Washington DC – “Bayangan lama kembali mengetuk gerbang kekuasaan.” Insiden penembakan di sekitar Gedung Putih pada Sabtu (23/5/2026) waktu setempat membuka kembali catatan kelam Nasire Best, pemuda 21 tahun yang tewas ditembak aparat Dinas Rahasia Amerika Serikat atau Secret Service setelah diduga melepaskan tembakan di kawasan ring satu pemerintahan AS.
Nasire Best disebut bukan sosok baru bagi aparat keamanan Washington DC. Berdasarkan catatan pengadilan yang dikutip sejumlah media AS, ia pernah ditangkap pada Juli 2025 karena menerobos area terlarang Gedung Putih. Saat itu, Best disebut masuk melalui jalur pintu putar keluar di pos pemeriksaan pejalan kaki, sebelum akhirnya diamankan polisi dan agen Secret Service.
“Dia mengaku sebagai Yesus Kristus dan memang sengaja ingin ditangkap,” demikian bunyi catatan resmi pengadilan terkait insiden tersebut.
Keterangan itu memperkuat dugaan bahwa Best memiliki riwayat gangguan kejiwaan yang serius. Dalam jejak digitalnya, ia juga disebut beberapa kali mengeklaim dirinya sebagai “putra Tuhan”. Unggahan media sosialnya bahkan dilaporkan memuat ancaman pembunuhan terhadap Presiden Donald Trump, sebelum akhirnya ancaman itu diduga berujung pada aksi nyata di dekat Gedung Putih.
Saat penembakan terjadi pada Sabtu (23/5/2026) malam, Trump dilaporkan berada di dalam gedung utama untuk memimpin agenda penting terkait negosiasi damai dengan Iran. Aparat segera melakukan penguncian kawasan dan memperketat penjagaan setelah suara tembakan terdengar. Best kemudian ditembak mati oleh agen Secret Service sebelum bisa bergerak lebih jauh.
“Terima kasih kepada Secret Service dan penegak hukum kita yang hebat atas tindakan cepat dan profesional yang diambil malam ini terhadap seorang pria bersenjata di dekat Gedung Putih, yang memiliki riwayat kekerasan dan kemungkinan obsesi terhadap bangunan paling berharga di negara kita,” kata Trump melalui Truth Social.
Sebelum insiden Juli 2025, Best juga pernah berurusan dengan Secret Service pada Juni 2025 karena menghalangi akses masuk utama Gedung Putih. Perilakunya yang dinilai tidak stabil membuat otoritas saat itu membawanya secara paksa ke rumah sakit jiwa untuk menjalani pemeriksaan medis.
FBI bersama otoritas terkait masih mendalami motif penembakan tersebut, termasuk apakah aksi Best murni dipicu gangguan kejiwaan atau terdapat latar politik lain. Kecaman terhadap insiden ini datang dari tokoh Partai Demokrat maupun Republik, yang menilai kekerasan di pusat pemerintahan tidak dapat ditoleransi.
Insiden Nasire Best menjadi peringatan keras bagi sistem keamanan Gedung Putih. Di balik tembok pengamanan ketat, ancaman dapat muncul dari jejak panjang yang sebelumnya sudah terlihat, tetapi belum sepenuhnya terputus.
