Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Syarat Tak Bisa Dicuci Kekuasaan

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

SPPG De La Tina Ciamis Terapkan Inovasi Pengelolaan Limbah Dapur MBG

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Selasa, 6 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Jangan Normalisasi Israel

Menggandeng pelaku penjajahan adalah pengkhianatan terhadap konstitusi dan nurani bangsa.
Udex MundzirUdex Mundzir31 Mei 2025 Editorial
Hubungan Diplomatik Indonesia dengan Israel dan Palestina
Ilustrasi Hubungan Diplomatik Indonesia dengan Israel dan Palestina.
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Wacana Presiden Prabowo membuka hubungan diplomatik dengan Israel, meskipun disertai syarat kemerdekaan Palestina, tetap memicu amarah publik.

Bukan karena rakyat Indonesia anti perdamaian. Tapi karena perdamaian tidak bisa dibangun di atas darah dan abu penjajahan.

Normalisasi dengan Israel, selagi genosida di Gaza terus berlangsung, adalah langkah yang salah arah dan membahayakan integritas diplomasi Indonesia.

Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri, Sudarnoto Abdul Hakim, secara tegas menolak wacana ini. Ia menekankan bahwa yang dibutuhkan saat ini bukan normalisasi, tetapi tekanan global agar Israel menghentikan kejahatannya.

Menurutnya, langkah nyata Indonesia seharusnya adalah menuntut penarikan penuh pasukan IDF, penghentian agresi, penangkapan pemimpin Israel oleh Mahkamah Internasional, dan pengembalian tanah Palestina yang dirampas.

Ini bukan sekadar opini. Ini adalah cerminan dari amanat konstitusi: “Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.”

Indonesia sejak awal berdiri sebagai bangsa yang menolak segala bentuk penjajahan. Itu adalah fondasi moral kebijakan luar negeri kita.

Menggoyahkan prinsip itu demi iming-iming hubungan dagang atau tekanan internasional akan menjadi noda sejarah.

Konflik Israel-Palestina bukan konflik biasa. Ini soal kolonialisme modern.

Data dari UNOCHA mencatat lebih dari 36.000 warga Palestina tewas di Gaza sejak 2023. Sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan.

Gaza hancur. Rumah sakit luluh lantak. Blokade total membuat wilayah itu seperti kamp konsentrasi terbuka.

Lalu, di tengah horor kemanusiaan ini, kita bicara normalisasi?

Baca Juga:
  • Ilmu yang Terasing di Negeri Sendiri
  • Antara Harapan dan Kekecewaan
  • Negara Diam, Judi Online Merajalela
  • Bisnis Militer: Jalan Menuju Politik?

Di sisi lain, Indonesia punya peluang besar untuk memainkan peran global. Pertemuan Prabowo dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron harusnya dijadikan pijakan untuk memperkuat poros anti-penjajahan.

Prancis menunjukkan celah dalam blok Barat. Mereka mulai berani mengkritik Israel dan memberi ruang bagi pengakuan Palestina.

Namun, Indonesia tidak boleh kehilangan arah. Tidak boleh terjebak dalam pragmatisme diplomatik yang mengorbankan prinsip.

Membuka hubungan dengan Israel—meski dengan syarat kemerdekaan Palestina—tetap bisa disalahartikan sebagai pengkhianatan pada perjuangan rakyat Palestina.

Dan yang lebih penting: bisa melukai hati rakyat Indonesia sendiri.

Solidaritas Indonesia terhadap Palestina bukan sekadar retorika. Ia sudah menjadi bagian dari kesadaran kolektif.

Aksi solidaritas digelar di seluruh pelosok negeri. Dari masjid, gereja, hingga kampus dan jalan raya.

Bendera Palestina dikibarkan bukan karena doktrin politik, tapi karena keadilan.

Jika pemerintah melangkah ke arah normalisasi, ia harus siap kehilangan kepercayaan publik.

Apalagi saat dunia justru bergerak ke arah pengakuan Palestina.

Irlandia, Spanyol, dan Norwegia baru saja mengakui Palestina secara resmi. Gelombang ini akan meluas.

Artikel Terkait:
  • Jangan Serahkan Pendidikan ke Negara yang Tak Konsisten
  • Ketika Moral Publik Mati
  • Bahlil Membuat Gaduh, Lalu Berlagak Penyelamat
  • Kehadiran Prabowo di Kongres Projo, Akan Menegaskan Dirinya “Termul”

Indonesia seharusnya memimpin, bukan membelokkan arah.

Ada yang menyebut normalisasi bisa membawa investasi, kerja sama militer, dan akses teknologi. Tapi apa artinya semua itu jika dibayar dengan kehormatan bangsa?

Ekonomi yang dibangun dengan mengorbankan kemanusiaan tidak akan langgeng.

Langkah Indonesia harus tetap jelas. Tidak boleh kabur. Tidak boleh gamang.

Yang dibutuhkan saat ini adalah konsistensi penuh terhadap konstitusi. Prinsip “penjajahan harus dihapuskan” bukan sekadar kutipan, tapi kompas moral kebijakan luar negeri kita.

Indonesia juga harus memperkuat aliansi global dengan negara-negara yang membela Palestina. Koalisi ini penting untuk menekan Israel secara kolektif di forum internasional.

Tindakan diplomatik aktif harus digencarkan. Baik di PBB, Mahkamah Internasional, maupun organisasi multilateral lain yang punya kekuatan hukum dan moral.

Di saat yang sama, edukasi publik harus digerakkan. Untuk membongkar narasi normalisasi yang menyesatkan. Untuk mengingatkan bahwa penjajahan bukan sesuatu yang bisa dinegosiasikan.

Kita tidak bisa berdamai dengan penjajahan.

Jangan Lewatkan:
  • Obsesi IQ yang Keliru Arah
  • Bersih-Bersih Kabinet Prabowo Dimulai
  • Golkar di Persimpangan Jalan
  • Riset Murah, Mimpi Besar

Diplomasi tidak bisa dijalankan tanpa landasan etika.

Dan sejarah akan mencatat siapa yang berdiri bersama korban, dan siapa yang memilih kompromi.

Indonesia tidak kekurangan jalan untuk berperan besar. Tapi jalan itu tidak boleh melewati reruntuhan keadilan.

Bangsa ini berdiri karena melawan penjajahan. Maka tak sepantasnya kita mendekap tangan penjajah hanya karena tuntutan realpolitik.

Diplomasi Indonesia Isu Kemanusiaan Normalisasi Israel Palestina Merdeka Prabowo Subianto
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleHati-Hati dengan Doa Keburukan
Next Article Coba Vaksin? Wakil Rakyat Dulu!

Informasi lainnya

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

1 Oktober 2026

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

UU TNI Disahkan, Sipil Terancam Diam

Editorial Udex Mundzir

Ketika Presiden Diganti, Siapa Memimpin?

Perspektif Udex Mundzir

Lansia dan Buta Boleh Tidak Melaksanakan Sholat Jumat?

Islami Ericka

Prabowo Lebih Pro pada Koruptor

Editorial Udex Mundzir

Mengeluh Lapar dan Haus Saat Puasa, Ini Hukumnya

Islami Lisda Lisdiawati
Berita Lainnya
Politik
Udex Mundzir1 Oktober 2026

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Rahasia Daisugi, Teknik Bertani Pohon Tanpa Membabat Hutan

Hukum Barang Temuan dalam Islam

PANDI Perketat Aturan Sengketa Domain untuk Cegah Cybersquatting

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Buku Anak Islami Murah Mic Wireless Untuk Masjid
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi