Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Pesantren Pramuka Khalifa Gebrak Panggung ICOMUS 2026

Ferry Pimpin Syarikat Islam, Hamdan Ketua Dewan Pusat

Cegah Karhutla Berulang, PKS Kaltim Bergerak

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Senin, 26 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

UI di Puncak Ranking, Tercoreng Predator Tambang

Saat gelar akademik dijadikan tameng politik, reputasi kampus ikut jadi tumbal.
Udex MundzirUdex Mundzir28 Juni 2025 Editorial
Universitas Indonesia (UI)
Universitas Indonesia (UI) (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Universitas Indonesia (UI) kembali menorehkan prestasi di kancah internasional. Dalam pemeringkatan QS World University Rankings (QS WUR) 2026, UI berhasil masuk 10 besar universitas terbaik di Asia Tenggara.

Posisi ini memperlihatkan komitmen UI dalam meningkatkan kualitas riset, pengajaran, dan kolaborasi global. Tidak hanya mendongkrak reputasi nasional, prestasi ini juga menegaskan posisi UI sebagai salah satu kampus rujukan di Asia.

Namun, di balik kejayaan peringkat global, UI justru diterpa badai integritas yang mengguncang kepercayaan publik.

Kasus kelulusan kilat Bahlil Lahadalia — tokoh kontroversial yang dijuluki “predator tambang” — menjadi noda besar dalam sejarah akademik UI.

Bahlil, yang selama ini dikenal sebagai figur bisnis-politik agresif, berhasil meraih gelar doktor dari UI hanya dalam waktu yang dinilai “super kilat”. Publik langsung menyorot, bagaimana mungkin seorang menteri yang sibuk, dengan rekam jejak kontroversial, bisa menyelesaikan program doktoral dalam tempo yang tak wajar?

Lebih ironis, gelar ini kemudian digunakan sebagai legitimasi moral dan politik, seolah menjadi perisai dari kritik tajam publik.

Kasus Bahlil menjadi preseden buruk. Banyak orang bertanya: apakah UI hanya sekadar pabrik gelar bagi elite politik? Apakah tradisi akademik dan etika kampus hanya slogan kosong di poster promosi?

Di tingkat global, UI boleh saja naik peringkat. Namun, di mata masyarakat, penghargaan tertinggi adalah integritas.

Gelar akademik bukan sekadar selembar kertas. Ia adalah simbol perjuangan intelektual, hasil riset mendalam, dan pengabdian pada kebenaran ilmiah. Ketika gelar disulap jadi instrumen politik, harga diri institusi akademik runtuh.

Kasus ini mencoreng nama UI di mata publik. Apalagi, UI selama ini mengklaim diri sebagai kampus dengan tradisi kejujuran, intelektualitas, dan independensi.

Baca Juga:
  • Politik Kongkow, Rakyat Menunggu
  • Ikan Sapu-Sapu dan Krisis Sunyi
  • Jangan Normalisasi Israel
  • Memisah Pemilu, Memecah Stabilitas

Ketika berita Bahlil lulus dengan kecepatan luar biasa viral, banyak mahasiswa dan alumni merasa dihina. Rasa bangga pada almamater tercabik. Mereka yang menghabiskan bertahun-tahun di laboratorium, yang berjuang mengurus publikasi internasional, mendadak merasa usaha mereka dipermainkan.

Fakta bahwa UI mengonfirmasi proses kelulusan Bahlil sebagai “sudah sesuai prosedur” semakin memperdalam luka. Alih-alih membangun kepercayaan dengan membuka detail proses akademik, UI memilih menutup rapat detail disertasi dan sidang.

Ini menunjukkan betapa rapuhnya benteng integritas akademik di hadapan kekuasaan.

Apakah UI sadar bahwa keputusan ini mematikan moral akademik ribuan mahasiswanya? Apakah UI benar-benar rela menjadi alat legitimasi elite politik semata?

Dalam demokrasi sehat, kampus seharusnya jadi benteng moral terakhir. Ketika ruang politik dipenuhi transaksi dan kepentingan, kampus seharusnya tetap menjaga idealisme.

Ironisnya, UI yang selama ini dielu-elukan sebagai “kampus peradaban” justru gagal menjadi teladan. Keputusan meluluskan Bahlil secara kilat seakan menegaskan bahwa jabatan bisa membeli segalanya, termasuk gelar akademik tertinggi.

Luka ini bukan luka kecil.

Mahasiswa akan kehilangan motivasi jika mereka tahu bahwa jerih payah dan integritas kalah oleh kekuasaan. Para dosen akan gamang menegakkan standar akademik, karena preseden sudah diciptakan: jika punya posisi politik, prosedur bisa disesuaikan.

Tidak cukup dengan sekadar mengandalkan peringkat global. UI perlu membangun kembali integritas di dalam negeri. Tanpa kepercayaan publik, peringkat hanyalah angka.

UI harus mulai dari keterbukaan. Jika memang yakin tidak ada pelanggaran, buka detail disertasi Bahlil, paparkan durasi bimbingan, rincian penelitian, hingga kontribusi ilmiah yang dihasilkan.

Artikel Terkait:
  • Ijazah Jokowi: Bukan Privasi, Tapi Legitimasi
  • Larangan Baju Bekas: Tegas Boleh, Serampangan Jangan
  • Guru ASN di Sekolah Swasta
  • Koperasi Desa Tanpa Arah Nyata

Kemudian, UI perlu memperkuat audit etika akademik. Peninjauan ulang standar kelulusan harus melibatkan pengawas independen, agar tidak hanya menjadi formalitas internal.

Ketiga, UI harus mengembalikan marwah gelar akademik. Gelar bukan hadiah politik, bukan pula panggung promosi personal. Gelar adalah puncak pengakuan keilmuan yang seharusnya lahir dari proses panjang, kritis, dan transparan.

Jika UI gagal memperbaiki ini, maka publik akan semakin yakin bahwa kampus hanya pabrik legitimasi elite, bukan laboratorium kebenaran.

Peringkat global bisa menjadi alat diplomasi internasional. Tapi di rumah sendiri, masyarakat ingin kampus yang menjaga nilai, bukan sekadar mengejar pamor.

Inilah momen evaluasi besar bagi UI.

Jika ingin tetap dihormati sebagai universitas terkemuka, UI harus berani menegakkan kebenaran, meski menyakitkan. Berani mempertahankan standar, meski melawan arus.

Ketika kampus menyerah pada tekanan politik, di saat itu pula ia kehilangan rohnya.

Universitas adalah benteng terakhir akal sehat bangsa. Jika benteng ini runtuh, siapa lagi yang bisa diandalkan untuk melahirkan pemimpin yang jujur, intelektual yang berintegritas, dan ilmuwan yang berani menyuarakan kebenaran?

Jangan Lewatkan:
  • UKT dan Ilusi Kesejahteraan ASN
  • Merince Kogoya dan Batas Ekspresi
  • Ketika Kebijakan Membakar Dapur Rakyat
  • Di Atas Hukum, Di Luar Akal Sehat

Bukan hanya sekadar slogan “Veritas, Probitas, Iustitia”.

Kebenaran, kejujuran, dan keadilan seharusnya menjadi napas yang dihirup setiap sudut kampus. Jika ketiga nilai itu dikorbankan, maka nama Universitas Indonesia hanya akan jadi label kosong.

Dan ketika itu terjadi, kita semua yang kalah.

Etika Kampus integritas akademik Kasus Bahlil Predator Tambang Universitas Indonesia
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticlePrestasi UGM Cemerlang, Integritas Belum Tercermin
Next Article DPR Tolak Rencana Pajak Toko Online, Sebut Bebani UMKM di Tengah Krisis

Informasi lainnya

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Pandemi Berlalu, Industri Film Indonesia Proyeksikan Pertumbuhan

Happy Ericka

Perjalanan Pulang ke Samarinda: Di Bawah Langit Bontang yang Segar

Travel Sitiaisyah

Jejak Muda, Prestasi Nyata

Profil Lisda Lisdiawati

Di Atas Hukum, Di Luar Akal Sehat

Editorial Udex Mundzir

Jokowi Ingin Pegang Partai Anak?

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Pesantren Pramuka Khalifa Gebrak Panggung ICOMUS 2026

Wonderchicken, Jejak Burung Awal Zaman Dinosaurus

Ferry Pimpin Syarikat Islam, Hamdan Ketua Dewan Pusat

Asap Karhutla Menggila, Udara Kalimantan Berbahaya!

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Mic Wireless Untuk Masjid Buku Anak Islami Murah
“Landing

☪   JADWAL SALAT

Mendeteksi lokasi...

Memuat tanggal...

⌖  Menyiapkan lokasi
Memuat jadwal salat...
SALAT BERIKUTNYA —
Menunggu jadwal...
Metode Kemenag RI

© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi