Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

24.200 Hektare Sawah Bandung Menuju LP2B

Bazar Murah Bandung, Berapa Warga Bisa Berhemat?

Hari Kunjung Perpustakaan, Masihkah Siswa Gemar Membaca?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Selasa, 15 September 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Ratusan Lembaga di Indonesia, tapi Tak Ada Satupun yang Bisa Menjawab Tuntas Soal Ijazah Gibran

Kontroversi ijazah Gibran kembali memperlihatkan paradoks demokrasi Indonesia: kaya institusi, tetapi miskin kepastian yang mampu diterima semua pihak.
Udex MundzirUdex Mundzir23 Juni 2026 Perspektif
Ratusan Lembaga di Indonesia, tapi Tak Ada Satupun yang Bisa Menjawab Tuntas Soal Ijazah Gibran
Ilustrasi AI
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Kadang masalah sebuah negara bukan kekurangan lembaga. Masalahnya justru terlalu banyak lembaga yang masing-masing tahu batas kewenangannya, tetapi tidak ada yang mampu memberikan jawaban yang memuaskan publik.

Indonesia adalah negeri yang kaya institusi. Jika ada persoalan, hampir selalu ada lembaga yang bisa disebut. Ada kementerian. Ada kepolisian. Ada kejaksaan. Ada pengadilan. Ada DPR. Ada Mahkamah Agung. Ada Mahkamah Konstitusi. Ada Ombudsman. Ada berbagai komisi dan badan yang namanya bahkan tidak selalu diingat oleh masyarakat.

Secara teori, kondisi itu seharusnya membuat negara semakin kuat.

Semakin banyak institusi, semakin banyak mekanisme pengawasan.

Semakin banyak mekanisme pengawasan, semakin mudah mencari kebenaran.

Begitulah teorinya.

Sayangnya, praktik sering kali memiliki selera humor yang berbeda.

Lihat saja salah satu isu yang beberapa waktu terakhir menjadi bahan perdebatan publik: ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Sebagian masyarakat mempertanyakan keabsahan atau keberadaan dokumen tertentu yang berkaitan dengan riwayat pendidikannya.

Sebagian masyarakat lain menganggap persoalan itu sudah selesai.

Sebagian lagi menilai isu tersebut lebih bernuansa politik daripada hukum.

Apa pun posisi masing-masing pihak, ada satu fakta yang sulit dibantah.

Perdebatan mengenai isu tersebut terus berlangsung, sementara publik masih belum memperoleh satu jawaban yang mampu mengakhiri seluruh perdebatan secara meyakinkan.

Yang menarik, persoalannya bukan semata-mata soal ada atau tidak ada dokumen.

Persoalannya adalah siapa yang berwenang membuktikannya.

Di sinilah Indonesia menunjukkan keunggulannya sebagai negara yang sangat kaya prosedur.

Ketika publik bertanya, muncul penjelasan tentang kewenangan.

Ketika publik meminta pembuktian, muncul penjelasan tentang legal standing.

Ketika publik meminta kepastian, muncul penjelasan tentang kompetensi lembaga.

Ketika publik bertanya lebih jauh, muncul lagi penjelasan tentang prosedur konstitusional.

Akhirnya masyarakat memperoleh banyak penjelasan.

Hanya saja bukan jawaban yang mereka cari.

Baca Juga:
  • Rp8.100 per Dolar: Berkah atau Bencana?
  • Haji Idi dan Situasi Simalakama di Pilkada Sampang
  • Efisiensi atau Salah Kelola?
  • Investasi Milenial Kini dan Masa Depan

Rakyat bertanya soal fakta.

Negara menjawab dengan mekanisme.

Rakyat bertanya soal substansi.

Negara menjawab dengan prosedur.

Rakyat bertanya soal kebenaran.

Negara menjawab dengan kewenangan.

Semua jawaban itu mungkin benar.

Tetapi tetap saja menyisakan ruang kosong yang membuat perdebatan tidak pernah benar-benar berakhir.

Lucunya, jika suatu hari muncul pembuktian yang benar-benar tegas sekalipun, belum tentu persoalan politiknya selesai.

Mengapa?

Karena Indonesia adalah negara hukum.

Dan sebagai negara hukum, setiap langkah akan memiliki prosedurnya sendiri.

Misalnya, andaikan saja secara hipotetis terjadi suatu keadaan yang menimbulkan perdebatan mengenai syarat pencalonan seorang pejabat negara. Persoalan itu tidak otomatis berujung pada pemberhentian jabatan.

Masih ada DPR.

Masih ada Mahkamah Konstitusi.

Masih ada MPR.

Masih ada berbagai tahapan konstitusional yang harus dilalui.

Dengan kata lain, perdebatan berikutnya kemungkinan bukan lagi soal dokumen.

Perdebatan berikutnya adalah soal mekanisme.

Lalu setelah mekanisme, mungkin muncul perdebatan tentang tafsir.

Setelah tafsir, mungkin muncul perdebatan tentang kewenangan.

Setelah kewenangan, mungkin muncul perdebatan tentang prosedur pelaksanaan.

Artikel Terkait:
  • Ijazah Jokowi, Ada Atau Tidak?
  • Calon Kalah Kolom Kosong, Maju Lagi?
  • Bumi Tanpa Pohon, Krisis yang Tak Terlihat
  • Fokus Berlebih yang Tak Disadari

Indonesia memang sangat demokratis dalam satu hal.

Kita selalu berhasil menemukan topik baru untuk diperdebatkan.

Karena itu, sebagian masyarakat mulai melihat sebuah ironi.

Bukan pada sosok tertentu.

Bukan pada satu kasus tertentu.

Melainkan pada desain sistem itu sendiri.

Negeri ini memiliki begitu banyak lembaga.

Begitu banyak aturan.

Begitu banyak prosedur.

Begitu banyak mekanisme.

Tetapi ketika masyarakat menginginkan satu jawaban yang jelas terhadap suatu kontroversi publik, mereka sering kali justru menemukan lorong administrasi yang panjang.

Pada titik tertentu, rakyat mulai lelah mengikuti seluruh detail itu.

Mereka tidak ingin menjadi ahli hukum tata negara.

Mereka tidak ingin menjadi pakar hukum administrasi.

Mereka tidak ingin menghafal perbedaan kewenangan antar lembaga.

Mereka hanya ingin mengetahui apakah suatu persoalan benar atau tidak.

Sesederhana itu.

Karena sesungguhnya kepercayaan publik tidak dibangun oleh banyaknya lembaga.

Kepercayaan publik dibangun oleh kemampuan lembaga-lembaga tersebut menghadirkan kepastian.

Jangan Lewatkan:
  • Negara Hukum yang Sistem Hukumnya Dibuat Ruwet
  • Titik Berat Indonesia dalam Konflik Timur Tengah
  • Pilkada Kabupaten Tasikmalaya 2024, Hanya Legitimasi Kemenangan Petahana
  • Dapur Rapi, Pikiran Tertata

Negara hukum bukan sekadar negara yang memiliki prosedur.

Negara hukum adalah negara yang mampu menggunakan prosedur untuk menemukan kebenaran.

Jika prosedur justru membuat kebenaran terasa semakin jauh, maka yang perlu dievaluasi bukan hanya pelaksanaannya.

Bisa jadi yang perlu dievaluasi adalah apakah sistem yang dibangun sudah cukup mampu menjawab kebutuhan paling mendasar masyarakat: kejelasan.

Sebab bagi rakyat biasa, persoalannya tidak pernah serumit teori hukum tata negara.

Mereka hanya melihat satu kenyataan sederhana.

Indonesia memiliki ratusan lembaga.

Tetapi untuk satu isu yang terus diperdebatkan publik, bangsa ini masih tampak lebih mahir menjelaskan prosedurnya daripada menyelesaikan perdebatan itu sendiri.

Demokrasi InstitusiNegara KepastianHukum NegaraHukum Opini
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleDemokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian
Next Article 36 Juta Warga Jabar Gunakan Handphone, Pers Ditantang Jaga Kredibilitas

Informasi lainnya

Ketika Peneliti Mengurus Kuitansi

10 September 2026

Bank Mandiri dan Krisis Kepercayaan

25 Agustus 2026

Jangan Menabung di Mandiri, Blokir Bisa Dilakukan atas Permintaan Misterius

24 Agustus 2026

Ketika Pramuka Belajar Korupsi

14 Agustus 2026

Efisiensi atau Salah Kelola?

4 Agustus 2026

Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian

22 Juni 2026
Paling Sering Dibaca

Menunda Panggilan Haji: Benarkah Kehendak atau Keragu-raguan

Islami Alfi Salamah

Tips Hindari FOMO Agar Tetap Kalem dan Bahagia

Daily Tips Ericka

Titiek Puspa: Legenda Musik yang Menembus Zaman

Biografi Ericka

Citra Retak di Balik Kata

Refleksi Silva

Thrifting: Gaya Stylish yang Ramah Lingkungan

Happy Alfi Salamah
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Diplomasi Ubah Peta, Sebatik Bertambah Luas

Alumni SMAN 1 Cisayong Lolos Seleksi Program Pendanaan Penelitian Mahasiswa Universitas Terbuka 2026

Temaram di Khalifa

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Perlengkapan Pramuka Lengkap Buku Anak Islami Murah Buku Anak Islami Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi