Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

24.200 Hektare Sawah Bandung Menuju LP2B

Bazar Murah Bandung, Berapa Warga Bisa Berhemat?

Hari Kunjung Perpustakaan, Masihkah Siswa Gemar Membaca?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 17 September 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Rupiah Terjun Bebas, Ekonomi ke Mana?

Ketika nilai tukar nyaris tembus Rp20.000 per dolar, dan pemerintah sibuk dengan kosmetik politik, rakyat dibiarkan menanggung beban tanpa kepastian.
Udex MundzirUdex Mundzir24 Maret 2025 Editorial
Pelemahan nilai tukar rupiah dan krisis ekonomi Indonesia
Ilustrasi pelemahan nilai tukar rupiah dan krisis ekonomi Indonesia (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Nilai tukar rupiah terus melemah. Pada penutupan pekan lalu, rupiah spot ditutup di angka Rp16.502 per dolar AS. Di kurs JISDOR Bank Indonesia, nilainya hanya terpaut satu poin: Rp16.501.

Namun, angka ini bukanlah yang paling mengkhawatirkan.

Analis memprediksi pelemahan bisa berlanjut hingga tembus Rp17.000 hingga Rp18.000 per dolar. Bahkan, angka psikologis Rp20.000 bukan lagi mustahil jika kondisi tak segera dibenahi.

Ancaman ini bukan sekadar spekulasi.

Lukman Leong dari Doo Financial Futures mengatakan, secara fundamental, posisi rupiah saat ini sangat rentan. Terutama karena ekonomi domestik belum pulih dan tekanan eksternal terus meningkat.

Bank Indonesia memang berupaya menahan pelemahan dengan intervensi pasar. Mereka juga mengandalkan cadangan devisa dari aturan baru DHE (Devisa Hasil Ekspor). Tapi intervensi ini sifatnya jangka pendek.

Fundamental ekonomi tak bisa dilapisi kosmetik terus-menerus.

Direktur CELIOS, Bhima Yudhistira, menyebutkan beberapa akar persoalan.

Pertama, lemahnya daya beli masyarakat.

Indikatornya jelas: impor barang konsumsi turun saat Ramadan. Penjualan kendaraan anjlok. Simpanan perorangan turun. PHK di industri padat karya melonjak.

Kedua, faktor non-ekonomi yang memperparah sentimen pasar.

Baca Juga:
  • Isu yang Dibelokkan, Aparat yang Gagal
  • Gaduh Ijazah dan Politik Adu Domba
  • Raja Kecil di Birokrasi, Prabowo Gertak Sambal?
  • Bendera Fiksi, Ketakutan Nyata

Revisi UU TNI, yang membuka ruang militerisasi sipil, dinilai investor sebagai langkah regresif dalam tata kelola demokrasi dan hukum.

Rupiah pun langsung bereaksi negatif. Pasar tak butuh banyak waktu membaca sinyal buruk dari kebijakan politik.

Ketiga, utang negara yang mendekati Rp9.000 triliun.

Dengan nilai tukar melemah, beban bunga utang dalam dolar kian berat. Ruang fiskal mengecil. Kemampuan negara untuk mendorong pemulihan ekonomi pun semakin terbatas.

Masalahnya, di tengah situasi genting ini, pemerintah seolah tidak melihat urgensinya.

Alih-alih menyusun langkah konkret pemulihan ekonomi, energi justru dihabiskan untuk proyek politis. Seperti pembentukan lembaga baru, revisi UU yang kontroversial, dan proyek tambang yang tidak layak secara keekonomian.

Contohnya: proyek gasifikasi batu bara oleh Danantara, yang justru menakutkan investor karena berisiko tinggi dan tak efisien.

Alih-alih membangkitkan ekonomi, proyek ini justru memberi sinyal buruk ke pasar.

Bhima menegaskan, Indonesia butuh paket kebijakan ekonomi yang kuat.

Bukan hanya insentif konsumsi, tapi juga keberpihakan nyata pada industri padat karya, yang kini sekarat.

Pemerintah juga perlu menunda kebijakan distorsif yang mengacaukan pasar dan kepercayaan publik.

Artikel Terkait:
  • Ketika Vape Jadi Narkoba Baru
  • Menakar Usia Ideal Penggunaan HP bagi Anak
  • Insentif MBG: Jangan Alihkan Beban
  • Danantara: Mesin Kapital yang Mengabaikan Darah Palestina

Jika tidak, bukan hanya rupiah yang terjun bebas.

IHSG pun ikut anjlok. Arus modal asing kabur. Investasi mandek. Rakyat kehilangan pekerjaan.

Ancaman ini nyata.

Dan bukan tidak mungkin, jika dibiarkan, krisis 1998 bisa terulang dalam bentuk baru.

Dengan beban utang yang lebih besar. Daya beli yang lebih rendah. Dan korupsi yang lebih terstruktur.

Tapi berbeda dengan 1998, kali ini tidak ada krisis moneter global yang bisa dijadikan kambing hitam.

Ini murni hasil tata kelola ekonomi yang gagal membaca sinyal, gagal bergerak cepat, dan terlalu sibuk bermain kuasa.

Pemerintah harus bergerak. Bukan lewat narasi optimisme palsu. Tapi lewat tindakan konkret dan keberanian menata ulang prioritas.

Indonesia tidak bisa lagi membiarkan ekonomi digerakkan oleh kepentingan elite politik dan oligarki.

Jangan Lewatkan:
  • e-KTP: Teknologi Tanpa Arah
  • Bukan Lalai, Tapi Sinyal Korupsi
  • Lumbung Korupsi dalam Demokrasi yang Terganjal
  • SPMB: Reformasi atau Sekadar Rebranding?

Karena ketika rupiah melemah, yang paling terdampak bukan para pejabat.

Tapi rakyat kecil.

Mereka yang membeli beras, solar, dan obat-obatan dengan harga yang terus naik karena kurs tak terkendali.

Dan ketika pemerintah tak lagi bisa menjamin stabilitas ekonomi dasar, maka kontrak sosial antara rakyat dan negara sedang berada di ambang kehancuran.

Gagalnya Pemulihan Ekonomi Kebijakan Fiskal Ketidakstabilan Pasar Krisis Ekonomi Indonesia Nilai Tukar Rupiah
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleUU TNI Disahkan, Sipil Terancam Diam
Next Article TNI Aktif di Luar 14 Lembaga Harus Mundur dari Jabatan Sipil

Informasi lainnya

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan Baru

Profil Ericka

Makna Kiai dalam Tradisi Jawa: Antara Simbol dan Ilmu

Islami Lisda Lisdiawati

Meraih Berkah, Inilah Cara Berbuka Puasa Ala Rasulullah

Islami Alfi Salamah

Bulu Kucing Rontok, Najis atau Tidak?

Islami Udex Mundzir

Negeri yang Tak Kekurangan Lembaga, Tapi Kekurangan Kejelasan

Perspektif Udex Mundzir
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Nama Jokowi Masih Tersemat di Situs OCCRP Meski Sempat Hilang

Bekas Karhutla Berau Ditanami Sawit, Polisi Selidiki

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Mic Wireless Untuk Masjid Produk Dapur Terlaris Buku Anak Islami Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi