Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Batal Jadi Ibu Kota? MK Tegaskan IKN Belum Gantikan Jakarta

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Minggu, 17 Mei 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Mindset Penghambat Investasi

Ketika investor dicurigai sebagai musuh, ekonomi nasional pun jalan di tempat.
Udex MundzirUdex Mundzir9 Juli 2025 Editorial
Mengapa Investor Pilih Vietnam Bukan Indonesia.
Ilustrasi Investor Pilih Vietnam Bukan Indonesia.
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Pernahkah kita sadar, mengapa begitu banyak investor asing lebih memilih membuka pabrik di Vietnam dibandingkan di Indonesia? Ini bukan lagi sekadar persoalan upah buruh yang lebih murah, bukan pula karena pasar yang lebih besar, atau tenaga kerja yang lebih terampil. Inti masalahnya terletak pada pola pikir pemerintah dan masyarakat kita yang masih memandang bisnis dengan curiga, bahkan memusuhi.

Vietnam menjadi contoh konkret bagaimana negara bisa memosisikan diri sebagai fasilitator, bukan penghalang. Ketika investor datang dan menyatakan butuh lahan satu hektare, pemerintah Vietnam langsung mencarikan lokasi strategis. Ketika diminta menyiapkan ribuan pekerja, pemerintahnya yang turun tangan menyusun skema perekrutan, pelatihan, hingga distribusi tenaga kerja. Bahkan, pembangunan pabrik disambungkan ke kontraktor lokal terbaik tanpa calo dan pungli. Semua perizinan diurus cepat dan terintegrasi, membuat investor bisa fokus pada produksi dan ekspansi pasar.

Sementara di Indonesia, cerita yang muncul justru sebaliknya. Investor asing maupun lokal harus melewati jalan panjang berliku. Mulai dari calo lahan, pungutan liar, izin yang tumpang tindih, hingga tekanan dari ormas setempat. Tidak jarang, setelah pabrik berdiri pun, para pengusaha harus menghadapi demo berkepanjangan dari serikat pekerja yang menuntut berbagai macam hal di luar kesepakatan awal.

Menurut data Kementerian Investasi/BKPM, realisasi investasi asing langsung (FDI) ke Vietnam pada 2023 mencapai USD 36 miliar. Angka ini naik sekitar 15 persen dari tahun sebelumnya. Sebaliknya, Indonesia hanya mencatat sekitar USD 24 miliar, stagnan dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini jelas menunjukkan ada masalah fundamental yang menghalangi arus modal masuk ke tanah air.

Jika kita cermati, masalah ini lebih dari sekadar birokrasi. Ini soal mentalitas. Di Indonesia, pelaku usaha sering kali dianggap “orang kaya” yang wajib “membagi kue” kepada berbagai pihak. Dari oknum pejabat daerah, ormas, hingga preman lokal, semua merasa berhak mendapatkan “jatah” begitu ada usaha yang berdiri. Pandangan inilah yang membebani investor.

Padahal, logika sederhananya: investor datang membawa modal, membuka lapangan pekerjaan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Ketika usaha mereka lancar, daerah sekitar juga akan berkembang. Muncul permintaan jasa, warung makan, kontrakan, hingga transportasi lokal. Tapi mentalitas “sapi perah” justru menutup peluang efek ganda tersebut.

Baca Juga:
  • Pilwalkot Samarinda 2024: Formalitas Saja
  • Garuda Diselamatkan, Tapi Sampai Kapan?
  • Nasaruddin Umar di Puncak Kepuasan Publik
  • Politik Sengketa, Demokrasi yang Tercederai

Secara hukum, pemerintah sebenarnya sudah menerbitkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja yang bertujuan memangkas perizinan dan birokrasi. Namun, implementasi di lapangan masih jauh dari harapan. Banyak peraturan turunan yang justru membuka ruang pungli dan tumpang tindih peran antarinstansi. Selain itu, resistensi dari kelompok tertentu memperlambat transformasi yang sudah dirancang.

Dari sisi sosial, mentalitas anti-investor yang kerap dihembuskan juga memperparah situasi. Demonstrasi dengan tuntutan di luar rasionalitas sering dijadikan alat tawar untuk kepentingan kelompok. Buruh menuntut kenaikan gaji di luar kemampuan perusahaan, ormas meminta “jasa keamanan” dengan ancaman intimidasi, sementara pemerintah daerah menuntut “kontribusi khusus” yang tidak diatur resmi. Semua ini menciptakan atmosfer yang tidak ramah bagi pertumbuhan bisnis.

Dampak ekonominya sangat nyata. Indonesia kehilangan kesempatan menyerap jutaan tenaga kerja baru. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa tingkat pengangguran terbuka per Februari 2024 masih di angka 5,45 persen. Artinya, jutaan orang yang seharusnya bisa bekerja di pabrik-pabrik baru justru terpaksa bertahan dalam sektor informal atau menjadi pengangguran.

Dari sudut pandang budaya, kita harus mulai menggeser cara pandang terhadap pelaku usaha. Membangun usaha adalah upaya membawa solusi, bukan menciptakan beban. Usaha baru berarti peluang, inovasi, dan ruang tumbuh bagi daerah sekitar. Pemerintah daerah, masyarakat, hingga aparat penegak hukum semestinya bahu-membahu memfasilitasi, bukan memeras.

Sebagai solusi, reformasi mentalitas harus menjadi prioritas utama. Pertama, pemerintah harus serius memperkuat implementasi Undang-Undang Cipta Kerja dengan menertibkan pungutan liar, mempermudah perizinan, dan menghilangkan birokrasi yang membebani. Petugas di lapangan harus diberi sanksi tegas bila terbukti mempersulit atau mencari keuntungan pribadi.

Artikel Terkait:
  • Jurnalisme di Bawah Bayang Algoritma
  • Tukin Dosen: Antara Janji dan Realita
  • Indonesia dan Dua Periode Jokowi yang Memalukan
  • Prabowo Akan Kehilangan Kesempatan Emas

Kedua, pendidikan kewirausahaan harus diperluas hingga ke tingkat sekolah dan masyarakat umum. Masyarakat harus paham bahwa bisnis bukan musuh. Dengan meningkatnya kesadaran kolektif, investor akan merasa aman dan nyaman menanamkan modal.

Ketiga, sinergi pemerintah pusat dan daerah harus ditingkatkan. Tidak boleh ada visi pembangunan yang saling bertolak belakang. Jika pusat mengundang investasi, daerah wajib mendukung dengan kebijakan sinkron, bukan malah menciptakan aturan tambahan yang mempersulit.

Keempat, perlindungan hukum untuk investor harus dijamin. Mekanisme pengaduan harus diperkuat, dengan jalur cepat untuk menyelesaikan kasus-kasus pemerasan, intimidasi, atau pungli. Investor yang merasa aman akan lebih tertarik melakukan ekspansi, yang pada akhirnya menciptakan efek domino positif bagi ekonomi lokal dan nasional.

Akhirnya, kita harus berani jujur mengakui bahwa salah satu penghambat terbesar pembangunan ekonomi Indonesia adalah mentalitas kita sendiri. Kalau kita masih memandang investor sebagai “lumbung uang” yang harus diperas, jangan heran jika negara tetangga seperti Vietnam terus berlari, sementara kita hanya berdiri menonton di pinggir jalan.

Sebagai media, kami menegaskan bahwa perubahan mindset adalah syarat mutlak jika kita ingin Indonesia menjadi negara tujuan investasi utama di Asia Tenggara. Fasilitasi yang mudah, birokrasi yang bersih, serta masyarakat yang mendukung adalah kunci untuk membuka pintu investasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Jangan Lewatkan:
  • Gizi di Meja, Konglomerat di Pintu
  • Menag di Vatikan: Diplomasi Iman dan Kemanusiaan
  • Apa yang Sebenarnya Disembunyikan dari Dana Desa?
  • Tantangan Representasi atau Simbolisme?

Ekonomi Indonesia Investasi asing Mindset Pemerintah Persaingan Regional Reformasi Birokrasi
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleCelah Curang Layanan Rumah Sakit
Next Article Festival Kampong Tuha, Firnadi Ikhsan Tegaskan Pentingnya Menjaga Nilai gotong Royong

Informasi lainnya

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026

MBG dan Risiko Cobra Effect

4 Mei 2026

Pendidikan Tersedot Program MBG

2 Mei 2026

LPDP: Hibah atau Pinjaman?

30 April 2026
Paling Sering Dibaca

Jejak Muda, Prestasi Nyata

Profil Lisda Lisdiawati

Ephesus: Kota Legendaris yang Tak Pernah Mati

Travel Alfi Salamah

Kisah Pengusaha Lokal Kalahkan Raksasa Dunia dalam Sengketa Merek

Bisnis Assyifa

QR Warung dan Ketakutan Amerika

Editorial Udex Mundzir

Membangun Keterampilan Sosial untuk Mengurangi Insecure

Opini Alfi Salamah
Berita Lainnya
Ekonomi
Lisda Lisdiawati8 Desember 2025

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Waktu Pencernaan Makanan, Kenali Sebelum Mengatur Pola Makan

Kepala BGN Diganti, Program MBG Diminta Tetap Berjalan

Batal Jadi Ibu Kota? MK Tegaskan IKN Belum Gantikan Jakarta

Waspada Makan Berlebih Saat Lebaran, Ini Risikonya

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Perlengkapan Pramuka Lengkap Alat Tulis Sekolah Murah Produk Dapur Terlaris
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi