Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Jakarta Darurat Sampah, Pencegahan Jadi Kunci

Jejak Stonehenge Ternyata Bermula dari Wales?

Tradwife Kembali Ramai, Pilihan atau Romantisasi?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 3 September 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Di Balik Kegelapan yang Diteriakkan

Ketika suara mahasiswa bergema di jalanan, penguasa sibuk menegaskan bahwa semua baik-baik saja.
Udex MundzirUdex Mundzir19 Februari 2025 Editorial
Aksi 'Indonesia Gelap' menggema di Jakarta
Aksi 'Indonesia Gelap' menggema di Jakarta (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Aksi ‘Indonesia Gelap’ menggema di Jakarta dan sejumlah daerah sejak Senin, 17 Februari 2025. Ratusan mahasiswa dan aktivis sipil turun ke jalan, menyuarakan keresahan atas kondisi negeri yang mereka anggap kian memburuk. Poster-poster bernada protes dibentangkan di lapangan FISIP Universitas Indonesia, diiringi tagar #IndonesiaGelap yang meramaikan media sosial.

Namun, suara itu disambut pernyataan bernada defensif dari pemerintah. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan, efisiensi anggaran yang menjadi salah satu isu utama aksi, tidak akan mengganggu sektor pendidikan. Kartu Indonesia Pintar (KIP), beasiswa Indonesia Pintar (IPI), hingga Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), katanya, tetap berjalan.

“Kami di pemerintahan terus menerima masukan, karena bagi kami, itu adalah koreksi,” ujar Prasetyo di Senayan, Selasa (18/02/2025).

Pernyataan itu terdengar tenang. Bahkan, Wakil Ketua DPR RI Adies Kadir menambahkan bahwa aksi tersebut sah sebagai bagian dari demokrasi. Namun, benarkah kritik mahasiswa ini hanya soal salah paham atas pemangkasan anggaran pendidikan?

Tuntutan “Indonesia Gelap” sejatinya lebih dari itu. Ini adalah ungkapan akumulasi ketidakpuasan terhadap berbagai kebijakan yang dinilai tak berpihak pada rakyat. Pemangkasan anggaran hanyalah pemicu. Di baliknya, ada rasa frustrasi terhadap ketimpangan sosial, harga bahan pokok yang melonjak, hingga kekhawatiran atas menyusutnya ruang demokrasi.

Mahasiswa bukan sekadar menyoal beasiswa. Mereka mempertanyakan ke mana arah bangsa ini dibawa. Di Papua, demonstrasi menolak program makan siang gratis di Wamena berakhir ricuh setelah dibubarkan polisi. Di balik aksi itu, tuntutan pendidikan gratis dan penarikan militer dari wilayah konflik menjadi seruan utama.

Namun, narasi pemerintah cenderung menyederhanakan. Mereka menjawab kritik dengan klaim bahwa semua berjalan sesuai rencana. Presiden Prabowo Subianto bahkan menyatakan tak pernah memerintahkan pemotongan beasiswa. Pemerintah ingin meyakinkan publik bahwa anggaran pendidikan aman, seolah-olah itu adalah inti masalah.

Baca Juga:
  • Sikap PDIP: Antara Prinsip dan Kepentingan
  • Jangan Mencari Tumbal demi Kemenangan Pilkada di Sampang
  • Waspadai, Purbaya Anak Buah Luhut
  • Jangan Lupa! Palestina Dirampas, Israel Berdiri

Padahal, lebih dalam dari sekadar angka-angka anggaran, ada kegelisahan akan ketimpangan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Januari 2025 menunjukkan harga beras melonjak 23 persen dibanding tahun lalu, mencapai Rp17.000 per kilogram. Kenaikan ini membebani keluarga miskin, terutama di wilayah timur Indonesia.

Di sektor tenaga kerja, laporan Serikat Buruh Indonesia (SBI) mencatat 68 ribu buruh dirumahkan sepanjang 2024 karena pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat perlambatan ekonomi dan otomatisasi industri.

Sementara itu, ketimpangan akses pendidikan tetap nyata. Data Kemendikbudristek menunjukkan 1,8 juta anak usia sekolah di Indonesia masih putus sekolah, dengan angka tertinggi di Papua, NTT, dan Kalimantan Barat.

Kebijakan pemerintah yang berorientasi pada proyek besar seperti Ibu Kota Nusantara (IKN) dan program makan bergizi gratis memang berpotensi baik. Namun, realisasi di lapangan kerap berantakan. Di Wamena, program makan gratis justru ditolak karena masyarakat menganggapnya mengalihkan perhatian dari masalah pendidikan dan keamanan.

Reaksi pemerintah yang cenderung meredam kritik ketimbang mengevaluasi kebijakan menunjukkan gejala klasik dalam politik kekuasaan: menormalkan kegelisahan publik dengan narasi stabilitas. Istilah “semua baik-baik saja” menjadi tameng untuk menutupi kegagalan memahami persoalan mendasar yang dirasakan rakyat.

Ini berbahaya. Ketika pemerintah hanya sibuk membantah dan menenangkan, ia bisa terjebak dalam ilusi stabilitas semu. Ketidakpercayaan masyarakat akan tumbuh, dan itu jauh lebih merusak ketimbang kritik yang diteriakkan mahasiswa.

Artikel Terkait:
  • Guru ASN di Sekolah Swasta
  • QR Warung dan Ketakutan Amerika
  • Sahabat AI dan Ilusi Kedaulatan Digital
  • Politik Kongkow, Rakyat Menunggu

Apa yang seharusnya dilakukan?

Pertama, pemerintah harus berhenti melihat kritik sebagai gangguan. Kritik adalah alarm sosial. Ketika mahasiswa turun ke jalan, itu berarti ada yang salah di bawah sana. Buka ruang dialog yang sejati, bukan sekadar imbauan agar mahasiswa “lebih jeli”.

Kedua, transparansi anggaran harus diperkuat. Jika benar efisiensi anggaran tidak menyentuh sektor pendidikan, bukalah data secara gamblang. Jangan sekadar mengucap “tidak ada pemotongan.” Tunjukkan pos mana yang dipangkas, dan bagaimana dampaknya terhadap program lain.

Ketiga, orientasi pembangunan harus dikoreksi. Proyek besar seperti IKN dan Danantara tidak boleh membutakan pemerintah dari kebutuhan dasar rakyat. Harga pangan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan sosial harus tetap menjadi prioritas.

Keempat, dengarkan daerah. Kasus Wamena adalah contoh nyata bahwa satu program nasional tidak bisa diterapkan seragam di seluruh Indonesia. Masyarakat Papua memiliki konteks sosial-politik yang berbeda. Pemerintah pusat perlu menghargai suara lokal.

Kelima, kembalikan fungsi kampus sebagai ruang bebas berpikir. Jangan ada lagi laporan mahasiswa diintimidasi hanya karena mengkritik pemerintah. Kampus adalah benteng demokrasi. Jika suara mahasiswa dibungkam, itu awal dari kegelapan yang sesungguhnya.

Jangan Lewatkan:
  • Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda
  • Abolisi Tak Sama Dengan Keadilan
  • Nasaruddin Umar di Puncak Kepuasan Publik
  • Israel vs Iran: Medan Dominasi, Bukan Lagi Proxy

Aksi “Indonesia Gelap” adalah tanda bahwa ada yang tak beres. Pemerintah seharusnya bersyukur, sebab di tengah ketidakpuasan, mahasiswa masih memilih turun ke jalan, bukan berdiam diri. Itu artinya, harapan pada negara ini masih ada.

Namun, harapan itu bisa lenyap jika suara rakyat terus dianggap salah dengar. Bukan mahasiswa yang harus lebih jeli. Pemerintahlah yang harus lebih peka.

Demokrasi Mahasiswa Efisisensi Anggaran Indonesia Gelap Kebijakan pendidikan Pemerintah Prabowo
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleUnisba Gelar Pelatihan Desain Eksperimen untuk Dosen Tekstil
Next Article Savoy Homann Hotel, Saksi Bisu Kejayaan Bandung

Informasi lainnya

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Prabowo dan Titiek Soeharto, Cinta Lama Bersemi Kembali?

Happy Assyifa

Mantan Presiden Bikin Gaduh

Perspektif Udex Mundzir

Orde Baru Jauh Lebih Baik

Editorial Udex Mundzir

Panduan Lengkap Ibadah Qurban: Hukum, Syarat, dan Pelaksanaannya

Islami Udex Mundzir

Kebakaran di Kementerian ATR/BPN: Asap Padam, Kecurigaan Membara

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Indonesia
Udex Mundzir19 April 2025

Tugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Gunung Raung Erupsi, Warga Diminta Jauhi Kawah dalam Radius Tiga Kilometer

Kebun Mini Super Kilat di Rumah

Prioritas Silaturahmi Lebaran, Siapa Didahulukan?

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Perlengkapan Pramuka Lengkap Alat Tulis Sekolah Murah Produk Dapur Terlaris
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi