Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Donny Ermawan, Nahkoda Pertama Universitas Republik Indonesia

Mengapa Universitas Republik Indonesia Jadi Sorotan?

Apa Itu Universitas Republik Indonesia? Kenali Misi Besarnya

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Jumat, 24 Juli 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Makan Gratis, Simbol Negara Gagal

Ketika negara memberi makan siang gratis, kita patut bertanya, apakah rakyat sedang dibantu, atau justru sedang dilecehkan martabatnya?
Udex MundzirUdex Mundzir18 April 2025 Editorial
Makan bergizi gratis
Ilustrasi Program Makan Bergizi Gratis (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Program makan siang gratis kini menjadi kebijakan unggulan. Diperkenalkan sebagai bentuk kepedulian negara terhadap rakyat kecil. Tapi, tidak sedikit yang mempertanyakan arah dan logikanya.

Salah satu kritik paling tajam datang dari Prof. Ryaas Rasyid. Ia menyebut, program ini merupakan penghinaan terhadap bangsa sendiri. Ucapannya terasa keras, namun punya dasar yang kuat. Bila negara harus memberi makan rakyat setiap hari, maka yang bermasalah bukan rakyat—tapi sistem sosial-ekonomi yang gagal menciptakan kondisi hidup layak.

Negara seharusnya menjadi fasilitator, bukan penyuap. Ketika rakyat butuh makan bergizi, negara wajib menciptakan kondisi agar mereka bisa bekerja dan membeli makanan sendiri. Bila negara malah turun tangan langsung menyediakan nasi bungkus, itu artinya negara gagal memberdayakan.

Rakyat kita tidak kekurangan semangat. Yang mereka kurang adalah akses terhadap modal, lapangan kerja, dan harga pangan yang masuk akal. Ketika semua itu tidak tersedia, lalu negara datang membawa makan siang, itu bukan solusi—itu tambal sulam.

Masalah lain yang lebih serius adalah beban anggaran. Program makan gratis akan menyedot dana negara hingga ratusan triliun per tahun. Di tengah situasi fiskal yang sudah sempit, hal ini sangat berisiko. Bila terjadi bencana besar atau krisis ekonomi global, cadangan fiskal akan menipis.

Baca Juga:
  • Tabrani dan Jejak Madura untuk Bangsa
  • Bisnis Militer: Jalan Menuju Politik?
  • Zakat Ternoda, Amanah Diperdagangkan
  • Gema Impian di Tengah Asa: Piala AFF 2024

Kebijakan ini juga membuka peluang moral hazard. Pemerintah pusat bisa terlihat baik karena memberi makan gratis, tapi pemerintah daerah harus menanggung beban operasional. Jika distribusi gagal atau mutu makanan buruk, rakyat menyalahkan pemda. Pemerintah pusat tinggal cuci tangan.

Semua ini menunjukkan bahwa program makan gratis bukan semata soal kemanusiaan. Ia sarat muatan politik dan pencitraan. Terlalu banyak kebijakan di negeri ini lahir dari kepentingan elektoral. Rakyat dijadikan komoditas suara, bukan subjek pembangunan.

Kita bisa lihat dari cara narasi ini dibangun sejak awal kampanye. Yang digambarkan bukan solusi jangka panjang, melainkan efek instan. Rakyat lapar? Diberi makan. Selesai. Padahal, pertanyaan yang harus dijawab adalah: kenapa rakyat masih lapar? Kenapa mereka tidak bisa membeli makanan?

Alih-alih memberi makan gratis, lebih masuk akal jika anggaran sebesar itu digunakan untuk membangun sistem pangan yang tangguh. Perkuat koperasi petani, subsidi benih, stabilkan harga pupuk, ciptakan lapangan kerja di sektor desa. Itu baru solusi.

Apakah anak-anak sekolah butuh asupan gizi? Tentu saja. Tapi apakah negara harus menjadi tukang masak? Tidak harus. Negara cukup memastikan harga pangan murah dan pendapatan keluarga stabil. Maka, anak-anak akan makan bergizi tanpa perlu disuapi negara.

Artikel Terkait:
  • Negara Diam, Judi Online Merajalela
  • Narasi Dizalimi, Strategi Politik
  • Siapa Kenyang dari Proyek Makan Bergizi?
  • Gaduh Ijazah dan Politik Adu Domba

Yang lebih menyedihkan adalah narasi yang menyamakan makan gratis dengan keadilan sosial. Ini manipulatif. Keadilan bukan soal siapa yang dapat jatah makan. Tapi soal siapa yang dapat kesempatan kerja, siapa yang bisa bertani dengan untung, dan siapa yang bebas dari beban utang.

Sementara itu, suara-suara kritik terhadap program ini kerap dibungkam dengan label: “anti rakyat kecil” atau “tidak punya empati.” Padahal, justru sebaliknya. Kritik lahir dari kepedulian pada martabat rakyat. Bahwa rakyat tidak ingin selamanya diberi. Mereka ingin mampu berdiri sendiri.

Program ini juga berisiko menciptakan generasi yang pasif. Anak-anak terbiasa mendapat makan tanpa tahu dari mana asalnya. Mereka tumbuh dalam sistem yang memberi tanpa mengajarkan proses. Lama-lama, yang lahir bukan kemandirian, tapi ketergantungan massal.

Rakyat tidak minta disuapi. Mereka minta harga beras stabil. Mereka ingin ada pekerjaan yang layak. Mereka ingin pupuk tidak langka. Mereka ingin penghasilan cukup untuk memberi makan keluarga mereka sendiri.

Jangan Lewatkan:
  • Pilkada Sampang 2024: Situasi Ketat, Mandat Diunggulkan
  • Menyingkap Tabir di Balik ‘Penyalahgunaan Wewenang’
  • Selat Hormuz dan Ancaman Ekonomi Dunia
  • Kesenjangan di Balik Ketentuan Gaji Dosen PTS

Jika negara sungguh ingin membantu, mulailah dari perbaikan sistem. Jangan hanya sibuk menyuapi. Bantu rakyat berdiri, bukan duduk menunggu nasi kotak.

Fiskal Negara Kemandirian Bangsa Kritik Kebijakan Politik Anggaran Program Makan Gratis
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleRencana 500 Batalyon TNI Tidak Instan, Fokus Awal 100 Unit
Next Article Tugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’

Informasi lainnya

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Mar’ie Muhammad: Pejuang Integritas dan Kesederhanaan

Biografi Ericka

Ijazah Asli (KataPolisi), Proses Masih Abu-Abu

Editorial Udex Mundzir

Diesel X: BBM Baru Pertamina yang Lebih Efisien dan Ramah Lingkungan

Techno Assyifa

Gen Z dan Tantangan Tanpa Ponsel

Profil Alfi Salamah

Senyum Sebagai Sedekah yang Bernilai Ibadah

Islami Silva
Berita Lainnya
Daerah
Alfi Salamah19 Juli 2026

Kemarau Ubah Situ Gede Tasikmalaya Jadi Hamparan Rumput Hijau

Bahaya Tidur Terlalu Lama untuk Kesehatan Tubuh

Tradisi Poligami Raja-Raja Arab Saudi dalam Mempersatukan Negara

Bukan Kutukan, Ini Penyebab Mata Kedutan Menurut Medis

Pulau Natal Pernah Luput dari Republik Indonesia, Kini Milik Australia

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Produk Dapur Terlaris Perlengkapan Pramuka Lengkap
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi