Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Jakarta Darurat Sampah, Pencegahan Jadi Kunci

Jejak Stonehenge Ternyata Bermula dari Wales?

Tradwife Kembali Ramai, Pilihan atau Romantisasi?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Sabtu, 5 September 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Demokrasi Tak Boleh Kalah Oleh Lumpur

Jika satu suara gugur di jalan rusak dan hujan deras, maka negara gagal menjaga martabat pemilu yang setara.
Udex MundzirUdex Mundzir18 April 2025 Editorial
PSU
Ilustrasi Pemungutan Suara Ulang (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Pemungutan Suara Ulang (PSU) di Tasikmalaya kembali menjadi cermin buram wajah demokrasi kita. Di tiga desa terpencil—Ciheuras, Pameutingan, dan Parentas—proses distribusi logistik bukan hanya soal teknis. Ini soal keseriusan negara memastikan bahwa hak pilih tidak kandas di tikungan curam dan jalan licin.

KPU Kabupaten Tasikmalaya menyebutkan bahwa akses ke beberapa TPS hanya bisa ditempuh dengan motor trail atau kendaraan 4×4. Bukan karena kita hidup di abad ke-19. Tapi karena infrastruktur kita masih tertinggal, bahkan di pulau Jawa yang katanya paling maju.

Warga pun paham bahwa pemilu bukan sekadar hari coblos. Tapi mereka juga tahu, dari masa ke masa, suara yang mereka berikan belum pernah betul-betul mengubah hidup mereka.

“Kalau musim hujan mah, jalannya licin pisan. Tapi mun logistik kudu diangkut, urang siap ngabantu,” kata Eman, warga Kampung Buligir. Nada bicaranya optimis, meski nada itu tak bisa menutupi getir ketertinggalan.

Tapi tidak semua punya semangat serupa. Di Cisayong, Rohayati, seorang ibu rumah tangga, menyampaikan nada yang kontras.

“Hayu weh nyoblos, da ti baheula ogé taya parobahan. Urang mah biasa bae,” ujarnya lirih.

Inilah realitas yang sering diabaikan. Di balik jargon partisipasi, ada kejenuhan. Di balik semangat demokrasi, ada keraguan. Bukan karena warga tidak cinta tanah air, tapi karena negara terlalu sering menjanjikan, dan terlalu jarang menepati.

Baca Juga:
  • Larangan Study Tour: Solusi atau Masalah Baru?
  • Bukan Lalai, Tapi Sinyal Korupsi
  • Ijazah Jokowi dan Dagelan Akademik
  • Bersihkan Warisan Kabinet Jokowi

Distribusi logistik pemilu seharusnya bukan perkara improvisasi musiman. Ini adalah indikator dasar kapasitas negara. Bila satu TPS gagal menerima logistik tepat waktu, maka konsekuensinya bukan hanya administratif, tapi politis.

Publik bisa curiga. Sengketa bisa muncul. Dan lebih buruk, legitimasi hasil pemilu bisa terganggu.

KPU memang sudah menyiapkan skenario alternatif. Termasuk antisipasi cuaca ekstrem, perubahan lokasi TPS, hingga pelaporan manual di wilayah blank spot. Tapi sampai kapan solusi darurat terus jadi andalan?

Masalah jaringan, medan ekstrem, dan kendaraan khusus seharusnya bukan lagi berita. Sudah lebih dari dua dekade kita menyelenggarakan pemilu demokratis. Tapi medan yang sama, tantangan yang sama, selalu berulang.

Apakah ini kekurangan dana? Atau kekurangan perhatian?

Jangan lupa, PSU ini digelar karena Pilkada sebelumnya dibatalkan Mahkamah Konstitusi. Artinya, daerah ini sudah terluka oleh kesalahan sistem. Maka PSU bukan hanya soal mengulang teknis. Tapi soal mengembalikan kepercayaan.

Jika warga di kota besar bisa mencoblos dengan nyaman, maka warga di bukit terpencil pun berhak atas kenyamanan yang sama.

Artikel Terkait:
  • Jangan Serahkan Pendidikan ke Negara yang Tak Konsisten
  • Prabowo-Gibran dan Propaganda 78% Publik Puas
  • Merince Kogoya dan Batas Ekspresi
  • Obsesi IQ yang Keliru Arah

Seorang tokoh masyarakat di Desa Parentas mengungkapkan hal senada. “Kami ini orang kampung, tapi kami juga manusia. Jangan karena kami jauh, jadi diperlakukan seperti nomor dua,” ujarnya dengan nada pelan, namun tajam.

Ironisnya, elite politik yang haus suara di musim kampanye, nyaris tak bersuara soal PSU. Mereka sibuk menyusun strategi pemenangan nasional, sementara warga desa harus menapak lumpur agar suaranya dihitung.

Kita tidak bisa berharap kepercayaan publik akan tumbuh dari proses yang setengah hati. Ketika satu suara bisa menyelamatkan atau menjatuhkan calon, maka satu TPS pun tak boleh dianggap remeh.

Distribusi logistik adalah tulang punggung demokrasi. Gagal di sini, runtuhlah keadilan pemilu.

Pemerintah pusat dan daerah harus menaruh perhatian serius. Bukan hanya untuk PSU di Tasikmalaya, tapi untuk semua wilayah terpencil. Infrastruktur demokrasi harus setara. Jika tidak, maka suara desa akan terus tenggelam di balik hiruk pikuk kota.

PSU ini adalah panggung ujian, bukan hanya bagi KPU. Tapi juga bagi negara.

Jangan Lewatkan:
  • Generasi Emas, Fondasi Kelas Kacau
  • Kabut Dalang, Gagalnya Aparat
  • Selamat Tinggal Agustus Kelabu: Tinggalkan Joget-joget di Istana
  • Tantangan Representasi atau Simbolisme?

Apakah negara masih mau melindungi suara warganya hingga pelosok terakhir?

Ataukah demokrasi hanya slogan yang berhenti di jalan beraspal?

Demokrasi Desa Terpencil Distribusi Logistik Hak Pilih Warga KPU Kabupaten Tasikmalaya PSU Tasikmalaya
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleBupati Kukar Dorong Pemuda KNPI Berinovasi di Sektor Pertanian
Next Article Indonesia Jadi Negara Pertama yang Diterima AS Bahas Tarif Impor

Informasi lainnya

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Keajaiban Nenek 95 Tahun Tawaf dan Sai Mandiri di Musim Haji

Islami Alfi Salamah

Negara Diam, Judi Online Merajalela

Editorial Udex Mundzir

Kisah Inspiratif Pria 39 Tahun Mengabdi di Pabrik Kiswah Ka’bah

Islami Alfi Salamah

Omong Kosong Industri Kreatif

Editorial Udex Mundzir

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Tugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’

Gunung Raung Erupsi, Warga Diminta Jauhi Kawah dalam Radius Tiga Kilometer

Prioritas Silaturahmi Lebaran, Siapa Didahulukan?

Kebun Mini Super Kilat di Rumah

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Produk Dapur Terlaris Mic Wireless Untuk Masjid
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi