Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

URI: Lantik Dulu, Masalah Kemudian

KMD Pramuka Penggalang Resmi Dibuka di PGSD Bone

Kebakaran Landa Kasepuhan Cipta Mulya Sukabumi

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Senin, 27 Juli 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Hakim Mana yang Berani Vonis Ijazah Palsu?

Ketika keadilan ditentukan oleh nyali, bukan bukti, publik kehilangan harapan pada supremasi hukum.
Udex MundzirUdex Mundzir17 April 2025 Editorial
Hakim dan Dugaan Ijazah Palsu Jokowi
Ilustrasi Hakim dan Dugaan Ijazah Palsu Jokowi (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Hakim mana yang berani menyatakan ijazah Presiden Joko Widodo palsu? Ini bukan pertanyaan retoris. Ini pertanyaan fundamental bagi masa depan hukum Indonesia.

Kasus dugaan ijazah palsu Jokowi sudah dibawa ke meja hijau lebih dari sekali. Namun, tak satu pun hakim menggali substansi perkara. Semuanya berhenti pada dalih prosedur: legal standing, gugatan tidak memenuhi syarat formil, dan alasan teknis lainnya.

Tak ada satu pun yang membongkar, menelusuri, atau setidaknya meminta dokumen fisik untuk diperiksa secara terbuka. Seolah-olah, membicarakan keaslian ijazah seorang presiden adalah dosa besar yang harus segera disingkirkan dari wacana publik.

Padahal, setiap kepala desa, lurah, bahkan calon anggota DPRD diwajibkan menyerahkan ijazah asli untuk diverifikasi. Lalu mengapa mantan presiden, pejabat publik tertinggi selama dua periode, justru dibiarkan tanpa klarifikasi terbuka?

Publik punya hak untuk tahu, karena jabatan yang ia emban dibangun atas legitimasi administratif. Jika salah satu fondasi administratif itu palsu, maka konsekuensinya bukan main: keabsahan kekuasaan terguncang.

Jika ijazah Jokowi terbukti palsu, maka pelanggaran hukum telah terjadi sejak lama. Mulai dari KPUD Solo yang menerima berkas saat pencalonan walikota, KPU Pusat yang meloloskannya saat Pilpres 2014 dan 2019, hingga Bawaslu yang seharusnya mengawasi proses verifikasi dokumen.

Mereka semua bisa dimintai pertanggungjawaban secara pidana. Sebab membiarkan dokumen palsu dalam proses pemilu adalah tindak pidana serius.

Baca Juga:
  • Hibah untuk Aparat, Buat Apa?
  • Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua
  • Prabowo Lebih Pro pada Koruptor
  • Ilmu Bukan Sekadar Mesin Industri

Namun siapa yang akan mengadili mereka, jika hukum saja tak sanggup menyentuh tokoh utama dalam perkara ini?

Kita tidak bisa berharap banyak pada sistem hukum yang kini tengah goyah. Beberapa hakim Mahkamah Agung terbukti menerima suap dalam pengurusan perkara. Mahkamah Konstitusi pun tercoreng karena skandal etik dan dugaan intervensi politik.

Dalam suasana seperti ini, sangat wajar bila publik ragu bahwa pengadilan kita bisa berlaku netral, apalagi berani.

Mahfud MD pernah mengatakan bahwa hukum tidak selalu identik dengan keadilan. Pernyataan itu kini seperti nubuat. Hukum sering kali hanya menjadi alat legalisasi atas ketakutan, kompromi, atau kepentingan.

Padahal masyarakat hanya ingin satu hal: keterbukaan. Bukan sekadar klarifikasi lisan, atau pengakuan sepihak dari pengacara. Tapi bukti fisik, ditunjukkan, diuji, dan diumumkan secara sah di hadapan publik atau di ruang sidang.

Jika ijazah itu asli, tak ada yang perlu ditakutkan. Tapi jika memang ada keraguan, lalu ditutupi dengan retorika prosedur, maka jangan salahkan publik jika kelak memilih untuk tidak lagi percaya pada negara.

Artikel Terkait:
  • Jangan Serahkan Pendidikan ke Negara yang Tak Konsisten
  • Menag di Vatikan: Diplomasi Iman dan Kemanusiaan
  • Pelantikan Presiden di Jakarta, Jokowi Gagal Pindah Ibu Kota
  • Bayang-Bayang Dwifungsi

Kita hidup di era digital. Data bisa diverifikasi, dokumen bisa dicek silang. Tapi justru di era keterbukaan informasi, kasus ini malah dikunci rapat-rapat oleh orang-orang yang seharusnya jadi pelayan keadilan.

Masyarakat mulai melihat bahwa ini bukan lagi perkara ijazah. Ini soal integritas sistem.

Kalau pengadilan tak berani menyentuh substansi, lalu untuk siapa hukum ditegakkan? Jika aparat hukum lebih takut pada kekuasaan ketimbang nurani, maka hukum sudah bukan lagi alat keadilan. Ia hanyalah jubah untuk menyembunyikan kebusukan.

Kami yakin masih ada hakim yang jujur dan berani. Tapi keberanian harus ditularkan. Kejujuran harus didukung. Jangan biarkan mereka yang punya niat baik menjadi sunyi dalam tekanan sistem yang korup.

Media ini bukan menghakimi, tapi untuk mengingatkan. Jika kita gagal menjawab pertanyaan tentang keaslian dokumen seorang presiden, maka kita gagal menjaga martabat negara hukum.

Jangan Lewatkan:
  • Prabowo Tidak Peka Terhadap Derita Rakyat
  • Di Balik Kegelapan yang Diteriakkan
  • Bukan Lalai, Tapi Sinyal Korupsi
  • Tarif Trump: Senjata Makan Tuan

Dan sejarah akan mencatatnya sebagai pengkhianatan terhadap keadilan.

Hakim dan Vonis Ijazah Jokowi Integritas Hukum Kritik Editorial Pengadilan Indonesia
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleKalau Ijazah Jokowi Palsu, Siapa Masuk Penjara?
Next Article PHM dan Pemkab Kukar Kirim 19 Pemuda Ikuti Sertifikasi Welder 4G

Informasi lainnya

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Rakyat Bertanya, Negara Menjawab dengan Prosedur

Perspektif Udex Mundzir

Menyusuri Heningnya Hutan Bambu Arashiyama

Travel Alfi Salamah

Rhenald Kasali: Merantau, Sekolah Kehidupan yang Sesungguhnya

Profil Udex Mundzir

Menulis dari Negara yang Terlambat Sadar

Perspektif Udex Mundzir

Tarif Ojol Naik: Siapa Diuntungkan?

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Daerah
Alfi Salamah19 Juli 2026

Kemarau Ubah Situ Gede Tasikmalaya Jadi Hamparan Rumput Hijau

Pulau Natal Pernah Luput dari Republik Indonesia, Kini Milik Australia

Tradisi Poligami Raja-Raja Arab Saudi dalam Mempersatukan Negara

URI: Lantik Dulu, Masalah Kemudian

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Perlengkapan Pramuka Lengkap Produk Dapur Terlaris Alat Tulis Sekolah Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi