Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Efisiensi atau Salah Kelola?

Diding Boneng Meninggal di Usia 76 Tahun, Dunia Lawak Berduka

Hari Konservasi Dunia, Saatnya Menjaga Bumi

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 6 Agustus 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Wibawa Prabowo Dipertanyakan, Siapa Pemimpin Sebenarnya?

Ketika pemimpin baru masih berada di bawah bayang-bayang pendahulunya, kapan kepemimpinan sejati benar-benar dimulai?
Udex MundzirUdex Mundzir21 Februari 2025 Editorial
Wibawa Prabowo Dipertanyakan dalam Konflik Retret Magelang
Wibawa Prabowo Dipertanyakan dalam Konflik Retret Magelang (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Retret kepala daerah di Akademi Militer (Akmil) Magelang menjadi panggung baru ketegangan politik di Indonesia. Mantan Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa seluruh kepala daerah yang telah dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto wajib hadir dalam acara tersebut. Namun, Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, justru menginstruksikan kepala daerah dari partainya untuk tidak hadir.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar: di mana wibawa Prabowo sebagai presiden baru? Mengapa kebijakan pemerintahan ini masih terlihat seperti perpanjangan tangan Jokowi?

Seharusnya, ketika Prabowo resmi dilantik, kepemimpinan penuh ada di tangannya. Namun, fakta bahwa Jokowi masih memberi instruksi kepada kepala daerah dan mempengaruhi jalannya pemerintahan menunjukkan bahwa bayang-bayang mantan presiden itu masih begitu kuat.

Sejak awal, publik memang melihat bahwa pemerintahan Prabowo terbentuk atas kompromi besar. Koalisi gemuk yang dibangun bukan hanya untuk mengakomodasi partai-partai pendukungnya, tetapi juga untuk menjaga keseimbangan antara kekuatan lama dan baru. Dalam hal ini, loyalis Jokowi tetap mendapatkan tempat strategis di kabinet dan jalannya pemerintahan.

Namun, jika Prabowo ingin dikenal sebagai pemimpin yang mandiri dan berwibawa, saatnya mengambil alih kendali penuh.

Polemik retret Magelang semakin memperjelas bagaimana tarik-ulur kekuasaan masih terjadi. Megawati, dengan instruksinya yang melarang kepala daerah PDIP hadir, menunjukkan bahwa partai masih ingin menjaga jarak dari pemerintahan baru. Ini adalah sinyal bahwa PDIP ingin membangun oposisi yang lebih kuat setelah tidak lagi menjadi partai utama di pemerintahan.

Baca Juga:
  • Kenaikan Harga BBM dan Tantangan Ketahanan Energi
  • Bayang-Bayang Mafia di Sepak Bola Indonesia
  • Ambisi Politik Bahlil: Kursi Lebih Penting dari Kinerja
  • Menyingkap Tabir di Balik ‘Penyalahgunaan Wewenang’

Di sisi lain, Jokowi justru bertindak seolah masih memiliki otoritas atas kepala daerah, meskipun ia sudah tidak lagi menjabat sebagai presiden. Ini menjadi anomali dalam sistem pemerintahan, di mana seorang mantan presiden masih memiliki pengaruh yang begitu besar dalam kebijakan eksekutif.

Dari sudut pandang politik, ini menimbulkan dilema bagi Prabowo. Jika ia terlalu tunduk pada arahan Jokowi, maka publik akan melihatnya sebagai presiden yang hanya melanjutkan agenda pemerintahan sebelumnya tanpa inovasi berarti. Sebaliknya, jika ia mengambil langkah konfrontatif, maka stabilitas politiknya bisa terganggu di awal masa pemerintahan.

Sebagai presiden yang baru saja dilantik, Prabowo memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa ia adalah pemimpin sejati, bukan sekadar penerus yang masih berada di bawah bayang-bayang Jokowi. Ada beberapa langkah yang harus ia ambil jika ingin memperkuat posisinya.

Pertama, menegaskan otoritasnya secara mandiri. Prabowo harus memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil adalah hasil keputusannya sendiri, bukan sekadar melanjutkan arahan dari presiden sebelumnya. Jika retret di Magelang memang strategis bagi pemerintahan, Prabowo sendiri yang harus menjelaskan urgensinya, bukan Jokowi.

Kedua, memutus ketergantungan pada figur lama. Pemerintahan baru harus memiliki karakter dan identitasnya sendiri. Jika terlalu banyak bergantung pada pengaruh Jokowi, Prabowo akan kesulitan membangun citranya sebagai pemimpin yang kuat.

Artikel Terkait:
  • Prabowo itu Bayang-Bayang Jokowi atau Pemimpin Baru?
  • Danantara: Mesin Kapital yang Mengabaikan Darah Palestina
  • Orde Baru Jauh Lebih Baik
  • Ijazah Asli (KataPolisi), Proses Masih Abu-Abu

Ketiga, mengelola koalisi dengan tegas. Prabowo memang memimpin koalisi besar, tetapi ia harus mampu menyeimbangkan berbagai kepentingan tanpa kehilangan kendali. Jika tidak, ia akan terus terlihat sebagai presiden yang lebih banyak mengikuti arus daripada mengendalikan arah.

Keempat, membuktikan kepemimpinan dengan kebijakan nyata. Alih-alih sibuk dengan tarik-ulur kekuasaan antara Jokowi dan Megawati, Prabowo seharusnya fokus pada kebijakan-kebijakan yang membuktikan bahwa ia memiliki visi sendiri untuk Indonesia.

Saat ini, Prabowo berada di persimpangan sejarah. Ia bisa memilih untuk menjadi pemimpin yang kuat dan mandiri, atau terus berada dalam orbit kekuasaan lama.

Jika ia terus membiarkan Jokowi mengambil peran dominan dalam kebijakan pemerintahan, maka wibawanya sebagai presiden akan terus dipertanyakan. Masyarakat tidak hanya ingin melihat kontinuitas pemerintahan, tetapi juga kepemimpinan yang tegas dan jelas arahnya.

Jangan Lewatkan:
  • Rombak Kabinet, Reformasi Aparat
  • Terpidana Dilindungi, Hukum Dipermalukan
  • Kekalahan RIDO: Pelajaran dari Jakarta
  • War Ticket: Ilusi Akses Setara

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar yang muncul dari polemik ini bukanlah apakah kepala daerah harus menghadiri retret di Magelang atau tidak. Pertanyaan sebenarnya adalah: siapa yang benar-benar memimpin Indonesia saat ini?

Jokowi Kepemimpinan Nasional Megawati Soekarnoputri Prabowo Subianto Retret Magelang
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleBupati Kukar: Posyandu Jadi Garda Terdepan Cegah Stunting
Next Article Menjaga Privasi: Kunci Hidup Damai dan Bebas Drama

Informasi lainnya

Donny Ermawan, Nahkoda Pertama Universitas Republik Indonesia

23 Juli 2026

Mengapa Universitas Republik Indonesia Jadi Sorotan?

23 Juli 2026

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Yang Mau Lanjutkan Bangun IKN, Silakan Patungan

Editorial Udex Mundzir

Omong Kosong Industri Kreatif

Editorial Udex Mundzir

Surah Al-Ma’un, Intisari dan Penjelasan Mendalam

Islami Udex Mundzir

Kegaduhan yang Disengaja

Editorial Udex Mundzir

Pegeseran Makna Staycation dan Arti Sebenarnya

Happy Alfi Salamah
Berita Lainnya
Global
Ericka10 Mei 2023

Tradisi Poligami Raja-Raja Arab Saudi dalam Mempersatukan Negara

Gus Iqdam Mengaku Dipersekusi Petugas Imigrasi Bandara Soekarno Hatta

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Disbun Kaltim Sambut Hangat Kontingen MTQ Nasional XXX dari Provinsi Riau

Hari Konservasi Dunia, Saatnya Menjaga Bumi

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Produk Dapur Terlaris Mic Wireless Untuk Masjid
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi