Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Batal Jadi Ibu Kota? MK Tegaskan IKN Belum Gantikan Jakarta

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Minggu, 17 Mei 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Polemik Privasi di Era Digital

Menjaga martabat manusia dalam sorotan publik yang tak terkendali.
Udex MundzirUdex Mundzir27 Januari 2025 Opini
Literasi digital dan etika bermedia sosial
Literasi digital dan etika bermedia sosial (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Era digital tanpa batas telah mengaburkan garis antara ranah publik dan privasi individu. Kematian Nisan, yang dikenal sebagai “Abang Siomay Racing,” menjadi pengingat menyakitkan tentang bagaimana teknologi, jika tidak dikendalikan, dapat melanggar batasan etika dan privasi. Tragedi ini menimbulkan pertanyaan mendalam tentang tanggung jawab publik dalam era informasi yang serba cepat dan tak terbatas.

Kisah Nisan menarik perhatian masyarakat luas karena persona uniknya di media sosial. Namun, setelah meninggal dunia di tempat umum, perhatian tersebut beralih menjadi perburuan konten sensasional. Dalam situasi seperti ini, pihak keluarga telah dengan jelas meminta agar video yang merekam kondisi terakhirnya tidak disebarluaskan. Sayangnya, desakan keluarga sering kali diabaikan oleh sebagian warganet yang lebih mengutamakan sensasi dibandingkan rasa empati.

Kejadian ini menunjukkan masalah mendasar dalam budaya media sosial kita: kecenderungan untuk mendokumentasikan dan menyebarluaskan segala sesuatu tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap pihak-pihak yang terlibat. Privasi, terutama dalam situasi yang menyedihkan, seperti kematian seseorang, sering kali diabaikan demi keinginan untuk “membagikan” atau menjadi yang pertama menyebarkan informasi.

Kasus ini seharusnya menjadi alarm bagi masyarakat tentang urgensi menumbuhkan literasi digital yang lebih baik. Fakta bahwa video semacam itu bisa beredar luas menunjukkan kurangnya kesadaran sebagian masyarakat terhadap etika bermedia sosial. Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia pada tahun 2024 mencapai lebih dari 220 juta orang. Dengan angka sebesar ini, penyalahgunaan media digital dapat membawa konsekuensi serius bagi korban dan keluarga mereka.

Baca Juga:
  • Rp8.100 per Dolar: Berkah atau Bencana?
  • Inilah Kekurangan dan Kelebihan Karakteristik Generasi Z
  • Banyak Tapi Kurang
  • Langkah Skuad Muda yang Tertatih

Selain itu, isu ini juga mengangkat pertanyaan tentang peran platform digital. Apakah mereka telah cukup bertanggung jawab dalam menyaring konten yang melanggar privasi? Langkah-langkah seperti laporan pengguna, penghapusan konten, hingga edukasi penggunaan platform dapat menjadi strategi penting. Namun, tanggung jawab juga tidak semata-mata berada pada platform. Kita, sebagai pengguna, harus bertanggung jawab terhadap apa yang kita bagikan.

Dalam konteks ini, aspek budaya juga menjadi faktor penting. Tradisi komunal masyarakat Indonesia sering kali membuat orang merasa memiliki hak untuk mengetahui urusan orang lain, bahkan dalam kondisi yang sensitif. Namun, dengan berkembangnya zaman, kita perlu belajar untuk lebih menghormati ruang pribadi setiap individu.

Sebagai solusi, pemerintah bersama dengan komunitas media sosial harus menggencarkan program literasi digital yang menekankan pentingnya etika dalam menggunakan internet. Di Finlandia, misalnya, literasi digital telah menjadi bagian kurikulum sejak usia dini, sehingga masyarakat mereka lebih peka terhadap dampak sosial media. Kita juga perlu mencontoh negara-negara seperti Jerman, yang memiliki undang-undang ketat terhadap penyebaran konten yang melanggar privasi atau tidak pantas.

Artikel Terkait:
  • Korupsi Dana Desa Tak Bisa Lagi Dimaafkan
  • Biru Fund dan Masa Depan Tambak
  • Membeli Oleh-Oleh yang Bermanfaat dan Bernilai: Tips Agar Tidak Menjadi Sampah
  • Titik Berat Indonesia dalam Konflik Timur Tengah

Selain regulasi, diperlukan pula pendekatan berbasis nilai, seperti menanamkan empati di kalangan pengguna media sosial. Pendekatan ini dapat dilakukan melalui kampanye yang melibatkan influencer hingga selebritas yang memiliki pengaruh besar terhadap perilaku online masyarakat.

Sebagai individu, kita juga bisa memulai perubahan. Sebelum membagikan sesuatu, tanyakan pada diri sendiri: apakah ini bermanfaat, apakah ini melukai, dan apakah ini sesuai dengan etika? Sikap sederhana seperti ini dapat membantu menciptakan ruang digital yang lebih manusiawi.

Tragedi seperti yang dialami oleh keluarga Nisan harus menjadi pelajaran berharga. Kita tidak hanya kehilangan sosok yang menghibur banyak orang, tetapi juga melihat sisi gelap dari budaya digital kita. Sudah saatnya kita lebih bijak, bertanggung jawab, dan berempati dalam menggunakan teknologi, sehingga tragedi serupa tidak terulang di masa depan.

Jangan Lewatkan:
  • Kalau Taman Bisa Dibuka 24 Jam, Mengapa Masjid Tidak?
  • Generasi Muda dan Tren Slow Living di Era Digital
  • Koruptor Dimanja, Rakyat Dihukum Pajak
  • Mengemudi Visi, Bukan Hanya Mobil Listrik
Etika Digital Kematian Abang Siomay Literasi Digital Media Sosial dan Privasi Privasi di Media Sosial
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticlePrabowo Serukan Persatuan ASEAN: Tak Kalah dengan Uni Eropa
Next Article Emilia Contessa Meninggal Dunia, Dunia Hiburan Tanah Air Berduka

Informasi lainnya

Biru Fund dan Masa Depan Tambak

11 April 2026

Djibouti dan Politik Geografi

11 April 2026

Membatasi Medsos, Mendidik Generasi

16 Maret 2026

Dapur Rapi, Pikiran Tertata

12 Maret 2026

Resonansi Orbit dan Gerhana Total

3 Maret 2026

Waspada Belanja Online Bodong

19 Januari 2026
Paling Sering Dibaca

Keberkahan Jamaah Haji Merasa Senang Dekat Masjid Nabawi

Islami Alfi Salamah

Indonesia dan Dua Periode Jokowi yang Memalukan

Editorial Udex Mundzir

Nafkah dalam Islam: Penjelasan, Pelanggaran, dan Kewajiban terhadap Anak Yatim

Islami Udex Mundzir

Mengenal Bukit Kelam, Batu Tertinggi di Dunia dari Indonesia

Travel Ericka

Logika Nol yang Menyesatkan

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Ekonomi
Lisda Lisdiawati8 Desember 2025

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Waktu Pencernaan Makanan, Kenali Sebelum Mengatur Pola Makan

Kepala BGN Diganti, Program MBG Diminta Tetap Berjalan

Batal Jadi Ibu Kota? MK Tegaskan IKN Belum Gantikan Jakarta

Waspada Makan Berlebih Saat Lebaran, Ini Risikonya

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Perlengkapan Pramuka Lengkap Produk Dapur Terlaris Alat Tulis Sekolah Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi