Nairobi – Seperti detik terakhir sebelum badai datang, warga ibu kota Kenya berbondong-bondong memadati stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) pada malam hari. Antrean kendaraan mengular panjang, mencerminkan kepanikan yang muncul menjelang kenaikan harga bahan bakar yang diumumkan berlaku tepat setelah tengah malam.
Lonjakan ini terjadi ketika masyarakat berusaha mengisi penuh tangki kendaraan mereka sebelum harga baru resmi diberlakukan. Berdasarkan laporan, harga solar melonjak hingga 40 shilling Kenya (KES) per liter, sementara bensin naik hampir 29 shilling per liter. Kenaikan tajam ini dipicu oleh tekanan global, termasuk meningkatnya biaya energi dan gangguan distribusi akibat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
“Sejak sore antrean tidak pernah sepi. Banyak yang khawatir harga akan semakin tidak terjangkau,” ujar seorang petugas SPBU di Nairobi, menggambarkan situasi yang terjadi di lapangan.
Fenomena ini diperparah oleh spekulasi yang telah beredar selama berminggu-minggu. Sebelumnya, pemerintah Kenya sempat memberikan jaminan bahwa harga bahan bakar tidak akan mengalami kenaikan. Namun, realitas pasar global berkata lain. Tekanan dari melonjaknya harga minyak dunia serta meningkatnya biaya pengiriman memaksa pemerintah mengambil keputusan sulit.
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel di wilayah Iran turut memperburuk situasi. Ketegangan tersebut berdampak langsung pada jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui hampir seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Gangguan di wilayah ini membuat pasokan tersendat dan harga energi melonjak di berbagai negara, termasuk Kenya.
Sebagai negara berkembang yang bergantung pada impor energi, Kenya menjadi salah satu pihak paling rentan terhadap gejolak ini. Kenaikan harga bahan bakar tidak hanya berdampak pada sektor transportasi, tetapi juga berpotensi memicu kenaikan harga barang dan jasa secara luas.
Pengamat ekonomi menilai, situasi ini dapat memperburuk tekanan inflasi yang sudah dirasakan masyarakat. Selain itu, biaya logistik yang meningkat diperkirakan akan berdampak langsung pada harga kebutuhan pokok dalam waktu dekat.
Dengan kondisi global yang masih tidak stabil, masyarakat Kenya kini dihadapkan pada ketidakpastian baru. Lonjakan harga bahan bakar menjadi pengingat bahwa krisis energi global memiliki dampak nyata hingga ke kehidupan sehari-hari warga.
