Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Temaram di Khalifa

Ketika Pramuka Belajar Korupsi

Cak Sholeh Wafat, Tinggalkan Jejak Advokasi Warga

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Jumat, 14 Agustus 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Polemik Privasi di Era Digital

Menjaga martabat manusia dalam sorotan publik yang tak terkendali.
Udex MundzirUdex Mundzir27 Januari 2025 Perspektif
Literasi digital dan etika bermedia sosial
Literasi digital dan etika bermedia sosial (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Era digital tanpa batas telah mengaburkan garis antara ranah publik dan privasi individu. Kematian Nisan, yang dikenal sebagai “Abang Siomay Racing,” menjadi pengingat menyakitkan tentang bagaimana teknologi, jika tidak dikendalikan, dapat melanggar batasan etika dan privasi. Tragedi ini menimbulkan pertanyaan mendalam tentang tanggung jawab publik dalam era informasi yang serba cepat dan tak terbatas.

Kisah Nisan menarik perhatian masyarakat luas karena persona uniknya di media sosial. Namun, setelah meninggal dunia di tempat umum, perhatian tersebut beralih menjadi perburuan konten sensasional. Dalam situasi seperti ini, pihak keluarga telah dengan jelas meminta agar video yang merekam kondisi terakhirnya tidak disebarluaskan. Sayangnya, desakan keluarga sering kali diabaikan oleh sebagian warganet yang lebih mengutamakan sensasi dibandingkan rasa empati.

Kejadian ini menunjukkan masalah mendasar dalam budaya media sosial kita: kecenderungan untuk mendokumentasikan dan menyebarluaskan segala sesuatu tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap pihak-pihak yang terlibat. Privasi, terutama dalam situasi yang menyedihkan, seperti kematian seseorang, sering kali diabaikan demi keinginan untuk “membagikan” atau menjadi yang pertama menyebarkan informasi.

Kasus ini seharusnya menjadi alarm bagi masyarakat tentang urgensi menumbuhkan literasi digital yang lebih baik. Fakta bahwa video semacam itu bisa beredar luas menunjukkan kurangnya kesadaran sebagian masyarakat terhadap etika bermedia sosial. Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia pada tahun 2024 mencapai lebih dari 220 juta orang. Dengan angka sebesar ini, penyalahgunaan media digital dapat membawa konsekuensi serius bagi korban dan keluarga mereka.

Baca Juga:
  • Ketika Dilempari Batu, Bangunlah Istana: Pelajaran Bijak Menghadapi Kritik
  • Pose Jari V Saat Selfie Disebut Simpan Risiko Siber
  • Vasektomi Bukan Jawaban Kemiskinan
  • Meski Telah Berpura-pura jadi Jakmania, Kang Emil Tetap Kalah

Selain itu, isu ini juga mengangkat pertanyaan tentang peran platform digital. Apakah mereka telah cukup bertanggung jawab dalam menyaring konten yang melanggar privasi? Langkah-langkah seperti laporan pengguna, penghapusan konten, hingga edukasi penggunaan platform dapat menjadi strategi penting. Namun, tanggung jawab juga tidak semata-mata berada pada platform. Kita, sebagai pengguna, harus bertanggung jawab terhadap apa yang kita bagikan.

Dalam konteks ini, aspek budaya juga menjadi faktor penting. Tradisi komunal masyarakat Indonesia sering kali membuat orang merasa memiliki hak untuk mengetahui urusan orang lain, bahkan dalam kondisi yang sensitif. Namun, dengan berkembangnya zaman, kita perlu belajar untuk lebih menghormati ruang pribadi setiap individu.

Sebagai solusi, pemerintah bersama dengan komunitas media sosial harus menggencarkan program literasi digital yang menekankan pentingnya etika dalam menggunakan internet. Di Finlandia, misalnya, literasi digital telah menjadi bagian kurikulum sejak usia dini, sehingga masyarakat mereka lebih peka terhadap dampak sosial media. Kita juga perlu mencontoh negara-negara seperti Jerman, yang memiliki undang-undang ketat terhadap penyebaran konten yang melanggar privasi atau tidak pantas.

Artikel Terkait:
  • Negara Hukum yang Pengadilannya Banyak, tapi Sulit Mencari Keadilan
  • Menulis dari Negara yang Terlambat Sadar
  • Korupsi Dana Desa Tak Bisa Lagi Dimaafkan
  • Inilah Seputar Mental Illness yang Perlu Anda Ketahui!

Selain regulasi, diperlukan pula pendekatan berbasis nilai, seperti menanamkan empati di kalangan pengguna media sosial. Pendekatan ini dapat dilakukan melalui kampanye yang melibatkan influencer hingga selebritas yang memiliki pengaruh besar terhadap perilaku online masyarakat.

Sebagai individu, kita juga bisa memulai perubahan. Sebelum membagikan sesuatu, tanyakan pada diri sendiri: apakah ini bermanfaat, apakah ini melukai, dan apakah ini sesuai dengan etika? Sikap sederhana seperti ini dapat membantu menciptakan ruang digital yang lebih manusiawi.

Tragedi seperti yang dialami oleh keluarga Nisan harus menjadi pelajaran berharga. Kita tidak hanya kehilangan sosok yang menghibur banyak orang, tetapi juga melihat sisi gelap dari budaya digital kita. Sudah saatnya kita lebih bijak, bertanggung jawab, dan berempati dalam menggunakan teknologi, sehingga tragedi serupa tidak terulang di masa depan.

Jangan Lewatkan:
  • Kenali Calon Istrimu dengan 3 Cara Ini: Panduan Islami untuk Memilih Pasangan
  • Pramuka Cisayong, Saatnya Bergerak
  • Pilkada Kabupaten Tasikmalaya 2024, Hanya Legitimasi Kemenangan Petahana
  • Membangun Keterampilan Sosial untuk Mengurangi Insecure
Etika Digital Kematian Abang Siomay Literasi Digital Media Sosial dan Privasi Privasi di Media Sosial
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticlePrabowo Serukan Persatuan ASEAN: Tak Kalah dengan Uni Eropa
Next Article Emilia Contessa Meninggal Dunia, Dunia Hiburan Tanah Air Berduka

Informasi lainnya

Ketika Pramuka Belajar Korupsi

14 Agustus 2026

Efisiensi atau Salah Kelola?

4 Agustus 2026

36 Juta Warga Jabar Gunakan Handphone, Pers Ditantang Jaga Kredibilitas

24 Juni 2026

Ratusan Lembaga di Indonesia, tapi Tak Ada Satupun yang Bisa Menjawab Tuntas Soal Ijazah Gibran

23 Juni 2026

Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian

22 Juni 2026

Negeri yang Tak Kekurangan Lembaga, Tapi Kekurangan Kejelasan

21 Juni 2026
Paling Sering Dibaca

Indonesia Memble Hadapi Tarif Trump

Perspektif Udex Mundzir

Mengenal IHSG: Indeks Utama Pasar Saham Indonesia

Bisnis Ericka

Demokrasi yang Tersandera Kotak Kosong

Perspektif Silva

Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian

Perspektif Udex Mundzir

Sembilan Tips Menjaga Kebersamaan Rombongan di Masjid Nabawi

Islami Alfi Salamah
Berita Lainnya
Ekonomi
Ericka29 Mei 2025

Presiden Prabowo Izinkan Ekspor Beras ke Malaysia

Diplomasi Ubah Peta, Sebatik Bertambah Luas

Curi Start, Mugus PP Khalifa Langsung Eksekusi SK Kwarnas Terbaru

Manfaat Sehat Biji Selasih untuk Tubuh dan Kulit

PP Khalifa Matangkan Adaptasi SK Kwarnas Terbaru Menjelang Mugus

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Mic Wireless Untuk Masjid Produk Dapur Terlaris Buku Anak Islami Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi