Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Kemarau Ubah Situ Gede Tasikmalaya Jadi Hamparan Rumput Hijau

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

Mengapa Sungai Indonesia Cepat Kotor? Ini Penjelasan Ahli

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Jumat, 24 Juli 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Suhu Laut Global Masih Tinggi Usai Rekor 2025

Ilmuwan mencatat panas di lautan belum menurun dan berpotensi memicu cuaca ekstrem global.
Alfi SalamahAlfi Salamah13 April 2026 Lingkungan
Lingkungan
Suhu laut global belum turun 2026
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Jakarta – Para ilmuwan mengungkapkan kekhawatiran serius terhadap kondisi lautan dunia yang masih menyimpan panas dalam jumlah besar sejak rekor tahun 2025. Data terbaru menunjukkan bahwa suhu panas di dalam laut belum mengalami penurunan signifikan, meski kondisi permukaan sempat sedikit mendingin.

Berdasarkan hasil analisis gabungan dari lebih dari 50 ilmuwan internasional, lautan dunia pada 2025 menyerap sekitar 23 zettajoule energi panas. Jumlah ini setara dengan konsumsi energi global manusia selama puluhan tahun.

Temuan tersebut diperkuat oleh data dari Chinese Academy of Sciences, Copernicus Marine Service, dan NOAA/NCEI yang menunjukkan tren serupa dalam peningkatan suhu laut.

Laut diketahui menyerap lebih dari 90 persen panas akibat efek rumah kaca, sehingga menjadi indikator utama dalam mengukur pemanasan global. Tidak seperti suhu udara yang fluktuatif akibat fenomena El Niño dan La Niña, panas di dalam laut cenderung bertahan dalam jangka waktu panjang.

“Laut menjadi indikator utama perubahan iklim karena kemampuannya menyimpan panas dalam jangka panjang,” ungkap salah satu peneliti dalam laporan tersebut.

Baca Juga:
  • Sikat Gigi: Kontributor Tersembunyi Krisis Iklim
  • Pemerintah Cabut 4 IUP Tambang Nikel di Raja Ampat
  • Penajam: Desa-Desa Masuk IKN, Butuh Solusi Adil
  • Buka Puasa Lintas Iman Dorong Kepedulian Lingkungan

Meskipun suhu permukaan laut pada 2025 sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya akibat peralihan dari El Niño ke La Niña, jumlah panas yang tersimpan di lapisan laut dalam tetap meningkat. Panas tersebut bahkan tercatat mencapai kedalaman hingga 2.000 meter dari permukaan.

Kondisi ini menyebabkan perubahan signifikan pada pola iklim global. Sekitar 16 persen wilayah laut dunia tercatat mencapai suhu tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Wilayah yang mengalami pemanasan paling cepat meliputi Atlantik tropis dan selatan, Pasifik utara, serta Samudra Selatan.

Peningkatan suhu laut yang tidak merata ini berdampak langsung pada perubahan pola cuaca dan ekosistem laut. Laut yang lebih hangat mempercepat proses penguapan, sehingga meningkatkan kandungan uap air di atmosfer. Akibatnya, curah hujan menjadi lebih tinggi dan memicu terbentuknya badai tropis yang lebih intens.

Sepanjang 2025, kondisi ini dikaitkan dengan berbagai bencana di sejumlah wilayah dunia, termasuk banjir di Asia Tenggara, kekeringan di Timur Tengah, serta banjir di Meksiko dan kawasan Pasifik Barat Laut.

Dampak lain yang tidak kalah penting adalah kenaikan permukaan laut akibat ekspansi termal. Air laut yang lebih hangat akan mengembang, sehingga meningkatkan volume air laut meskipun tanpa tambahan dari pencairan es.

Artikel Terkait:
  • Greenpeace: Tambang Nikel Gag Ancam Keanekaragaman Hayati
  • Gubernur Elisa Sebut Warga Tolak Penutupan Tambang Nikel Gag
  • BMKG Tanggapi Isu Gelombang Panas Indonesia April
  • 157 Paus Terdampar di Tasmania, Separuh Ditemukan Mati

Selain itu, suhu laut yang tinggi juga berkontribusi terhadap meningkatnya intensitas cuaca ekstrem. Laut yang hangat melepaskan panas dan kelembapan ke atmosfer, yang kemudian memperkuat hujan lebat, badai, dan gelombang panas yang berkepanjangan.

Para ilmuwan menegaskan bahwa kondisi ini menjadi peringatan serius bagi dunia. Akumulasi panas di lautan menunjukkan bahwa pemanasan global masih berlangsung dan belum menunjukkan tanda-tanda melambat.

Jika tren ini terus berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan pada ekosistem laut, tetapi juga pada kehidupan manusia secara luas, termasuk ketahanan pangan, keselamatan wilayah pesisir, hingga stabilitas iklim global.

Jangan Lewatkan:
  • Pengolahan Sampah Jadi Listrik di Bali Dimulai Juli 2025
  • Pj Gubernur DKI dan Dishub Bahas Jam Kerja 2 Sesi untuk Redakan Kemacetan
  • Pupuk Kaltim Menangkan Penghargaan AREA 2023: Inovasi Kitosan Cair Limbah Cangkang Rajungan
  • Lampu LED Terang Picu Kunang-Kunang Kian Menghilang

Dengan kondisi tersebut, upaya mitigasi perubahan iklim dinilai semakin mendesak untuk dilakukan secara global guna menekan laju pemanasan bumi yang terus meningkat.

Cuaca Ekstrem Lingkungan Global Pemanasan Global Perubahan Iklim Suhu Laut
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleJakarta Peringkat Dua Kota Teraman ASEAN 2026
Next Article Jejak Lama Nusantara di Enam Negara Tetangga

Informasi lainnya

Mengapa Sungai Indonesia Cepat Kotor? Ini Penjelasan Ahli

12 Juli 2026

Mengapa Burung di Kota Semakin Jarang Terlihat?

10 Juli 2026

Lampu LED Terang Picu Kunang-Kunang Kian Menghilang

6 Juli 2026

Tembok Hijau Tiongkok Ubah Gurun Jadi Penyerap Karbon

3 Mei 2026

Sejarah Hari Bumi, Dari Krisis Lingkungan ke Aksi Dunia

22 April 2026

Taman Pompeii Ungkap Jejak Parfum Kuno

18 April 2026
Paling Sering Dibaca

Tren Fashion Terbaru 2026

Opini Alfi Salamah

Growth Mindset

Gagasan Syamril Al-Bugisyi

Rusia dan Ancaman Tsunami Abadi

Editorial Udex Mundzir

Tips Belajar Efektif untuk Anak-anak

Daily Tips Alfi Salamah

Mau Berhasil ? Inilah Morning Routine Orang Sukses

Daily Tips Alfi Salamah
Berita Lainnya
Daerah
Alfi Salamah19 Juli 2026

Kemarau Ubah Situ Gede Tasikmalaya Jadi Hamparan Rumput Hijau

Bahaya Tidur Terlalu Lama untuk Kesehatan Tubuh

Tradisi Poligami Raja-Raja Arab Saudi dalam Mempersatukan Negara

Pulau Natal Pernah Luput dari Republik Indonesia, Kini Milik Australia

Bukan Kutukan, Ini Penyebab Mata Kedutan Menurut Medis

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Produk Dapur Terlaris Alat Tulis Sekolah Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi