Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

36 Juta Warga Jabar Gunakan Handphone, Pers Ditantang Jaga Kredibilitas

Ratusan Lembaga di Indonesia, tapi Tak Ada Satupun yang Bisa Menjawab Tuntas Soal Ijazah Gibran

Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Sabtu, 27 Juni 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

UI di Puncak Ranking, Tercoreng Predator Tambang

Saat gelar akademik dijadikan tameng politik, reputasi kampus ikut jadi tumbal.
Udex MundzirUdex Mundzir28 Juni 2025 Editorial
Universitas Indonesia (UI)
Universitas Indonesia (UI) (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Universitas Indonesia (UI) kembali menorehkan prestasi di kancah internasional. Dalam pemeringkatan QS World University Rankings (QS WUR) 2026, UI berhasil masuk 10 besar universitas terbaik di Asia Tenggara.

Posisi ini memperlihatkan komitmen UI dalam meningkatkan kualitas riset, pengajaran, dan kolaborasi global. Tidak hanya mendongkrak reputasi nasional, prestasi ini juga menegaskan posisi UI sebagai salah satu kampus rujukan di Asia.

Namun, di balik kejayaan peringkat global, UI justru diterpa badai integritas yang mengguncang kepercayaan publik.

Kasus kelulusan kilat Bahlil Lahadalia — tokoh kontroversial yang dijuluki “predator tambang” — menjadi noda besar dalam sejarah akademik UI.

Bahlil, yang selama ini dikenal sebagai figur bisnis-politik agresif, berhasil meraih gelar doktor dari UI hanya dalam waktu yang dinilai “super kilat”. Publik langsung menyorot, bagaimana mungkin seorang menteri yang sibuk, dengan rekam jejak kontroversial, bisa menyelesaikan program doktoral dalam tempo yang tak wajar?

Lebih ironis, gelar ini kemudian digunakan sebagai legitimasi moral dan politik, seolah menjadi perisai dari kritik tajam publik.

Kasus Bahlil menjadi preseden buruk. Banyak orang bertanya: apakah UI hanya sekadar pabrik gelar bagi elite politik? Apakah tradisi akademik dan etika kampus hanya slogan kosong di poster promosi?

Di tingkat global, UI boleh saja naik peringkat. Namun, di mata masyarakat, penghargaan tertinggi adalah integritas.

Gelar akademik bukan sekadar selembar kertas. Ia adalah simbol perjuangan intelektual, hasil riset mendalam, dan pengabdian pada kebenaran ilmiah. Ketika gelar disulap jadi instrumen politik, harga diri institusi akademik runtuh.

Kasus ini mencoreng nama UI di mata publik. Apalagi, UI selama ini mengklaim diri sebagai kampus dengan tradisi kejujuran, intelektualitas, dan independensi.

Baca Juga:
  • Batas Kuasa, Uji Demokrasi
  • Pilkada Sampang 2024: Situasi Ketat, Mandat Diunggulkan
  • Coba Vaksin? Wakil Rakyat Dulu!
  • Pajak Bukan Satu-Satunya Jalan

Ketika berita Bahlil lulus dengan kecepatan luar biasa viral, banyak mahasiswa dan alumni merasa dihina. Rasa bangga pada almamater tercabik. Mereka yang menghabiskan bertahun-tahun di laboratorium, yang berjuang mengurus publikasi internasional, mendadak merasa usaha mereka dipermainkan.

Fakta bahwa UI mengonfirmasi proses kelulusan Bahlil sebagai “sudah sesuai prosedur” semakin memperdalam luka. Alih-alih membangun kepercayaan dengan membuka detail proses akademik, UI memilih menutup rapat detail disertasi dan sidang.

Ini menunjukkan betapa rapuhnya benteng integritas akademik di hadapan kekuasaan.

Apakah UI sadar bahwa keputusan ini mematikan moral akademik ribuan mahasiswanya? Apakah UI benar-benar rela menjadi alat legitimasi elite politik semata?

Dalam demokrasi sehat, kampus seharusnya jadi benteng moral terakhir. Ketika ruang politik dipenuhi transaksi dan kepentingan, kampus seharusnya tetap menjaga idealisme.

Ironisnya, UI yang selama ini dielu-elukan sebagai “kampus peradaban” justru gagal menjadi teladan. Keputusan meluluskan Bahlil secara kilat seakan menegaskan bahwa jabatan bisa membeli segalanya, termasuk gelar akademik tertinggi.

Luka ini bukan luka kecil.

Mahasiswa akan kehilangan motivasi jika mereka tahu bahwa jerih payah dan integritas kalah oleh kekuasaan. Para dosen akan gamang menegakkan standar akademik, karena preseden sudah diciptakan: jika punya posisi politik, prosedur bisa disesuaikan.

Tidak cukup dengan sekadar mengandalkan peringkat global. UI perlu membangun kembali integritas di dalam negeri. Tanpa kepercayaan publik, peringkat hanyalah angka.

UI harus mulai dari keterbukaan. Jika memang yakin tidak ada pelanggaran, buka detail disertasi Bahlil, paparkan durasi bimbingan, rincian penelitian, hingga kontribusi ilmiah yang dihasilkan.

Artikel Terkait:
  • Kesenjangan di Balik Ketentuan Gaji Dosen PTS
  • Prestasi UGM Cemerlang, Integritas Belum Tercermin
  • Kebakaran di Kementerian ATR/BPN: Asap Padam, Kecurigaan Membara
  • Prabowo Lebih Pro pada Koruptor

Kemudian, UI perlu memperkuat audit etika akademik. Peninjauan ulang standar kelulusan harus melibatkan pengawas independen, agar tidak hanya menjadi formalitas internal.

Ketiga, UI harus mengembalikan marwah gelar akademik. Gelar bukan hadiah politik, bukan pula panggung promosi personal. Gelar adalah puncak pengakuan keilmuan yang seharusnya lahir dari proses panjang, kritis, dan transparan.

Jika UI gagal memperbaiki ini, maka publik akan semakin yakin bahwa kampus hanya pabrik legitimasi elite, bukan laboratorium kebenaran.

Peringkat global bisa menjadi alat diplomasi internasional. Tapi di rumah sendiri, masyarakat ingin kampus yang menjaga nilai, bukan sekadar mengejar pamor.

Inilah momen evaluasi besar bagi UI.

Jika ingin tetap dihormati sebagai universitas terkemuka, UI harus berani menegakkan kebenaran, meski menyakitkan. Berani mempertahankan standar, meski melawan arus.

Ketika kampus menyerah pada tekanan politik, di saat itu pula ia kehilangan rohnya.

Universitas adalah benteng terakhir akal sehat bangsa. Jika benteng ini runtuh, siapa lagi yang bisa diandalkan untuk melahirkan pemimpin yang jujur, intelektual yang berintegritas, dan ilmuwan yang berani menyuarakan kebenaran?

Jangan Lewatkan:
  • Selamat Tinggal Agustus Kelabu: Tinggalkan Joget-joget di Istana
  • Abolisi Tak Sama Dengan Keadilan
  • Nasaruddin Umar di Puncak Kepuasan Publik
  • Koperasi Desa: Membangun atau Menguras?

Bukan hanya sekadar slogan “Veritas, Probitas, Iustitia”.

Kebenaran, kejujuran, dan keadilan seharusnya menjadi napas yang dihirup setiap sudut kampus. Jika ketiga nilai itu dikorbankan, maka nama Universitas Indonesia hanya akan jadi label kosong.

Dan ketika itu terjadi, kita semua yang kalah.

Etika Kampus integritas akademik Kasus Bahlil Predator Tambang Universitas Indonesia
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticlePrestasi UGM Cemerlang, Integritas Belum Tercermin
Next Article DPR Tolak Rencana Pajak Toko Online, Sebut Bebani UMKM di Tengah Krisis

Informasi lainnya

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026

MBG dan Risiko Cobra Effect

4 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Urban Farming: Mandiri di Kota

Opini Alfi Salamah

Menghargai Waktu

Islami Syamril Al-Bugisyi

Curug Pelangi, Panorama Air dan Cahaya

Travel Alfi Salamah

Ciri Orang Beriman: Sujud dan Ketundukan kepada Allah

Islami Assyifa

Keberangkatan Haji Diberkahi: Doa Khusus dari Rumah

Islami Alfi Salamah
Berita Lainnya
Ekonomi
Lisda Lisdiawati8 Desember 2025

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Kemenhaj Umumkan Penyakit Tak Lolos Syarat Haji 2026

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Lari Rutin Tapi Berat Badan Naik? Ini Penyebabnya!

Gelombang PHK Global 2025: Amazon hingga Nestlé Pangkas Ribuan Pekerja

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Produk Dapur Terlaris Mic Wireless Untuk Masjid
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi