Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Batas Kuasa, Uji Demokrasi

AI Ciptakan Konsensus Palsu di Ruang Digital

Uji Coba Sukses, QRIS Indonesia-Tiongkok Rilis Akhir April 2026

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Minggu, 26 April 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Politik Sengketa, Demokrasi yang Tercederai

Ketika pemilu lebih sering berakhir di ruang sidang, kepercayaan publik terhadap demokrasi kian rapuh.
Udex MundzirUdex Mundzir6 Februari 2025 Editorial
Sengketa Pilgub Kaltim dan Demokrasi Indonesia
Sengketa Pilgub Kaltim dan Demokrasi Indonesia (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Drama politik di Kalimantan Timur akhirnya berakhir di Mahkamah Konstitusi. Gugatan sengketa Pilgub yang diajukan Isran-Hadi resmi ditolak. Dengan dalil yang tidak cukup bukti, tuduhan politik uang dan borong partai kandas di meja hakim. Namun, apakah ini sekadar sengketa pemilu biasa, atau ada problem yang lebih dalam dalam demokrasi kita?

Dalam sistem pemilu yang sehat, kompetisi politik seharusnya berakhir ketika suara rakyat telah dihitung. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Tren membawa hasil pemilu ke ranah hukum semakin menguat, menjadikan pengadilan sebagai arena pertarungan politik yang baru. Ini bukan pertama kalinya sengketa pilkada berakhir di Mahkamah Konstitusi dengan hasil serupa: gugatan ditolak karena bukti tidak cukup.

Fenomena ini menunjukkan dua hal. Pertama, ketidakpercayaan yang semakin besar terhadap integritas proses pemilu. Kedua, kecenderungan elite politik yang lebih memilih jalur hukum untuk mempertahankan kekuasaan daripada melakukan evaluasi dan konsolidasi politik yang lebih demokratis.

Tuduhan politik uang dalam Pilgub Kaltim bukan perkara kecil. Jika benar terjadi, maka ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap prinsip pemilu yang jujur dan adil. Namun, tanpa bukti yang kuat, tuduhan semacam ini justru menjadi bumerang. Ini menandakan bahwa sistem pengawasan pemilu di Indonesia masih lemah. Jika praktik politik uang memang marak, mengapa sulit dibuktikan? Apakah ini karena kurangnya mekanisme pengawasan yang ketat, atau karena ada ketidaksiapan dalam mengumpulkan bukti yang valid?

Baca Juga:
  • Kalau Mau Selamat, Jadilah Koruptor di Indonesia
  • Kegaduhan yang Disengaja
  • Prabowo Tidak Peka Terhadap Derita Rakyat
  • Dari Memalukan ke Menakutkan

Di sisi lain, klaim tentang politik borong partai juga mengungkap masalah lain dalam demokrasi kita: semakin sempitnya pilihan politik bagi rakyat. Ketika satu pasangan calon menguasai hampir seluruh dukungan partai, kompetisi menjadi tidak seimbang. Hal ini membuat pemilu tampak seperti formalitas belaka, di mana pemenangnya seakan sudah ditentukan sejak awal. Namun, apakah ini pelanggaran hukum? Tidak. Politik borong partai mungkin tidak etis, tetapi selama tidak ada aturan yang dilanggar, ini tetap sah secara hukum.

Selisih suara yang cukup besar antara Isran-Hadi dan Rudy-Seno—mencapai 11,3 persen atau sekitar 26.862 suara—juga memperlihatkan realitas lain: sulitnya membuktikan bahwa ada kecurangan yang benar-benar mampu mengubah hasil akhir pemilu. Di sinilah letak tantangan besar bagi sistem pemilu kita. Jika benar ada pelanggaran, mengapa tidak terlihat dalam angka? Apakah karena sistem yang sudah cukup transparan, atau justru karena metode kecurangan sudah semakin canggih dan sulit dideteksi?

Lebih jauh, ada satu ironi yang perlu disoroti: gugatan terkait politik uang hampir selalu datang dari pihak yang kalah. Ini membuka kemungkinan bahwa mereka yang menggugat juga melakukan praktik yang sama. Politik uang adalah praktik yang telah mengakar dalam demokrasi elektoral di Indonesia, dan sulit dipercaya bahwa hanya satu pihak saja yang bermain curang. Jika pemilu kita masih beroperasi dalam sistem yang memungkinkan jual beli suara, maka aktor politik dari berbagai kubu pun kemungkinan besar terlibat dalam praktik serupa.

Dengan kata lain, gugatan ini bukan hanya tentang menegakkan keadilan, tetapi juga tentang strategi politik. Sengketa pemilu sering kali digunakan bukan untuk benar-benar membuktikan kecurangan, tetapi sebagai alat untuk menggoyang legitimasi pemenang. Ini adalah bagian dari strategi politik untuk tetap berada di dalam pusaran kekuasaan, bahkan setelah hasil pemilu diumumkan.

Artikel Terkait:
  • Pilkada Jakarta: Gugat Aja Dulu
  • Raja Kecil di Birokrasi, Prabowo Gertak Sambal?
  • Kaya SDA, Tapi Hidup dari Pajak
  • Ijazah Asli (KataPolisi), Proses Masih Abu-Abu

Masalahnya, strategi ini justru semakin merusak kepercayaan publik terhadap demokrasi. Jika setiap pemilu selalu diwarnai dengan sengketa yang tidak berdasar, maka publik akan semakin skeptis terhadap proses pemilu itu sendiri. Pada akhirnya, yang akan terjadi adalah apatisme politik: masyarakat menjadi enggan berpartisipasi karena merasa suara mereka tidak benar-benar menentukan hasil akhir.

Indonesia membutuhkan reformasi pemilu yang lebih kuat. Pengawasan terhadap politik uang harus diperketat, tidak hanya dengan menerima laporan, tetapi dengan proaktif melakukan investigasi berbasis teknologi dan data yang lebih transparan. Bawaslu dan aparat penegak hukum harus lebih agresif dalam mengawasi proses sebelum, selama, dan setelah pemilu.

Selain itu, perlu ada revisi regulasi mengenai dominasi partai politik dalam pencalonan kepala daerah. Jika tidak ada batasan yang jelas, maka pemilu akan semakin menjadi arena bagi oligarki politik yang mengunci akses bagi kandidat alternatif.

Pada akhirnya, demokrasi bukan hanya tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Demokrasi adalah tentang kepercayaan bahwa prosesnya adil, transparan, dan benar-benar mencerminkan kehendak rakyat. Sengketa Pilgub Kaltim telah berakhir, tetapi pertanyaan tentang masa depan demokrasi kita masih belum terjawab.

Jangan Lewatkan:
  • Populer, Bukan Baik: Demokrasi yang Terjebak
  • Sepertinya Prabowo Tak Akan Berani Pecat Bahlil
  • Pajak Bukan Satu-Satunya Jalan
  • Danantara: Mesin Kapital yang Mengabaikan Darah Palestina
Demokrasi Indonesia Mahkamah Konstitusi Pilgub Kaltim Politik Uang Sengketa Pemilu
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleNasaruddin Umar di Puncak Kepuasan Publik
Next Article Sepertinya Prabowo Tak Akan Berani Pecat Bahlil

Informasi lainnya

Batas Kuasa, Uji Demokrasi

26 April 2026

e-KTP: Teknologi Tanpa Arah

25 April 2026

Ikan Sapu-Sapu dan Krisis Sunyi

23 April 2026

UKT dan Ilusi Kesejahteraan ASN

19 April 2026

War Ticket: Ilusi Akses Setara

12 April 2026

Fakta Sebenernya, Inflasi Pejabat

12 April 2026
Paling Sering Dibaca

Soft Living: Hidup lebih pelan, bahagia lebih lama

Happy Alfi Salamah

Baso Menjadi Rahasia Sukses Kuliner Nusantara di Tanah Suci

Islami Alfi Salamah

Generasi Z dan Aksi Nyata Wujudkan SDGs

Daily Tips Ericka

1 Agustus, Hari Scarf Pramuka Se-Dunia: Ayo Tunjukkan Scarf-mu

Daily Tips Lina Marlina

Membatasi Medsos, Mendidik Generasi

Editorial Lisda Lisdiawati
Berita Lainnya
Pendidikan
Alfi Salamah21 April 2026

Empat Tim Mahasiswa UT dari Pesantren Khalifa Lolos Pendanaan Riset

Alumni SMAN 1 Cisayong Lolos Seleksi Program Pendanaan Penelitian Mahasiswa Universitas Terbuka 2026

5 E-Commerce Dominasi Pasar Usai Bukalapak Tutup Layanan

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Ledakan Ikan Sapu-sapu, Jakarta Cari Cara Ampuh

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi