Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Syarat Tak Bisa Dicuci Kekuasaan

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

SPPG De La Tina Ciamis Terapkan Inovasi Pengelolaan Limbah Dapur MBG

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Minggu, 4 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Sejarah Hari Bumi, Dari Krisis Lingkungan ke Aksi Dunia

Bumi tidak membutuhkan kita, kitalah yang membutuhkan bumi.
Alfi SalamahAlfi Salamah22 April 2026 Global
Hari Bumi
Ilustrasi Hari Bumi
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Jejak sejarah Hari Bumi bermula dari keresahan manusia terhadap kerusakan lingkungan yang semakin nyata. Setiap tanggal 22 April, dunia memperingati Hari Bumi sebagai simbol kepedulian global terhadap kelestarian alam. Peringatan ini lahir bukan tanpa alasan, melainkan dari kondisi lingkungan yang pernah berada di titik mengkhawatirkan.

Pada akhir 1960-an, dunia mengalami lonjakan polusi besar, terutama di negara industri seperti Amerika Serikat. Asap pabrik, limbah industri, dan penggunaan bahan bakar fosil menyebabkan pencemaran udara dan air secara masif.

Salah satu peristiwa yang mengguncang kesadaran publik adalah tumpahan minyak besar di Santa Barbara pada 1969. Peristiwa ini merusak ekosistem laut dan menjadi sorotan luas media internasional.

Kondisi tersebut mendorong munculnya gerakan lingkungan yang lebih terorganisir. Pada 22 April 1970, jutaan orang turun ke jalan dalam aksi besar yang menuntut perlindungan lingkungan.

Baca Juga:
  • Google Diselidiki DOJ AS Terkait Dugaan Pelanggaran Antimonopoli
  • Tentara Putin Kocar-kacir setelah Ukraina Menyerang Rusia di Bakhmut
  • 240 Jurnalis Gugur di Gaza, Tertinggi Sepanjang Sejarah Perang
  • Perjuangan Petani Mengatasi Tantangan di Era Modern

Aksi ini menjadi tonggak lahirnya Hari Bumi. Sejak saat itu, tanggal 22 April dipilih sebagai momen refleksi dan aksi global untuk menjaga bumi dari kerusakan yang lebih parah.

Seiring waktu, peringatan ini berkembang menjadi gerakan internasional yang melibatkan lebih dari 190 negara. Kampanye lingkungan semakin luas, mulai dari isu perubahan iklim, deforestasi, hingga krisis sampah plastik. Hari Bumi tidak lagi sekadar simbol, tetapi menjadi penggerak perubahan kebijakan dan perilaku masyarakat dunia.

Di Indonesia, kesadaran terhadap lingkungan juga semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai komunitas aktif menggelar kegiatan edukasi, penanaman pohon, dan aksi bersih lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa semangat Hari Bumi telah menjangkau berbagai lapisan masyarakat dan terus berkembang.

Artikel Terkait:
  • Invasi Teluk Babi, Gagalnya Strategi dan Luka Sejarah
  • Visa Ditolak AS, Presiden Palestina Gagal Hadiri Sidang PBB
  • Wisata Korea Utara Dibuka Lagi, Tapi Pyongyang Masih Tertutup
  • Ambalat Masih Diperdebatkan, Perundingan Masuk Putaran 43

Peringatan ini juga mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan akibat akumulasi tindakan manusia dalam jangka panjang. Oleh karena itu, solusi yang dibutuhkan juga memerlukan komitmen jangka panjang. Edukasi, kebijakan, dan perubahan gaya hidup menjadi kunci utama dalam menjaga keseimbangan alam.

Hari Bumi akhirnya menjadi simbol bahwa krisis lingkungan pernah menjadi titik balik kesadaran manusia. Dari peristiwa pencemaran hingga gerakan massal, semuanya mengarah pada satu tujuan, yaitu menjaga bumi tetap layak huni.

Jangan Lewatkan:
  • 142 Negara Dukung Deklarasi PBB Soal Palestina-Israel
  • Indonesia-Yordania Jalin Kerja Sama Wakaf dan Beasiswa
  • Prabowo Dorong D-8 Kembangkan Industri Halal dan Perikanan
  • Pulau Natal Pernah Luput dari Republik Indonesia, Kini Milik Australia
Gerakan Global Hari Bumi Krisis Lingkungan Perubahan Iklim Sejarah Lingkungan
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleTarif Listrik April 2026 Tetap, Daya Beli Dijaga
Next Article Xiaomi Smart Camera C400

Informasi lainnya

Mengapa Api Gambut Sulit Benar-Benar Padam?

11 September 2026

Venezuela Diguncang Dua Gempa dalam 39 Detik, Korban Berjatuhan

25 Juni 2026

Jangan Lewatkan! Fenomena Matahari Tepat di Atas Ka’bah

26 Mei 2026

Penembak Gedung Putih Pernah Ancam Trump

24 Mei 2026

Tembok Hijau Tiongkok Ubah Gurun Jadi Penyerap Karbon

3 Mei 2026

Invasi Teluk Babi, Gagalnya Strategi dan Luka Sejarah

19 April 2026
Paling Sering Dibaca

Tegakkan Keadilan, Umar bin Abdul Aziz Wafat Karena Diracun

Islami Alfi Salamah

Menuju Haji Suci: Panduan Perjalanan Sebelum Berangkat

Islami Alfi Salamah

Amalan Agar Bisa Berjodoh dengan Orang yang Dicintai

Daily Tips Ericka

Tiga Pekerjaan Masa Depan yang Paling Dibutuhkan Dunia

Techno Assyifa

Ketika Moral Publik Mati

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Saintek
Ericka28 April 2025

Rahasia Daisugi, Teknik Bertani Pohon Tanpa Membabat Hutan

Hukum Barang Temuan dalam Islam

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

PANDI Perketat Aturan Sengketa Domain untuk Cegah Cybersquatting

Generasi Strawberry: Saat Gen Z Dinilai Rentan Tekanan

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Buku Anak Islami Murah Perlengkapan Pramuka Lengkap
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi