Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Bank Mandiri dan Krisis Kepercayaan

Kemenhut Sanksi 6 Perusahaan Usai Karhutla

Dating Tanpa Alkohol, Tren Baru Generasi Muda

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Rabu, 26 Agustus 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Omong Kosong Industri Kreatif

Ketika kreativitas dielu-elukan di panggung, tetapi diremehkan di praktik, maka yang tumbuh bukan industri, melainkan ilusi.
Udex MundzirUdex Mundzir30 Maret 2026 Editorial
Omong Kosong Industri Kreatif
Ilustrasi pekerja kreatif
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Narasi besar tentang industri kreatif terus digaungkan sebagai masa depan ekonomi Indonesia. Pemerintah, pelaku usaha, hingga akademisi sepakat bahwa kreativitas adalah sumber daya baru yang tak terbatas.

Namun di balik optimisme itu, ada realitas yang jauh dari ideal. Industri kreatif sering kali hanya menjadi jargon, bukan ekosistem yang benar-benar dipahami dan dihargai. Kita sering mendengar istilah ekonomi berbasis ide, inovasi, dan kreativitas. Tetapi dalam praktiknya, kerja kreatif justru kerap dipandang sebelah mata.

Banyak pekerja kreatif menghadapi situasi yang sama: diminta berkarya maksimal, tetapi dihargai minimal. Bahkan tidak jarang, hasil kerja mereka dianggap bisa “dibuat cepat” atau “tidak butuh biaya besar”.

Inilah paradoks yang terjadi. Di satu sisi, kreativitas dipromosikan sebagai kekuatan ekonomi. Di sisi lain, pelakunya tidak mendapatkan pengakuan yang layak.

Fenomena ini terlihat jelas dalam berbagai sektor. Desainer grafis diminta revisi tanpa batas. Videografer ditawar hingga jauh di bawah harga wajar. Penulis diminta bekerja demi “eksposur”.

Lebih ironis lagi, dalam beberapa kasus, kerja kreatif bahkan dinilai tidak memiliki nilai sama sekali. Seolah-olah ide, konsep, dan proses kreatif tidak layak dihitung sebagai bagian dari biaya.
Padahal, dalam ekonomi modern, nilai terbesar justru lahir dari sesuatu yang tidak berwujud. Ide, kreativitas, dan inovasi menjadi fondasi utama dalam menciptakan nilai tambah.

Negara-negara maju telah lama memahami hal ini. Mereka melindungi hak kekayaan intelektual, menghargai proses kreatif, dan memberikan insentif bagi pelaku industri kreatif.

Di Indonesia, pemahaman ini belum sepenuhnya merata. Banyak pihak masih menggunakan logika lama, di mana nilai hanya diukur dari sesuatu yang bisa dilihat dan disentuh. Akibatnya, terjadi benturan antara narasi dan realitas. Industri kreatif dipuji dalam pidato, tetapi dipertanyakan dalam praktik.

Dari sisi hukum, persoalan ini menjadi semakin kompleks. Ketika terjadi sengketa, penilaian terhadap kerja kreatif sering kali tidak menggunakan standar yang tepat. Jasa kreatif disamakan dengan barang fisik. Nilainya diukur dengan pendekatan yang tidak relevan. Bahkan dalam beberapa kasus, pekerjaan kreatif dinilai nol.

Baca Juga:
  • Jangan Lupa! Palestina Dirampas, Israel Berdiri
  • Jokowi Ingin Pegang Partai Anak?
  • Isu, Skandal, dan Politik Panggung
  • Bisnis Militer: Jalan Menuju Politik?

Ini bukan hanya kesalahan teknis, tetapi juga kegagalan memahami esensi industri kreatif.
Dari sisi ekonomi, kondisi ini menghambat pertumbuhan sektor kreatif. Pelaku usaha menjadi ragu untuk berinvestasi. Pekerja kreatif kehilangan motivasi untuk berkembang.

Padahal, potensi industri kreatif di Indonesia sangat besar. Dengan populasi muda yang dominan dan akses teknologi yang luas, Indonesia memiliki modal kuat untuk menjadi pemain utama.

Namun potensi itu tidak akan berkembang tanpa ekosistem yang mendukung. Kreativitas membutuhkan ruang, penghargaan, dan kepastian. Dari sisi sosial, dampaknya juga terasa. Profesi kreatif sering dianggap tidak stabil, tidak serius, atau bahkan tidak menjanjikan.

Pandangan ini membuat banyak talenta muda ragu untuk menekuni bidang kreatif. Mereka memilih jalur yang dianggap lebih “aman”, meskipun tidak sesuai dengan minat dan bakat.
Akibatnya, kita kehilangan banyak potensi yang seharusnya bisa berkembang.

Dari sisi budaya, ini juga mencerminkan cara kita menghargai karya. Kita menikmati hasilnya, tetapi sering mengabaikan prosesnya.

Kita ingin konten berkualitas, tetapi tidak ingin membayar mahal. Kita ingin karya terbaik, tetapi tidak mau menghargai pembuatnya.

Ini adalah kontradiksi yang harus disadari. Industri kreatif tidak bisa tumbuh dalam lingkungan yang tidak menghargai kreativitas itu sendiri.

Lalu, apa yang harus dilakukan?

Artikel Terkait:
  • Ilmu yang Terasing di Negeri Sendiri
  • Hukum yang Dikebut, Rakyat yang Terjebak
  • Titik Kritis Kepemimpinan Prabowo
  • Pilwalkot Samarinda 2024: Formalitas Saja

Pertama, perlu ada perubahan cara pandang. Kreativitas bukan sekadar hobi, tetapi profesi yang memiliki nilai ekonomi.

Kedua, pemerintah harus memperkuat regulasi yang melindungi pekerja kreatif. Hak kekayaan intelektual harus ditegakkan. Penilaian jasa kreatif harus memiliki acuan yang jelas.

Ketiga, dunia pendidikan perlu menanamkan pemahaman tentang nilai kreativitas sejak dini. Generasi muda harus didorong untuk tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga pencipta.

Keempat, pelaku industri juga harus berani menetapkan standar. Tidak semua pekerjaan harus diterima, terutama jika tidak dihargai dengan layak.

Kelima, masyarakat perlu belajar menghargai karya. Membayar karya kreatif dengan layak adalah bentuk dukungan nyata terhadap industri ini.

Pada akhirnya, industri kreatif bukan sekadar slogan. Ia adalah ekosistem yang membutuhkan keseriusan dari semua pihak.

Jangan Lewatkan:
  • Ladang Ganja di Bromo: Polisi Tidak Tahu atau Tutup Mata?
  • Jangan Goyang Pemerintah Sah
  • Bukan Lalai, Tapi Sinyal Korupsi
  • Bayang-Bayang Dwifungsi

Jika kita terus memperlakukan kreativitas sebagai sesuatu yang bisa dinegosiasikan hingga nol, maka industri ini tidak akan pernah benar-benar tumbuh. Yang ada hanyalah ilusi sebuah narasi besar tanpa fondasi yang kuat.

Dan selama itu terjadi, setiap pembicaraan tentang “masa depan industri kreatif” tidak lebih dari sekadar omong kosong.

Budaya Kerja Ekonomi Kreatif Industri Kreatif Kebijakan Publik Pekerja Kreatif
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleLogika Nol yang Menyesatkan
Next Article WFH ASN Dimulai April, Swasta Turut Diimbau Ikut

Informasi lainnya

URI: Lantik Dulu, Masalah Kemudian

27 Juli 2026

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Tan Malaka: Pejuang Tanpa Mahkota

Profil Alfi Salamah

Curug Pelangi, Panorama Air dan Cahaya

Travel Alfi Salamah

Ijazah Jokowi: Bukan Privasi, Tapi Legitimasi

Editorial Udex Mundzir

Shuka Grill: Pilihan All You Can Eat yang Memikat

Food Lina Marlina

Kisah Inspiratif Pria 39 Tahun Mengabdi di Pabrik Kiswah Ka’bah

Islami Alfi Salamah
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Tugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’

Ujian Tatap Muka UT di Tasikmalaya Berjalan Tertib dan Ketat

Gunung Raung Erupsi, Warga Diminta Jauhi Kawah dalam Radius Tiga Kilometer

Lari Rutin Tapi Berat Badan Naik? Ini Penyebabnya!

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Alat Tulis Sekolah Murah Buku Anak Islami Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi