Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

JPU: Vonis Nadiem Kembalikan Hak Anak Sekolah

Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun dalam Kasus Chromebook

Venezuela Diguncang Dua Gempa dalam 39 Detik, Korban Berjatuhan

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 2 Juli 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Menag di Vatikan: Diplomasi Iman dan Kemanusiaan

Ketika perbedaan bukan tembok pemisah, tetapi jembatan yang menghubungkan nurani dunia.
Udex MundzirUdex Mundzir26 Oktober 2025 Editorial
Meteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar dalam Pertemuan Internasional untuk Perdamaian diselenggarakan oleh Komunitas Sant' Egidio di Vatikan
Meteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar dalam Pertemuan Internasional untuk Perdamaian diselenggarakan oleh Komunitas Sant' Egidio di Vatikan (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Langkah kecil di Roma bisa bermakna besar bagi wajah kemanusiaan Indonesia. Kehadiran Menteri Agama Nasaruddin Umar di Vatikan untuk menghadiri Pertemuan Internasional untuk Perdamaian bukan sekadar perjalanan diplomatik, tetapi pernyataan moral: bahwa Indonesia, negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, mampu berdiri sejajar di forum lintas agama dunia untuk berbicara tentang kemanusiaan.

Di saat banyak bangsa masih terjebak dalam politik identitas dan konflik berbasis agama, langkah Nasaruddin ke Koloseum—tempat bersejarah yang dulu menyaksikan pertarungan manusia melawan manusia—menjadi simbol penting. Kini di tempat itu, justru dibicarakan tentang perdamaian, kasih, dan persaudaraan universal.

Pertemuan yang diselenggarakan oleh Komunitas Sant’Egidio ini selalu menjadi wadah bagi tokoh-tokoh lintas iman dunia untuk menegaskan kembali nilai kemanusiaan. Dan kali ini, suara dari Jakarta kembali terdengar di Vatikan.

Bagi Indonesia, forum seperti ini bukan hal baru. Tapi yang membuatnya istimewa adalah konteksnya. Tahun 2024, Paus Fransiskus pernah mengunjungi Masjid Istiqlal dan menandatangani Deklarasi Istiqlal bersama Nasaruddin Umar—sebuah deklarasi yang menegaskan pentingnya dialog lintas agama, perlindungan lingkungan, dan kemanusiaan universal. Kini, setelah kepergian Paus Fransiskus, Menag datang membawa semangat yang sama: melanjutkan warisan moral seorang pemimpin agama yang mencintai keberagaman.

Dalam pernyataannya di Roma, Nasaruddin menyebut bahwa “kemanusiaan hanya memiliki satu warna.” Kalimat itu mungkin sederhana, tapi di tengah dunia yang terbelah oleh agama, ras, dan ideologi, pernyataan itu adalah perlawanan terhadap fragmentasi moral global.

Di balik diplomasi itu, ada pesan kuat tentang soft power Indonesia. Di tengah krisis moral global dan meningkatnya politik kebencian, Indonesia hadir bukan dengan kekuatan ekonomi atau militer, tapi dengan modal sosial—toleransi dan dialog. Nilai ini bukan basa-basi diplomatik; ia lahir dari pengalaman bangsa yang telah berabad-abad hidup dalam perbedaan.

Baca Juga:
  • Israel vs Iran: Medan Dominasi, Bukan Lagi Proxy
  • Kebakaran di Kementerian ATR/BPN: Asap Padam, Kecurigaan Membara
  • PKS dan Strategi Politik yang Memukul Balik
  • Gaduh Ijazah dan Politik Adu Domba

Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” bukan sekadar slogan di Garuda, tetapi fondasi yang menjadikan Indonesia relevan di forum seperti ini. Di saat dunia mencari cara untuk menyatukan perbedaan, Indonesia justru sudah lama hidup bersamanya.

Langkah Nasaruddin Umar juga mempertegas wajah baru diplomasi Indonesia: lebih lembut, humanis, dan spiritual. Diplomasi yang tidak hanya menyoal perdagangan atau perbatasan, tetapi menyentuh akar terdalam hubungan antarbangsa—yakni kemanusiaan.

Hal ini penting, karena dunia sedang menghadapi krisis yang bukan semata ekonomi atau politik, tetapi krisis makna. Konflik Gaza, perang di Ukraina, ancaman ekstremisme di berbagai tempat, dan perubahan iklim menunjukkan satu hal: manusia semakin kehilangan empati. Dalam konteks itu, forum lintas iman seperti di Vatikan bukan sekadar seremoni, melainkan terapi moral global.

Nasaruddin, yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal, tampil sebagai representasi wajah Islam Indonesia—moderat, terbuka, dan dialogis. Islam yang tidak menolak dunia, tetapi mengajaknya berbicara dengan cara yang beradab. Islam yang tidak berteriak di jalan, tapi bersuara di forum dunia.

Ketika di Koloseum para pemimpin agama berbicara tentang perdamaian, tarian adat Indonesia yang ditampilkan oleh Komunitas Kebaya Menari menjadi pengingat bahwa budaya bisa menjadi bahasa universal perdamaian. Seni, agama, dan kemanusiaan bersatu dalam satu bingkai: menghormati kehidupan.

Artikel Terkait:
  • Orde Baru Jauh Lebih Baik
  • Lumbung Korupsi dalam Demokrasi yang Terganjal
  • Pajak: Cermin Keberlanjutan atau Beban Tanpa Akhir?
  • Selamat Tinggal Agustus Kelabu: Tinggalkan Joget-joget di Istana

Di titik ini, kehadiran Menag bukan hanya membawa nama Indonesia, tetapi juga menghidupkan kembali pesan Paus Fransiskus: “Kita semua saudara.” Dan pesan itu menemukan gema alaminya dalam prinsip Indonesia: “Berbeda-beda tetapi tetap satu.”

Namun, tugas belum selesai. Kehadiran di Vatikan harus menjadi lebih dari sekadar simbol diplomasi. Pemerintah Indonesia perlu memastikan bahwa semangat Deklarasi Istiqlal tidak berhenti di ruang konferensi. Dialog antariman harus diterjemahkan ke dalam kebijakan nyata: perlindungan rumah ibadah, pendidikan toleransi di sekolah, dan pencegahan ujaran kebencian di ruang digital.

Indonesia punya peluang menjadi jembatan moral dunia. Tapi jembatan itu harus dijaga: dengan integritas, dengan konsistensi, dan dengan tindakan yang selaras antara kata dan perbuatan.

Langkah kaki Menag di Roma hanyalah awal. Tantangan sesungguhnya adalah membawa semangat Vatikan kembali ke Tanah Air, di mana perbedaan sering kali masih menjadi bahan bakar konflik.

Jangan Lewatkan:
  • Ilmu Bukan Sekadar Mesin Industri
  • Kabut Dalang, Gagalnya Aparat
  • Benturan Kekuasaan dan Kemanusiaan
  • Kenaikan Harga BBM dan Tantangan Ketahanan Energi

Ketika dunia semakin bising dengan suara politik yang keras, barangkali suara lembut dari Koloseum justru yang paling kita butuhkan. Suara yang mengingatkan bahwa kemanusiaan tidak punya agama, dan perdamaian tidak punya sekat.

Dialog Antariman Diplomasi Agama Nasaruddin Umar Perdamaian Dunia Vatikan
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleKetika Relawan Butuh Akal Sehat, Bukan Sekadar Semangat
Next Article Larangan Baju Bekas: Tegas Boleh, Serampangan Jangan

Informasi lainnya

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Istiqlal Jadi Tuan Rumah MTQ Tujuh Negara

7 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Tips Menghemat Tenaga Bagi Jamaah Menuju Puncak Haji

Islami Alfi Salamah

Kosakata Hari yang Jarang Diketahui Masyarakat

Daily Tips Udex Mundzir

Kegaduhan yang Disengaja

Editorial Udex Mundzir

RK vs Lisa: Viral yang Disusun Rapi

Editorial Udex Mundzir

Menghargai Waktu

Islami Syamril Al-Bugisyi
Berita Lainnya
Hukum
Lisda Lisdiawati11 Januari 2026

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Gelombang PHK Global 2025: Amazon hingga Nestlé Pangkas Ribuan Pekerja

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Malaysia Susah Payah Kalahkan Timor Leste di Piala AFF

Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun dalam Kasus Chromebook

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Perlengkapan Pramuka Lengkap Mic Wireless Untuk Masjid Alat Tulis Sekolah Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi