Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Dana Pendidikan Dikorupsi, Sitaan Korupsi untuk Pendidikan Gratis. Aneh!

Danny Setiawan Wafat, Jejak Panjang Birokrat Jabar

24.200 Hektare Sawah Bandung Menuju LP2B

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 24 September 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Kenapa Ikan Sapu-Sapu Disebut Invasif? Ini Faktanya

Fenomena lonjakan ikan sapu-sapu di sungai Jakarta picu kekhawatiran karena berdampak serius pada ekosistem perairan.
Alfi SalamahAlfi Salamah15 April 2026 Lingkungan
Ikan sapu-sapu invasif
Ikan Sapu-Sapu (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Jakarta – Kemunculan ikan sapu-sapu yang memenuhi aliran sungai di kawasan Bundaran HI menjadi sorotan publik. Fenomena ini tidak hanya menarik perhatian warga, tetapi juga memicu kekhawatiran pemerintah karena dampaknya terhadap keseimbangan lingkungan perairan di ibu kota.

Dalam beberapa waktu terakhir, populasi ikan sapu-sapu terlihat mendominasi aliran sungai di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) pun bergerak cepat menangani kondisi tersebut dengan melakukan penangkapan dan pemusnahan ikan yang dianggap sebagai spesies invasif.

Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, menjelaskan bahwa proses pemusnahan dilakukan secara hati-hati. Hal ini karena ikan sapu-sapu memiliki kemampuan bertahan hidup yang sangat tinggi, bahkan dalam kondisi ekstrem sekalipun.

“Sebelumnya harus dipastikan sudah mati dulu baru dikubur. Karena ikan tersebut mempunyai kemampuan tinggi untuk bertahan hidup jadi dipastikan dulu mati baru dikubur,” ujar Hasudungan, belum lama ini.

Selain itu, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, juga meminta agar operasi pembersihan ikan sapu-sapu tidak hanya dilakukan di Jakarta Pusat, tetapi diperluas ke seluruh wilayah ibu kota yang terdampak.

Baca Juga:
  • Indonesia-Gold Standard Akui Sertifikat Karbon Secara Timbal Balik
  • Seno Aji Kecam Penambang Nakal di Kaltim
  • Greenpeace: Tambang Nikel Gag Ancam Keanekaragaman Hayati
  • Jakarta Peringkat 45 Kota Paling Berpolusi di Dunia

“Saya akan meminta tidak hanya di Jakarta Pusat, di semua wilayah yang ikan sapu-sapunya banyak untuk kita adakan operasi,” kata Pramono.

Ikan sapu-sapu sendiri dikenal sebagai spesies yang berasal dari Amerika Selatan, khususnya dari Sungai Amazon. Kehadirannya di Indonesia diduga melalui ikan hias akuarium yang kemudian dilepas ke perairan bebas. Seiring waktu, ikan ini berkembang pesat dan mulai mendominasi habitat baru.

Salah satu alasan utama ikan sapu-sapu dikategorikan sebagai spesies invasif adalah kemampuannya berkembang biak dengan cepat. Dalam satu periode bertelur, ikan betina dapat menghasilkan ribuan telur, sehingga populasinya sulit dikendalikan.

Selain itu, ikan ini juga mampu bertahan di berbagai kondisi perairan, termasuk yang tercemar. Sebagai pemakan dasar, ikan sapu-sapu kerap mengonsumsi material di dasar sungai yang mengandung polutan. Akibatnya, tubuh ikan ini dapat menyerap logam berat seperti timbal, merkuri, kadmium, hingga arsenik.

Artikel Terkait:
  • Laju Deforestasi Indonesia 2024 Tembus 175 Ribu Ha
  • Koalisi Papua Kecam Intervensi Pejabat Terkait Tambang Raja Ampat
  • Mahasiswa Geruduk Gedung Dewan, Tuntut Tambang Ilegal Ditutup
  • Menteri ESDM Hentikan Tambang Nikel di Raja Ampat Milik Antam

Kondisi tersebut membuat ikan sapu-sapu tidak layak untuk dikonsumsi karena berpotensi membahayakan kesehatan manusia. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan kandungan logam berat dalam daging ikan ini cukup tinggi, terutama di perairan yang tercemar.

Tak hanya itu, keberadaan ikan sapu-sapu juga berdampak pada ekosistem. Mereka dapat mendominasi perairan dan mengalahkan ikan lokal dalam mendapatkan makanan. Hal ini berpotensi merusak rantai makanan dan menurunkan keanekaragaman hayati di sungai.

Dengan berbagai dampak tersebut, pemerintah terus berupaya mengendalikan populasi ikan sapu-sapu agar tidak semakin meluas. Penanganan ini diharapkan mampu menjaga keseimbangan ekosistem perairan sekaligus melindungi lingkungan dari ancaman spesies invasif.

Jangan Lewatkan:
  • Pj Gubernur DKI dan Dishub Bahas Jam Kerja 2 Sesi untuk Redakan Kemacetan
  • Banjir 3 Meter di Pancoran, Anak-anak Nekat Bermain Air
  • Ekoenzim Lawan Limbah Binatu
  • AS Proyeksikan Kapasitas Pembangkit Listrik Batu Bara Turun Lebih dari Setengah Pada 2050

Fenomena ini menjadi pengingat pentingnya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, termasuk pengawasan terhadap spesies asing yang berpotensi merusak ekosistem lokal.

DKI Jakarta Ekosistem Sungai Ikan Sapu Sapu Lingkungan Hidup Spesies Invasif
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleBukan Sekadar Menang, Tapi Diterima
Next Article Biaya Haji 2026 Naik Rp8,46 Triliun, Negara akan Tanggung Selisihnya

Informasi lainnya

Sejauh Apa Abu Vulkanik Bisa Terbang?

11 September 2026

Anak Krakatau, Pengingat dari Negeri Cincin Api

9 September 2026

Bekas Karhutla Berau Ditanami Sawit, Polisi Selidiki

8 September 2026

Bakar Batu Papua, Lebih dari Sekadar Memasak

2 September 2026

Jakarta Darurat Sampah, Pencegahan Jadi Kunci

30 Agustus 2026

Kemenhut Sanksi 6 Perusahaan Usai Karhutla

25 Agustus 2026
Paling Sering Dibaca

Adam D’Angelo: Pendiri Quora dan Mantan CTO Facebook

Profil Ericka

Lulusan Gen Z Banyak Dipecat? Kenali Masalah dan Solusinya

Happy Udex Mundzir

Ketika Pramuka Belajar Korupsi

Perspektif Udex Mundzir

Keindahan Alam Jepang yang Mempesona di Setiap Musim

Travel Alfi Salamah

Liburan Hemat ke Jepang untuk Pemula

Travel Alfi Salamah
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Puncak Mudik Lebaran 2026 Diprediksi Terjadi Dua Kali

Gunung Raung Erupsi, Warga Diminta Jauhi Kawah dalam Radius Tiga Kilometer

Tugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Perlengkapan Pramuka Lengkap Mic Wireless Untuk Masjid
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi