Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Mengapa Burung di Kota Semakin Jarang Terlihat?

Kenapa Kita Sering Lelah Padahal Tidur Sudah Cukup?

Tahun Ajaran Baru 2026, MPLS Ramah Jadi Wajah Baru Sekolah

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Jumat, 10 Juli 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Rupiah Terjun Bebas, Ekonomi ke Mana?

Ketika nilai tukar nyaris tembus Rp20.000 per dolar, dan pemerintah sibuk dengan kosmetik politik, rakyat dibiarkan menanggung beban tanpa kepastian.
Udex MundzirUdex Mundzir24 Maret 2025 Editorial
Pelemahan nilai tukar rupiah dan krisis ekonomi Indonesia
Ilustrasi pelemahan nilai tukar rupiah dan krisis ekonomi Indonesia (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Nilai tukar rupiah terus melemah. Pada penutupan pekan lalu, rupiah spot ditutup di angka Rp16.502 per dolar AS. Di kurs JISDOR Bank Indonesia, nilainya hanya terpaut satu poin: Rp16.501.

Namun, angka ini bukanlah yang paling mengkhawatirkan.

Analis memprediksi pelemahan bisa berlanjut hingga tembus Rp17.000 hingga Rp18.000 per dolar. Bahkan, angka psikologis Rp20.000 bukan lagi mustahil jika kondisi tak segera dibenahi.

Ancaman ini bukan sekadar spekulasi.

Lukman Leong dari Doo Financial Futures mengatakan, secara fundamental, posisi rupiah saat ini sangat rentan. Terutama karena ekonomi domestik belum pulih dan tekanan eksternal terus meningkat.

Bank Indonesia memang berupaya menahan pelemahan dengan intervensi pasar. Mereka juga mengandalkan cadangan devisa dari aturan baru DHE (Devisa Hasil Ekspor). Tapi intervensi ini sifatnya jangka pendek.

Fundamental ekonomi tak bisa dilapisi kosmetik terus-menerus.

Direktur CELIOS, Bhima Yudhistira, menyebutkan beberapa akar persoalan.

Pertama, lemahnya daya beli masyarakat.

Indikatornya jelas: impor barang konsumsi turun saat Ramadan. Penjualan kendaraan anjlok. Simpanan perorangan turun. PHK di industri padat karya melonjak.

Kedua, faktor non-ekonomi yang memperparah sentimen pasar.

Baca Juga:
  • Tegakkan Hukum, Bukan Cari Kambing Hitam
  • Koperasi Desa Tanpa Arah Nyata
  • Prabowo Tak Berani Pecat Bahlil: Stabilitas Koalisi Mengalahkan Kepentingan Rakyat
  • Celah Curang Layanan Rumah Sakit

Revisi UU TNI, yang membuka ruang militerisasi sipil, dinilai investor sebagai langkah regresif dalam tata kelola demokrasi dan hukum.

Rupiah pun langsung bereaksi negatif. Pasar tak butuh banyak waktu membaca sinyal buruk dari kebijakan politik.

Ketiga, utang negara yang mendekati Rp9.000 triliun.

Dengan nilai tukar melemah, beban bunga utang dalam dolar kian berat. Ruang fiskal mengecil. Kemampuan negara untuk mendorong pemulihan ekonomi pun semakin terbatas.

Masalahnya, di tengah situasi genting ini, pemerintah seolah tidak melihat urgensinya.

Alih-alih menyusun langkah konkret pemulihan ekonomi, energi justru dihabiskan untuk proyek politis. Seperti pembentukan lembaga baru, revisi UU yang kontroversial, dan proyek tambang yang tidak layak secara keekonomian.

Contohnya: proyek gasifikasi batu bara oleh Danantara, yang justru menakutkan investor karena berisiko tinggi dan tak efisien.

Alih-alih membangkitkan ekonomi, proyek ini justru memberi sinyal buruk ke pasar.

Bhima menegaskan, Indonesia butuh paket kebijakan ekonomi yang kuat.

Bukan hanya insentif konsumsi, tapi juga keberpihakan nyata pada industri padat karya, yang kini sekarat.

Pemerintah juga perlu menunda kebijakan distorsif yang mengacaukan pasar dan kepercayaan publik.

Artikel Terkait:
  • SPMB: Reformasi atau Sekadar Rebranding?
  • Jangan Mencari Tumbal demi Kemenangan Pilkada di Sampang
  • Ilmu Bukan Sekadar Mesin Industri
  • Serangan Fajar: Hari Tenang yang Tak Tenang

Jika tidak, bukan hanya rupiah yang terjun bebas.

IHSG pun ikut anjlok. Arus modal asing kabur. Investasi mandek. Rakyat kehilangan pekerjaan.

Ancaman ini nyata.

Dan bukan tidak mungkin, jika dibiarkan, krisis 1998 bisa terulang dalam bentuk baru.

Dengan beban utang yang lebih besar. Daya beli yang lebih rendah. Dan korupsi yang lebih terstruktur.

Tapi berbeda dengan 1998, kali ini tidak ada krisis moneter global yang bisa dijadikan kambing hitam.

Ini murni hasil tata kelola ekonomi yang gagal membaca sinyal, gagal bergerak cepat, dan terlalu sibuk bermain kuasa.

Pemerintah harus bergerak. Bukan lewat narasi optimisme palsu. Tapi lewat tindakan konkret dan keberanian menata ulang prioritas.

Indonesia tidak bisa lagi membiarkan ekonomi digerakkan oleh kepentingan elite politik dan oligarki.

Jangan Lewatkan:
  • Gubernur Bayangan di Tambang Rakyat
  • Trump Berlagak Pahlawan Tapi Kesiangan
  • Guru ASN di Sekolah Swasta
  • Selat Hormuz dan Ancaman Ekonomi Dunia

Karena ketika rupiah melemah, yang paling terdampak bukan para pejabat.

Tapi rakyat kecil.

Mereka yang membeli beras, solar, dan obat-obatan dengan harga yang terus naik karena kurs tak terkendali.

Dan ketika pemerintah tak lagi bisa menjamin stabilitas ekonomi dasar, maka kontrak sosial antara rakyat dan negara sedang berada di ambang kehancuran.

Gagalnya Pemulihan Ekonomi Kebijakan Fiskal Ketidakstabilan Pasar Krisis Ekonomi Indonesia Nilai Tukar Rupiah
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleUU TNI Disahkan, Sipil Terancam Diam
Next Article TNI Aktif di Luar 14 Lembaga Harus Mundur dari Jabatan Sipil

Informasi lainnya

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026

MBG dan Risiko Cobra Effect

4 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Waspada Belanja Online Bodong

Bisnis Alfi Salamah

Koperasi Desa atau Alat Kuasa?

Editorial Udex Mundzir

Gunung Galunggung Tetap Tenang dan Menawan

Travel Alfi Salamah

Bang Sakty: Sulit Jadi Single Bar dengan Banyaknya Organisasi Advokat 

Argumen Alwi Ahmad

Evolusi Kecerdasan Buatan: Sejarah, Tokoh Penting, dan Masa Depan

Techno Udex Mundzir
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah15 April 2026

Kenapa Ikan Sapu-Sapu Disebut Invasif? Ini Faktanya

Tradisi Poligami Raja-Raja Arab Saudi dalam Mempersatukan Negara

120 Saksi dan 4 Ahli Jadi Bukti Jerat Nadiem Makarim

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Bahaya Tidur Terlalu Lama untuk Kesehatan Tubuh

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Perlengkapan Pramuka Lengkap Mic Wireless Untuk Masjid Buku Anak Islami Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi