Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Batal Jadi Ibu Kota? MK Tegaskan IKN Belum Gantikan Jakarta

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Minggu, 17 Mei 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Politik Sengketa, Demokrasi yang Tercederai

Ketika pemilu lebih sering berakhir di ruang sidang, kepercayaan publik terhadap demokrasi kian rapuh.
Udex MundzirUdex Mundzir6 Februari 2025 Editorial
Sengketa Pilgub Kaltim dan Demokrasi Indonesia
Sengketa Pilgub Kaltim dan Demokrasi Indonesia (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Drama politik di Kalimantan Timur akhirnya berakhir di Mahkamah Konstitusi. Gugatan sengketa Pilgub yang diajukan Isran-Hadi resmi ditolak. Dengan dalil yang tidak cukup bukti, tuduhan politik uang dan borong partai kandas di meja hakim. Namun, apakah ini sekadar sengketa pemilu biasa, atau ada problem yang lebih dalam dalam demokrasi kita?

Dalam sistem pemilu yang sehat, kompetisi politik seharusnya berakhir ketika suara rakyat telah dihitung. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Tren membawa hasil pemilu ke ranah hukum semakin menguat, menjadikan pengadilan sebagai arena pertarungan politik yang baru. Ini bukan pertama kalinya sengketa pilkada berakhir di Mahkamah Konstitusi dengan hasil serupa: gugatan ditolak karena bukti tidak cukup.

Fenomena ini menunjukkan dua hal. Pertama, ketidakpercayaan yang semakin besar terhadap integritas proses pemilu. Kedua, kecenderungan elite politik yang lebih memilih jalur hukum untuk mempertahankan kekuasaan daripada melakukan evaluasi dan konsolidasi politik yang lebih demokratis.

Tuduhan politik uang dalam Pilgub Kaltim bukan perkara kecil. Jika benar terjadi, maka ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap prinsip pemilu yang jujur dan adil. Namun, tanpa bukti yang kuat, tuduhan semacam ini justru menjadi bumerang. Ini menandakan bahwa sistem pengawasan pemilu di Indonesia masih lemah. Jika praktik politik uang memang marak, mengapa sulit dibuktikan? Apakah ini karena kurangnya mekanisme pengawasan yang ketat, atau karena ada ketidaksiapan dalam mengumpulkan bukti yang valid?

Baca Juga:
  • Perselisihan Jabatan dan Integritas Pilkada
  • Narasi Globalis dan Politik Ketakutan
  • Harga BBM Turun, Asal Bukan Oplosan
  • Hakim Mana yang Berani Vonis Ijazah Palsu?

Di sisi lain, klaim tentang politik borong partai juga mengungkap masalah lain dalam demokrasi kita: semakin sempitnya pilihan politik bagi rakyat. Ketika satu pasangan calon menguasai hampir seluruh dukungan partai, kompetisi menjadi tidak seimbang. Hal ini membuat pemilu tampak seperti formalitas belaka, di mana pemenangnya seakan sudah ditentukan sejak awal. Namun, apakah ini pelanggaran hukum? Tidak. Politik borong partai mungkin tidak etis, tetapi selama tidak ada aturan yang dilanggar, ini tetap sah secara hukum.

Selisih suara yang cukup besar antara Isran-Hadi dan Rudy-Seno—mencapai 11,3 persen atau sekitar 26.862 suara—juga memperlihatkan realitas lain: sulitnya membuktikan bahwa ada kecurangan yang benar-benar mampu mengubah hasil akhir pemilu. Di sinilah letak tantangan besar bagi sistem pemilu kita. Jika benar ada pelanggaran, mengapa tidak terlihat dalam angka? Apakah karena sistem yang sudah cukup transparan, atau justru karena metode kecurangan sudah semakin canggih dan sulit dideteksi?

Lebih jauh, ada satu ironi yang perlu disoroti: gugatan terkait politik uang hampir selalu datang dari pihak yang kalah. Ini membuka kemungkinan bahwa mereka yang menggugat juga melakukan praktik yang sama. Politik uang adalah praktik yang telah mengakar dalam demokrasi elektoral di Indonesia, dan sulit dipercaya bahwa hanya satu pihak saja yang bermain curang. Jika pemilu kita masih beroperasi dalam sistem yang memungkinkan jual beli suara, maka aktor politik dari berbagai kubu pun kemungkinan besar terlibat dalam praktik serupa.

Dengan kata lain, gugatan ini bukan hanya tentang menegakkan keadilan, tetapi juga tentang strategi politik. Sengketa pemilu sering kali digunakan bukan untuk benar-benar membuktikan kecurangan, tetapi sebagai alat untuk menggoyang legitimasi pemenang. Ini adalah bagian dari strategi politik untuk tetap berada di dalam pusaran kekuasaan, bahkan setelah hasil pemilu diumumkan.

Artikel Terkait:
  • Ambisi Politik Bahlil: Kursi Lebih Penting dari Kinerja
  • Larangan Baju Bekas: Tegas Boleh, Serampangan Jangan
  • Sekolah Bukan Mesin Hafalan
  • Guru ASN di Sekolah Swasta

Masalahnya, strategi ini justru semakin merusak kepercayaan publik terhadap demokrasi. Jika setiap pemilu selalu diwarnai dengan sengketa yang tidak berdasar, maka publik akan semakin skeptis terhadap proses pemilu itu sendiri. Pada akhirnya, yang akan terjadi adalah apatisme politik: masyarakat menjadi enggan berpartisipasi karena merasa suara mereka tidak benar-benar menentukan hasil akhir.

Indonesia membutuhkan reformasi pemilu yang lebih kuat. Pengawasan terhadap politik uang harus diperketat, tidak hanya dengan menerima laporan, tetapi dengan proaktif melakukan investigasi berbasis teknologi dan data yang lebih transparan. Bawaslu dan aparat penegak hukum harus lebih agresif dalam mengawasi proses sebelum, selama, dan setelah pemilu.

Selain itu, perlu ada revisi regulasi mengenai dominasi partai politik dalam pencalonan kepala daerah. Jika tidak ada batasan yang jelas, maka pemilu akan semakin menjadi arena bagi oligarki politik yang mengunci akses bagi kandidat alternatif.

Pada akhirnya, demokrasi bukan hanya tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Demokrasi adalah tentang kepercayaan bahwa prosesnya adil, transparan, dan benar-benar mencerminkan kehendak rakyat. Sengketa Pilgub Kaltim telah berakhir, tetapi pertanyaan tentang masa depan demokrasi kita masih belum terjawab.

Jangan Lewatkan:
  • Eksploitasi Konsumen: Kuota Hangus, Manipulasi Digital Terstruktur
  • Tantangannya Kebocoran Data Pribadi
  • Politik Kongkow, Rakyat Menunggu
  • Koperasi Desa: Membangun atau Menguras?
Demokrasi Indonesia Mahkamah Konstitusi Pilgub Kaltim Politik Uang Sengketa Pemilu
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleNasaruddin Umar di Puncak Kepuasan Publik
Next Article Sepertinya Prabowo Tak Akan Berani Pecat Bahlil

Informasi lainnya

Batal Jadi Ibu Kota? MK Tegaskan IKN Belum Gantikan Jakarta

15 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026

MBG dan Risiko Cobra Effect

4 Mei 2026

Pendidikan Tersedot Program MBG

2 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Yang Mau Lanjutkan Bangun IKN, Silakan Patungan

Editorial Udex Mundzir

Wibawa Prabowo Dipertanyakan, Siapa Pemimpin Sebenarnya?

Editorial Udex Mundzir

Marsinah: Suara Buruh yang Terdiam Tragis

Profil Alfi Salamah

Pergi Haji atau Umroh Dulu? Ini Jawaban Ustadz Abdul Somad

Islami Alfi Salamah

Pemblokiran Rekening Tanpa Akal

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Ekonomi
Lisda Lisdiawati8 Desember 2025

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Waktu Pencernaan Makanan, Kenali Sebelum Mengatur Pola Makan

Kepala BGN Diganti, Program MBG Diminta Tetap Berjalan

Batal Jadi Ibu Kota? MK Tegaskan IKN Belum Gantikan Jakarta

Waspada Makan Berlebih Saat Lebaran, Ini Risikonya

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Produk Dapur Terlaris Alat Tulis Sekolah Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi