyaan yang sah, dibalas dengan intimidasi.

Ini bukan demokrasi. Ini adalah bentuk baru otoritarianisme yang tumbuh dari trauma kehilangan kekuasaan.

Mantan presiden seharusnya menjadi teladan, bukan penyulut ketakutan.

Rakyat punya hak bertanya. Karena Jokowi, dulunya, bukan siapa-siapa. Ia menjadi walikota, gubernur, lalu presiden—semuanya lewat proses administratif yang mensyaratkan ijazah.

Jika ternyata ada masalah pada dokumen itu, maka seluruh proses kekuasaannya berpotensi batal demi hukum.

Artikel Terkait:
  • Bela Negara Bukan Membungkam Kritik
  • Peta Jalan Pendidikan: Benang Kusut yang Perlu Diurai
  • Jenis-Jenis Bunga, Mengungkap Keindahan dan Pesan di Baliknya
  • Negara Hukum yang Sistem Hukumnya Dibuat Ruwet

Ini bukan soal kebencian. Ini soal tanggung jawab moral dan hukum.

Apalagi kini dia sudah tidak menjabat. Sebagai warga negara biasa—yang kebetulan mantan presiden—ia tetap harus tunduk pada asas keterbukaan informasi publik.

Dan jika betul ada pemalsuan, maka bukan hanya dia yang harus bertanggung jawab.

KPU Solo, KPU pusat di 2014 dan 2019, serta partai pengusungnya bisa ikut terseret. Karena jika sebuah kebohongan diproses melalui jalur resmi, maka itu menjadi konspirasi politik dan kriminal.

Sayangnya, aparat penegak hukum masih diam. Padahal, bukti-bukti digital terus bermunculan.

Rakyat tidak akan diam.

Jika dulu mereka diam karena takut, kini justru semakin banyak yang berbicara. Karena yang dibungkam, biasanya akan meledak lebih keras.

Ketika negara tidak memberi kejelasan, masyarakat akan mencari kebenaran dengan caranya sendiri. Dan itu sah, selama masih dalam koridor hukum dan akal sehat.

Jangan Lewatkan:
  • Pramuka Cisayong, Saatnya Bergerak
  • Pentingnya Self-Care dan Cara Menjaganya
  • Mengemudi Visi, Bukan Hanya Mobil Listrik
  • UI Mesin Gelar Doktor Pejabat

Mantan presiden seharusnya tidak bersikap seperti pemilik negara. Apalagi mengancam warganya yang sah, hanya karena bertanya soal dokumen pendidikan.

Dokumen yang dulu dia pakai untuk mencalonkan diri. Yang dulu dia sodorkan ke lembaga negara.

Kini publik hanya meminta satu hal: verifikasi.

Tapi jika permintaan ini dibalas dengan amarah, maka jelas, bukan rakyat yang bikin gaduh. Tapi dia—mantan presiden—yang tak siap diperiksa sejarah.

Ancaman Hukum Demokrasi Indonesia Kontroversi Ijazah Kritik Publik Mantan Presiden Jokowi
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleTugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’
Next Article Potong Gaji karena Salat Jumat, DPR Desak Pemerintah Tindak Tegas

Informasi lainnya

Efisiensi atau Salah Kelola?

4 Agustus 2026

Ratusan Lembaga di Indonesia, tapi Tak Ada Satupun yang Bisa Menjawab Tuntas Soal Ijazah Gibran

23 Juni 2026

Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian

22 Juni 2026

Negeri yang Tak Kekurangan Lembaga, Tapi Kekurangan Kejelasan

21 Juni 2026

Rakyat Bertanya, Negara Menjawab dengan Prosedur

20 Juni 2026

Negara Hukum yang Sistem Hukumnya Dibuat Ruwet

19 Juni 2026
Paling Sering Dibaca

Cokelat! Lezat, Kaya Manfaat, dan Penuh Fakta Menarik

Food Alfi Salamah

Liburan Hemat ke Jepang untuk Pemula

Travel Alfi Salamah

Pendidikan Tersedot Program MBG

Editorial Udex Mundzir

Suara Moral yang Tersisa

Editorial Udex Mundzir

Taman di Jakarta akan Dibuka 24 Jam, Siapa yang Jaga?

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Global
Ericka10 Mei 2023

Tradisi Poligami Raja-Raja Arab Saudi dalam Mempersatukan Negara

Gus Iqdam Mengaku Dipersekusi Petugas Imigrasi Bandara Soekarno Hatta

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Disbun Kaltim Sambut Hangat Kontingen MTQ Nasional XXX dari Provinsi Riau

Hari Konservasi Dunia, Saatnya Menjaga Bumi

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Mic Wireless Untuk Masjid Produk Dapur Terlaris Buku Anak Islami Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi