Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Martha Tilaar Wafat, Wariskan Kecantikan Nusantara

Tren Hidup Hemat Gen Z, Gengsi Mulai Ditinggalkan?

Asap Karhutla Menggila, Udara Kalimantan Berbahaya!

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 15 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Langkah Utang Pemerintah di Akhir 2024

Udex MundzirUdex Mundzir18 November 2024 Editorial
Penerbitan STO13
Penerbitan STO13 (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Pemerintah Indonesia kembali menerbitkan Sukuk Tabungan sebagai salah satu strategi untuk menutup defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Tahun ini, penerbitan ST013 dimulai pada 8 November 2024 dengan target perolehan Rp 20 triliun yang akan berakhir pada 4 Desember 2024.

Data terkini menunjukkan bahwa hingga 18 November, sukuk ini telah berhasil meraup Rp 6,9 triliun. Sukuk ini menawarkan imbal hasil 6,4% untuk tenor 2 tahun dan 6,5% untuk tenor 4 tahun, menjadikannya produk investasi syariah yang menarik bagi warga negara Indonesia (WNI).

Namun, meskipun strategi utang melalui instrumen sukuk ini mendapatkan sambutan positif, beban utang pemerintah masih terus meningkat signifikan. Hingga Agustus 2024, total utang pemerintah telah mencapai Rp 8.444 triliun atau sekitar 40% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, menurut data dari Kementerian Keuangan.

Pada saat yang sama, pada Juli 2024, utang pemerintah dilaporkan CNBC Indonesia telah menyentuh Rp 8.500 triliun, terdiri dari Rp 7.483,09 triliun dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN) dan Rp 990,81 triliun dalam bentuk pinjaman.

Dari total SBN ini, Rp 6.103,90 triliun adalah utang domestik, sedangkan Rp 1.379,19 triliun merupakan utang dalam valuta asing.

Tingginya utang Indonesia turut dibayangi oleh besarnya bunga yang harus dibayarkan. Pemerintah memproyeksikan bahwa pada 2024, pembayaran bunga utang mencapai Rp 498,95 triliun, hampir setara dengan 16% dari APBN. Angka ini terdiri dari bunga utang dalam negeri sebesar Rp 454,36 triliun dan bunga utang luar negeri sebesar Rp 44,59 triliun, sebagaimana diungkapkan oleh Direktur Strategi dan Portofolio Pembiayaan Kementerian Keuangan, Riko Amir.

Pembayaran bunga yang terus meningkat ini telah menimbulkan kekhawatiran akan keberlanjutan fiskal jangka panjang Indonesia, terutama dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Baca Juga:
  • Mike Tyson vs Jake Paul, Duel Fenomenal untuk Konten YouTube!
  • Terpidana Dilindungi, Hukum Dipermalukan
  • Provokasi di Balik Aksi Jalanan
  • Kabut Dalang, Gagalnya Aparat

Sebagian besar beban pembayaran bunga ini memang diterima oleh pelaku usaha dan masyarakat dalam negeri, mengingat sekitar 99,5% dari total bunga atau imbal hasil utang dibayarkan kepada investor domestik. Hal ini memberikan manfaat tersendiri bagi perekonomian dalam negeri, tetapi tetap menimbulkan risiko tinggi pada APBN.

Pada 2024, porsi anggaran yang dialokasikan untuk belanja bunga utang lebih besar dibandingkan anggaran untuk kesehatan atau infrastruktur. Data APBN 2024 menunjukkan alokasi belanja kesehatan hanya Rp 168,8 triliun, sementara infrastruktur sekitar Rp 392 triliun, keduanya jauh di bawah alokasi pembayaran bunga.

Mengelola utang dengan terus menambah beban bunga setiap tahun, tanpa menyeimbangkan antara pengeluaran dengan pertumbuhan pendapatan negara, berpotensi menimbulkan beban berkelanjutan pada APBN. Sejarah telah menunjukkan risiko yang dihadapi ketika negara terlalu bergantung pada utang luar negeri.

Indonesia pernah mengalami krisis ekonomi di masa Orde Baru, di mana beban utang yang berat memicu ketidakstabilan fiskal dan akhirnya berkontribusi pada runtuhnya pemerintahan. Negara-negara seperti Sri Lanka juga memberikan pelajaran penting: ketidakmampuan membayar utang dapat menyebabkan krisis politik dan ekonomi yang berat, yang akhirnya membuat presiden mereka terpaksa melarikan diri.

Untuk memperbaiki keberlanjutan fiskal, pemerintah perlu meningkatkan penerimaan negara dan mengurangi ketergantungan pada utang. Reformasi perpajakan yang kuat dapat menjadi kunci untuk meningkatkan penerimaan.

Dengan rasio pajak terhadap PDB yang baru mencapai sekitar 10,1%, Indonesia masih tertinggal dari negara-negara lain di Asia Tenggara seperti Thailand dan Malaysia, yang memiliki rasio pajak mendekati 14%.

Peningkatan itu sangat diperlukan untuk menciptakan anggaran yang lebih berimbang dan mengurangi tekanan terhadap pembiayaan utang.

Artikel Terkait:
  • Haji Ilegal, Iman yang Dimanfaatkan
  • Politik Warisan yang Membelit
  • e-KTP: Teknologi Tanpa Arah
  • Isu yang Dibelokkan, Aparat yang Gagal

Selain itu, kebijakan fiskal yang lebih ketat terhadap belanja non-prioritas juga harus diterapkan. Pada 2024, belanja pemerintah diperkirakan mencapai Rp 3.325,1 triliun, namun sekitar Rp 392,1 triliun di antaranya merupakan belanja infrastruktur, yang merupakan salah satu prioritas utama pemerintah.

Namun, masih ada belanja pemerintah yang bersifat rutin dan kurang produktif yang seharusnya bisa dikurangi. Memperketat belanja yang tidak efisien dapat membantu mengalihkan dana menuju sektor produktif yang memberikan dampak langsung pada ekonomi.

Dari sisi instrumen pembiayaan, pemerintah perlu lebih selektif dalam menggunakan utang valuta asing (valas). Utang dalam bentuk valuta asing saat ini mencapai Rp 1.379,19 triliun, yang berisiko tinggi karena terpapar fluktuasi nilai tukar.

Kondisi itu dapat semakin memperparah beban pembayaran utang ketika nilai rupiah melemah terhadap dolar AS atau mata uang lainnya. Lebih jauh, utang valas juga menempatkan Indonesia dalam posisi rentan terhadap guncangan ekonomi global.

Penting pula bagi pemerintah untuk terus meningkatkan transparansi dalam pengelolaan dana dari penerbitan sukuk seperti ST013. Partisipasi publik dalam instrumen syariah ini menunjukkan adanya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, tetapi harus diimbangi dengan pelaporan yang jelas mengenai penggunaan dana tersebut untuk pembangunan yang produktif.

Dalam mengelola utang, Indonesia perlu keseimbangan antara memenuhi kebutuhan anggaran dan menjaga stabilitas fiskal. Utang yang dilakukan dengan kehati-hatian dan efisiensi tinggi dapat menjadi alat pembangunan yang produktif. Namun, jika tidak dikendalikan, risiko krisis utang di masa depan tetap ada.

Jangan Lewatkan:
  • Harga BBM Turun, Asal Bukan Oplosan
  • Dari Memalukan ke Menakutkan
  • War Ticket: Ilusi Akses Setara
  • Danantara: Mesin Kapital yang Mengabaikan Darah Palestina

Maka dari itu, pemerintah harus berkomitmen untuk memperkuat struktur pendapatan negara, menyeimbangkan pengeluaran, dan melakukan pembatasan terhadap utang valas. Hal ini akan memastikan bahwa utang yang diambil benar-benar memberikan manfaat bagi generasi mendatang.

Pengelolaan Fiskal 2024 Sukuk Tabungan Utang Pemerintah Indonesia
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleBTPN Resmi Ganti Logo, Kini Beridentitas PT Bank SMBC Indonesia
Next Article Haji Idi dan Situasi Simalakama di Pilkada Sampang

Informasi lainnya

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Generasi Muda dan Tren Slow Living di Era Digital

Perspektif Alfi Salamah

Ilmu dan Inovasi dalam Peradaban

Islami Lina Marlina

Generasi Tua dan Muda Berkolaborasi untuk Indonesia Emas 2045

Profil Silva

Jangan Normalisasi Israel

Editorial Udex Mundzir

Fakta Sebenernya, Inflasi Pejabat

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Politik
Udex Mundzir1 Oktober 2026

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

PANDI Perketat Aturan Sengketa Domain untuk Cegah Cybersquatting

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Rahasia Daisugi, Teknik Bertani Pohon Tanpa Membabat Hutan

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Mic Wireless Untuk Masjid Produk Dapur Terlaris Perlengkapan Pramuka Lengkap
“Landing

☪   JADWAL SALAT

Mendeteksi lokasi...

Memuat tanggal...

⌖  Menyiapkan lokasi
Memuat jadwal salat...
SALAT BERIKUTNYA —
Menunggu jadwal...
Metode Kemenag RI

© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi