Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Batas Kuasa, Uji Demokrasi

AI Ciptakan Konsensus Palsu di Ruang Digital

Uji Coba Sukses, QRIS Indonesia-Tiongkok Rilis Akhir April 2026

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Minggu, 26 April 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Trump Berlagak Pahlawan Tapi Kesiangan

Ia menyalakan api, lalu mengklaim diri sebagai pemadam kebakaran.
Udex MundzirUdex Mundzir24 Juni 2025 Editorial
Presiden Donald Trump berpidato dari Gedung Putih, Sabtu (21/6/2025), setelah militer Amerika Serikat menyerang tiga situs program nuklir Iran, yang menandai secara langsung dukungan terhadap Israel. (Dok. Carlos Barria/Pool via AP)
Presiden Donald Trump berpidato dari Gedung Putih, Sabtu (21/6/2025), setelah militer Amerika Serikat menyerang tiga situs program nuklir Iran, yang menandai secara langsung dukungan terhadap Israel. (Dok. Carlos Barria/Pool via AP)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Di tengah ketegangan Timur Tengah, dunia dikejutkan oleh peran ‘pahlawan’ ala Donald Trump. Pada 22 Juni 2025, AS melancarkan serangan udara ke tiga lokasi nuklir Iran—Fordow, Natanz, dan Isfahan—dengan dalih mencegah proliferasi nuklir. Namun ketika Iran membalas dengan serangan terbatas ke Pangkalan Al Udeid, Qatar, Trump langsung mengumumkan “akhir resmi perang” seolah ia menyelamatkan dunia. Ini bukan kepemimpinan, ini panggung drama.

Trump memulai dengan perintah serangan militer berisiko tinggi tanpa strategi jangka panjang. Operasi ini menggunakan bom bunker-buster dan rudal presisi untuk melumpuhkan fasilitas nuklir. Dampak fisiknya besar, tapi dampak politiknya jauh lebih luas—ini pengingat bahwa dunia bisa saja diseret ke konflik global terbuka hanya karena ambisi satu orang.

Iran, yang selama bertahun-tahun ditekan sanksi, merespons dengan cara yang terukur. Mereka menembakkan 19 rudal ke pangkalan AS di Qatar, tanpa korban jiwa, dengan lokasi yang dipilih jauh dari permukiman warga. Bahkan, Iran sempat memberi peringatan sebelum serangan dan menyatakan bahwa ini adalah balasan simbolik yang sebanding dengan jumlah bom yang mereka terima.

Tindakan Iran tetap tergolong agresi militer, tapi memperlihatkan kalkulasi dan kendali. Mereka tidak ingin perang besar. Tapi Trump menyebutnya “serangan lemah” dan memuji sistem pertahanan AS yang mencegat 13 dari 14 rudal, bahkan mengklaim bahwa satu rudal “dibiarkan lolos” karena tidak membahayakan. Ini bukan analisis jujur, melainkan upaya menjaga citra kekuatan dan mengalihkan sorotan dari kegagalan diplomatiknya.

Qatar menjadi ironi dalam konflik ini. Wilayahnya dilanggar, pangkalannya diserang, tapi justru Qatar yang menjadi penengah utama. Mereka mengutuk keras serangan Iran sebagai pelanggaran hukum internasional, namun tetap berperan dalam membujuk Iran menyetujui gencatan senjata. Qatar, negara kecil dengan reputasi netral, menunjukkan rasionalitas lebih besar dibanding kekuatan besar yang haus panggung.

Baca Juga:
  • Taman di Jakarta akan Dibuka 24 Jam, Siapa yang Jaga?
  • Kebakaran di Kementerian ATR/BPN: Asap Padam, Kecurigaan Membara
  • Warisan Masalah Era Jokowi
  • Serangan Fajar: Hari Tenang yang Tak Tenang

Trump mengklaim kesepakatan itu sebagai “akhir resmi perang”, seolah ia baru saja menggagalkan perang nuklir. Tapi dunia tahu, dialah yang menyulut eskalasi ini sejak awal. Gaya kepemimpinan Trump tak berubah: membuat kekacauan lalu muncul sebagai ‘penyelamat’. Ini bukan strategi baru, tapi pengulangan narasi lama.

Kita pernah menyaksikan model seperti ini dalam Perang Irak. Klaim senjata pemusnah massal dijadikan dalih untuk menyerbu negara berdaulat—yang belakangan terbukti tak berdasar. Kini, Trump mengulang skenario itu dalam versi baru: Iran sebagai musuh, nuklir sebagai ancaman, dan AS sebagai penentu arah dunia. Padahal risiko lebih besar, karena aktor yang dilibatkan jauh lebih siap.

Pernyataan Trump tentang gencatan senjata datang terlalu terlambat. Jika benar niatnya mencegah Iran membangun senjata nuklir, maka jalur diplomasi dan pengawasan internasional seharusnya ditempuh lebih dulu. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) tak pernah menyajikan bukti kuat bahwa Iran sedang aktif membangun senjata nuklir secara rahasia.

Iran selama bertahun-tahun berkomitmen pada kesepakatan nuklir JCPOA, yang justru ditinggalkan secara sepihak oleh AS pada 2018. Respon Iran yang tanpa korban sipil dan disertai peringatan sebelumnya membuktikan bahwa mereka masih siap berdiplomasi—asal tidak ditekan dengan ledakan.

Konflik ini memang mereda, tapi belum usai. Ketegangan masih tinggi. Dunia belum tahu bagaimana reaksi Israel atau apakah kelompok proksi akan mengambil alih panggung. Namun satu hal pasti: dunia makin lelah dengan pemimpin yang menciptakan konflik hanya untuk kemudian tampil sebagai penyelamat.

Artikel Terkait:
  • Stop Putar Lagu atau Musik Lokal Indonesia
  • Israel vs Iran: Medan Dominasi, Bukan Lagi Proxy
  • Gaya Politik Kekanak-Kanakan Ala RIDO
  • Kenaikan Harga BBM dan Tantangan Ketahanan Energi

Trump mungkin berhasil mengendalikan narasi di media AS. Tapi di mata masyarakat global, ia hanya aktor yang datang terlambat ke panggung yang ia ciptakan sendiri. Retorikanya tentang “akhir resmi perang” hanyalah tutup satu bab, bukan solusi bagi kisah yang dia buat kusut sejak awal.

Daripada berpose heroik, Trump seharusnya bertanya: berapa besar biaya politik, ekonomi, dan moral yang ditanggung rakyat dunia akibat manuvernya? Bisakah kemenangan disebut demikian jika yang tertinggal hanyalah rasa takut, luka diplomasi, dan kecurigaan terhadap Amerika Serikat sebagai pemimpin dunia?

Solusi yang dibutuhkan dunia jauh dari retorika. Dunia membutuhkan pemimpin yang tidak cepat panik, berani menahan diri, dan memahami bahwa kekuatan sejati diukur dari kemampuan menciptakan stabilitas, bukan memamerkan senjata. Diplomasi multilateral harus kembali jadi pilihan utama.

Lembaga global seperti PBB dan IAEA perlu diperkuat, bukan disabotase oleh retorika nasionalisme. Negara-negara regional seperti Qatar bisa dijadikan mitra utama, karena terbukti lebih mampu mendorong stabilitas melalui dialog.

Jangan Lewatkan:
  • Selamat Tinggal Agustus Kelabu: Tinggalkan Joget-joget di Istana
  • Negeri Pungli dan Pajak Tinggi
  • Gelar Akademik dan Integritas Pejabat Publik
  • Antara Harapan dan Kekecewaan

Kepemimpinan sejati adalah yang mampu membaca masa depan, bukan sekadar menguasai narasi sesaat. Dunia tidak butuh lebih banyak pemantik api yang datang kesiangan. Dunia membutuhkan pemadam yang hadir sebelum bara menjadi nyala.

AS–Iran Diplomasi Damai Kepemimpinan Global Perdamaian Jangka Panjang Retorika Politik
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleSelat Hormuz dan Ancaman Ekonomi Dunia
Next Article Garuda Diselamatkan, Tapi Sampai Kapan?

Informasi lainnya

Batas Kuasa, Uji Demokrasi

26 April 2026

e-KTP: Teknologi Tanpa Arah

25 April 2026

Ikan Sapu-Sapu dan Krisis Sunyi

23 April 2026

UKT dan Ilusi Kesejahteraan ASN

19 April 2026

War Ticket: Ilusi Akses Setara

12 April 2026

Fakta Sebenernya, Inflasi Pejabat

12 April 2026
Paling Sering Dibaca

Imam Lupa Baca Al-Fatihah, Apakah Sholatnya Sah?

Islami Udex Mundzir

Ciri-Ciri Buzzer dan Pengaruhnya dalam Dunia Bisnis

Bisnis Ericka

Sarwo Edhie Wibowo, Prajurit dalam Badai Sejarah

Profil Alfi Salamah

Mas Isman, Komandan Rakyat Muda

Profil Alfi Salamah

Ambisi Politik Bahlil: Kursi Lebih Penting dari Kinerja

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Pendidikan
Alfi Salamah21 April 2026

Empat Tim Mahasiswa UT dari Pesantren Khalifa Lolos Pendanaan Riset

Alumni SMAN 1 Cisayong Lolos Seleksi Program Pendanaan Penelitian Mahasiswa Universitas Terbuka 2026

5 E-Commerce Dominasi Pasar Usai Bukalapak Tutup Layanan

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Ledakan Ikan Sapu-sapu, Jakarta Cari Cara Ampuh

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi