Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

SPPG De La Tina Ciamis Terapkan Inovasi Pengelolaan Limbah Dapur MBG

Generasi Strawberry: Saat Gen Z Dinilai Rentan Tekanan

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Jumat, 2 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Di balik kepulan asap, kebenaran harus dicari dengan bukti, bukan kecurigaan.
Alfi SalamahAlfi Salamah21 Agustus 2026 Lingkungan 506 Views
Karhutla di Kalimantan
Ilusrtrasi petugas berjuang memadamkan karhutla di Kalimantan
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Asap kembali datang dari sejumlah wilayah Kalimantan pada musim kemarau tahun ini. Kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi perhatian nasional. Namun, pertanyaan lain ikut muncul di tengah masyarakat. Apakah semua kebakaran tersebut murni terjadi karena alam?

Pertanyaan itu wajar muncul ketika kebakaran terjadi berulang setiap musim kering. Namun, menyebutnya sebagai “konspirasi” membutuhkan bukti yang sangat kuat. Data resmi saat ini belum membuktikan adanya operasi terorganisasi untuk membakar Kalimantan.

Meski demikian, faktor manusia memang tidak dapat dikesampingkan.

BNPB bahkan memasukkan Kalimantan Barat, Tengah, dan Selatan sebagai provinsi prioritas penanganan karhutla. Prioritas juga diberikan kepada Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan.

Situasinya juga bukan masalah kecil. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyebut hampir 95.000 hektare lahan terbakar selama Juli 2026. Angka itu hampir dua kali lipat luas kebakaran selama enam bulan sebelumnya.

El Nino Membuat Kalimantan Semakin Mudah Terbakar

Ada faktor alam yang tidak boleh diabaikan dalam membaca situasi sekarang.

BMKG sebelumnya memprediksi El Niño berkembang menjadi kategori moderat hingga kuat pada pertengahan 2026. Kondisi tersebut berpotensi membuat musim kering semakin terasa di sejumlah wilayah.

Pada Dasarian II Juli 2026, BMKG mencatat 72,8 persen wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau. Curah hujan rendah bahkan mencakup 92,93 persen wilayah.

KLH/BPLH kemudian menyatakan El Niño kuat telah berlangsung sejak Juli 2026. Pemerintah memperingatkan kondisi itu dapat memperparah kekeringan.

Artinya, vegetasi dan lahan menjadi semakin kering. Api kecil pun lebih mudah berkembang menjadi kebakaran luas.

Namun, kondisi kering tidak selalu berarti api muncul dengan sendirinya.

BNPB: Mayoritas Kebakaran Dipicu Manusia

Inilah bagian yang membuat isu karhutla semakin menarik untuk ditelusuri.

Saat meninjau Kubu Raya, Kalimantan Barat, Jumat (7/8/2026), BNPB menyoroti faktor manusia. Deputi Penanganan Darurat BNPB Budi Irawan menyampaikan pernyataan tegas.

“99 persen lahan yang terbakar ini karena ulah manusia,” ujar Budi.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah BNPB berdialog dengan petugas dan masyarakat di Kubu Raya. Menurut BNPB, kebakaran mayoritas dipicu oknum yang sengaja membakar.

Namun, angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati.

Pernyataan itu tidak berarti 99 persen kebakaran Kalimantan dilakukan sebuah kelompok terorganisasi. Faktor manusia mencakup banyak kemungkinan dan motif berbeda.

Pembakaran sampah bisa merambat ke lahan kering. Api untuk membersihkan kebun juga dapat lepas kendali. Pembukaan lahan menggunakan api menjadi risiko lainnya.

Karena itu, “disebabkan manusia” berbeda dengan “konspirasi terorganisasi”.

Mengapa Membakar Lahan Masih Menjadi Sorotan?

Api menjadi metode yang berbahaya untuk membersihkan vegetasi.

Ketika lahan sedang kering, pembakaran kecil dapat berubah menjadi bencana. Angin kemudian dapat membawa api menuju kawasan yang lebih luas.

Baca Juga:
  • BNPB Tolak Bantuan Asing, Penanganan Karhutla Dianggap Masih Terkendali
  • BMKG Ingatkan Hujan Lebat 15-21 Februari
  • Sejauh Apa Abu Vulkanik Bisa Terbang?
  • Normalisasi Sungai di Bontang Atasi Banjir Rob,Pemprov Kaltim-TNI

Risikonya semakin besar pada lahan gambut.

BNPB menjelaskan karakter gambut menjadi tantangan besar dalam pemadaman di Kalimantan Barat. Api dapat bertahan di bawah permukaan dan sulit dipadamkan sepenuhnya.

Karena ancamannya meningkat, KLH/BPLH menerbitkan Surat Edaran Nomor 16 Tahun 2026.

Aturan yang diterbitkan Senin (10/8/2026) itu melarang pembukaan lahan dengan cara membakar. Pemerintah daerah juga diminta meningkatkan pencegahan dan pengawasan.

Lalu, Bagaimana dengan Dugaan Kepentingan Bisnis?

Inilah bagian yang kerap memunculkan teori liar di media sosial.

Kebakaran lahan sering dikaitkan dengan pembukaan perkebunan atau kepentingan perusahaan. Hubungan tersebut tidak boleh langsung dianggap benar tanpa penyelidikan.

Namun, pemerintah memang sedang meningkatkan pengawasan terhadap korporasi.

Kementerian Kehutanan melakukan pemeriksaan terhadap empat perusahaan pemegang izin kehutanan di Kalimantan Barat. Pemeriksaan berlangsung pada Senin 10-14 Agustus 2026 lalu.

Pemeriksaan dilakukan terhadap sarana, personel, dan sistem pengendalian kebakaran perusahaan.

Empat perusahaan tersebut beroperasi di Ketapang dan Sanggau. Pemerintah ingin memastikan pemegang izin siap mencegah kebakaran sebelum titik api muncul.

Hal penting perlu digarisbawahi.

Pemeriksaan perusahaan bukan bukti bahwa perusahaan tersebut menyebabkan kebakaran.

Tidak tepat menyimpulkan mereka sebagai pelaku hanya karena sedang diperiksa pemerintah. Pengawasan kepatuhan merupakan bagian dari pencegahan.

Hotspot di Area Izin Juga Belum Membuktikan Pelaku

Kementerian Kehutanan juga meningkatkan deteksi dini di Kalimantan Selatan.

Pemantauan dilakukan menggunakan data titik panas pada areal pemegang izin kehutanan. Informasi tersebut kemudian diteruskan untuk diverifikasi langsung di lapangan.

Hal ini penting karena hotspot sering disalahartikan di media sosial.

Titik panas bukan otomatis bukti pembakaran.

Lokasi hotspot yang berada di wilayah konsesi juga tidak otomatis membuktikan perusahaan sebagai pelaku. Penyebab kebakaran tetap membutuhkan pemeriksaan lapangan dan proses hukum.

Tanpa tahapan tersebut, tuduhan dapat berubah menjadi informasi menyesatkan.

Kasus Pembakaran Memang Nyata

Meski teori konspirasi belum terbukti, pembakaran oleh individu bukan sekadar kemungkinan.

BNPB mencatat kebakaran di Bulungan, Kalimantan Utara, pada Kamis (13/8/2026). Informasi warga menyebut api diduga berasal dari pembakaran saat pembukaan lahan untuk rumah.

Artikel Terkait:
  • Empat Wisata di Puncak Bogor Disegel, Dedi Mulyadi: Penyebab Banjir dari Sini
  • Greenpeace: Tambang Nikel Gag Ancam Keanekaragaman Hayati
  • Kasus Radiasi Cikande Masuk Tahap Penyidikan, PT PMT Dianggap Lalai
  • Kebun Mini Super Kilat di Rumah

Sekitar empat hektare lahan terbakar akibat kejadian tersebut. Penanganan masih berlangsung ketika BNPB mengeluarkan laporan Jumat (14/8/2026) lalu.

Kasus seperti ini menunjukkan faktor manusia memang nyata.

Namun, setiap kebakaran tetap harus diperiksa secara terpisah. Motif satu kasus tidak dapat digunakan untuk menjelaskan seluruh kebakaran di Kalimantan.

Cuaca Bukan Pelaku, tetapi Bisa Memperbesar Bencana

Perdebatan “alam atau manusia” sebenarnya terlalu sederhana.

Keduanya dapat saling memperkuat.

Manusia dapat menyediakan sumber api. El Niño dan musim kemarau menyediakan kondisi yang membuat api mudah berkembang.

Vegetasi kering menjadi bahan bakar. Angin membantu api menyebar. Gambut membuat proses pemadaman semakin rumit.

Kombinasi tersebut dapat mengubah api kecil menjadi kebakaran besar.

Pada Selasa (11/8/2026), misalnya, sekitar 15 hektare lahan terbakar di Kutai Kartanegara.

Kebakaran juga terjadi di beberapa wilayah Kalimantan Timur sepanjang Agustus.

BNPB mencatat kejadian di Berau, Bontang, Paser, dan wilayah lainnya. Penyebab beberapa kejadian masih belum diketahui atau diselidiki.

Mengapa Narasi “Konspirasi” Mudah Dipercaya?

Karhutla memiliki sejarah panjang dan berulang di Indonesia.

Ketika kebakaran kembali muncul, masyarakat kemudian mencari pihak yang dianggap bertanggung jawab. Foto satelit dan peta hotspot juga cepat menyebar melalui media sosial.

Masalah muncul ketika potongan informasi tersebut disusun menjadi kesimpulan tanpa bukti.

Satu hotspot dianggap bukti pembakaran. Lokasi kebakaran di sekitar izin perusahaan dianggap bukti keterlibatan korporasi. Musim kemarau dianggap satu-satunya penyebab.

Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks.

Investigasi karhutla membutuhkan pemeriksaan lokasi, saksi, pola api, kepemilikan lahan, hingga bukti hukum.

Jangan Lewatkan:
  • Indonesia Dinilai Kurang Serius Atasi Polusi Plastik
  • Seno Aji Kecam Penambang Nakal di Kaltim
  • KLH Dorong Pembatasan Impor Plastik Virgin Demi Kurangi Sampah
  • Laju Deforestasi Indonesia 2024 Tembus 175 Ribu Ha

Jadi, Apakah Ada Konspirasi?

Sampai Jumat (21/8/2026), belum ada bukti kredibel yang menunjukkan karhutla Kalimantan merupakan satu konspirasi besar dan terkoordinasi.

Namun, itu bukan berarti faktor manusia boleh diabaikan.

BNPB secara terbuka menyebut aktivitas manusia sebagai penyebab dominan pada kebakaran yang mereka tangani di Kubu Raya. Pemerintah juga memperketat larangan pembakaran lahan.

Korporasi sedang diawasi untuk memastikan kepatuhan pencegahan kebakaran. Aparat juga memiliki dasar hukum untuk menindak pembakaran sengaja maupun akibat kelalaian.

Sementara itu, El Niño menciptakan kondisi yang membuat risiko kebakaran semakin tinggi.

Karena itu, pertanyaan paling berguna mungkin bukan “siapa dalang di balik semuanya?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah siapa yang menyalakan api pada setiap kasus. Lalu, apakah terjadi kelalaian, kesengajaan, atau pelanggaran hukum.

Jawabannya harus datang dari bukti.

Karhutla Kalimantan memang menyimpan banyak pertanyaan. Namun, kabut asap tidak seharusnya membuat fakta ikut menjadi kabur.

El Nino Fakta Karhutla Karhutla Kalimantan Kebakaran Hutan Lingkungan Indonesia
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleEra Smartphone Berakhir, Apa Penggantinya?
Next Article Kalimantan Diselimuti Asap, Ribuan Warga Kena ISPA

Informasi lainnya

SPPG De La Tina Ciamis Terapkan Inovasi Pengelolaan Limbah Dapur MBG

25 September 2026

Sejauh Apa Abu Vulkanik Bisa Terbang?

11 September 2026

Anak Krakatau, Pengingat dari Negeri Cincin Api

9 September 2026

Bekas Karhutla Berau Ditanami Sawit, Polisi Selidiki

8 September 2026

Bakar Batu Papua, Lebih dari Sekadar Memasak

2 September 2026

Jakarta Darurat Sampah, Pencegahan Jadi Kunci

30 Agustus 2026
Paling Sering Dibaca

Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan Baru

Profil Ericka

Golkar di Persimpangan Jalan

Editorial Udex Mundzir

Nikmati Liburan Tanpa Sakit dengan Gaya CERIA

Travel Ericka

Jejak Dapur Gratis Ottoman, Amal atau Legitimasi?

Islami Lisda Lisdiawati

Titiek Puspa: Legenda Musik yang Menembus Zaman

Biografi Ericka
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Puncak Mudik Lebaran 2026 Diprediksi Terjadi Dua Kali

Pulau Natal Pernah Luput dari Republik Indonesia, Kini Milik Australia

Hamangkunegoro Dinobatkan sebagai Pakubuwono XIV di Surakarta

UNESCO Akui 5 Arsip Indonesia Sebagai Warisan Dunia

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Mic Wireless Untuk Masjid Produk Dapur Terlaris Produk Dapur Terlaris
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi