Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Pajak Dibayar, Kuliah Tetap Mahal

Wulla Poddu, Bulan Sakral yang Hidup di Sumba

Mengenal Suku Kajang, Penjaga Hutan Adat Bulukumba

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Senin, 7 September 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Alibi Efisiensi, Pilkada Tetap Harus Langsung

Di balik alasan efisiensi anggaran, wacana mengembalikan pilkada ke DPRD menimbulkan ancaman serius terhadap demokrasi lokal.
Udex MundzirUdex Mundzir22 Desember 2024 Editorial
Wacana pilkada via DPRD
Wacana pilkada via DPRD (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Wacana efisiensi politik kembali digunakan untuk menggiring opini publik terhadap perubahan sistem pilkada. Presiden Prabowo Subianto mengusulkan agar kepala daerah dipilih oleh DPRD dengan alasan menghemat anggaran negara. Namun, di balik janji efisiensi tersebut, ada ancaman nyata terhadap kedaulatan rakyat dan prinsip dasar demokrasi yang telah dibangun selama hampir dua dekade.

Presiden Prabowo menyebut bahwa sistem di negara-negara seperti Malaysia dan Singapura lebih efisien karena kepala daerah tidak dipilih langsung oleh rakyat. Ia mengklaim, anggaran yang dihemat dari pilkada langsung dapat dialihkan untuk memperbaiki infrastruktur, pendidikan, dan kebutuhan mendesak lainnya. Namun, apakah efisiensi ini benar-benar sepadan dengan dampak buruknya terhadap demokrasi dan akuntabilitas pemerintah?

Sejarah menunjukkan bahwa pilkada langsung memberi ruang bagi rakyat untuk memilih pemimpin secara transparan dan bertanggung jawab. Dengan menyerahkan pemilihan kepada DPRD, kontrol rakyat atas proses demokrasi berpotensi terkikis. Kepala daerah yang dipilih oleh DPRD cenderung lebih bertanggung jawab kepada para anggota dewan ketimbang kepada masyarakat luas.

Pilkada langsung memang memerlukan biaya besar, tetapi biaya tersebut adalah investasi bagi demokrasi. Pengalihan pilkada ke DPRD tidak menjamin pengurangan biaya secara signifikan. Sebaliknya, negosiasi politik, lobi-lobi antarpartai, dan potensi politik uang di balik layar justru berisiko menambah biaya politik yang lebih sulit dipantau.

Baca Juga:
  • Taman di Jakarta akan Dibuka 24 Jam, Siapa yang Jaga?
  • Kebakaran di Kementerian ATR/BPN: Asap Padam, Kecurigaan Membara
  • SPMB: Reformasi atau Sekadar Rebranding?
  • Terpidana Dilindungi, Hukum Dipermalukan

Peneliti dari Perludem menegaskan bahwa akar masalah biaya tinggi dalam pilkada langsung terletak pada lemahnya penegakan hukum terhadap praktik politik transaksional, bukan pada sistem pemilunya. Jika pemerintah serius ingin menekan biaya politik, yang perlu dilakukan adalah memperbaiki regulasi kampanye, menindak pelanggaran, dan mendorong transparansi dalam proses pencalonan.

Pilkada langsung adalah salah satu mekanisme demokrasi yang menjamin keterlibatan rakyat dalam menentukan pemimpin lokal mereka. Mekanisme ini memberikan legitimasi kuat kepada kepala daerah dan memperkuat akuntabilitas mereka kepada rakyat.

Dengan mengembalikan pemilihan kepada DPRD, pemerintah berisiko mengurangi hak rakyat untuk terlibat langsung dalam proses demokrasi. Kepala daerah yang dipilih tanpa mandat langsung dari rakyat dapat kehilangan legitimasi dan cenderung fokus pada kepentingan elite politik.

Wacana ini juga berisiko memunculkan kolusi antara eksekutif dan legislatif lokal, yang melemahkan prinsip check and balances. Demokrasi prosedural semacam ini dikhawatirkan akan menguatkan oligarki dan merugikan masyarakat.

Artikel Terkait:
  • Obsesi IQ yang Keliru Arah
  • Pajak Bukan Satu-Satunya Jalan
  • Rusia dan Ancaman Tsunami Abadi
  • Kenaikan Harga BBM dan Tantangan Ketahanan Energi

Alih-alih mengubah sistem, pemerintah harus fokus pada reformasi teknis yang meningkatkan efisiensi pilkada langsung. Salah satu solusinya adalah penggabungan pemilu nasional dan daerah untuk mengurangi frekuensi pemilu, sekaligus menghemat biaya. Digitalisasi pemilu juga bisa menjadi alternatif yang relevan untuk menekan anggaran jangka panjang.

Pemerintah juga harus memperkuat kapasitas partai politik dalam membangun basis dukungan di tingkat akar rumput, sehingga tidak bergantung pada praktik politik uang. Upaya ini lebih menjanjikan dalam meningkatkan kualitas demokrasi tanpa mengorbankan hak rakyat.

Wacana ini tidak hanya soal efisiensi, tetapi juga mencerminkan upaya untuk melanggengkan kontrol politik oleh segelintir elite. Dalam demokrasi yang sehat, rakyat adalah pusat dari setiap proses politik. Mengalihkan kekuasaan memilih dari rakyat kepada DPRD adalah langkah mundur yang dapat mengerdilkan demokrasi lokal.

Investasi dalam demokrasi, termasuk biaya pilkada langsung, adalah harga yang pantas untuk memastikan hak rakyat tetap terjaga. Efisiensi tidak boleh dijadikan alasan untuk melemahkan demokrasi. Pilkada langsung harus dipertahankan demi kedaulatan rakyat dan masa depan demokrasi Indonesia.

Jangan Lewatkan:
  • Memisah Pemilu, Memecah Stabilitas
  • Siapa Kenyang dari Proyek Makan Bergizi?
  • Polres Sampang Kecolongan
  • Pilkada Jakarta: Gugat Aja Dulu
Demokrasi Lokal Efisiensi Politik Pilkada DPRD Pilkada Langsung Wacana Prabowo
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleStrategi Pemanfaatan AI Nasional: Pemerintah Tetapkan Lima Prioritas
Next Article Kenaikan PPN 12 Persen Picu Polemik, PDIP Tegaskan Inisiatif Pemerintahan Jokowi

Informasi lainnya

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Jangan Lempar Beban ke Rakyat

Editorial Udex Mundzir

Poligami dalam Islam: Syarat, Larangan, dan Langkah Persiapan

Islami Udex Mundzir

Hindari Jebakan Kehidupan

Refleksi Syamril Al-Bugisyi

Bahlil Membuat Gaduh, Lalu Berlagak Penyelamat

Editorial Udex Mundzir

Dida Nurhayati: Membangun Pramuka Cisayong yang Berprestasi

Profil Silva
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Tugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’

Gunung Raung Erupsi, Warga Diminta Jauhi Kawah dalam Radius Tiga Kilometer

Ujian Tatap Muka UT di Tasikmalaya Berjalan Tertib dan Ketat

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Perlengkapan Pramuka Lengkap Buku Anak Islami Murah Alat Tulis Sekolah Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi