Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Ilmu Bukan Sekadar Mesin Industri

Izzuddin Al-Qassam, Ulama yang Menggerakkan Perlawanan

Indonesia Jadi Tuan Rumah Forum Imam Dunia 2026

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Selasa, 28 April 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Bersih-Bersih Kabinet Prabowo Dimulai

Perombakan kabinet bukan sekadar bongkar pasang kursi, melainkan ujian arah kekuasaan dan konsolidasi politik di tengah pusaran kepentingan lama dan baru.
Udex MundzirUdex Mundzir9 September 2025 Editorial
Pelantikan
Presiden Prabowo Subianto melantik jajaran menteri baru (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Bersih-bersih kabinet Prabowo akhirnya benar-benar dimulai. Pada 8 September 2025, Presiden Prabowo Subianto resmi merombak kabinet Merah Putih dengan mengganti lima menteri sekaligus.

Keputusan ini menandai titik balik penting dalam masa pemerintahannya yang baru berjalan beberapa bulan. Figur-figur kunci yang erat dengan pemerintahan sebelumnya, seperti Sri Mulyani Indrawati dan Budi Gunawan, resmi dicopot.

Perombakan ini tidak hadir di ruang hampa. Gelombang protes nasional akibat kebijakan tunjangan rumah DPR yang memicu bentrokan hingga jatuh korban jiwa memperlihatkan betapa rapuhnya legitimasi awal pemerintahan.

Badai politik yang menyusul membuat publik menaruh perhatian serius pada langkah-langkah Prabowo berikutnya. Dengan mencopot menteri-menteri lama, pesan yang ingin disampaikan jelas: ia sedang mengukuhkan kendali penuh atas arah pemerintahan.

Namun reshuffle besar ini juga membuka bab baru. Sosok yang menggantikan para menteri lama sebagian besar adalah orang-orang yang dekat dengan lingkaran politik Prabowo.

Purbaya Yudhi Sadewa masuk menggantikan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan. Mukhtarudin dipercaya memimpin Kementerian Perlindungan Pekerja Migran. Ferry Juliantono menakhodai Kementerian Koperasi.

Selain itu, Kementerian Haji dan Umrah dibentuk dengan Mochamad Irfan Yusuf sebagai menteri, didampingi Dahnil Anzar Simanjuntak sebagai wakil menteri.

Langkah ini menunjukkan pola klasik: konsolidasi melalui loyalitas. Dalam politik Indonesia, kesetiaan personal sering lebih penting dibanding rekam jejak teknokratis.

Kritik pun bermunculan. Sebagian kalangan menilai perombakan ini lebih berorientasi pada kepentingan politik dibanding kepentingan publik.

Apalagi, pencopotan tokoh teknokrat seperti Sri Mulyani dianggap sebagai sinyal mundurnya peran profesionalisme dalam kebijakan ekonomi nasional.

Sementara itu, isu semakin melebar ke menteri-menteri lain yang masih dianggap “warisan Jokowi”. Nama Tito Karnavian, Listyo Sigit Prabowo, Erick Thohir, hingga Luhut Binsar Panjaitan ikut disebut dalam spekulasi publik sebagai target berikutnya.

Baca Juga:
  • Pilkada Jakarta: Gugat Aja Dulu
  • Kebebasan Pers yang Dikikis Diam-Diam
  • UI di Puncak Ranking, Tercoreng Predator Tambang
  • Tabrani dan Jejak Madura untuk Bangsa

Sejumlah pengamat, termasuk dari Indonesia Political Review, bahkan terang-terangan meminta Tito diberhentikan. Alasan yang diangkat adalah kebijakan kontroversial pemindahan administrasi empat pulau ke Sumatera Utara yang dianggap rawan konflik horizontal.

Di titik inilah, bersih-bersih kabinet Prabowo tidak bisa dilepaskan dari dinamika perebutan pengaruh pasca Jokowi. Sebagian publik melihat ini sebagai upaya memutus mata rantai “Geng Solo” yang dituding masih kuat mengendalikan jalannya pemerintahan.

Akan tetapi, politik Indonesia tidak sesederhana hitam dan putih. Banyak dari figur lama masih memegang kendali di birokrasi maupun ekonomi.

Menggeser mereka bukan hanya soal tanda tangan keputusan, melainkan juga soal risiko fragmentasi politik.

Lebih pelik lagi, situasi ini terjadi ketika Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menghadapi gugatan hukum serius terkait ijazah SMA. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sedang memeriksa perkara yang bisa mengguncang legitimasi formal Gibran.

Jika Prabowo goyah oleh manuver politik atau tekanan internal, maka Gibran otomatis menjadi penggantinya. Kombinasi reshuffle kabinet dan gugatan terhadap Wapres inilah yang menimbulkan spekulasi tentang potensi manuver kelompok lama yang tidak rela kehilangan kendali.

Dari sisi hukum, gugatan terhadap Gibran memang masih dalam tahap awal. Namun nilai tuntutan yang fantastis—Rp 125 triliun—dan narasi soal syarat pendidikan menambah dimensi dramatis pada konflik politik nasional.

Istana berusaha meredam dengan menyebut gugatan itu tidak layak ditanggapi serius. Tetapi sejarah politik Indonesia menunjukkan bahwa celah hukum kerap digunakan sebagai alat tawar dalam pertarungan kekuasaan.

Dalam perspektif sosial, langkah bersih-bersih ini menimbulkan rasa cemas sekaligus harapan. Di satu sisi, masyarakat menanti arah baru yang lebih bersih dari praktik lama.

Di sisi lain, publik khawatir perubahan ini hanya akan mengganti satu lingkaran kekuasaan dengan lingkaran yang lain, tanpa membawa perbaikan nyata.

Jika menteri-menteri teknokrat diganti dengan loyalis politik, maka risiko kebijakan yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat justru meningkat.

Artikel Terkait:
  • Angin Segar bagi Narapidana
  • Riset Murah, Mimpi Besar
  • Populer, Bukan Baik: Demokrasi yang Terjebak
  • Tarif Trump: Senjata Makan Tuan

Dari sisi ekonomi, pergeseran kursi di Kementerian Keuangan adalah pukulan besar. Sri Mulyani selama ini dianggap sebagai simbol stabilitas fiskal dan kredibilitas di mata internasional.

Pasar keuangan tentu akan menunggu langkah penggantinya, Purbaya Yudhi Sadewa, apakah mampu menjaga defisit dan utang negara tetap terkendali. Investor asing pun menilai stabilitas politik sebagai faktor penting.

Sehingga konsolidasi politik Prabowo akan diuji tidak hanya oleh lawan domestik, tetapi juga oleh mata global.

Dalam konteks budaya politik, fenomena ini memperlihatkan betapa rapuhnya tradisi kelembagaan di Indonesia. Sistem masih berputar di sekitar figur kuat, bukan mekanisme institusional yang mapan.

Inilah yang membuat transisi dari satu presiden ke presiden berikutnya selalu sarat intrik. Bersih-bersih kabinet Prabowo menjadi cermin bahwa demokrasi Indonesia masih diwarnai pertarungan personal antar elite, bukan pertarungan gagasan.

Apa yang seharusnya dilakukan? Pertama, Prabowo harus memastikan bahwa reshuffle bukan sekadar balas budi atau pemangkasan lawan, melainkan langkah menuju pemerintahan yang lebih efektif.

Transparansi dalam pemilihan menteri sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik. Kedua, keberanian mengganti menteri harus diimbangi dengan keberanian memperkuat institusi.

Reformasi birokrasi yang sungguh-sungguh jauh lebih penting ketimbang sekadar mengganti kepala kementerian.

Jangan Lewatkan:
  • Negeri Pungli dan Pajak Tinggi
  • Pancasila Bukan Milik Satu Nama
  • Jangan Lupa! Palestina Dirampas, Israel Berdiri
  • Rupiah Terjun Bebas, Ekonomi ke Mana?

Ketiga, Prabowo perlu mengelola hubungan dengan wakilnya, Gibran, dengan kehati-hatian tinggi. Polemik hukum harus ditangani secara adil, tanpa intervensi politik, agar tidak memperburuk krisis kepercayaan.

Pada akhirnya, bersih-bersih kabinet adalah langkah awal, bukan akhir. Keberhasilan langkah ini akan dinilai dari apakah kebijakan pemerintah menjadi lebih responsif terhadap rakyat, atau justru makin terjebak dalam kubangan politik transaksional.

Jika bersih-bersih hanya berakhir sebagai konsolidasi kelompok baru, maka publik akan kembali kecewa. Tetapi jika benar-benar dijadikan momentum untuk menata ulang arah kebijakan, maka reshuffle ini bisa menjadi fondasi bagi pemerintahan yang lebih kokoh.

Editorial ini menegaskan: konsolidasi kekuasaan memang penting, tetapi lebih penting lagi memastikan bahwa kekuasaan itu digunakan untuk kepentingan rakyat, bukan sekadar alat melanggengkan kelompok tertentu.

Bersih-Bersih Prabowo Gugatan Gibran Krisis Politik Politik Nasional Reshuffle Kabinet
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticlePurbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan Baru
Next Article Waspadai, Purbaya Anak Buah Luhut

Informasi lainnya

Ilmu Bukan Sekadar Mesin Industri

27 April 2026

Batas Kuasa, Uji Demokrasi

26 April 2026

e-KTP: Teknologi Tanpa Arah

25 April 2026

Ikan Sapu-Sapu dan Krisis Sunyi

23 April 2026

UKT dan Ilusi Kesejahteraan ASN

19 April 2026

War Ticket: Ilusi Akses Setara

12 April 2026
Paling Sering Dibaca

Ilmu yang Terasing di Negeri Sendiri

Editorial Udex Mundzir

Menjaga Lisan

Islami Syamril Al-Bugisyi

Shin Tae Yong Beri Dampak Positif pada Sepak Bola Indonesia

Kroscek Alfi Salamah

Peran dan Pengaruh Kucing dalam Film, Buku, dan Musik

Opini Alfi Salamah

Cara Penyembelihan atau Mematikan Hewan Menurut Syariat Islam, Pelaksanaan Qurban di Hari Iduladha

Islami Udex Mundzir
Berita Lainnya
Pendidikan
Alfi Salamah21 April 2026

Empat Tim Mahasiswa UT dari Pesantren Khalifa Lolos Pendanaan Riset

Alumni SMAN 1 Cisayong Lolos Seleksi Program Pendanaan Penelitian Mahasiswa Universitas Terbuka 2026

5 E-Commerce Dominasi Pasar Usai Bukalapak Tutup Layanan

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Ledakan Ikan Sapu-sapu, Jakarta Cari Cara Ampuh

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi