Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Pertalite Tetap Rp10.000, Konsumsi Naik dan Stok Tertekan

PHK 1.100 Buruh di Lebak, Nasib Industri Padat Karya

Pesantren Pramuka Khalifa Gebrak Panggung ICOMUS 2026

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Selasa, 27 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Narasi Globalis dan Politik Ketakutan

Forum internasional sering jadi kambing hitam bagi ketakutan yang belum tentu berdasar.
Udex MundzirUdex Mundzir22 Mei 2025 Editorial
Kontroversi Keterlibatan Tokoh Indonesia di WEF
Ilustrasi Kontroversi Keterlibatan Tokoh Indonesia di WEF (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Keterlibatan tokoh Indonesia dalam World Economic Forum (WEF) kembali menjadi bahan gunjingan. Bukan karena prestasi mereka di panggung internasional, melainkan karena narasi miring yang terus diulang.

Di tengah polarisasi politik dan banjir disinformasi, forum seperti WEF sering digambarkan sebagai alat elite global. Banyak yang menuding bahwa siapa pun yang hadir di forum ini otomatis menyetujui agenda tersembunyi.

Padahal, keterlibatan dalam WEF tidak melanggar hukum. Tidak pula menjadi bukti kesetiaan ideologis pada kekuatan asing.

Kritik terhadap WEF berakar dari tiga hal utama: elitisme, konspirasi, dan sentimen anti-globalisasi.

Pertama, WEF memang eksklusif. Hanya tokoh-tokoh terpilih yang bisa hadir. Biaya keanggotaannya pun mahal. Akibatnya, muncul kesan bahwa WEF adalah klub orang kaya.

Namun, eksklusif bukan berarti tertutup. Banyak isu global dibahas di sana: dari perubahan iklim, transformasi digital, hingga ketimpangan ekonomi.

Kedua, sejak pandemi COVID-19, istilah The Great Reset jadi bahan bakar konspirasi. WEF dianggap punya agenda tersembunyi: mengatur ulang dunia, menghapus kedaulatan nasional, hingga mengendalikan manusia lewat teknologi.

Narasi seperti ini populer di kalangan ekstremis kanan, termasuk di Indonesia.

Ketiga, keterlibatan tokoh nasional dalam WEF sering dijadikan alat serangan politik.

Baca Juga:
  • Jangan Goyang Pemerintah Sah
  • Omong Kosong Industri Kreatif
  • PDIP Pecat Jokowi: Dinamika Baru
  • Bisnis Militer: Jalan Menuju Politik?

Misalnya, Anies Baswedan. Ia terdaftar sebagai Young Global Leader (YGL) pada 2009. Beberapa akun media sosial menyebutnya bagian dari “agenda globalis”.

Padahal, YGL adalah pengakuan atas kapasitas kepemimpinan. Bukan janji setia pada ideologi tertentu.

Sri Mulyani pun rutin hadir di Davos. Ia tidak sedang menjalankan misi asing. Ia membawa nama Indonesia, menawarkan gagasan, dan membangun jejaring strategis.

Namun, dalam politik, persepsi sering lebih penting dari kenyataan.

Di media sosial, keterlibatan tokoh dalam WEF kerap dijadikan bahan tuduhan. Tuduhan ini tidak berdasar. Tidak pula didukung data. Tapi terus disebar dan diulang.

Beberapa pihak bahkan menyamakan forum global dengan pengkhianatan. Ini logika yang lemah. Dunia saling terhubung. Isolasi bukan solusi.

Tanpa keterlibatan dalam forum internasional, suara Indonesia tidak akan terdengar. Kita hanya jadi penonton, bukan pemain.

Tokoh-tokoh seperti Gita Wirjawan, Mari Elka Pangestu, Dino Patti Djalal, hingga Nadiem Makarim, pernah terlibat dalam forum atau program WEF. Mereka membawa isu pendidikan, ekonomi digital, hingga diplomasi global.

Artikel Terkait:
  • Bahlil Memang Tidak Punya Urat Malu
  • Batas Kuasa, Uji Demokrasi
  • Rusia dan Ancaman Tsunami Abadi
  • Terpidana Dilindungi, Hukum Dipermalukan

Apakah mereka semua menjalankan agenda asing? Tentu tidak.

Kritik terhadap globalisasi memang penting. Tapi harus jernih. Harus berbasis data, bukan rasa curiga.

Menolak keterlibatan internasional atas dasar ketakutan justru berbahaya. Itu akan menjauhkan Indonesia dari arus kemajuan global.

WEF memang bukan forum sempurna. Tapi bukan pula musuh rakyat.

Sebaliknya, ini adalah panggung untuk menyuarakan kepentingan Indonesia. Forum tempat bertukar gagasan dan membangun kerja sama.

Tentu, keterlibatan harus transparan dan akuntabel. Tokoh yang hadir di forum global harus membawa pulang manfaat.

Tugas media dan masyarakat adalah mengawal itu. Bukan menolak secara membabi buta.

Jangan Lewatkan:
  • Provokator di Balik Api Jalanan
  • Pimpinan Viral, Yang Menderita Rakyatnya.
  • Hibah untuk Aparat, Buat Apa?
  • Wartawan Gadungan, Luka di Wajah Jurnalisme

Editorial ini berpandangan: keterlibatan dalam WEF bukan dosa politik. Yang berbahaya adalah ketakutan yang dibentuk tanpa dasar.

Jika kita terus menuduh tanpa bukti, kita hanya akan terjebak dalam politik kecurigaan.

Dunia butuh kerja sama. Bukan isolasi.

Anti-Globalisasi Kepemimpinan Indonesia Narasi Konspirasi Politik Global World Economic Forum
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleLoa Raya Sepakati Koperasi Desa, Dorong Kemandirian Ekonomi
Next Article WHO Resmi Adopsi Kesepakatan Pandemi Global Pertama

Informasi lainnya

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Kopi Tuku Branding MRT Cipete

Bisnis Assyifa

Bahaya Riba dalam Islam dan Cara Menghindarinya

Islami Ericka

Zakat Ternoda, Amanah Diperdagangkan

Editorial Udex Mundzir

Khairuddin Barbarossa: Laksamana Legendaris dan Pahlawan Laut Mediterania

Biografi Alfi Salamah

Bank Mandiri dan Krisis Kepercayaan

Perspektif Udex Mundzir
Berita Lainnya
Pendidikan
Adit Musthofa22 Oktober 2026

Pesantren Pramuka Khalifa Gebrak Panggung ICOMUS 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Wonderchicken, Jejak Burung Awal Zaman Dinosaurus

Ferry Pimpin Syarikat Islam, Hamdan Ketua Dewan Pusat

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Buku Anak Islami Murah Mic Wireless Untuk Masjid Mic Wireless Untuk Masjid
“Landing

☪   JADWAL SALAT

Mendeteksi lokasi...

Memuat tanggal...

⌖  Menyiapkan lokasi
Memuat jadwal salat...
SALAT BERIKUTNYA —
Menunggu jadwal...
Metode Kemenag RI

© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi