Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Kemarau Ubah Situ Gede Tasikmalaya Jadi Hamparan Rumput Hijau

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

Mengapa Sungai Indonesia Cepat Kotor? Ini Penjelasan Ahli

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Jumat, 24 Juli 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

UU TNI Disahkan, Sipil Terancam Diam

Ketika niat baik dibungkus revisi, dan pasal bermasalah lolos diam-diam, publik harus sadar: demokrasi bisa mati dalam senyap.
Udex MundzirUdex Mundzir24 Maret 2025 Editorial
UU TNI,Militerisasi Sipil,Demokrasi Indonesia,Politik Sipil,Reformasi 1998,
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoedin bersama pimpinan DPR (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Revisi Undang-Undang TNI resmi disahkan DPR pada 20 Maret 2025. Pemerintah menyambutnya dengan narasi “niat baik” dan optimisme sipil-militer. Tapi bagi masyarakat sipil, ini alarm bahaya.

Tiga pasal krusial dalam revisi disorot keras. Pertama, Pasal 7 tentang tugas baru TNI di luar perang. Kedua, Pasal 47 yang memperluas penempatan prajurit aktif di jabatan sipil dari 10 jadi 14 instansi. Ketiga, Pasal 53 yang memperpanjang usia pensiun prajurit.

Semua pasal itu dianggap membuka ruang luas bagi dominasi militer dalam kehidupan sipil.

Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia menyebut, “semua punya niat baik”. Partainya mengklaim aktif dalam penyusunan RUU dan percaya pengawasan cukup.

Tapi masalahnya, Bahlil dan kawan-kawannya punya rekam jejak yang layak dipertanyakan. Mereka kerap memanfaatkan niat baik pihak lain untuk keuntungan pribadi dan politik.

Kepentingan rakyat terlalu sering dijadikan korban. Dijadikan tumbal demi melanggengkan kekuasaan dan kedekatan dengan elite militer.

Sayangnya, pernyataan soal “niat baik” tidak mampu meredam kecurigaan publik.

Baca Juga:
  • Bukan Vasektomi Solusinya
  • Prabowo itu Bayang-Bayang Jokowi atau Pemimpin Baru?
  • Korupsi Makan Bergizi: Kejahatan yang Harus Dihabisi
  • Jangan Lempar Beban ke Rakyat

Justru sebaliknya. Klaim itu hanya memperkuat dugaan bahwa revisi ini disahkan dalam senyap, di tengah penolakan luas masyarakat sipil dan kampus-kampus.

Ketua MPR RI dari Gerindra, Ahmad Muzani, bahkan memastikan Presiden Prabowo akan menandatangani UU tersebut. Meski tidak menjelaskan kapan.Ia membantah revisi ini membuka pintu militerisasi. Tapi faktanya, pasal-pasal yang disahkan justru memperbesar peluangnya.

Wacana dwifungsi ABRI yang dulu kita tolak kini muncul dalam bentuk baru. Diperhalus. Dilegitimasi.

Sejak disahkannya UU TNI, publik makin sulit membedakan batas sipil dan militer. Prajurit aktif bisa duduk di lembaga sipil strategis. Usia pensiun mereka diperpanjang, memperpanjang pula masa pengaruh kekuasaan.

Kritik datang dari koalisi masyarakat sipil, akademisi, dan mantan petinggi militer. Mereka menyebut revisi ini langkah mundur demokrasi.

Sementara itu, parlemen dan pemerintah berlindung di balik prosedur. Dalihnya: sudah dibahas di Panja. Sudah sah di DPR.Tapi pertanyaannya: apakah substansinya sudah menjamin demokrasi?

Kita tidak butuh niat baik jika implementasi buruk.Apakah prajurit aktif nanti akan betul-betul netral saat duduk di posisi sipil? Apakah pengawasan efektif ketika lembaga-lembaga sipil diduduki militer?

Artikel Terkait:
  • Kegaduhan yang Disengaja
  • LPDP: Hibah atau Pinjaman?
  • Garuda Pertiwi: Semangat Tanpa Batas di Balik Trofi Perdana
  • Politik Kongkow, Rakyat Menunggu

Dan bagaimana publik bisa mengawasi jika akses informasi tertutup, dan kritik dibungkam dengan label “anti-nasional”?

Sejarah memberi pelajaran penting. Dwifungsi ABRI pernah mencengkeram sendi-sendi sipil selama Orde Baru.

Dan kita berjuang keras untuk mencabut kuku itu pasca reformasi 1998.Kini, lewat revisi yang disahkan diam-diam, semua bisa kembali. Tapi kali ini dengan pakaian legal.

Demokrasi tak selalu mati dengan kudeta. Ia bisa padam dalam hening, di bawah tumpukan pasal-pasal yang terdengar sah dan niat baik.

Apa yang bisa dilakukan rakyat? Menolak lupa. Mengawasi dengan keras. Mendesak Mahkamah Konstitusi agar menguji ulang pasal-pasal bermasalah.

Jangan Lewatkan:
  • Ketika Vape Jadi Narkoba Baru
  • Pajak dan Beban Kehidupan
  • Populer, Bukan Baik: Demokrasi yang Terjebak
  • Bahlil Memang Tidak Punya Urat Malu

Koalisi sipil juga harus solid. Revisi UU ini tidak boleh jadi preseden untuk pelemahan sipil berikutnya.

Karena begitu batas sipil dan militer kabur, maka yang akan hancur bukan hanya undang-undang. Tapi ruang demokrasi kita.

Demokrasi Indonesia Militerisasi Sipil Politik Sipil Reformasi 1998 UU TNI
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleOJK Luncurkan Asuransi Emas, Lindungi Logam Mulia dan Dorong Ekonomi
Next Article Rupiah Terjun Bebas, Ekonomi ke Mana?

Informasi lainnya

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Presiden Diganti, Siapa Memimpin?

19 Juni 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Makna Idul Adha dan Sejarah Pengorbanan Nabi Ibrahim

Islami Alfi Salamah

Polres Sampang Kecolongan

Editorial Udex Mundzir

Jokowi Ingin Pegang Partai Anak?

Editorial Udex Mundzir

Biru Fund dan Masa Depan Tambak

Opini Alfi Salamah

Merince Kogoya dan Batas Ekspresi

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Daerah
Alfi Salamah19 Juli 2026

Kemarau Ubah Situ Gede Tasikmalaya Jadi Hamparan Rumput Hijau

Bahaya Tidur Terlalu Lama untuk Kesehatan Tubuh

Tradisi Poligami Raja-Raja Arab Saudi dalam Mempersatukan Negara

Pulau Natal Pernah Luput dari Republik Indonesia, Kini Milik Australia

Bukan Kutukan, Ini Penyebab Mata Kedutan Menurut Medis

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Mic Wireless Untuk Masjid Perlengkapan Pramuka Lengkap Alat Tulis Sekolah Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi