Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2026
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Mengapa Cokelat Bisa Naikkan Mood?

Bentor Dimusnahkan, Pengemudi Terima Becak Listrik

Fokus Berlebih yang Tak Disadari

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Sabtu, 6 Juni 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2026
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Narasi Globalis dan Politik Ketakutan

Forum internasional sering jadi kambing hitam bagi ketakutan yang belum tentu berdasar.
Udex MundzirUdex Mundzir22 Mei 2025 Editorial
Kontroversi Keterlibatan Tokoh Indonesia di WEF
Ilustrasi Kontroversi Keterlibatan Tokoh Indonesia di WEF (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Keterlibatan tokoh Indonesia dalam World Economic Forum (WEF) kembali menjadi bahan gunjingan. Bukan karena prestasi mereka di panggung internasional, melainkan karena narasi miring yang terus diulang.

Di tengah polarisasi politik dan banjir disinformasi, forum seperti WEF sering digambarkan sebagai alat elite global. Banyak yang menuding bahwa siapa pun yang hadir di forum ini otomatis menyetujui agenda tersembunyi.

Padahal, keterlibatan dalam WEF tidak melanggar hukum. Tidak pula menjadi bukti kesetiaan ideologis pada kekuatan asing.

Kritik terhadap WEF berakar dari tiga hal utama: elitisme, konspirasi, dan sentimen anti-globalisasi.

Pertama, WEF memang eksklusif. Hanya tokoh-tokoh terpilih yang bisa hadir. Biaya keanggotaannya pun mahal. Akibatnya, muncul kesan bahwa WEF adalah klub orang kaya.

Namun, eksklusif bukan berarti tertutup. Banyak isu global dibahas di sana: dari perubahan iklim, transformasi digital, hingga ketimpangan ekonomi.

Kedua, sejak pandemi COVID-19, istilah The Great Reset jadi bahan bakar konspirasi. WEF dianggap punya agenda tersembunyi: mengatur ulang dunia, menghapus kedaulatan nasional, hingga mengendalikan manusia lewat teknologi.

Narasi seperti ini populer di kalangan ekstremis kanan, termasuk di Indonesia.

Ketiga, keterlibatan tokoh nasional dalam WEF sering dijadikan alat serangan politik.

Baca Juga:
  • Politik Sengketa, Demokrasi yang Tercederai
  • Jejak Warisan dan Peluang di Desa Krampon
  • Wibawa Prabowo Dipertanyakan, Siapa Pemimpin Sebenarnya?
  • Prabowo Masih Takut Bayang-Bayang Jokowi

Misalnya, Anies Baswedan. Ia terdaftar sebagai Young Global Leader (YGL) pada 2009. Beberapa akun media sosial menyebutnya bagian dari “agenda globalis”.

Padahal, YGL adalah pengakuan atas kapasitas kepemimpinan. Bukan janji setia pada ideologi tertentu.

Sri Mulyani pun rutin hadir di Davos. Ia tidak sedang menjalankan misi asing. Ia membawa nama Indonesia, menawarkan gagasan, dan membangun jejaring strategis.

Namun, dalam politik, persepsi sering lebih penting dari kenyataan.

Di media sosial, keterlibatan tokoh dalam WEF kerap dijadikan bahan tuduhan. Tuduhan ini tidak berdasar. Tidak pula didukung data. Tapi terus disebar dan diulang.

Beberapa pihak bahkan menyamakan forum global dengan pengkhianatan. Ini logika yang lemah. Dunia saling terhubung. Isolasi bukan solusi.

Tanpa keterlibatan dalam forum internasional, suara Indonesia tidak akan terdengar. Kita hanya jadi penonton, bukan pemain.

Tokoh-tokoh seperti Gita Wirjawan, Mari Elka Pangestu, Dino Patti Djalal, hingga Nadiem Makarim, pernah terlibat dalam forum atau program WEF. Mereka membawa isu pendidikan, ekonomi digital, hingga diplomasi global.

Artikel Terkait:
  • Mengakhiri Bayang Jokowi
  • Politik Kongkow, Rakyat Menunggu
  • Selat Hormuz dan Ancaman Ekonomi Dunia
  • Pilkada Jakarta: Gugat Aja Dulu

Apakah mereka semua menjalankan agenda asing? Tentu tidak.

Kritik terhadap globalisasi memang penting. Tapi harus jernih. Harus berbasis data, bukan rasa curiga.

Menolak keterlibatan internasional atas dasar ketakutan justru berbahaya. Itu akan menjauhkan Indonesia dari arus kemajuan global.

WEF memang bukan forum sempurna. Tapi bukan pula musuh rakyat.

Sebaliknya, ini adalah panggung untuk menyuarakan kepentingan Indonesia. Forum tempat bertukar gagasan dan membangun kerja sama.

Tentu, keterlibatan harus transparan dan akuntabel. Tokoh yang hadir di forum global harus membawa pulang manfaat.

Tugas media dan masyarakat adalah mengawal itu. Bukan menolak secara membabi buta.

Jangan Lewatkan:
  • Koperasi Desa atau Alat Kuasa?
  • Pancasila Bukan Milik Satu Nama
  • Buruh Sejahtera, Pengusaha Tertekan
  • Negara Diam, Judi Online Merajalela

Editorial ini berpandangan: keterlibatan dalam WEF bukan dosa politik. Yang berbahaya adalah ketakutan yang dibentuk tanpa dasar.

Jika kita terus menuduh tanpa bukti, kita hanya akan terjebak dalam politik kecurigaan.

Dunia butuh kerja sama. Bukan isolasi.

Anti-Globalisasi Kepemimpinan Indonesia Narasi Konspirasi Politik Global World Economic Forum
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleLoa Raya Sepakati Koperasi Desa, Dorong Kemandirian Ekonomi
Next Article WHO Resmi Adopsi Kesepakatan Pandemi Global Pertama

Informasi lainnya

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026

MBG dan Risiko Cobra Effect

4 Mei 2026

Pendidikan Tersedot Program MBG

2 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Kenali 6 Tipe Toxic Person agar Kesehatan Mentalmu Terjaga

Daily Tips Alfi Salamah

Indosat Transformasi Jadi TechCo, Fokus Kembangkan AI dan Jangkau Daerah Rural

Techno Assyifa

Siapa Kenyang dari Proyek Makan Bergizi?

Editorial Udex Mundzir

Sunnah Sunnah Sholat Ied di Hari Raya

Islami Lisda Lisdiawati

Bisnis Militer: Jalan Menuju Politik?

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Nasional
Ericka3 Mei 2025

Kepala BGN Diganti, Program MBG Diminta Tetap Berjalan

Generasi Muda dan Pertaruhan Masa Depan Cianjur

Perspektif Ulama Mengenai Waktu Tawaf Ifadah

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Perlengkapan Pramuka Lengkap Mic Wireless Untuk Masjid Buku Anak Islami Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi