Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Dolar AS Sentuh Rp17.700, Rupiah Makin Tertekan

BSI Scholarship Dibuka, Ribuan Pelajar Dibidik

Musim Nobar Pesta Babi Diatur Lewat Pendaftaran

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Sabtu, 23 Mei 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Menag di Vatikan: Diplomasi Iman dan Kemanusiaan

Ketika perbedaan bukan tembok pemisah, tetapi jembatan yang menghubungkan nurani dunia.
Udex MundzirUdex Mundzir26 Oktober 2025 Editorial
Meteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar dalam Pertemuan Internasional untuk Perdamaian diselenggarakan oleh Komunitas Sant' Egidio di Vatikan
Meteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar dalam Pertemuan Internasional untuk Perdamaian diselenggarakan oleh Komunitas Sant' Egidio di Vatikan (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Langkah kecil di Roma bisa bermakna besar bagi wajah kemanusiaan Indonesia. Kehadiran Menteri Agama Nasaruddin Umar di Vatikan untuk menghadiri Pertemuan Internasional untuk Perdamaian bukan sekadar perjalanan diplomatik, tetapi pernyataan moral: bahwa Indonesia, negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, mampu berdiri sejajar di forum lintas agama dunia untuk berbicara tentang kemanusiaan.

Di saat banyak bangsa masih terjebak dalam politik identitas dan konflik berbasis agama, langkah Nasaruddin ke Koloseum—tempat bersejarah yang dulu menyaksikan pertarungan manusia melawan manusia—menjadi simbol penting. Kini di tempat itu, justru dibicarakan tentang perdamaian, kasih, dan persaudaraan universal.

Pertemuan yang diselenggarakan oleh Komunitas Sant’Egidio ini selalu menjadi wadah bagi tokoh-tokoh lintas iman dunia untuk menegaskan kembali nilai kemanusiaan. Dan kali ini, suara dari Jakarta kembali terdengar di Vatikan.

Bagi Indonesia, forum seperti ini bukan hal baru. Tapi yang membuatnya istimewa adalah konteksnya. Tahun 2024, Paus Fransiskus pernah mengunjungi Masjid Istiqlal dan menandatangani Deklarasi Istiqlal bersama Nasaruddin Umar—sebuah deklarasi yang menegaskan pentingnya dialog lintas agama, perlindungan lingkungan, dan kemanusiaan universal. Kini, setelah kepergian Paus Fransiskus, Menag datang membawa semangat yang sama: melanjutkan warisan moral seorang pemimpin agama yang mencintai keberagaman.

Dalam pernyataannya di Roma, Nasaruddin menyebut bahwa “kemanusiaan hanya memiliki satu warna.” Kalimat itu mungkin sederhana, tapi di tengah dunia yang terbelah oleh agama, ras, dan ideologi, pernyataan itu adalah perlawanan terhadap fragmentasi moral global.

Di balik diplomasi itu, ada pesan kuat tentang soft power Indonesia. Di tengah krisis moral global dan meningkatnya politik kebencian, Indonesia hadir bukan dengan kekuatan ekonomi atau militer, tapi dengan modal sosial—toleransi dan dialog. Nilai ini bukan basa-basi diplomatik; ia lahir dari pengalaman bangsa yang telah berabad-abad hidup dalam perbedaan.

Baca Juga:
  • Jangan Lupa! Palestina Dirampas, Israel Berdiri
  • Jurnalisme di Bawah Bayang Algoritma
  • Jokowi Ingin Pegang Partai Anak?
  • Untuk Apa Kenaikan UMP 6,5% Itu?

Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” bukan sekadar slogan di Garuda, tetapi fondasi yang menjadikan Indonesia relevan di forum seperti ini. Di saat dunia mencari cara untuk menyatukan perbedaan, Indonesia justru sudah lama hidup bersamanya.

Langkah Nasaruddin Umar juga mempertegas wajah baru diplomasi Indonesia: lebih lembut, humanis, dan spiritual. Diplomasi yang tidak hanya menyoal perdagangan atau perbatasan, tetapi menyentuh akar terdalam hubungan antarbangsa—yakni kemanusiaan.

Hal ini penting, karena dunia sedang menghadapi krisis yang bukan semata ekonomi atau politik, tetapi krisis makna. Konflik Gaza, perang di Ukraina, ancaman ekstremisme di berbagai tempat, dan perubahan iklim menunjukkan satu hal: manusia semakin kehilangan empati. Dalam konteks itu, forum lintas iman seperti di Vatikan bukan sekadar seremoni, melainkan terapi moral global.

Nasaruddin, yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal, tampil sebagai representasi wajah Islam Indonesia—moderat, terbuka, dan dialogis. Islam yang tidak menolak dunia, tetapi mengajaknya berbicara dengan cara yang beradab. Islam yang tidak berteriak di jalan, tapi bersuara di forum dunia.

Ketika di Koloseum para pemimpin agama berbicara tentang perdamaian, tarian adat Indonesia yang ditampilkan oleh Komunitas Kebaya Menari menjadi pengingat bahwa budaya bisa menjadi bahasa universal perdamaian. Seni, agama, dan kemanusiaan bersatu dalam satu bingkai: menghormati kehidupan.

Artikel Terkait:
  • Ijazah Pejabat Harus Diverifikasi Ulang
  • Trump Berlagak Pahlawan Tapi Kesiangan
  • Tabrani dan Jejak Madura untuk Bangsa
  • UI di Puncak Ranking, Tercoreng Predator Tambang

Di titik ini, kehadiran Menag bukan hanya membawa nama Indonesia, tetapi juga menghidupkan kembali pesan Paus Fransiskus: “Kita semua saudara.” Dan pesan itu menemukan gema alaminya dalam prinsip Indonesia: “Berbeda-beda tetapi tetap satu.”

Namun, tugas belum selesai. Kehadiran di Vatikan harus menjadi lebih dari sekadar simbol diplomasi. Pemerintah Indonesia perlu memastikan bahwa semangat Deklarasi Istiqlal tidak berhenti di ruang konferensi. Dialog antariman harus diterjemahkan ke dalam kebijakan nyata: perlindungan rumah ibadah, pendidikan toleransi di sekolah, dan pencegahan ujaran kebencian di ruang digital.

Indonesia punya peluang menjadi jembatan moral dunia. Tapi jembatan itu harus dijaga: dengan integritas, dengan konsistensi, dan dengan tindakan yang selaras antara kata dan perbuatan.

Langkah kaki Menag di Roma hanyalah awal. Tantangan sesungguhnya adalah membawa semangat Vatikan kembali ke Tanah Air, di mana perbedaan sering kali masih menjadi bahan bakar konflik.

Jangan Lewatkan:
  • Mike Tyson vs Jake Paul, Duel Fenomenal untuk Konten YouTube!
  • Meski Terlambat, Tetap Harus Dipercepat
  • Pilwalkot Samarinda 2024: Formalitas Saja
  • Demokrasi Tak Boleh Kalah Oleh Lumpur

Ketika dunia semakin bising dengan suara politik yang keras, barangkali suara lembut dari Koloseum justru yang paling kita butuhkan. Suara yang mengingatkan bahwa kemanusiaan tidak punya agama, dan perdamaian tidak punya sekat.

Dialog Antariman Diplomasi Agama Nasaruddin Umar Perdamaian Dunia Vatikan
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleKetika Relawan Butuh Akal Sehat, Bukan Sekadar Semangat
Next Article Larangan Baju Bekas: Tegas Boleh, Serampangan Jangan

Informasi lainnya

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Istiqlal Jadi Tuan Rumah MTQ Tujuh Negara

7 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026

MBG dan Risiko Cobra Effect

4 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Larangan Study Tour: Solusi atau Masalah Baru?

Editorial Udex Mundzir

Rakyat Jabar Dijadikan Figuran “Bapak Aing”

Opini Lina Marlina

Kunci Hidup Tenang: Belajar Bertanggung Jawab pada Diri Sendiri

Happy Assyifa

Siapa Kenyang dari Proyek Makan Bergizi?

Editorial Udex Mundzir

Rekomendasi Menu untuk Mengelola Daging Qurban

Islami Alfi Salamah
Berita Lainnya
Hukum
Assyifa8 Maret 2025

Modus Penipuan Catut Nama Bank Marak, Waspadai Taktik Baru

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

BNPB Minta Evaluasi Sistem Peringatan Tsunami Daerah

Pemerintah Tetapkan Lebaran 2026 Jatuh 21 Maret

Musim Nobar Pesta Babi Diatur Lewat Pendaftaran

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Mic Wireless Untuk Masjid Buku Anak Islami Murah Perlengkapan Pramuka Lengkap
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi