Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Batas Kuasa, Uji Demokrasi

AI Ciptakan Konsensus Palsu di Ruang Digital

Uji Coba Sukses, QRIS Indonesia-Tiongkok Rilis Akhir April 2026

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Minggu, 26 April 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Israel Lahir Lewat Teror dan Genosida

Sejarah tak bisa dibungkam: Israel berdiri di atas genosida, lahir dari aksi teror terencana.
Udex MundzirUdex Mundzir6 Juli 2025 Editorial
Israel Dididirikan oleh Teroris dan Genosida Palestina
Ilustrasi Israel Dididirikan oleh Teroris dan Genosida Palestina.
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Sejarah adalah cermin kebenaran. Ketika kita berbicara tentang Israel, banyak narasi global yang mencoba menggambarkannya sebagai sebuah proyek kemanusiaan, tempat perlindungan bagi orang Yahudi setelah tragedi Holocaust. Namun, di balik narasi penuh simpati itu, ada kenyataan pahit yang sering dilupakan atau sengaja dihapus: Israel lahir melalui aksi teror brutal dan genosida terhadap rakyat Palestina.

Sebelum Israel resmi berdiri pada 1948, berbagai kelompok paramiliter Zionis sudah menyebarkan teror secara sistematis di tanah Palestina. Kelompok-kelompok seperti Haganah, Irgun, dan Lehi (Stern Gang) dikenal melakukan pemboman, pembantaian, hingga penyerangan desa-desa sipil. Mereka tak hanya menargetkan militer atau otoritas Inggris, tetapi juga warga Palestina yang tak bersenjata.

Pada April 1948, pembantaian di Deir Yassin menjadi simbol kegelapan pendirian Israel. Desa kecil ini diserang oleh gabungan Irgun dan Lehi. Lebih dari seratus warga sipil Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak, dibantai secara brutal. Mayat-mayat dibuang ke sumur, dan yang selamat diarak keliling Yerusalem untuk menebar teror. Tujuannya jelas: memaksa penduduk Palestina melarikan diri dan menciptakan kepanikan massal.

Peristiwa Deir Yassin bukan insiden tunggal. Sepanjang 1947 hingga 1949, ratusan desa Palestina diserang, dibakar, dan dihancurkan. Sebanyak 750.000 warga Palestina diusir paksa, menjadikan mereka pengungsi di tanah sendiri maupun di negara tetangga. Proses ini bukan sekadar “konflik” atau “perang” biasa. Ini adalah bentuk genosida yang terencana untuk melenyapkan identitas Palestina dari peta wilayah yang diinginkan oleh Zionis.

Istilah genosida di sini bukan sekadar retorika emosional. Genosida adalah upaya sistematis untuk memusnahkan kelompok tertentu, baik secara fisik maupun identitas sosial-budaya. Israel, sejak awal kelahirannya, menggunakan strategi genosida dengan menghancurkan desa-desa, menghapus nama-nama Arab, dan mengganti warisan sejarah Palestina menjadi narasi baru yang sepenuhnya dikontrol.

Di sisi lain, para pemimpin utama Israel justru berasal dari dalang-dalang teror tersebut. David Ben-Gurion, yang memimpin Haganah, menjadi perdana menteri pertama Israel. Menachem Begin, pemimpin Irgun yang bertanggung jawab atas pemboman Hotel King David dan pembantaian Deir Yassin, kelak menjadi perdana menteri ke-6. Yitzhak Shamir, pemimpin Lehi yang dikenal kejam, juga menjabat sebagai perdana menteri.

Baca Juga:
  • Garuda Pertiwi: Semangat Tanpa Batas di Balik Trofi Perdana
  • Provokasi di Balik Aksi Jalanan
  • Langkah Utang Pemerintah di Akhir 2024
  • Jamnas Bukan Ajang Si Punya Uang

Bayangkan, negara yang mengklaim lahir demi perdamaian justru dibangun oleh figur-figur yang pernah memimpin aksi teror dan pembunuhan massal. Inilah ironi sejarah yang jarang dibahas secara jujur di forum internasional. Dunia lebih memilih untuk menutup mata, terbuai oleh propaganda “satu-satunya demokrasi di Timur Tengah”.

Setelah pengusiran massal itu, tanah-tanah Palestina diambil alih oleh otoritas Israel. Desa-desa yang rata dengan tanah dihapus dari peta, dan permukiman Yahudi baru dibangun di atasnya. Kebun zaitun yang diwariskan turun-temurun dihancurkan, masjid dan gereja dibom atau dijadikan bangunan baru. Lebih dari 500 desa Palestina benar-benar hilang, seakan tak pernah ada.

Bagi rakyat Palestina, genosida tidak berhenti pada 1948. Hingga hari ini, pendudukan, blokade, dan serangan militer ke Gaza dan Tepi Barat terus menambah daftar panjang korban sipil. Setiap serangan ke Gaza selalu memakan ratusan hingga ribuan nyawa, mayoritas warga sipil, termasuk anak-anak. Rumah-rumah hancur, fasilitas kesehatan lumpuh, dan akses pangan dibatasi. Semua ini bukan sekadar perang, melainkan kelanjutan dari genosida yang sudah dimulai sejak negara Israel didirikan.

Dari segi hukum internasional, apa yang dilakukan Israel jelas melanggar Konvensi Jenewa. Pengusiran paksa, pembunuhan massal, perampasan tanah, dan penghancuran budaya adalah kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Namun, karena dukungan politik dan militer dari negara-negara besar, Israel tetap kebal hukum. Pengadilan internasional, meski sudah mengeluarkan berbagai resolusi, tidak pernah bisa mengeksekusi keadilan.

Di ranah sosial, genosida yang dilakukan Israel juga menciptakan trauma kolektif bagi rakyat Palestina. Generasi muda tumbuh dengan luka mendalam, kehilangan tanah, dan kehilangan identitas. Mereka tumbuh di kamp-kamp pengungsian sempit dengan kondisi yang jauh dari layak, tanpa akses kesehatan dan pendidikan yang memadai.

Artikel Terkait:
  • Apa yang Sebenarnya Disembunyikan dari Dana Desa?
  • Ketika Moral Publik Mati
  • Lebih 12 Persen Tidak Mau Andi Harun Jadi Wali Kota!
  • Haji Ilegal, Iman yang Dimanfaatkan

Dari aspek ekonomi, perampasan tanah subur Palestina menghancurkan struktur pertanian dan ekonomi lokal. Rakyat Palestina yang dulunya hidup dari kebun, ladang, dan peternakan, kini bergantung pada bantuan internasional. Permukiman ilegal Israel terus meluas, mencuri sumber air dan infrastruktur, membuat rakyat Palestina makin terpinggirkan di tanah mereka sendiri.

Ironisnya, propaganda internasional sering memutarbalikkan kenyataan. Perlawanan rakyat Palestina kerap dicap sebagai “terorisme”, padahal mereka hanya berjuang untuk mempertahankan tanah, keluarga, dan hak hidup yang dirampas. Dunia seolah melupakan siapa yang pertama kali membawa teror dan genosida ke tanah suci itu.

Sampai hari ini, lebih dari tujuh juta pengungsi Palestina masih menunggu hak kembali ke rumah-rumah mereka. Mereka menyimpan kunci rumah lama sebagai simbol perlawanan dan harapan. Namun, janji-janji internasional tetap hanya menjadi retorika kosong.

Jika dunia sungguh menginginkan perdamaian di Timur Tengah, kebenaran sejarah harus diakui tanpa kompromi. Israel tidak lahir dari proses damai atau perjuangan diplomasi semata. Negara itu lahir dari genosida terencana, teror sistematis, dan pengusiran massal rakyat Palestina.

Jangan Lewatkan:
  • Benturan Kekuasaan dan Kemanusiaan
  • RK vs Lisa: Viral yang Disusun Rapi
  • Tantangan Representasi atau Simbolisme?
  • Bayang Luhut di Tubuh Prabowo

Israel adalah negara yang didirikan oleh para teroris melalui genosida, bukan sekadar “perlindungan” bagi kaum Yahudi. Fakta ini harus diakui sebagai fondasi untuk memulai rekonsiliasi dan keadilan. Tanpa pengakuan dosa sejarah ini, perdamaian akan selalu menjadi ilusi. Rakyat Palestina berhak atas tanah mereka, hak kembali, dan hak untuk hidup bebas dari penindasan yang sudah diwariskan turun-temurun sejak 1948.

Genosida Israel Palestina Pengusiran Paksa Zionisme
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleJangan Lupa! Palestina Dirampas, Israel Berdiri
Next Article BP Haji Ajukan Tambahan Anggaran untuk Sewa Gedung Sendiri

Informasi lainnya

Batas Kuasa, Uji Demokrasi

26 April 2026

e-KTP: Teknologi Tanpa Arah

25 April 2026

Ikan Sapu-Sapu dan Krisis Sunyi

23 April 2026

UKT dan Ilusi Kesejahteraan ASN

19 April 2026

War Ticket: Ilusi Akses Setara

12 April 2026

Fakta Sebenernya, Inflasi Pejabat

12 April 2026
Paling Sering Dibaca

Perjalanan Pulang ke Samarinda: Di Bawah Langit Bontang yang Segar

Travel Sitiaisyah

3 SMA Seni Favorit Para Idol K-Pop Korea Selatan

Daily Tips Ericka

Mengelola WhatsApp Channel, Panduan Lengkap untuk Kesuksesan dalam Komunikasi Bisnis

Techno Udex Mundzir

Garut–BCA via Politri Tasikmalaya 

Profil Adit Musthofa

Bang Sakty: Sulit Jadi Single Bar dengan Banyaknya Organisasi Advokat 

Argumen Alwi Ahmad
Berita Lainnya
Pendidikan
Alfi Salamah21 April 2026

Empat Tim Mahasiswa UT dari Pesantren Khalifa Lolos Pendanaan Riset

Alumni SMAN 1 Cisayong Lolos Seleksi Program Pendanaan Penelitian Mahasiswa Universitas Terbuka 2026

5 E-Commerce Dominasi Pasar Usai Bukalapak Tutup Layanan

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Ledakan Ikan Sapu-sapu, Jakarta Cari Cara Ampuh

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi