Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

Mengapa Sungai Indonesia Cepat Kotor? Ini Penjelasan Ahli

Benarkah Mikroplastik Sudah Masuk ke Tubuh Manusia? Ini Fakta Ilmiahnya

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 16 Juli 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Mantan Presiden Bikin Gaduh

Ketika rakyat bertanya soal keaslian ijazah, yang muncul justru ancaman dan pembungkaman.
Udex MundzirUdex Mundzir19 April 2025 Opini
Kontroversi Ijazah Mantan Presiden Jokowi
Ilustrasi Kontroversi Ijazah Mantan Presiden (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Kegaduhan baru muncul kembali. Tapi kali ini bukan datang dari oposisi, bukan dari rakyat yang marah-marah, melainkan dari seorang mantan presiden yang merasa terusik.

Joko Widodo—yang kini secara resmi adalah mantan Presiden RI—merespons pertanyaan publik soal keaslian ijazahnya dengan cara yang defensif. Ia mengklaim tak punya kewajiban untuk menunjukkan ijazah.

Padahal, yang dipersoalkan rakyat bukan karena benci, tapi karena ingin tahu. Karena dalam demokrasi, kejujuran pejabat publik—apalagi mantan kepala negara—adalah bagian dari akuntabilitas.

Pertanyaan publik sederhana. Jika memang ijazah itu asli, kenapa tidak ditunjukkan saja secara terbuka?

Namun yang muncul justru ancaman hukum.

Kuasa hukum mantan presiden mengancam akan menempuh jalur pidana bagi siapa pun yang dianggap menyebarkan hoaks soal ijazah.

Ini aneh.

Sebab jika memang ijazah itu sah, mestinya sangat mudah dibuktikan. Tapi kini, rakyat justru yang ditekan.

Beberapa orang sudah dijatuhi hukuman penjara. Tapi publik tidak bodoh. Mereka menyaksikan bagaimana pernyataan tentang dosen pembimbing skripsi berubah-ubah, bagaimana foto ijazah mencurigakan tersebar tanpa konfirmasi otentik yang kuat.

Dan jangan lupa, pihak kampus pun pernah menyatakan ijazah itu “hilang.” Lalu belakangan disebut ada dan siap ditunjukkan di pengadilan.

Bingung? Tentu.

Baca Juga:
  • Rp8.100 per Dolar: Berkah atau Bencana?
  • Tren Fashion Terbaru 2026
  • Generasi Muda dan Tren Slow Living di Era Digital
  • Rp10 Ribu, Antara Anggaran dan Harapan

Tapi justru karena itulah, publik semakin curiga. Dan siapa yang memancing kecurigaan itu? Ya, si mantan presiden sendiri.

Ia yang awalnya menyebut nama dosen pembimbing yang ternyata bukan tercantum dalam skripsi. Ia yang memicu publik melakukan verifikasi mandiri karena negara dan lembaga tak kunjung memberi kejelasan.

Tapi alih-alih memberi jawaban, yang muncul adalah ancaman.

Bahkan, sosok seperti Hercules tiba-tiba muncul di tengah isu ini. Bukan sebagai pengacara, bukan juga pejabat. Tapi tampil seolah menjadi pembela setia.

Mengapa harus ada simbol kekuasaan informal ikut nimbrung dalam urusan keabsahan ijazah?

Pertanyaan yang sah, dibalas dengan intimidasi.

Ini bukan demokrasi. Ini adalah bentuk baru otoritarianisme yang tumbuh dari trauma kehilangan kekuasaan.

Mantan presiden seharusnya menjadi teladan, bukan penyulut ketakutan.

Rakyat punya hak bertanya. Karena Jokowi, dulunya, bukan siapa-siapa. Ia menjadi walikota, gubernur, lalu presiden—semuanya lewat proses administratif yang mensyaratkan ijazah.

Jika ternyata ada masalah pada dokumen itu, maka seluruh proses kekuasaannya berpotensi batal demi hukum.

Artikel Terkait:
  • Negara Hukum yang Pengadilannya Banyak, tapi Sulit Mencari Keadilan
  • Ketika Relawan Butuh Akal Sehat, Bukan Sekadar Semangat
  • Koruptor Dimanja, Rakyat Dihukum Pajak
  • Jangan-Jangan Semua Kampus Seperti UI?

Ini bukan soal kebencian. Ini soal tanggung jawab moral dan hukum.

Apalagi kini dia sudah tidak menjabat. Sebagai warga negara biasa—yang kebetulan mantan presiden—ia tetap harus tunduk pada asas keterbukaan informasi publik.

Dan jika betul ada pemalsuan, maka bukan hanya dia yang harus bertanggung jawab.

KPU Solo, KPU pusat di 2014 dan 2019, serta partai pengusungnya bisa ikut terseret. Karena jika sebuah kebohongan diproses melalui jalur resmi, maka itu menjadi konspirasi politik dan kriminal.

Sayangnya, aparat penegak hukum masih diam. Padahal, bukti-bukti digital terus bermunculan.

Rakyat tidak akan diam.

Jika dulu mereka diam karena takut, kini justru semakin banyak yang berbicara. Karena yang dibungkam, biasanya akan meledak lebih keras.

Ketika negara tidak memberi kejelasan, masyarakat akan mencari kebenaran dengan caranya sendiri. Dan itu sah, selama masih dalam koridor hukum dan akal sehat.

Jangan Lewatkan:
  • Membeli Oleh-Oleh yang Bermanfaat dan Bernilai: Tips Agar Tidak Menjadi Sampah
  • Ketika Presiden Diganti, Siapa Memimpin?
  • Biru Fund dan Masa Depan Tambak
  • Tips Temukan Passion dan Bakat ala Remaja Masa Kini

Mantan presiden seharusnya tidak bersikap seperti pemilik negara. Apalagi mengancam warganya yang sah, hanya karena bertanya soal dokumen pendidikan.

Dokumen yang dulu dia pakai untuk mencalonkan diri. Yang dulu dia sodorkan ke lembaga negara.

Kini publik hanya meminta satu hal: verifikasi.

Tapi jika permintaan ini dibalas dengan amarah, maka jelas, bukan rakyat yang bikin gaduh. Tapi dia—mantan presiden—yang tak siap diperiksa sejarah.

Ancaman Hukum Demokrasi Indonesia Kontroversi Ijazah Kritik Publik Mantan Presiden Jokowi
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleTugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’
Next Article Potong Gaji karena Salat Jumat, DPR Desak Pemerintah Tindak Tegas

Informasi lainnya

Ratusan Lembaga di Indonesia, tapi Tak Ada Satupun yang Bisa Menjawab Tuntas Soal Ijazah Gibran

23 Juni 2026

Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian

22 Juni 2026

Negeri yang Tak Kekurangan Lembaga, Tapi Kekurangan Kejelasan

21 Juni 2026

Rakyat Bertanya, Negara Menjawab dengan Prosedur

20 Juni 2026

Negara Hukum yang Sistem Hukumnya Dibuat Ruwet

19 Juni 2026

Ketika Presiden Diganti, Siapa Memimpin?

19 Juni 2026
Paling Sering Dibaca

10 Tips Penting Dalam Memilih Calon Presiden

Daily Tips Alfi Salamah

Garuda Pertiwi: Semangat Tanpa Batas di Balik Trofi Perdana

Editorial Udex Mundzir

Eksotisme Gunung Papandayan, Surga Alam di Garut

Travel Alfi Salamah

Hikmah Idul Qurban

Islami Syamril Al-Bugisyi

Mengapa Orang Kaya Rajin Berdonasi?

Bisnis Udex Mundzir
Berita Lainnya
Hukum
Ericka5 Agustus 2025

Silfester Matutina Dieksekusi Terkait Fitnah Jusuf Kalla

Bahaya Tidur Terlalu Lama untuk Kesehatan Tubuh

Pelayanan Terbaik Arab Saudi untuk Jamaah Haji Indonesia

KUHAP Baru Atur Ketat Penyitaan hingga Penahanan

Tradisi Poligami Raja-Raja Arab Saudi dalam Mempersatukan Negara

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Buku Anak Islami Murah Mic Wireless Untuk Masjid
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi